Magical Love

Magical Love
BAB 14 Firasat (2)



Rico berjalan cepat menuju kelas Jessica, sampai akhirnya tiba di pintu kelas pandangannya menyapu seisi kelas mencari keberadaan Jessica, dan pandangannya tiba di pojokan kelas tempat Jessica sedang tertawa-tawa dengan teman-temannya. Jessica yang sadar kehadiran Rico sontak histeris, langsung berlari menghampiri Rico manja, tidak pernah sekalipun Rico menginjakan kaki di kelasnya, Jessica pun menyambutnya dengan bahagia.


“Ehh enricooo, tumben lo ke kelas gue, kangen sama gue ya?” Manja Jessica dan melendot ke lengan Rico. 


“lepasin gue.” ucap Rico kasar melepas lendotan Jessica, Jessica manyun, “gue mau tanya lo sesuatu.” ucap Rico menatap kedua mata Jessica tajam. Jessica yang diliatin begitu langsung senang bukan main, dirapikannya rambutnya membalas tatapan Rico dengan berbinar.


“lo mau ngomong apa enrico sayang, gue jadi salting nih, lo mau nembak gue ya?” ucap Jessica pede memukul pelan lengan Rico manja. Rico mendengus.


"gausah kepedean deh lo" ucap Rico kemudian melipat tangannya di dada dan memiringkan kepalanya, "kemaren sore itu ulah lo kan?" tanya Rico langsung.


"bukan kok, bukan gue yang ngunci Arumi di gudang", ucap Arumi dan langsung menciut begitu melihat senyum miring Rico.


"gue ga ngomong kemaren Arumi kekunci di gudang, kok lo bisa tau sih?" sindir Rico, Jessica langsung beku di tempat.


"ah itu kemaren, itu temen gue yang cerita . ." bela Jessica gelagapan, bego bego rutuk Jessica dalam hati.


"jadi emang lo ya pelakunya, mulai detik ini please lo jangan gangguin lagi", tunjuk Rico ke dahinya, "dan jangan gangguin Arumi juga, kalo sampai gue liat lo muncul di depan gue lagi, Lo bakal tau akibatnya.”ucap Rico tajam, kemudian berbalik pergi keluar kelas. 


“emang hubungan lo sama Arumi apa, gue tau Arumi tinggal di rumah lo sekarang, jadi kemaren gue kasih dia pelajaran supaya dia cepet-cepet pergi dari rumah lo.” Ucap Jessica berani, Rico langsung berhenti dan menoleh menghadap Jessica.


BRAKKK~


Rico memukul meja di dekatnya, Jessica kaget tidak berani menatap kedua mata tajam Rico dan langsung mengkeret.


“lo ga tau apa-apa soal gue dan Arumi, dan lo ga usah ikut campur. Inget itu.” Rico langsung pergi tanpa memperdulikan Jessica yang menahan tangis.


___****___


Rico kembali ke kelasnya dengan perasaan masih jengkel. Sampai di depan kelas dia melihat ada Galang ketua ekskul futsal.


“gue mau kasih pengumuman buat yang ikutan ekskul futsal nanti sore kumpul di lapangan, jadwal dimajuin sehari berhubung hari sabtu nanti tanggal merah, terima kasih.” ucap Galang kemudian keluar setelah menyampaikan pengumumannya.


“ehh ric lo darimana aja, gue cariin dari tadi, malah baru nongol" ucap Daniel begitu melihat Rico masuk kelas, "oh ya, ntar sore ekskul futsal kumpul.” ucap Daniel lagi sambil merangkul Rico kasar.


“iyaa gue tau kok.” Jawab Rico berusaha menyingkirkan lengan Daniel.


Sorenya~~


Anggota ekskul futsal sudah berkumpul di lapangan, Galang langsung mengarahkan untuk anggota cowo bisa langsung ke permainan dan untuk anggota cewe akan melanjutkan latihan dasar seperti menendang, passing/mengumpan bola, chipping/mengumpan bola lambung, control/menahan bola, dribbling/menggiring bola, heading/menyundul bola, dan shooting/menembak. Semua anggota langsung menyebar ke penjuru lapangan. Selang 30 menit tiba tiba gerimis disertai petir, untuk keselamatan akhirnya Galang memutuskan menyudahi dan melanjutkannya minggu depan. Rico bergegas untuk pulang tapi saat menuju parkiran kedua matanya melihat Arumi sedang duduk di tepi lapangan, Rico berlari mendekati Arumi.


“loh mi lo ikutan futsal juga?” tanya Rico setelah berdiri di samping Arumi. Arumi menengadahkan kepalanya menatap Rico.


“ehh lo, iya gue ikutan futsal. kenapa? Lo ga seneng gue ikut?” tanya Arumi kemudan berdiri berniat pulang.


“bukan gitu mi, gue kaget aja liat lo di sini, tadi gue ga terlalu perhatiin yang cewe-cewe” jawab Rico menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“maksudnya lo kan cewe lo mi, dan kalo gue liat-liat lo ikutnya yang kecowo-cowoan mulu” 


“terus ga boleh gitu gue ikut ekskul yang kecowo-cowoan.”


“bukan gitu juga sih hehehe.” Arumi mendengus.


Tiba-tiba hujan turun dan terus bertambah deras disertai kilat menyambar-nyambar. Mereka berdua langsung berlari ke depan kelas untuk berteduh.


“aduh hujannya deres lagi” desah Arumi.


“ujan-ujanan aja yuk mi sampe parkiran, lo ga bawa motor kan, nebeng gue aja baliknya.” tawar Rico.


“heh lo gila ya dari sini ke parkiran tuh lumayan jauh. Satu kilo ada mungkin.”


“ngaco lo. Paling ga ada 500 meter, yuk ah keburu gelap ntar” paksa Rico.


“ga mau gue, baru sembuh pilek tau, gue ga mau pilek lagi.” tolak Arumi mentah-mentah sambil memeluk tubuhnya yang mulai kedinginan.


“gue jamin engga yuk cepet” Rico langsung menarik tangan Arumi kemudian menggunakan jaket yang dari tadi tersampir di bahunya untuk memayungi mereka berdua menuju parkiran. Muka Arumi langsung merah padam, bagaimana tidak, posisisnya sekarang sangat dekat dengan Rico, Arumi bahkan dapat  mencium aroma tubuh Rico. Arumi memandang wajah Rico di sebelahnya kemudian tanpa sengaja Rico juga balik menatap Arumi, Arumi langsung salting dan menundukan kepalanya malu. Sesampainya di mobil Rico memberikan seiimut yang ada di kursi belakang ke Arumi, "pake ini, biar ga kedinginan," ucap Rico tersenyum.


"makasih" ucap Arumi pelan dan langsung menutup mukanya dengan selimut, duh bener-bener deh kok malah jadi deg-degan, batin Arumi.


Malamnya~


Arumi merapatkan selimutnya lebih erat lagi. Gara-gara ujan-ujanan tadi sekarang dia jadi menggigil kedinginan, untung pileknya ga kambuh lagi. Arumi menegok ke jam weker di samping ranjangnya. Jam 10. Arumi memejamkan matanya dan tertidur.


Pukul 01.00 Arumi terbangun dari tidurnya. Dia meraba meja di samping ranjangnya untuk mengambil gelas. Kosong. dia haus. Arumi memutuskan pergi ke dapur untuk mengambil air minum, begitu keluar dari kamarnya, dengan mata masih merem melek akibat masih mengantuk,  dia malah menabrak pintu kamar Rico. "Aduhh, sial" umpat Arumi, dia seketika  langsung melek, saat akan berbalik tiba-tiba terdengar suara krasak krusuk dari dalam kamar Rico. Karena penasaran Arumi mencoba memeriksa dan membuka pintu kamar Rico dan masuk secara perlahan. Ternyata Rico penyebab suara itu, tidurnya ga tenang, tubuhnya berkeringat banyak , mulutnya juga kaya komat kamit ga jelas. Karena takut kenapa-kenapa akhirnya  Arumi langsung memanggil tante Ana.


“emang Rico kenapa tante?” tanya Arumi duduk di samping ranjang setelah Rico tenang.


“Rico punya trauma sejak umur 7 tahun, sejak saat itu kalo tidur pasti dia mimpi buruk” Jawab tante Ana sedih sambil terus menggenggam tangan Rico, mengelus-elus pelan kemudian dikecupnya tangan Rico dengan sayang.


“ko bisa tante, emang ga diperiksa ke dokter atau psikolog gitu tante.”


“dulu waktu umur 7 tahun Rico sempet diculik, tante gatau apa yang terjadi pas dia diculik, pas ditanya dia cuma diem trus ketakutan tante jadi ga tega tanya-tanya lagi, sampai sekarang pun kalo ditanya jawabannya ga inget. sejak kejadian itu sampai sekarang Rico suka mimpi buruk dan kadang traumanya kambuh. Rico udah beberapa kali pergi ke psikolog tapi tetep ga ada hasilnya.” Jelas tante Ana sedih. Arumi cukup terkejut mendengar fakta itu lalu menatap Rico yang terlelap dengan sedih.


“kamu tidur lagi aja arumi, besok sekolah kan. Maaf ya bikin kamu jadi bangun tengah malem gini.” sesal tante Ana.


“engga papa ko tante, tadi kebetulan mau ke dapur ambil minum ehh malah liat Rico kaya gini jadi Arumi langsung panggil tante deh.” 


“makasih ya Arumi.”


“iya tante sama-sama, Arumi balik ke kamar dulu.”