Magical Love

Magical Love
BAB 4 1st Meet Tabrak-an (lari) 3



 Bel pulang sekolah berbunyi.


      "Arumi gue pulang duluan ya, udah dijemput byeee" ucap Alice lari keluar kelas.


       "ya hati-hati" ucap Arumi melambaikan tangannya ke Alice. Dia menghembuskan nafas perlahan, hari ini kak Mikel ga bisa jemput. Tadi kak Mikel SMS katanya mau nemuin temennya yang dari Jakarta pindah ke Bandung sekalian bantuin katanya. Huftt~ lagi-lagi Arumi menghela nafas. Tau gini tadi bawa motor aja sendiri daripada dianter malah ga dijemput, dia mengambil tasnya dan berjalan ke luar kelas menuju halte. Sebelah tangannya memegang ponsel dan tangan yang sebelah lagi memegang erat tali gendongan tas di dadanya. Kepalanya menunduk dan menendang-nendang sesuatu yang ditemui kakinya, untung sekarang sekolah sudah mulai sepi sehingga tidak ada yang jadi korban tendangan sesuatu dari kakinya. Saking keras dia menendang, sepatu kaki kanan nya terlempar jauh dan mengenai angsa yang kebetulan, sedang di luar kandang di sebelah gerbang sekolah. Arumi kontan kaget dan berteriak.


      "yaahhh yahhh ahhh sepatu gue" teriak Arumi memandangi sepatunya tepat mengenai kepala angsa. Arumi dengan sigap berlari menghindari angsa yang mulai mengejarnya. Tapi begonya, Arumi malah lari ke pos saptam yang artinya sama aja lari ke arah angsa tapi memutar ke kiri, sehingga angsa akan lebih cepat mendekati Arumi.


      "bang....bang ucok tolong saya bang.."teriak Arumi berlari ke arah bang ucok di dalam pos saptam.


      "eh neng cepet neng ke sini masuk ke pos saptam" teriak bang ucok dan berusaha mencari kayu atau pentungan atau apa kek yang bisa mengusir angsa.


      "hush...hush" teriak bang ucok setelah menemukan yang dicarinya dan mengusir angsa tersebut.


      "cepet neng masuk" teriak bang ucok lagi. Setelah sampai Arumi langsung masuk ke pos saptam dan duduk di kursi menselonjorkan kakinya sambil memijit-mijit sedikit.


     "makasih bang ucok" ucap Arumi terengah-engah.


     "iya neng, sama-sama. Angsa yang tadi emang bandel sih neng, sukanya kabur dari kandang, udah ga betah kali ya neng." Ucap bang ucok sambil mengambilkan minuman kemasan untuk Arumi. Arumi langsung menerima minuman kemasan tersebut dan meneguk sampai abis.


   "makasih bang ucok. angsanya udah ga ada kan bang" tanya Arumi lebih tenang.


   "udah aman ko neng, udah saya masukin kandang tadi"


   "ya udah bang ucok, saya mau pulang dulu. Makasih ya bang ucok" ucap Arumi dan berdiri, seketika Arumi sadar sepatu yang sebelah kanan ga ada.


   "kenapa lagi neng" Tanya bang ucok.


   "sepatu saya tadi kelempar bang ucok, saya mau cari dulu, kayanya tadi jatuh di deket situ deh" ucap Arumi menunjuk depan pos saptam.


   "mau dibantu cariin ga neng." Tawar bang ucok.


   "ehh gausah, biar saya cari sendiri" ucap Arumi kemudian berjalan keluar pos saptam.


    "yaudah neng, bang ucok mau lanjut kerja lagi" ucap bang Ucok. Arumi hanya mengangguk disertai senyuman terima kasih dan melanjutkan untuk mencari sepatunya. Setelah menemukan sepatunya tergeletak di dekat tong sampah dia langsung menghampiri sepatunya dengan berjalan tertatih-tatih. Selesai memakai sepatu dia berjalan menuju halte untuk pulang. Aneh banget sih sekolahnya udah keren-keren tapi peliharaannya angsa, emang ga ada yang lain apa, sekolah aja harus ada peliharaan. Tau gini dulu ga masuk sekolah ini deh. Dari namanya udah JIS Jeguk Internasional School tak kira sistem dan segala ***** bengeknya kaya korea ehh ternyata sama aja kaya SMA lain malah ini SMA lebih aneh dari SMA lain masa melihara angsa, batin Arumi masih jengkel dengan kejadian tadi. Arumi duduk di halte menunggu bus arah ke rumahnya.


Tanpa Arumi dan bang Ucok sadari dari tadi ada yang melihat kejadian menggilakan tadi, Rico tertawa terbahak-bahak di balik kemudi mobilnya. Sebelum pulang tadi Rico berhenti sebentar di ujung parkiran karena ada yang menelefon. Ketika akan melajukan mobilnya kembali Rico melihat cewek yang Rico tau temen sekelasnya sepatunya terlempar dan mengenai kepala angsa dan kejar-kejaran angsa dan cewek itupun terjadi. Jelas saja Rico tertawa terpingkal-pingkal sampai airmatanya keluar sedikit. Kok bisa ada kejadian menggilakan dan menggelikan macam itu, pikir Rico hahaha.


___****___


Rico memarkirkan mobilnya tepat di depan teras dan langsung memasuki rumahnya tanpa salam. Ia langsung mencari keberadaan kakak sepupunya yang mulai hari ini akan tinggal di rumahnya. Kebetulan banget soalnya dia juga lama-lama bosen di rumah sendirian ga ada yang bisa diajak ngobrol nyambung. Bisa aja sih maen ke rumah temen, tapi kan dia baru pindah setengah bulan di Bandung, masuk sekolah aja baru tadi mana punya temen yang bisa langsung diajak maen ntar dikira sok kenal lagi. Sampai di kamar yang tepat di samping kamarnya, dia yakin kakak sepupunya ada di dalam soalnya kemaren kamar ini tiba-tiba dibersihin sama bik Inah pembantu rumah tangga di rumah Rico khusus bersih-bersih dan memasak. Tanpa berpikir panjang dia langsung masuk ke kamar tersebut.


"cakka.." teriaknya dari balik pintu.


"eh ric lo udah balik?" Tanya Cakka kakak sepupu Rico.


"kan gue udah ada di sini berati gue udah balik dong, gimana sih lo weee~?" balasnya jail.


"kan gue cuma basa basi gitu. Lo masih anak-anak jangan terlalu jail deh sama orang" ujar Cakka membela diri.


"ko jadi nyalah-nyalahin gue sih" kesalnya.


"ahh udah udah, ntar malah jadi panjang. Kenalin aja nih temen gue namanya Mikel" ujar Cakka sambil menunjuk Mikel yang sedang duduk di sofa dan menghampiri Cakka dan Rico.


"Mikel Pratama Raveno , lo bisa panggil gue Mikel atau L" ucap Mikel memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Rico.


"ehh tunggu-tunggu ko gue baru nyadar lo ga manggil gue pake embel-embel kakak, lo kecil-kecil ga sopan ya, gue ini lebih tua 5 tahun dari lo, lo lupa apa pura-pura" ucap Cakka. Tangan Cakka dilipat di dada sambil menatap Rico tajam.


"hehehe, biar lebih akrab gitu kak" ujar Rico menggaruk tengkuknya bingung.


"mulai detik ini lo manggil gue harus pake embel-embel kakak sama temen gue Mikel juga. Mikel juga seumuran sama gue. Dan... kalo lo tetep manggil gue cakka... cakka.. gue bakal laporin lo ke bokap lo biar lo ga dikasih uang jajan sebulan karena ga sopan sama kakak sepupu lo sendiri. Ngerti!!." Ancam Cakka masih melipat tangan di dadanya.


"ya ampun kak tadi cuma bercanda juga, lo nganggepnya seruis amat. Ehmm... gue ke kamar dulu deh kak. Byee.. bye kak Mikel." Rico langsung kabur ke kamarnya. Cakka Cuma menggeram sedangkan Mikel hanya cekikikan. Mikel menenangkan Cakka yang kebakaran jenggot gara-gara ulah Rico tadi.


___****___


Arumi masih di halte menunggu bus datang padahal sudah menunjukan pukul setengah 5 dan awan juga mulai mendung. Sebentar lagi hujan. Arumi berusaha sabar sambil menggosok kedua tangannya yang mulai kedinginan dan kakinya juga gemetar.Ditiup-tiup kedua tangannya supaya lebih hangat dan kepalanya bolak-balik menatap jalan siapa tahu busnya datang. Pukul setengah 6 bus juga tidak datang-datang.Dia menyerah dan langsung berdiri sambil menghentak-hentakan kakinya seraya mengumpat tidak jelas kemudian mengeluarkan ponselnya.


kak lg dimna?


Udh selese belum sama tmenya.


gw msih di halte ga ada bus yg lwat.


bentar lg ujan nih.


Arumi mengirim SMS ke kakaknya Mikel. Beberapa detik kemudian ponselnya bergetar menandakan ada SMS. Dari kak Mikel.


Iy nih bru slese.


Gw kesitu skrng. Wait...


Arumi langsung membalas SMS tersebut.


Cepetannnn...!!!!!! Ga pke lama...


Arumi menunggu sambil terus menggosok gosokan tangannya. HACHIMMM~~~... Arumi menggaruk hidungnya yang gatal. Aduh ko gue bersin sih, biasanya juga pulang sampe malem ga papa kan daya tahan tubuh gue kebal. Ko sekarang gini. Apa gara-gara gue ga sarapan dan makan siang tadi yaa,batin Arumi. Arumi langsung berdiri dan berjalan bolak balik karena sudah tidak tahan dingin.


Beberapa menit kemudian Mikel sampai dan Arumi langsung membonceng di belakang dan tancap gas pulang ke rumah. Untung Mikel sampai belum hujan, jadi mereka tidak kehujanan.


___****___


     "rambut di dahi lo singkirin dulu, gue mau kompres biar demam lo turun." perintah Mikel ke Arumi sebab gara-gara acara menunggu bus yang ga dateng-dateng di halte Arumi jadi flu dan demam.


    "mmhmm yaa kak...uhukk uhukk" balas Arumi serak karena tenggorokannya terasa kering.


     "tadi pagi mereka nelfon" ucap Mikel sambil meletakan handuk kompresan dan membuat Arumi mengerutkan kening, mereka siapa?. Mikel menghela nafas panjang..


      "bokap" jawab Mikel pendek dan langsung membuat Arumi kaget hingga tersedak. Udah lagi batuk tersedak mantep ga tuh.


      "uhukk..uhukk..uhukkk..." Arumi menepuk-nepuk dadanya biar bisa bernafas normal kembali. Setelah bisa bernafas normal kembali, Arumi menatap Mikel dengan pandangan bingung, "bokapp? emang ada apa sampe nelfon?" Tanyanya penasaran dengan suara yang masih serak.


     "ga ada, cuma nanya kabar sih" Jawab Mikel acuh tak acuh karena Mikel paling benci membahas masalah orangtuanya. Tapi karena Arumi harus tau, Mikel harus memberi taunya.


      "hemm syukur deh uhukk uhukk.."


      "ya udah lo tidur gih, besok juga demam lo turun ko. yang tadi ga usah dipikirin, gue cuma mau ngasih tau lo aja ko." Ucap Mikel dan membantu meletakan bantal di belakang kepala Arumi supaya handuk kompresannya tidak jatuh saat tertidur. Arumi hanya mengangguk dan mulai memejamkan matanya berusaha menghilangkan pikiran tentang kedua orangtuanya.


Lo seharusnya ga ngalamin kaya gini mi, lo masih kecil dan ga seharusnya mereka pergi ninggalin kita demi bisnis itu. Mikel membelai rambut Arumi dan mengecup dahinya. Mikel mematikan lampu kamar Arumi dan keluar dari kamar Arumi.