
Lake Louise, adalah tempat pertama yang di tuju oleh segerombolan teman Jonathan dan Natasha. Masing-masing dari mereka membawa tas khusus hiking di punggungnya. Ia tidak tau kenapa Jonathan tiba-tiba saja setuju untuk ikut berlibur dengan alumni sekolahnya, padahal laki laki itu termasuk orang yang jarang bersosialisasi dengan teman lama, kecuali dengan Stave dan Kevin.
Natasha mendudukan dirnya di sebuah bangku di pinggiran danau, disana mereka masih menunggu beberapa orang yang masih berada dalam perjalanan ke tempat perkumpulan. Pemandangan yang sangat memanjakan mata betebaran di mana-mana. Birunya danau, hijaunya pepohonan di sekitar dan juga udara yang sangat menyejukan membuat Natasha tidak menyesali dirinya yang ikut bersama dengan Jonathan. Natasha menghirup udara sedalam-dalamnya untuk mengisi paru-parunya, ia sangat menikmati bau khas pegunungan yang jarang sekali ia rasakan.
Senyum Natasha mengembang seketika saat dirinya melihat Janne berlari menghampirinya. Ia pun langsung berdiri menyambut Janne dengan sebuah pelukan, begitu pun dengan Janne.
"Tashaa.. Aku sangat merindukanmu.." ucap Janne sambil memeluk tubuh Natasha.
"Aku juga merindukanmu.." Natasha melepaskan pelukannya. "Tunggu.. bukankah kau masih di Jerman sebulan yang lalu Janne?"
"Memang, tapi aku pindah kerja kerumah sakit di Kanada mulai dari seminggu yang lalu karena permintaan mama yang tidak mau aku jauh darinya"
"Kenapa kau tidak memberitahuku" Natasha terlihat memurungkan wajahnya.
"Maaf Tasha, pasien di rumah sakit sangat banyak minggu lalu, aku tidak sempat memberi kabar pada siapapun."
"Wah. Temanku yang satu ini sangat keren.. Tidak apa, yang penting sekarang kita bisa bertemu. Aku senang sekali" Natasha kembali memeluk Janne.
"Kau kesini dengan siapa?" Tanya Janne. "Kemarin aku tidak melihatmu di pesawat"
"Aku kesini bersama Jonathan" Natasha melirik kearah kanan menunjukan posisi Jonathan yang sedang berbincang dengan Stave dan juga Kevin.
"Ohh.." Janne menganggukan kepalanya. "Apa Jonathan sudah menjadi kekasihmu?"
"Tidak, aku tidak punya hubungan khusus dengannya, tidak untuk sekarang" ucap Natasha sambil melihat kearah Jonathan sesaat.
"Ayolah jangan berbohong padaku"
"Mana mungkin aku berbohong padamu"
"Wahh... Apa dia tidak normal? Di dekatnya ada wanita secantik ini dan dia tidak mengencaninya. Kalau aku laki-laki, aku akan menyukaimu dan langsung merebutmu" ucap Janne sambil tertawa.
"Kau yang benar saja" Natasha pun ikut tertawa seakan tawa itu menular padanya.
Janne yang teringat akan sesuatu langsung menghentikan tawanya. "Oh ya. Beberapa senior juga ikut dengan perjalanan kita dan kau tau Tasha, kalau-"
"Tasha?" satu orang laki laki terlihat berjalan mendekati Natasha dan juga Janne.
"Kalau ada Mike disini" sambung Janne dengan suara pelan berbisik di telinga Natasha.
"H-hai, Mike" sapa Natasha.
"Aku baru tau kalau kau ikut kesini juga" Mike mendekat dan melihat kearah Janne "Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Natasha ikut?"
"Aku pun baru tau tadi pagi dari Stave"
"Kau kesini dengan siapa?" tanya Mike.
"Aku.. dengan Jonathan"
"Oh..." Mike hanya menganggukan kepalanya dan melihat kearah Jonathan.
***
Setelah beberapa saat kemudian, mereka semua melanjutkan perjalanan pendakiannya. Natasha berjalan beriringan dengan Janne, mereka berdua banyak berbagi cerita tentang perjalanan masing-masing, sesekali tawa mereka berdua memecahkan suasana yang hening di perjalanan.
Sedangkan Jonathan, ia sengaja berjalan di belakang Natasha untuk memastikan keadaan wanita itu.
Dari mulai jalan yang berbatu, berlumpur, hingga jembatan tua yang terlihat sangat menyeramkan itu mereka lewati. Dengan susah payah mereka terus melangkahkan kaki mereka menuju tempat yang lebih tinggi. Pepohonan menjulang sangat tinggi dan lebat di hutan itu. Entahlah, ini terlihat lebih menyeramkan, tidak seperti yang Natasha bayangkan, padahal keadaan sekarang ramai dan tepatnya sekarang masih siang hari.
Setelah mereka keluar dari rimbunnya hutan, akhirnya sampailah di sebuah air terjun besar, cipratan air yang terkena bebatuan itu memantulkan cahaya pelangi yang sangat indah.
"Ini luar biasa" Natasha terkagum kagum melihat pemandangan air terjun yang ada di hadapannya. Tapi sayangnya, tidak boleh ada yang berenang disana karena arus air yang sangat deras.
Mereka memutuskan untuk beristirahat di pinggiran dekat air terjun itu dan mengisi perut mereka yang sudah kosong dengan makanan. Perjalanan yang sangat menguras tenaga ini membutuhkan asupan energi lebih banyak daripada biasanya.
"Makanlah" ucap Jonathan sambil memberikan beberapa makanan kepada Natasha.
"Untuku mana?" Tanya Janne dengan sengaja. Wajahnya memelas mendongak kearah Jonathan yang berdiri tepat di samping Natasha.
"Tidak ada" Kemudian Jonathan pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Aku yakin dia menyukaimu" Ucap Janne.
"Bagaimana kau bisa tau?" Tanya Natasha.
"Itu sangat terlihat jelas. Hanya orang bodoh saja yang tidak bisa melihatnya." Janne beralih kearah makanan yang di pegang Natasha.
"Bukan makananmu yang ku mau. Maksudku, perhatiannya padamu sangat terlihat jelas. Bahkan sepanjang perjalanan matanya tidak bisa beralih menatap punggungmu. Aku rasa dia pasti tersandung beberapa kali karena tidak memperhatikan jalan." Janne menggelengkan kepalanya. Karena di perjalanan beberapa kali ia memergoki Jonathan melihat kearah Natasha.
"Aku lebih menyukai kau bersama dengan Jonathan daripada Mike" sambungnya.
"Apa maksudmu?"
"Entahlah. Aku hanya tidak suka kau jauh dariku. Mike, membuatmu jauh dariku dulu" Ucap Janne dengan parau.
"Maafkan aku, itu semua salahku" Natasha memegang tangan Janne karena merasa bersalah.
"Tidak ada yang salah disini" Janne tersenyum kearah Natasha.
"Cepatlah makan makananmu. Kau lihat, disana ada orang yang terus menatapku karena terus mengajakmu bicara" Janne mengarahkan bola matanya ketempat Jonathan duduk. Natasha pun mengalihkan pandangannya kearah sana.
"Dia memang selalu seperti itu. Mungkin lain kali aku harus menusuk matanya agar tidak melihat seperti itu."
"Kau sungguh gila" Janne kembali tertawa mendengar perkataan Natasha.
Satu jam lamanya mereka beristirahat, kemudian mereka semua kembali melanjutkan perjalanan. Kembali melewati hutan yang lebat dan jalan bebatuan.
Sekitar sore hari, sampailah mereka di tempat yang tinggi dan terbuka. Dari atas terlihat pemandangan danau yang tadinya terlihat luas menjadi sedikit lebih kecil. Tenda pun di pasang di beberapa area.
Matahari terbit adalah tujuan mereka mendaki sampai tempat yang cukup tinggi. Karena itu mereka memutuskan untuk bermalam hari ini.
***
Di tempat lain, Kassandra sedang berusaha membujuk Rain untuk merayu Nyonya Grumpy. Penyihir senior itu sangat suka dengan wajah yang tampan, Kassandra sangat tau itu, karena beritanya yang sudah menyebar di kalangan penyihir wanita saat ini.
"Ayolah, hanya sekali saja kau merayunya. Aku yakin kau pasti bisa" Kassandra memasang wajah memelasnya menatap Rain.
"Tidak Sandra. Aku tau dia akan memakanku kalau aku merelakan diriku padanya." Rain bergidik ngeri membayangkan wajah Nyonya Grumpy.
"Kau pikir dia kanibal yang akan memakan sesamanya"
"Iya! Dia kanibal untuk kalangan laki-laki tampan sepertiku!" ucap Rain.
"Tampan kau bilang?"
"Tentu saja. Kalau aku tidak tampan, kau tidak akan membuat diriku menjadi umpan"
"Baiklah, kau tampan. Ayolah, sekali saja. Bantu aku" ucap Kassandra. Rain memikirkan perkataan Kassandra sejenak.
"Tapi ada syaratnya, aku akan meminta 3 permintaan saat kita berkencan nanti. Dan kau tidak boleh menolaknya" Sekarang giliran Kassandra yang berfikir cukup lama.
"Kalau kau tidak mau yasudah, aku tidak rugi kalau tidak membantu dirimu" Rain hendak pergi meninggalkan Kassandra, namun lengannya seketika di tahan.
"Oke.. oke... Aku setuju" Rain kembali tersenyum mendengarnya.
"Kalau begini kita impas"
"Impas dari mana, aku meminta satu, kau mau aku mengembalikannya 3. Sungguh tidak adil." Kassandra mengajukan protes pada Rain.
"Adil saja, kalau melihat kerugian yang akan aku terima nanti." ucapnya.
***
Setibanya dirumah Nyonya Grumpy, Kassandra hanya menunggu di luar, wanita itu hanya mengizinkan Rain untuk masuk kedalam rumahnya.
"Semoga dia kembali dengan utuh" ucap Kassandra dalam hati. Seketika ia tertawa kecil mengingat wajah Nyonya Grumpy yang sangat senang melihat Rain datang kerumahnya.
10 menit kemudian pintu rumah itu pun terbuka kembali. Sungguh cepat, pikir Kassandra. Sebenarnya apa yang sudah mereka lakukan?
Terlihat Rain yang keluar dengan pakaian yang masih terbalut rapi, walaupun wajah dan rambutnya terlihat berantakan.
"Masuklah, kita berangkat sekarang" ucap Rain parau. Namun berbeda dengan Kassandra, senyumnya melebar saat mendengar Rain mendapatkan izin dari Nyonya Grumpy. Seketika itu juga, Kassandra langsung berjalan mendekati Rain.
"Rain, cepat sekali kau melakukannya dengan Nyonya Grumpy"
Perkataan itu membuat Rain menatap tajam wajah Kassandra. Jujur saja, ia sempat menyesali keputusannya ini. Ia merasa harga dirinya sebagai playboy penyihir wanita cantik hilang sudah.
"Bagaimana rasanya?" Pertanyaan itu membuat Rain semakin kesal.
"Kau akan merasakannya nanti. Aku akan membalas semua yang ku terima tadi padamu! Dan, sekali lagi kau berbicara, aku tidak akan membantumu lagi"
Kassandra diam dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Mereka pun masuk kedalam rumah itu dan memulai perjalanan panjang mereka ke tempat Natasha dan juga Jonathan.
***
Jangan Lupa Like, Komennya ya kak. Biar aku makin semangat 🤗🤗❤️ Makasihhh...