
Hari ini sudah menjelang sore, warna langit yang sudah berubah menjadi kemerahan pun sudah mulai terlihat. Jonathan dan Natasha sudah berada di dalam pesawat pribadi milik Jonathan dan duduk bersebelahan, terkadang Natasha lupa betapa banyaknya kekayaan laki laki yang sedang duduk disebelahnya ini.
“Kenapa kau harus duduk di sebelahku? Disini masih banyak bangku kosong” ucap Natasha yang saat itu memilih duduk di bangku dekat jendela.
“Ini pesawatku! Jadi bukan urusanmu aku mau duduk dimana” Jonathan menyilangkan tangannya di depan dada dan mulai bersandar sambil menutup mata.
“Jo, Perjalanan ini tidak akan lama kan?” pertanyaan Natasha membuat Jonathan kembali membuka matanya.
“Kenapa? Kau tidak suka aku duduk disini?”
“Bukan itu” Natasha merasakan sesuatu yang aneh, seperti akan ada kejadian buruk yang akan menimpanya, tapi seketika ia menepis segala perasaan itu dan menyimpannya sendiri.
“Sudah jangan banyak bertanya, aku mengantuk jadi jangan berisik!” Jonathan kembali menutup matanya dan tidak lama setelahnya pesawat pun take off.
***
Sekitar setengah jam telah berlalu, terlihat Natasha tertidur dengan pulasnya bersamaan dengan Jonathan, tapi tepat di depan pesawat cuaca yang sedikit buruk membuat pilot kesulitan untuk menerbangkan pesawat, gumpalan awan hitam memenuhi gelapnya malam itu, hal ini membuat pesawat yang di naiki mereka akhirnya mengalami Turbulence. Natasha terbangun dari tidurnya karena guncangan pesawat yang sangat kencang, ia memanggil Jonathan untuk segera bangun dari tidurnya, tapi laki laki itu sama sekali tidak terbangun.
“Ya ampun, kenapa dia ini susah sekali bangun, walaupun dalam kondisi seperti ini, Bangun Jo!” Natasha terus menerus memanggil Jonathan walaupun tidak ada respon sama sekali dari laki laki itu.
JJDDARRR
***
“Tahsa” suara berat seorang laki laki memanggil nama Natasha. Dia mengangkat dagu Natasha yang sedang dalam posisi duduk di sebuah bangku dengan badan yang terikat. Kemudian Natasha pun akhirnya terbangun karena suara itu, matanya menyipit menyesuaikan cahaya yang menyilaukan karena wajahnya diangkat kearah atas. Wajah laki laki itu terhalang oleh sebuah kain penutup yang membuat ia tidak tau identitas orang itu. Sekarang Natasha berada dalam sebuah ruangan dengan satu penerangan yang minim, hanya ada satu cahaya berada di atas kepalanya.
“Siapa kau?” tanya Natasha “Ini dimana?” matanya berpindah melihat sekeliling, tempat ini seperti sebuah rumah yang sudah lama tidak berpenghuni.
“Kau bertanya siapa aku?” Laki laki itu kembali menyentuh dagu Natsha lebih erat dan mendekatkan wajahnya hingga berjarak sangat dekat. “Aku.. adalah orang yang sangat mencintaimu.”
“Kenapa aku bisa berada disini?” Laki laki itu diam, kali ini ia tidak menjawab pertanyaan Natasha. Hanya tatapan tajam yang ia berikan, warna mata itu, suara itu, Natasha seperti mengenalnya.
“Dimana Jo?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Natasha. Membuat orang yang berada di hadapannya terlihat sangat marah.
PLAAKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Natasha, warna putih wajahnya berubah menjadi merah dan panas akibat tamparan itu.
“K-kenapa kau-” tanpa sadar air mata Natasha mengalir sendiri dari sudut matanya. Laki laki itu mencengkram kuat kedua pipi Natasha dengan satu tangannya.
“Jangan pernah kau menyebut nama si brengsek itu! Kau.. miliku!” laki laki itu membentak Natasha dan menekan kata kata terakhir yang ia ucapkan. Natasha menatap kedua mata itu, tidak mungkin ini seseorang yang ia kira. Seharusnya tidak seperti ini, sifatnya sangat jauh berbeda. Beberapa detik kemudian tatapan laki laki itu terlihat melunak.
“Apa tadi sakit?” ucapnya dengan suara lembut. Laki laki itu melepas cengkramannya dan mengusap perlahan pipi Natsha yang memerah. “Maafkan aku sayang. Aku hanya tidak suka kau menyebut nama laki laki lain di hadapanku”
“Kumohon, lepaskan aku” ucap Natasha dengan suara lirih, matanya berkaca kaca, ia sangat takut dengan laki laki yang berada di hadapannya ini. Prilakunya sangat tidak bisa di tebak.
“Tidak, kali ini aku tidak akan pernah melepaskanmu” ucapnya.
Jangan lupa Like dan Komentarnya ya