
"Jo-" dengan wajah memerah Natasha menundukan wajahnya saat ciuman itu berakhir.
"Aku tidak tau harus dari mana aku mulai bicara. Tapi ku harap, kau mengerti" Jonathan mengusap lembut rambut Natasha dengan kedua tangannya dan mengecup kening Natasha.
Natasha mengangkat kembali wajahnya dan menatap dalam mata biru itu. Masih mencoba menetralkan detak jantungnya yang seakan mau meledak. Jika benar dugannya saat ini, berarti Jonathan menyukainya. Bagaimana bisa? Sebaiknya ia harus berpura pura tidak paham akan situasi ini. Iya, hanya untuk memastikan.
"Jo.. Aku tidak mengerti maksudmu" Natasha menggigit bibirnya karena gugup. Bahkan rona merah itu masih belum hilang dari wajahnya.
"Tidak mengerti. Atau kau hanya mengujiku?" bagaimana mungkin Natasha tidak mengerti arti dari sebuah ciuman.
"A-aku tidak mengerti, sungguh" Natasha masih mencoba meyakinkan Jonathan, yang ia harapkan adalah pengakuan dari laki laki itu.
"Actingku sungguh payah" gerutu Natasha dalam hati.
"Baiklah, kalau masih ingin mendengarnya. Biarkan aku memelukmu"
"Ha?" Natasha mengedipkan matanya bingung, apa hubungannya pengakuan dengan pelukan.
Jonathan membenarkan posisinya dan meminta Natasha untuk berdiri. Kemudian ia memeluk Natasha dengan sangat erat, seakan tidak mau gadis itu lepas dari dekapannya. Natasha masih tidak bergeming dari posisinya. Hangat, dekapan ini sangat nyaman, seperti pelukan ayah. Lama kelamaan ia membalas pelukan itu.
"Tasha"
"Hm"
"Aku-" Jonathan memberi jeda dalam kalimatnya, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan kemudian ia memejamkan matanya.
"Menyukaimu" dengan nada pelan Jonathan berbisik di telinga Natasha. Mendengar kata kaya itu membuat Natasha tersenyum dalam pelukan Jonathan.
***
The 27 Club, Ottawa
Di sebuah club malam yang sangat ramai, terdengar suara dentuman musik yang sangat kencang dari segala sisi. Di sudut ruangan club ini terlihat 4 orang wanita dan 3 orang laki laki, mereka sedang tertawa sambil sesekali menghisap rokok dan meminum alkohol, entah untuk yang keberapa kalinya. Salah satu dari mereka adalah Nancy, ia tertawa dan bercanda dengan seorang laki laki yang sedang merangkulnya.
"Kau sungguh cantik malam ini" laki laki itu menaikan dagu Nancy dan menciumnya sekilas.
"Kau ini selalu saja menggodaku, Kevin" Nancy tersipu malu dengan pujian yang diberikan padanya.
"Ayo kita kesana" Kevin menaikan sudut bibirnya dan menarik tangan Nancy untuk ketengah ruangan.
"Aku tidak bisa menari" Nancy mencoba menahan tangan Kevin yang hendak membawanya.
"Ayolah, ikuti saja musiknya" akhirnya Nancy pun menurut dan menari ketengah ruangan. Dengan alunan musik ia menari bersama dengan Kevin, laki laki yang baru ia temui seminggu yang lalu benar benar sudah membuatnya lupa akan segala kesedihannya.
BUGGHHH..
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Kevin, ia tersungkur di bawah lantai dengan sedikit darah mengalir dari hidungnya. Orang orang yang melihat itu seketika terdiam dari aktifitasnya. Nancy terkejut saat mendapatkan kakaknya lah yang memukul Kevin. Mikael dengan wajah yang sangat marah menarik kerah baju Kevin dan mengangkatnya agar berdiri.
"Sialan" Ia mengangkat tangan kanannya, bersiap mendaratkan pukulan untuk yang kedua kalinya.
"Hentikan kak, kumohon" Nancy menatap wajah kakaknya dengan mata yang berkaca kaca berharap agar ia melepaskan Kevin. Mikael melonggarkan genggamannya dan mengurungkan niatnya untuk menghajar Kevin.
"Jadi orang ini yang membuatmu kabur dari rumah?!" tanya Mike dengan nada suara tinggi, membuat mereka bertiga menjadi pusat perhatian disana.
"Kak, kita bisa bicarakan ini nanti" Nancy mencoba menarik lengan Mikael agar menjauh dari keramaian.
"Lepaskan! Dan jawab pertanyaanku!" Mikael menepis tangan Nancy yang menyentuh lengannya.
"Tidak kak, ini bukan salahnya. Ini semua salahku" Nancy menunduk dan menangis, ia menjawab dengan tubuh yang gemetar.
"Jangan menangis!"
"Lepaskan Kevin, kak" Nancy memegang ujung baju Mikael dan sedikit menariknya.
"Kau ini! Benar benar bodoh!" maki Mikael.
"Ma-af kak" ucap Nancy pelan dan hampir tidak di dengar oleh Mikael.
"Sungguh drama" tiba tiba Kevin memberi tiga tepukkan dari tangannya.
"Diam kau!" mendengar itu, perhatian Mikael kembali pada Kevin. Ia mendorong bahu Kevin dengan kedua tangannya.
"Ini bukan salahnya, bukan juga salahku!" Kevin melangkah lebih maju kedepan, ia menghapus sisa darah yang mengalir dari hidungnya.
"Ini semua salah keluarganya! Kalau benar kau memperhatikannya, adikmu tidak akan pernah kabur!" Kevin dengan penuh penekanan berbicara di hadapan Mikael.
"Kevin! cukup!" Nancy mendorong perlahan tubuh Kevin agar menjauh dari Mikael.
"Berani sekali kau! Bocah brengsek!" Mikael hendak meraih Kevin namun berhasil dihentikan oleh Nancy.
"Kakk.. Sudah, ayo kita pergi dari sini" Nancy menarik Mikael keluar dari tempat itu.
"Urusan kita belum selesai!" seru Mikael kepada Kevin. Ia terpaksa mengikuti kemauan adiknya dan pergi keluar dari club.
"Baiklah. Sampai bertemu lagi" Kevin tersenyum miring melihat Mikael yang sudah melangkah pergi dari tempat itu.
.
.
.
.
.