
Tak lama kemudian suara derap langkah kaki orang yang sedang berlari terdengar dari arah luar. Gebrakan pintu pun terdengar berkali kali diiringi sebuah suara yang sangat Natasha kenal.
“Natasha! apa kau di dalam?” teriaknya dari arah luar. “Tasha! Jawab aku!” Suara gedoran pintu semakin keras terdengar.
“Jonathan, akhirnya kau datang” ucap laki laki itu, ia menoleh kearah pintu yang terkunci.
“Jo! Tolong aku!” Natasha meninggikan suaranya agar Jonathan mendengar.
“Diam kau! Aku tidak menyuruhmu berteriak!” Laki laki itu mengambil lakban hitam dan menutup mulut Natasha. Kemudian ia mengambil sebuah balok kayu berukuran besar dengan tangan kanannya.
Melihat itu mata Natasha terbuka lebar “Apa yang mau dia lakukan?” gumam Natasha.
“Kau mau tau apa yang akan aku lakukan?" Ia memberi jeda dan tersenyum licik "Menghabisi kekasihmu!” ucapnya.
“Tasha! Tunggu di sana, aku akan segera mendobrak pintunya!” teriak Jonathan dari luar.
Laki laki itu mendekatkan wajahnya ke samping telinga Natasha dan berbisik “Lihat baik baik bagaimana aku akan menghancurkan Jonathan. Jadi, tidak akan ada yang bisa menggangku kita lagi. Kau cukup duduk manis dan menonton pertunjukannya” ucapnya kemudian mengusap lembut kepala Natasha.
“Tidak boleh! Jangan!” Natasha berteriak dalam hatinya, suaranya tidak bisa keluar karena lakban yang membungkus mulutnya. Natasha sangat menyesal sudah memanggil Jonathan, seharusnya tadi dia tidak berteriak, kalau dia tidak berteriak Jonathan pasti akan baik baik saja “Jonathan, pergi dari sini” Natasha terus mencoba mengeluarkan suaranya tapi tidak berhasil. Ikatan di badannya pun sulit untuk terlepas walaupun ia sudah berkali kali menggerakkan badannya mencoba melepaskan.
Ia melihat laki laki itu bersembunyi di balik sebuah dinding di samping pintu. Suara dobrakan pintu itu berkali kali terdengar. Tidak lama kemudian pintu itu pun berhasil Jonathan buka, tapi setelahnya ia mendapatkan pukulan yang sangat keras dari belakang kepalanya.
Jonathan kemudian tersungkur di lantai, darah segar mengalir dari balik rambut membasahi lehernya. Jonathan merintih kesakitan, tapi ia masih berusaha untuk bangun walaupun rasa sakit yang luar biasa.
Tapi setelah ia berhasil berdiri, Jonathan kembali mendapatkan pukulan untuk yang kedua kali tepat di perutnya, darah pun keluar dari dalam mulut Jonathan dengan sangat banyak. Melihat itu Natasha menangis, air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
“Cukup! Hentikan!” teriak Natasha, walaupun suaranya sama sekali tidak terdengar dengan jelas.
“Setelah ini, kau tamat Jonathan Anggara” Laki laki itu mengeluarkan pistol dan mengarahkan tepat di kepala Jonathan.
“Tasha!” suara seorang laki laki itu terdengar kembali di telinga Natasha, ia membuka matanya. Yang pertama kali Natasha lihat adalah wajah jonathan tepat berada di hadapannya. Keringat Natasha membasahi wajah dan sekujur tubuhnya, air mata masih menggenangi matanya. Dadanya terlihat naik turun karena nafas yang tidak beraturan.
“Jo?” Lirih Natasha, ia berkedip dan masih menormalkan deru nafasnya.
“Kau ini kenapa berteriak teriak seperti itu! Nanti karyawan di pesawatku mengira aku melakukan sesuatu yang jahat padamu. Kita sudah sampai dari satu jam yang lalu di-” sebelum Jonathan melanjutkan perkataannya Natasha memeluk laki laki di sebelahnya dan menangis di dalam dada bidang Jonathan.
“Syukurlah kau baik baik saja”
“Kau ini kenapa?” bukannya menjawab pertanyaan Jonathan, Natasha malah semakin mengeratkan pelukannya dan terisak. Jonathan yang bingung akan sikap Natasha terdiam sesaat, setelah itu ia mengusap punggung Natasha untuk menenangkan tangisannya yang berlangsung cukup lama.
Setelah tangisan Natasha mulai mereda, Jonathan melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Natasha dengan kedua tangannya. Ia menghapus sisa sisa air mata yang mengalir di pipi Natasha dengan ibu jarinya.
“Sudah jangan menangis” ucap Jonathan lembut. Mata Natasha berkaca kaca mendengar perkataan Jonathan. “Kau ini sungguh jelek saat menangis” Jonathan mencubit gemas pipi Natasha.
“Aww.. Sakit..” Natasha melepaskan tangan Jonathan yang menyentuh wajahnya. “Kenapa kau mencubitku”
“Aku bilang tadi jangan menangis, tapi kau malah mau melanjutkan tangisanmu. Apa setengah jam memelukku tidak cukup menenangkanmu?” Kali ini Jonathan mencubit hidung Natasha.
“Berhenti mencubitku.. Aku tidak menangis selama itu” Natasha mengusap hidungnya yang memerah. Jonathan menahan tawanya saat melihat wajah Natasha yang kesal. “Jangan tertawa Jo!”
“Baiklah, aku tidak tertawa” ucap Jonathan. “Sebenarnya kau bermimpi apa?” Natasha terdiam sejenak.
“Hm..bukan apa apa”
Jangan lupa Like dan Komentarnya ya