
Kevin mengepalkan tangannya melihat Nancy pergi bersama kakaknya. Dia merasa kesal, tidak pernah ada yang mempermalukannya di depan umum seperti ini, bahkan di tempat yang banyak orang mengenalnya. Kevin tersenyum miring, gadis itu sangat berbeda dari semua deretan mantan Kevin, sungguh menarik.
"Hei kev, siapa orang barusan?" tanya Gabriel.
"Orang gila." sahut Kevin.
"Ayolah, sejak kapan seorang Kevin tidak bisa membalas?" Gabriel merangkul pundak Kevin sambil tertawa.
"Kau minta di hajar, ha?" Kevin mengangkat tangannya, membuat Gabriel melangkah mundur.
"Woow, relax bro.. Seharusnya kau menghajar orang tadi, bukan aku."
"Aku sedang tidak dalam mood bercanda Gab, lebih baik kau tutup mulutmu!"
"Im sorry, okey.. Lebih baik aku menggambilkan es batu supaya wajahmu tidak terlalu biru" ucap Gabriel.
"Tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri dirumah" Kevin pun pergi meninggalkan Gabriel.
Kevin pergi menuju parkiran, dari kejauhan ia melihat Nancy masuk kedalam mobil bersama dengan Mikael. Rasanya ingin sekali ia menarik gadis itu karena perlakuan kasar Mikael, tapi rasanya tidak mungkin ia melawan kakak kandung Nancy dengan tangannya sendiri. Jadi ia hanya bisa memastikan keadaan Nancy dari jarak jauh.
Mikael mendorong Nancy untuk masuk kedalam mobilnya dan menutup pintu itu dengan keras.
"Aku tidak mau pulang kak" lirih Nancy.
"Diam! Jangan membantah lagi! Bisa bisanya kau bersama dengan orang seperti itu!" kemudian Mikael menyusul masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengamannya, menjalankan mobilnya.
"Barang barangku, masih ada dirumah Nichole"
"Tidak perlu diambil! Aku masih sanggup untuk membelinya lagi!" seru Mikael.
Nancy hanya diam tidak berani menjawab perkataan kakaknya, jika sedang marah Mikael bisa saja melakukan tindakan yang tidak di duga sama sekali. Karena itu, dia benar benar tidak ingin Kevin membuat masalah dengan Mikael.
"Pasti ini semua perbuatan kak Tasha, benar benar tidak bisa di percaya" gumam Nancy dengan wajah yang sedih memandang kearah luar jendela mobil.
***
"Jadi sejak kapan?" Natasha bertanya pada Jonathan yang sedang menyetir mobilnya.
"Apanya?" tanya Jonathan heran.
"Sejak kapan kau menyukaiku?" Natasha penasaran, ia tidak menyangka akan mendapatkan pengakuan dari Jonathan dengan begitu romantis.
"...sejak, dulu."
"Dulu itu kapan?" matanya berbinar menahan keingintahuan.
Jonathan berdeham, tenggorokannya seakan kering seketika, bingung menjawab pertanyaan tiba tiba yang di berikan kepadanya.
"Aku tidak tau kapan tepatnya itu, tapi memang sudah cukup lama"
"hmmm.. Apa sejak aku bekerja jadi sekretarismu?" tebak Natasha.
"..." Jonathan melirik sekilas kearah Natasha. Jauh lebih lama dari itu, dalam hatinya ia berkata.
"Apa sejak mimpi itu?" Natasha masih menunggu jawaban dari Jonathan.
"Apa saat kita pergi bersama ke Italia?" tanya Natasha lagi.
Jonathan masih terdiam. Tidak, jauh lebih lama dari itu ia menyukai Natasha.
"Apa saat aku masuk ke perusahaanmu? Saat kita kuliah? Atau saat kita masih sekolah?"
Jonathan berfikir, bahkan sepertinya dia sudah menyukai Natasha sebelum mereka bersekolah.
"Natasha, aku sedang menyetir" jawab Jonathan lembut.
"Ah menyebalkan. Jawab dulu dong. Aku kan penasaran, benar benar penasaran." Natasha menyilangkan tangannya dan sengaja memasang wajah kesal.
Jonathan terdiam, dia tidak bisa mengatakannya. Kalau ia jujur, Natasha pasti akan meledeknya karena tidak bisa mengungkapkan perasaannya dari dulu. Bahkan saat ini pun Jonathan tidak menyangka bisa mengungkapkan perasaannya.
"Kau, banyak sekali rahasia ya" ucap Natasha. Jonathan hanya tertawa mendengarnya.
"Bagaimana denganmu?" tanya Jonathan.
"Aku?"
"Iya, sejak kapan kau menyukaiku?" Jonathan membalikkan pertanyaan tadi.
"Untuk apa aku menjawab pertanyaan yang kau sendiri tidak mau menjawabnya. Jangan mencontek pertanyaanku!" ucap Natasha.
"Lagipula... Apa aku pernah bilang kalau aku menyukaimu juga?" sambung Natasha. Jonathan mengerutkan alisnya dan melirik kearah Natasha.
"Jadi kau tidak menyukaiku?"
"Aku juga tidak pernah bilang begitu"
"Jangan membuat ini rumit, Tasha" gadis itu tertawa mendengar perkataan Jonathan. Apa permainan tarik ulur ini akan berhasil dalam sebuah hubungan. Natasha tersenyum meledek. Tapi selama ini dia lebih banyak mengulur daripada menarik Jonathan mendekat.
"Aku masih bingung, aku akan pikirkan lagi nanti" jawab Natasha.
"Kau ini, benar benar menyebalkan. Bagaimana bisa pernyataan romantisku tadi harus di pertimbangkan lagi. Kau tau aku sudah lama menanti hari ini" ucap Jonathan.
"Baiklah baiklah, pikirkan ini selama yang kau mau!"
"Nah, begitu lebih baik" Natasha tersenyum puas.
"Kita lihat saja. Sampai berapa lama kau bertahan. Aku akan membuatmu tergila gila padaku" Jonathan berkata dalam hati sambil tersenyum.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" Natasha mengernyitkan dahinya.
"Ah? Tidak apa apa. Memangnya tidak boleh kalau aku tersenyum"
"Mencurigakan" gumam Natasha. Setelah itu Jonathan kembali fokus ke jalan, beberapa menit berlalu tanpa obrolan.
"Kita sudah sampai rumahmu" Jonathan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Natasha.
"Cepat sekali. Apa boleh kita berkeliling dulu lebih lama?" dengan wajah sedih Natasha melihat kearah Jonathan.
"Mau kemana? Ini sudah malam" Jonathan mengalihkan wajahnya memandang Natasha.
"Kemana saja"
"Nanti ayahmu memarahiku." ucap Jonathan.
"Tidak akan" Natasha meyakinkan Jonathan.
"Tasha"
"Hm"
"Apa sebegitu inginnya kau terus bersamaku?" Jonathan tersenyum penuh arti.
"Bukan begitu"
"Lalu apa?" Natasha terdiam, memikirkan jawaban dari perkataan Jonathan, kalau bukan ingin terus bersama, lalu apa alasannya, ia merasa buntu akan alasan.
"Baiklahhh, aku turun." Natasha merasa akan kalah dalam perdebatan ini, ia berusaha melepas sabuk pengaman yang terpasang padanya, tapi tak kunjung terlepas.
"Ini tidak bisa terbuka, sepertinya macet" Natasha masih mencoba membukanya.
"Biar aku saja" Jonathan membuka sabuk pengamannya terlebih dahulu kemudian membantu Natasha. Jarak wajah Jonathan sangat dekat, membuat Natasha menahan nafasnya sebentar.
"Kau begini saja tidak bisa" Jonathan berhasil membuka sabuk pengamannya dan melihat kearah Natasha.
"Kenapa wajahmu jadi memerah?" tanya Jonathan menggoda.
"I-ini karena AC mobilmu rusak. Aku kepanasan, perbaiki AC dan juga sabuk pengamannya" Natasha membuka pintu mobil dan hendak keluar, namun tangannya di tarik kembali oleh Jonathan, dengan hitungan detik Jonathan mengecup sekilas bibir itu, lagi.
"Aku tunggu jawabanmu, selama apapun itu. Aku akan menunggu" ucap Jonathan.
.
.
.
.
.
Hallo kaka kaka sekalian..
Kelanjutan novel ini nanti bakal ada setelah bulan ramadhan ya..
aku mau hiatus sebulan hehehe
"Hiatus mulu lo thor" #timpuk
Maaf ya sayang, mohon maaf sebelumnya kalau ada yang menunggu kelanjutannya wkwkwk #kepedean
Karena aku juga lagi sibuk di kantor, jadi agak susah nyari waktu luang.. huhu :(
dan biar kalian fokus juga selama bulan ramadhan ini... :3
"Alasan lu thor"
Huaaa maaf ya kaka kaka... pokoknya setelah ramadhan bakal ada crazy up, jadi di tunggu ya.. >_<
"Aku lelah menunggumu, sampe lupa alur thor"
Aku tidak bisa seperti author lain yg bisa up to date :(
Yaudah itu aja wkwkwk
Sekian..
Terima Kasihhh~~
Mohon Maaf Lahir dan Batin ya~