Magical Love

Magical Love
Tersadar



"Coba cari kearah sana! Berpencar!" suara teriakan Stave terdengar dari luar rumah itu. Walaupun jauh namun mereka bertiga masih mampu mendengarnya.


"Kita harus segera pergi dari sini, semoga tidak terjadi apapun pada mereka" ucap Henry, ia menarik tangan Kassandra dan juga Rain kemudian menghilang dalam hitungan detik dari rumah tersebut.


***


Sekelebat cahaya muncul di sebuah ruangan yang gelap. Sosok Henry, Kassandra dan juga Rain pun terlihat dari balik cahaya itu. Mereka bertiga berpindah tempat di salah satu ruangan rumah Henry, ia menatap adiknya dengan tatapan tajam.


"Untuk apa kalian kesana!" bentak Henry. Kassandra hanya tertunduk tanpa berani menatap wajah kakaknya.


"Ini semua salahku" Rain bergeser menutupi tubuh Kassandra di punggungnya yang lebar. "Aku yang membawanya kesana"


"Kenapa kau ikut campur masalah ini!" Henry berkata sambil mendorong bahu Rain dengan jari telunjuknya. "Minggir! Aku sedang bicara dengan adikku" Henry menyingkirkan tubuh Rain kesamping dan menarik pergelangan tangan Kassandra.


"Kak, maafkan aku" lirih Kassandra saat merasakan tubuhnya tertarik dengan sangat kuat.


"Kau tau kemarin aku menyuruhmu hanya diam dan tidak melakukan apapun! Itu semua untuk melindungimu!" Henry memegang kedua bahu Kassandra. "Bagaimana kalau ada yang tau, apa yang sudah kita perbuat pada Muggles, ini sudah melanggar aturan!"


"Rumah tadi sudah di tutupi pelindung, mantra yang kita gunakan tadi tidak akan terdeteksi oleh siapapun" Jelas Rain.


"Kau ini selalu saja menyela pembicaraanku! Dasar tidak sopan" Henry menatap tajam kearah Rain. Beberapa detik kemudian pandangannya kembali kearah Kassandra.


"Kalau saja aku tidak ada disana dan kau kesana hanya berdua dengan anak yang tidak sopan ini.." Henry menunjuk kearah Rain. "dan kau juga tidak sempat memberikan mantra pelindung pada rumah itu, kau akan di sidang habis-habisan oleh mentri sihir" Kassandra masih saja tertunduk tanpa berani menyela apa yang Henry sampaikan.


"Jangan pernah melakukan hal bodoh itu lagi" Suara Henry merendah, ia tidak tega melihat wajah adiknya yang sudah merasa sangat bersalah. Kassandra pun menganggukan kepalanya tanpa berbicara apapun.


***


Keesokan harinya, di suatu ruangan yang bernuansa putih terlihat Natasha yang baru saja terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya yang terasa sangatlah berat, memegang kepalanya mencoba mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya.


Potongan ingatan sedikit demi sedikit terlintas di kepalanya. Mikael yang sudah membekapnya dan membawanya ke tengah hutan, suntikan jarum yang berkali kali menusuk tajam kulit wanita itu. Dan Jonathan yang sudah tertembak peluru di kakinya. Hanya sebatas itulah yang bisa di ingat oleh Natasha.


"Jonathan" lirih Natasha.


"Tasha, kau sudah sadar" Roy dengan cepat menghampiri Natasha dan memegang tangan putrinya.


"Ayah, dimana Jo?" tanya Natasha dengan suara yang serak.


Roy mengusap lembut puncak kepala Natasha, dirinya sangat tidak menyangka kejadian seperti ini bisa menimpa putri kesayangannya. Seharian ini ia hanya terus menerus menangis menunggu akan kesadaran Natasha.


"Dia baik baik saja, beristirahatlah" ucap Roy.


"Aku mau menemui Jo" Natasha dengan mata berkaca kaca menatap kedua mata ayahnya.


Natasha menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan ucapan Rain.


"Aku tidak apa apa ayah. Tasha mau menemuinya sekarang, apa boleh?"


Karena merasa tidak tega Roy pun mengiyakan dan membantu Natasha berdiri dari tidurnya. Roy menuntun langkah Natasha sambil membawa kantong infus yang tersambung di tangan Natasha.


Setelah mereka berdua sampai disana terlihat Jonathan yang masih tidak sadarkan diri. Sedangkan Sara sedang tidur tepat di sebelah ranjang putranya, Sara kini terbangun karena sebuah suara pintu yang bergeser.


"Maaf jika kami membangunkanmu" Roy berjalan sambil membantu langkah Natasha mendekat kearah ranjang Jonathan.


"Tidak apa-apa Roy" Sara berdiri lalu menghampiri mereka berdua.


"Dimana Key?" tanya Roy sambil mencari keberadaan sahabatnya itu.


"Dia sedang pulang mengambil pakaian untukku" Sara tersenyum kearah Natasha dan memeluknya. "Syukurlah kau sudah bangun, Tasha"


Suara bergetar di rasakan Natasha saat Sara memeluknya. Dirinya bisa merasakan kesedihan yang Sara rasakan.


"Jo, dia belum juga tersadar" bulir air mata kembali mengalir di pipi Sara.


Natasha saat itu hanya bisa mengelus lembut punggung Sara untuk menenangkan wanita itu. Walaupun dirinya sebenarnya ikut terluka saat melihat keadaan Jonathan yang sedang terbaring disana.


***


Sudah tiga hari berlalu, Jonathan masih belum juga membuka matanya. Setiap hari Natasha selalu menghabiskan waktu di kamar inap Jonathan, bercerita di sebelah ranjangnya dan membisikan kata kata untuknya agar ia segera terbangun. Bahkan dirinya lebih sering berada di kamar Jonathan daripada kamar rawatnya sendiri.


Rasa sesak melingkupi hatinya, kalau saja Jonathan tidak datang pada malam itu, seharusnya Jonathan baik baik saja sekarang. Natasha memandangi wajah Jonathan yang terlihat pucat, ia mengusap lembut wajah laki laki itu dengan tangan kanannya.


"Seharusnya kau tidak datang untukku" ucapnya dengan lirih, Natasha kembali mengusap air matanya. Entah sudah yang keberapa kali dirinya menangis di sebelah Jonathan. Jemarinya kembali menggenggam erat tangan Jonathan.


Kemarin setelah dirinya tersadar, Natasha mengecek bagian tubuhnya yang sempat terkena tusukan jarum dari Mike, namun di lengannya sama sekali tidak ada luka sedikitpun. Dan hal itu cukup membuat dirinya terkejut, karena sangat tidak mungkin luka bisa sembuh dengan secepat itu.


Gerakan dari tangan Jonathan membuat mata Natasha berkedip dan menyadarkan ia dari lamunannya.


"Jo?" ucapnya lembut. Natasha kembali memastikan dan melihat pergerakan dari kedua mata Jonathan yang perlahan terbuka.


Bulir air mata kembali menggenang di kedua mata Natasha, "Syukurlah kau sudah sadar" dengan cepat Natasha memeluk tubuh Jonathan.


***