Magical Love

Magical Love
Canadian Rockies




Matahari terlihat baru saja terbit dari tempat peraduannya, Canadian Rockies adalah tempat yang di tuju Natasha dan Jonathan untuk hari ini. Mereka menaiki mobil yang di kemudikan Stave, laki laki itu memang sudah menunggu untuk menjemput mereka berdua dari satu jam yang lalu, menuju Rimrock Resort tempat dimana mereka semua menginap. Stave yang saat itu sedang menyetir merasa canggung melihat kesunyian di dalam mobil, ia melirik kearah Jonathan yang duduk di sebelahnya dan bergantian melirik Natasha yang duduk di belakang lewat kaca.


“Hmm.. Kenapa dari tadi kalian diam? Kalian tidak sedang bertengkar kan?” Ucap Stave untuk menghilangkan kecanggungan.


“Tidak” jawab Jonathan dan Natasha bersamaan.


"Kami baik baik saja" ucap Jonathan.


“Baiklah, aku akan menyalakan musik saja” seru Stave sambil tertawa kecil.


Ia pun mulai memutar lagu favoritnya, Westlife-I Lay My Love On You.


Just a smile and the rain is gone


Can hardly believe it (yeah)


There's an angel standing next to me


Reaching for my heart


Saat itu Jonathan memutar kepalanya kearah Natasha yang sedang melihat pemandangan di luar mobil. Lirik ini seperti apa yang ia rasakan, sangat mirip. Kemudian ia kembali membenarkan posisi duduk menghadap kearah depan dan membesarkan volume musiknya.


I lay my love on you


It's all I wanna do


Every time I breathe I feel brand new


You open up my heart


Show me all your love, and walk right through


As I lay my love on you


Seketika Natasha memutar kepalanya melihat kearah Jonathan, ia menyatukan alisnya, Natasha tau kalau Jonathan sengaja membesarkan volumenya agar Natasha lebih mendengarnya.


I never knew that love could feel so good


Like once in a life time


You change my world~


***


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Natasha turun dari mobil dan mengambil koper di bagasi belakang, tapi dengan cepat koper itu di rebut oleh Jonathan.


"Aku yang akan membawanya" ucap Jonathan. Natasha pun tersenyum melihat Jonathan yang sedang berjalan menjauh memunggunginya. Jonathan berjalan mendahului Natasha dan masuk kedalam Resort. Melihat itu Stave yang baru keluar dari mobil menyerahkan kunci mobil pada staff Hotel untuk memarkirkan mobilnya, ia sedikit berlari untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Jonathan.


"Jo, tunggu. Kau lupa meminta kunci kamarmu"


"Ah.. Iya aku lupa. Mana kuncinya?" Jonathan mengulurkan tangannya kearah Stave. Laki laki itu pun memberikan dua kartu pada Jonathan.


"Kamarmu bersebelahan dengan Natasha"


"Baiklah" Jonathan hendak berlalu pergi meninggalkan Stave.


"Tunggu, aku belum selesai bicara!" Stave menahan tangan Jonathan.


"Karena semua kamar disini penuh, tinggal tersisa dua kamar dan kamar itu saling terhubung dengan satu pintu di tengahnya, biasanya itu di pakai untuk keluarga yang sedang liburan bersama, aku bisa meminta staff sini untuk menguncinya sementara waktu. Nanti aku akan menyusul kesana" Stave menepuk pundak Jonathan.


"Tidak perlu" seru Jonathan.


"Apa maksudmu tidak perlu?" tanya Stave heran.


"Kau tidak perlu menguncinya" mendengar itu Stave berfikir tentang maksud dari ucapan Jonathan, tidak lama setelahnya ia tersenyum penuh arti pada Jonathan, ia melingkarkan lengannya di leher Jonathan dan berbisik tepat di telinga Jonathan.


"Seharusnya tadi aku memesankan satu kamar saja ya? Maaf, aku sangat tidak peka" ucap Stave sambil tertawa.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Natasha yang tiba tiba berdiri di sebelah Stave.


"Tidak ada. Hanya pembicaraan laki laki, bukan begitu Jo?"


"Lepaskan tanganmu" Jonathan menjauhkan lengan Stave dari lehernya.


"Baiklah, aku akan bersiap siap. Jangan lupa, kita akan berangkat jam 10 pagi untuk hiking ke beberapa tempat disini" Stave pun pergi meninggalkan mereka berdua.


***


Tidak lama kemudian, suara pintu terdengar, membuat Natasha yang hampir pulas kembali membuka matanya, Natasha melihat kearah suara itu, ia pun duduk dan melihat Jonathan masuk ke kamarnya dari pintu yang bersebelahan dengan lemari pakaian, Jonathan berjalan mendekati Natasha sambil membawa sebuah nampan berisikan makanan di atasnya.


"Kenapa kau bisa keluar dari pintu itu?" Natasha berdiri untuk melihat kemana pintu itu terhubung, ia melihat sebuah kamar yang sepertinya ruangan yang di tempati Jonathan.


"Ini. Makanlah dulu" Jonathan meletakan nampan itu di atas meja di dekat sofa.


"Jawab dulu pertanyaanku. Kenapa ruangan kita bisa terhubung seperti ini?" Natasha melirik curiga kearah Jonathan "Kau sengaja?"


"Kenapa kau jadi menuduhku! Disini memang hanya tersisa dua kamar yang kosong. Dan kau kan tau kalau Stave yang membookingnya, bukan aku." Seru Jonathan.


"Lalu apa yang kau bicarakan dengan Stave tadi di Lobby?"


"Membicarakan kamar di resort ini yang hanya tersisa dua"


"Apa pintu itu bisa di kunci?" tanya Natasha.


"Tidak bisa! Cepatlah makan, kau terlalu banyak bertanya. Duduklah!" Jonathan menarik tangan Natasha untuk duduk di atas sofa. Tapi pernyataan Jonathan masih membuat Natasha tidak puas akan jawabannya.


"Mana mungkin pintunya tidak bisa di kunci. Kau membohongiku kan?"


"Untuk apa aku berbohong" jawab Jonathan.


"Bagaimana kalau kau menyelinap masuk saat aku tidur!" ucap Natasha. Jonathan menghembuskan nafasnya berat.


"Kalau aku mau melakukan sesuatu yang buruk padamu, aku bisa melakukannya dari dulu" Jonathan pun mencubit pipi Natasha.


"Kau! Kenapa suka sekali mencubit pipiku. Ini sakit!" Natasha mengusap pipinya yang sedikit memerah.


"Ini salahmu karena terlalu banyak bicara. Sekarang diamlah dan makan."


"Iya aku makan" Natasha pun mengambil makanan di hadapannya dengan wajah kesal dan memulai sarapan paginya.


***


Di lain tempat, di waktu yang sama, Kassandra sedang mengikuti langkah kaki Rain dari belakang menaiki tangga. Setelah sampai di lantai paling atas, Rain membuka satu ruangan yang sepertinya sudah lama terkunci. Saat mereka berdua masuk kedalam terlihat banyak barang-barang yang sudah tertutup kain putih dan berdebu.


"Kita akan pergi dengan ini" Rain menunjuk kearah perapian yang terlihat sudah sangat tua.


"Kau yakin ini masih berfungsi?" tanya Kassandra.


"Mungkin saja masih" Rain menaikan kedua bahunya.


"Yang benar saja! Kalau kau saja ragu, bagaimana aku percaya ini bisa membawa kita ke Kanada"


"Lalu kau mau pergi dengan apa? Barang seperti ini sangat langka" tanya Rain.


"Kau kan bisa menggunakan tongkatmu. Penyihir tingkat atas sepertimu pasti bisa melakukannya"


"Kau mau kita tertangkap Henry?" tanya Rain sambil berdiri tepat di depan Kassandra.


"Tentu saja tidak. Kenapa kau tiba tiba membawa nama kakakku" Rain maju satu langkah, makin mendekatkan badannya kearah Kassandra.


"Sandra, kakakmu itu sangat pandai mendeteksi pengguna sihir yang melakukan transport. Apalagi jika aku membawamu. Pasti dia akan mengikuti kita" jelas Rain.


"Tapi aku tidak mau menaiki itu" Kassandra menunjuk kearah perapian yang menurutnya sudah rusak. Wanita itu sedikit berfikir untuk mencari cara lain.


"Ah.. aku tau! Nyonya Grumpy, dia punya perapian seperti ini dan sepertinya masih baru, tidak seperti punyamu!"


"Kau gila! Bagaimana cara kita meminta tolong padanya"


"Tinggal meminta tolong saja apa susahnya!"


"Tentu saja susah, dia pasti meminta imbalan yang setimpal" ucap Rain. Kassandra terdiam cukup lama untuk berfikir dan sesaat setelahnya ia tersenyum.


"Apa yang kau pikirkan ha?" tanya Rain.


"Tentu saja aku memikirkan ide yang sangat bagus"


"Apa itu?" Kassandra mendekatkan mulutnya di dekat telinganya Rain dan membisikannya.


"Jangan Lupa like dan Komentarnya ya kak, Thankyou~"