
Pelajaran hari ini bablas ga ada yang masuk ke otak Rico. Di pikirannya cuma ada Arumi, Arumi dan arumi. Kenapa arumi bisa? Kenapa? Apa dulu dia pernah ketemu Arumi atau ada sesuatu yang Rico tidak ketahui entah itu apa. Dia harus mencari tau, sebenarnya Arumi itu siapa. Pandangannya kemudian tertuju pada Kevin yang duduk di depannya, kevin pasti bisa membantu.
"oi , vin" Rico menepuk pundak Kevin tiba-tiba.
"Apaan?" jawabnya tanpa menoleh.
"Denger-denger lo se smp sama Arumi?" tanya Rico sudah duduk di samping Kevin.
"iya, kenapa emang?" jawabnya sambil terus maminkan game di ponselnya PUBG.
"Arumi itu dulu kaya gimana? maksudnya apa dia anak pindahan atau apa gitu?"
"emm setau gue dia bukan anak pindahan deh, dulu ya gitu-gitu aja tuh anak, sama aja. Kenapa emang?
"ohh, kalo bokap nyokapnya lo tau?"
"kalo bokapnya gue lupa namanya tapi dia yang punya perusahaan Ravent House."
"Ravent House" ucap Rico bingung.
"itu loh bisnis properti yang cukup terkenal, kalo lo gatau google aja deh. Dulu waktu gue SMP 3 tahun gue sekelas terus sama Arumi, kalo gue sekelompok bareng seringnya dikerjain di rumah dia, dan gue ga pernah liat satu kalipun bokap nyokap dia, kalo ditanya cuma jawab lagi sibuk kerja jarang pulang, paling ya ketemu sama kakanya doang" jelas Kevin.
"Kak Mikel maksud lo"
"iya kak Mikel, baik banget dia mah"
"oke deh makasih infonya" ucap Rico kemudian berdiri melangkah keluar kelas.
"btw critanya lagi cari info calon besan nih" canda Kevin.
"Anggep aja gitu" balas Rico sambil lalu.
___****___
Arumi mengeluarkan motor dari parkiran dan bersiap untuk berangkat ke sekolah seperti biasa tapi tiba-tiba seseorang duduk di jok belakang motornya. Arumi kaget dan menoleh ke belakang jangan-jangan hantu lagi, ternyata Rico.
“haii mi. hehehe gue nebeng lo ya ke sekolah.” Rico menunjukan senyum manisnya.
“a. .paa!" ucap Arumi gagap begitu melihat senyum Rico, wajahnya langsung kembali menghadap depan, "emang mobil lo kemana?” tanyanya.
“mobil gue di parkiran lah masa di kolam”
“maksud gue mobil lo sakit? Ko pake nebeng gue segala.”
“mobil gue ga papa. Gue cuma pengen coba naik motor ke sekolah. Soalnya lo selalu sampe di sekolah duluan daripada gue padahal berangkatnya bareng.”
“ya jelas dong. Kan gue bawanya gesit. di daerah bandung yang macet gini emang enaknya bawa motor, ga kejebak macet.” ucap Arumi bangga sambil memainkan stang motornya layaknya pembalap.
“ya udah yuk berangkat.” ucap Rico memeluk tubuh Arumi dari belakang, Arumi beku seketika.
“ini gue yang di depan?” tunjuk Arumi ke diri sendiri.
“ya iyalahh. Masa gue.” Tunjuk Rico ke diri sendiri.
“ya udah deh tapi lepasin dulu nih tangan lo" ucapnya melepas tangan Rico yang memeluk tubuhnya, Rico merengut, " lo beruntung nih bisa ngrasain aksi pembalap gue yang hebat, kalo kak Mikel suruh nebeng gue mesti kaga pernah mau.” ucapnya lagi.
“yaudah ayo cepet jalan. Lets goo…” teriak Rico memeluk Arumi lagi tapi langsung dilepasnya kembali, "sorry kelepasan" ucapnya, Arumi mendengus.
“lets go . .” teriak Arumi.
Sampai di sekolah. Rico langsung turun dari motor dengan dada masih dag dig dug. Gilaa. Pantes kak Mikel ga mau nebeng Arumi, orang bawa motornya gila gilaan kaya lagi dikejar-kejar polisi, kenceng banget salip sana salip sini. kalo ga pake helm, bibirnya pasti udah kaya Komeng di iklan iklan TV.
“gimana rasanya nebeng gue. Asik kan” seru Arumi.
“gilaa deh mi, gue rasanya kaya mau terbang tau ga, tapi seru deh. Kapan-kapan gue nebeng lagi yaa.” seru Rico. Walau bikin dag dig dug tapi asik dan seru. Mereka berjalan beriringan menuju kelas.
“ehhh ciee yang berangkatnya boncengan nih yeee.” goda Kevin begitu mereka masuk kelas.
“ko lo tau sihh vin.” tanya Rico penasaran.
“apa sih yang gue ga tau hahaha. Couple baru nih.” Kevin terus menggoda Rico dan Arumi. Arumi yang salah tingkah berlari menjauh.
“berisik deh lo vin, ga usah bikin gossip murahan kaya gitu deh.”ancam Rico. Kevin tertawa kegirangan.
Jam terakhir pelajaran Kimia. udah lagi panas, bikin pusing ehh belajarnya bahasa Kimia. What do you feel?? Cobaa…Rico keluar dari kelasnya dengan muka suntuk, akhirnya pulang juga, batinnya. Rico langsung berlari mengejar Arumi yang sudah jalan duluan di depannya.
“mi, gue nebeng lagi.” ucap Rico setelah di samping Arumi.
“okee sip. Tapi gue mau mampir ke rumah gue dulu ga papa, gue mau ambil sesuatu”
“okee ga masalah. Gue juga pengen tau rumah lo dimana.”
“kalo lo udah tau lo mau ngapain? Maling yaa.”
“enak ajaa. Ya gue bisa main gitu. Kalo lagi suntuk di rumah.”
“OH!” jawab Arumi singkat.
“ga ikhlas banget sih lo jawabnya.”
“suka-suka gue dong. Mulut-mulut gue.”
“terserah lo deh.” ucap Rico berjalan duluan menuju parkiran.
“okee udah siapp.” tanya Arumi setelah menaiki motornya.
“iya udah, yuk cepet jalan.”
“ga mau mi. besok-besok aja gue yang di depan. Kalo sekarang gue takut nabrak, masih pusing nih gara-gara Kimia.” Arumi mendengus dan langsung tancap gas meninggalkan sekolah.
___****___
Motor sudah memasuki perumahan rumah Arumi.
“ehh mi rumah lo yang mana.” teriak Rico dari belakang.
“di ujung jalan sana. Depan rumahnya pak RT.” tunjuk Arumi ke depan sana.
“rumah pak RTnya yang mana?” tanya Rico mengangkat kepalanya tinggi tinggi.
“lahh ituu tuhhh. Udah keliatan tuh”
“manaa mi.”
“ituuuu….”
“manaa sih mi?” Rico menatap rumah-rumah di ujung sana bingung.
“nih udah nyampe.” ucap Arumi menahan tawa lalu Arumi turun dari motornya.
“lo nipu gue ya, rumahnya di sini nunjuknya ke sana-sana.” Kesal Rico sambil menunjuk-nunjuk rumah di ujung sana. Arumi cuma ketawa lalu membuka pintu gerbang rumahnya.
“wahhh jambunya banyak yang udah mateng.” takjub Arumi langsung menuju pohon jambu tepat di samping rumahnya.
“tinggi amat nih pohon jambu.” ucap Rico menengadahkan kepalanya mencari ujung pohon.
“gue mau ambil jambunya dulu ya ric, lumayan banyak yang mateng” Arumi langsung siap-siap naik ke atas pohon.
“ehh mi jangan naik, lo kan pake rok.” Rico menarik tangan Arumi.
“soal itu sih ga jadi masalah. Nih liat.” Arumi mengangkat roknya tinggi-tinggi dan mengikatnya. Rico langsung menutup matanya kaget, “nih gue kan double pake celana olahraga, untung tadi pas ada pelajaran penjaskes” Rico membuka matanya.
“lo gila ya mi. gue kira lo mau telanjang di depan gue”
“idih najis, emang lo kira gue cewe apaan” Arumi langsung naik ke atas pohon. Rico melongo menatap Arumi yang naik dengan lincah.
“lo emang keturunan monyet ya mi, cepet banget naiknya.”
“diem lo, gue lagi konsen nih” teriaknya dari atas, “ricooo tangkap nih” Rico menerimanya dengan susah payah. Setelah puas naik pohon Arumi turun, “lumayan juga nih yang mateng, ntar bawa pulang ya Ric, enak lo jambunya.” Arumi memasukan jambu-jambunya ke tas kemudian masuk ke rumahnya tepatnya ke kamarnya.
“wahh boleh juga nih selera lo" puji Rico begitu masuk kamar Arumi.
"iya dong gue gitu, bentar ya gue mau nyari flashdisk dulu"
“lo suka warna-warna monokrom ya?” tanya Rico penasaran.
“engga juga sih, warna favorit gue sebenernya biru, cuma gue suka aja kalo kamarnya warna kaya gini terkesan elegan aja gitu, dulu malah nih tembok isinya poster semua cuma jadi kaya berantakan gitu, jadi gue copotin, tersisa satu ini doang” jelas Arumi sambil menunjuk poster tersebut.
“emang ini siapa? ganteng banget sih engga, gantengan gue malah, tapi diliat sekilas dia punya aura karismatik" tebak Rico.
"Wah gue suka cara pandang lo btw dia hanbin gue suka aja liat dia, apalagi sifatnya, dia pekerja keras, udah mengejar mimpinya dari dia masih kecil banget, gue salut loh" ucap Arumi bangga, " ahh dan juga gue dapat tanda tangannya waktu fansign dulu" Arumi menunjuk tanda tangannya. Rico mengangguk paham sambil mengamati setiap sudut kamar.
"eh mi, itu di atas apaan, gambar ya?" tanya Rico menunjuk atap kamar.
"oh kalo itu gambar-gambar luar angkasa, kak Mikel yang nglukis lo bagus kan, ohh ya kalo udah malem dan lampunya dimatiin jadi serasa kaya di luar angkasa tau” ucap Arumi pamer, Rico menatapnya takjub.
“benerann? Yaudah kita pulangnya nanti malem aja, kalo ga nginep aja sekalian" pinta Rico sambil kembali mengamati setiap sudut.
“apa! heh lo kira nih hotel, bisa tidur di sini seenak jidat lo"
“yahh mi pliss gue jadi pengen liat yang tadi lo bilang, lo sih bikin gue penasaran, ntar gue bilang orang rumah deh, pulangnya agak malem, gajadi nginep” paksa Rico.
“alesannya apa coba.”
“itu mah gampang ntar, urusan gue deh, iya mi plisss.” Rico mengatupkan kedua tangannya dan menatap Arumi memohon.
“terserah deh. Gue juga kangen sama rumah ini.”
“ehh mi ini foto waktu kita di gunung yaa?” tunjuk Rico ke salah satu foto di meja belajar Arumi.
“oh itu, iyaa gue cetak semua foto-foto yang bagus.”
“gue minta dong mi. ntar gue ganti deh"
“ambil aja yang lo mau mumpung gue lagi baik nih.”
“beneran mi wah ternyata lo baik banget deh” Rico mengacak rambut Arumi.
“ihh apaan sih" muka Arumi langsung memerah dan sedikit salah tingkah, "kita ke ruang tengah aja yuk, haus nih" ucap Arumi kemudian berlari keluar kamar.
"Ricoooo" panggil Arumi dari ruang tengah begitu menemukan minuman dingin di kulkas, "sini cepet keluar dari kamar gue, ngapain aja sih lo di dalem" Arumi duduk di depan TV meminum minumannya.
"gue lagi liat-liat foto waktu manjat dulu, gue ambil yang ini ya" ucap Rico begitu keluar dari kamar Arumi dan menunjukan foto pilihannya. Foto mereka berdua yang berlatar belakang bukit di pondok salada.
"iya ambil aja, nih lo haus juga kan" ucapnya sambil menyodorkan minuman dingin, "eh nonton film mau ga? film lama sih tapi recommended menurut gue" tawarnya.
"boleh" ucap Rico lalu meneguk minumannya sampai habis.