
"hehh bangun, cepet! udah siang nih"
"euhhh.."
“astaga"
Cowok bermata hazel itu sangat kesal. Sosok cewek kebo dengan rambut hitam acak-acakan yang sialnya adalah adiknya malah kembali tidur.
"hehh cepet bangun, mau sekolah kaga?"
"dasar kebo, ini udah jam SETENGAH 7?"
Dia sudah benar-benar geram dengan tingkah adiknya, dia menghembus-kan nafas berkali-kali menahan amarah sampai mata hazelnya menangkap sebuah penampakan gelas berisi air tinggal setengah di samping tempat tidur adiknya.
"bangun ga! gue siram tau rasa lo"
"Di hitungan ketiga belom bangun juga lo, gue siram"
Si cewek yang adalah adiknya tidak menghiraukan perkataannya malah semakin mengeratkan selimut ke tubuhnya yang jelas saja membuatnya semakin naik pitam dengan suara menggelegar dia mulai menghitung dengan kesal.
"Satu!"
"Dua!"
Dalam satu hentakan ditariknya selimut dengan paksa.
"Tiga!"
BYURRR
"Yaaa!! " cewek itu langsung mengusap wajahnya yang basah kuyup dan langsung duduk saking kagetnya.
"Dari tadi kek bangun, nyusahin aja" omelnya sambil berjalan keluar kamar, "ahh cepet siap-siap sana atau lo mau gue siram lagi?" ucapnya kemudian sambil menoleh menatap adiknya dengan senyum manis andalannya.
"yaaaa lo gila yaa, kasur gue basah juga" teriak adiknya kesal.
"ya itu sih salah lo sendiri" balasnya mengejek.
"Buruan turun, gue tunggu di bawah" ucapnya sambil berlari menghindari lemparan adiknya.
Setelah selesai mandi dan segala rupanya si cewek berambut sebahu itu menghampiri kakanya.
“eh lo bisa cepet gak sih, udah baik gue mau nganterin ke sekolah.” omelnya yang sudah menunggu di depan hampir seperampat jam.
“yaelahhh, bawel banget si kak, pantes belom dapat pacar sampe sekarang, bawel si jadi cowo. Dan satu lagi yang minta dianter juga siapa, tau\-tau lo nyuruh gue bangun dan nyiram gue pake air, truuus…..”
BKEEPP…
Dia langsung membekap mulut adiknya, menatap mata hazel seperti miliknya kemudian memakaikan helm bogo dengan penuh perhatian.
“nah diem gini kan cantik, udah cepet naik” ucapnya menepuk-nepuk jok belakang, dia langsung duduk dengan merengut. Kalo bukan kakak gue udah gue cabik-cabik, nyebelin banget jadi orang, untung ganteng, batin diknya
___****___
"Inget ya, kamu jangan bikin ulah di sini" ucap pak Andre mewanti-wanti anaknya setelah selesai makan.
"Iya pah." jawabnya ogah-ogahan.
"Oh ya kamu udah tau alamat sekolahnya di mana kan?" Tanya ayahnya yang dibalas dengan anggukan si cowok berparas tampan itu.
"Mau diantar ga, kan kamu baru pertama kali di sini, nanti kalo kamu kesasar gimana, nanti kaloo...."
"Aku bukan anak kecil lagi" ucap si cowok langsung memotong ucapan ayahnya dan berdiri dari kursi, mengambil tas di sofa dan bersiap untuk berangkat.
"Udah lah pah, dia kan masih remaja jadi ya kaya gitu, masih labil." hibur bu Ana pada suaminya.
"berangkat dulu mah" ucap si cowok menatap ibunya dan berlalu pergi.
"Hati-hati" teriak ibunya menatap ke arah pergi anaknya, dia hanya melambaikan tangannya malas.
"Padahal itu juga demi kebaikannya sendiri, tambah dewasa malah tambah ga karuan, terlalu sering dimanja jadi gitu" omel pak ayahnya.
"sudahlah pah, kita lanjutin sarapan aja ya" ajak istrinya. Pak Andre hanya melamun memikirkan kelakuan anaknya.