
Sampai di rumah Rico digendong menuju kamarnya.
"loh mbak Rico kenapa mbak" tanya bi Inah panik.
"ah tadi jatuh bi di sekolah, oh ya bi bisa minta tolong bawain es batu sama handuk kecil, sama salep luka ke atas bi" mohon Arumi.
"iya mbak, nanti bibi antar ke atas" ucap bi Inah segera ke dapur. Arumi langsung menyusul Rico ke atas.
"mi kita balik dulu ya, kalau ada apa-apa langsung hubungin kita" ucap Daniel setelah menidurkan Rico di ranjang.
"iya makasih ya niel, vin, hati-hati baliknya" ucap Arumi, Daniel dan Kevin mengangguk pasti.
"mbak ini es sama handuknya sama salepnya juga" ucap bik Inah kemudian meletakan baskom tersebut di meja samping ranjang dan menyerahkan salep ke Arumi. "bibi tinggal ke bawah dulu ya mbak, bikin sop biar nanti pas Rico bangun bisa langsung makan" pamit bi Inah, Arumi menganggukan kepalanya kemudian duduk di samping ranjang Rico, dia menyingkirkan poni di dahi Rico dan menyentuh seberapa gede memarnya, tidak terlalu parah. Arumi membungkus es dengan handuk kecil kemudian di kompreskan ke dahi Rico yang memar dengan hati-hati.
"euhhhh.." lenguh Rico berusaha membuka matanya dan berusaha untuk duduk, Arumi yang melihat langsung mencegahnya.
"lo tiduran dulu aja, masih pusing kan." Arumi mendorong perlahan Rico agar berbaring lagi. Rico memandang sekeliling.
"ko gue bisadi sini, seinget gue tadi di lapangan" ucap Rico bingung sambil menahan sakit di kepalanya.
"tadi gue bawa pulang lo dibantu Daniel sama Kevin." jelas Arumi sambil menekan-nekan kompresan di dahi Rico.
"aishh ssakitt...sakittt.." teriak Rico.
"sorry sorry, ini udah pelan-pelan ko." ucap Arumi kemudian menekan nekan kompresan dengan lembut. Rico mencoba menggerakan anggota tubuhnya yang lain.
"aduhh sakit.. " keluh Rico lagi saat menggerakan ankle kakinya.
"ini udah pelan pelan ko ric"
"bukan kepala, tapi kaki gue" jelas Rico.
"kaki lo sakit juga, ahh pasti gara-gara ditendang si gempal itu" gerutu Arumi mengingat-ingat pertandingan tadi.
"hahaha aduhhh.." Rico kesakitan saat tertawa mendengat ucapan Arumi.
"gue salep ya kakinya, lo tahan" Arumi berpindah duduk di samping kaki Rico kemudian mengolesinya cepat.
"aduh mi pelan-pelan, sakit banget.." teriak Rico kesakitan, Arumi memandang Rico dan melanjutkan menyalepi kaki Rico perlahan.
"ada yang sakit lagi ga?" tanya Arumi menutup salepnya.
"tangan gue juga sakit nih, kayanya tadi pas buat nahan waktu jatuh." Rico mengangkat sedikit tangan kanannya.
"busyeettt dah banyak amat yang sakit, abis main futsal apa tawuran sih." cerosos Arumi sambil membuka kembali salepnya dan menyalepi tangan Rico.
"futsal tapi dengan teknik tawuran." ujar Rico becanda.
"bisa aja lo."
Malamnya....
"lo udah mendingan?" tanya Arumi begitu masuk ke kamar Rico sambil membawa sup ayam.
"lumayan, tapi masih sedikit pusing." jelas Rico tiduran di ranjangnya.
"lo makan dulu yaa, dari siang lo belum makan, sebenarnya bi Inah udah masakin sop kesukaan lo tadi siang tapi lo tidur. Ini udah diangetin makan gih" Arumi duduk di samping ranjang Rico.
"ga mau, gue ga nafsu makan" Rico hendak memejamkan matanya kembali tidur.
"ehh ga bisa, lo harus makan dulu baru boleh tidur lagi" paksa Arumi. Tangan Arumi mendekati wajah Rico. Rico kaget, nih cewe mau ngapain, jangan jangan mau nyium nih batin Rico, tapi tangannya menyentuh dahi. Dahi? ko dahi, biasanya juga pipi yang dipegang kalo mau dicium pikir Rico.
"aahhhhh.." Arumi menyodorkan sendok berisi nasi ke arahnya.
"di bilang ga mau juga, makan sama lo aja." Rico memalingkan wajah, malu gara-gara pikirannya tadi. Arumi menghela nafas.
"lo tuh sama aja kaya kakak gue, ga pernah mau makan kalo lagi sakit." Arumi meletakan kembali sendoknya ke mangkok.
"masa? Ini pasti akal-akalan lo biar gue mau makan kan. Lagian gue mau demam kek, sakit kek, kenapa lo yang repot." Rico tetep keras kepala.
"karena gue khawatir sama lo lah, gue takut lo kenapa-kenapa, apalagi tadi siang pas pertandingan lo mainnya semangat banget sampe lupa sama badan lo sendiri." ucap Arumi memunduk. Rico melongo, Arumi si kepala batu yang sukanya jutek khawatir sama keadaannya, ga bisa dipercaya batin Rico.
"makan ya, ga abis ga papa ko, yang penting perut lo isi." Arumi terus membujuk Rico.
" yaudah dehh, sini mangkoknya." Rico mengalah.
"gue suapin, tangan kanan lo kan sakit, kan pamali makan pake tangan kiri." Arumi menyodorkan sendoknya ke mulut Rico.
"tangan gue udah sembuh ko, sini mangkoknya." paksa Rico tapi begitu menyentuh mangkok "aduhh" erangnya.
"ya kan masih sakit, jadi lo ga usah bawel dan aaaaahhh" Arumi menyodorkan sendoknya lebih dekat ke mulut Rico. Rico terpaksa membuka mulutnya. Kaya anak kecil aja sih makan disuapin pikir Rico.
"lah dari tadi kek nurut, ini aaa lagi sampe abis yaa." Arumi kembali menyodorkan sendoknya.
"mmtammadiii mmloo bmmilanhhg gmma sammpmeee ammbbisss(tadi lo bilang ga sampe abis)" cerocos Rico ga jelas karena makanan masih penuh di mulutnya.
"telan dulu baru ngomong, keselek baru tau rasa lo" ucap Arumi menasehati.
"UHUKK~~uhukkk.."
"Duh nihh minum minum" ucap Arumi membantu Rico minum.
"uhuukk..uhuukk elo sih tadi do'ain." ucap Rico setelah keseleknya sembuh, Arumi cuma nyengir.
Selesai makan Arumi membereskan bekas makanan tadi dan membawanya ke dapur dan kembali beberapa menit kemudian sambil membawa baskom isi air hangat dan handuk kecil. Arumi mengkompres kembali dahi Rico, Rico kaget begitu handuk menempel di dahinya dan membuka mata perlahan.
"eh sorry lo jadi kebangun ya, badan lo masih panas jadi gue kompres lagi" ucap Arumi, "yaudah gue balik ke kamar ya" ucapnya lagi tapi belum sempat Arumi berdiri Rico menarik tangannya, Arumi menoleh menatap Rico bingung.
"Makasih ya udah jagain gue, ngurusin gue" ucap Rico tulus.
"eh santai aja ric hehe, emm gue keluar dulu sebentar" ucap Arumi berlari keluar kamar dan langsung kembali beberapa menit kemudian.
"kenapa lo bawa itu?" Tunjuk Rico ke bantal dan selimut yang di bawa Arumi.
"itu kompresan lo kan harus diganti beberapa kali, jadi daripada bolak balik mending gue tidur di sini aja, lo jangan kegeeran loh ya, ini mumpung gue lagi baik aja " jelas Arumi gagap kemudian meletakan bantal dan selimut di sofa samping ranjang Rico.
"lo tidur di sofa?"
"iya lah, masa gue tidur sama lo, amit-amit deh" cerocos Arumi kemudian merebahkan tubuhnya di sofa bersiap tidur.
"makasih ya mi." kata Rico pelan.
"mmhmm."
"good night"
"mmhhmm."
"lo ga ada kata lain selain mmmhhmm apa, jawab yang bener kenapa, ditanya bener bener juga." Kesal Rico dan beralih untuk melihat Arumi dan Rico kaget, dia udah tidur? Cepet banget sih tidurnya. Rico yakin dia pura-pura dan berniat melemparnya dengan bantal kecil di sampingnya, tapi baru megang tangannya terasa sakit akhirnya Rico mengurungkan niatnya, mungkin dia benar-benar sudah tidur, mending gue juga tidur, batin Rico.
Arumi terbangun dari tidurnya dan mengecek ponsel, pukul 01.00. Arumi bangkit untuk mengganti kompresan Rico, tetapi setelah selesai dan berniat tidur kembali tiba-tiba Rico tampak gelisah, beberapa kali mengigau "aah tolongg... jangan.. tolong.. mama" racau Rico, jangan-jangan traumanya kambuh pikir Arumi. Aduh gawat, tante Ana kan lagi ga di rumah. "Aduh gimana dong " ucap Arumi panik.