Magical Love

Magical Love
Black Hoodie




Natasha yang saat itu baru saja keluar dari toilet berjalan hendak kembali ke tendanya. Suara hembusan angin dan suara burung hantu yang bersautan membuat suasana hutan itu sangat mencekam. Tiba-tiba, di perjalanan dia merasa ada langkah kaki yang terus mendekatinya, karena merasa takut Natasha lebih mempercepat jalannya untuk menjauh, namun seseorang di belakangnya pun seperti ikut mempercepat langkah kakinya, perasaan buruk itu menyerangnya kembali, akhirnya Natasha pun berlari sekencang kencangnya. Sialnya, sebuah akar pohon menghalangi dan membuat Natasha tersungkur di tanah, senter yang ia pegang pun terjatuh.


Melihat itu, laki laki yang tadi mengikuti Natasha segera mengambil kesempatan dan membekap Natasha dengan sebuah sapu tangan yang sudah di berikan obat bius. Hanya dengan hitungan detik Natasha pun tidak sadarkan diri. Dia mengangkat tubuh Natasha yang tertidur dan membawanya ke sebuah tempat di tengah hutan yang lebih dalam.


***


Sentuhan di pipi Natasha membangunkan dirinya dari tidur. Matanya terbuka, namun rasa pusing itu masih ia rasakan.


Melihat Natasha terbangun laki laki itu menarik sebuah bangku kosong dan meletakannya tepat di depan Natasha, ia mendudukan tubuhnya disana. Sekarang mereka berdua duduk di bangku kayu yang saling berhadapan. Perbedaannya, tangan dan kaki Natasha kini sedang terikat.


Sekilas Natasha melihat seorang laki laki yang wajahnya tertutup kain sedang memperhatikan dirinya, namun karena pengaruh obat, Natasha tidak bisa membuka mata dan duduk dengan benar.


"Aku pasti sedang bermimpi lagi" lirih Natasha. Kejadian saat ini seperti de javu yang sudah ia alami.


"Kau, tidak sedang bermimpi" Jawab laki-laki itu.


"Aku mengenalmu" Natasha menyipitkan kedua matanya.


"Tentu saja kau mengenalku. Begitupun diriku yang sangat mengenalmu."


"Mike, kenapa kau melakukan ini padaku?"


Laki laki itu membuka penutup kainnya dan memperlihatkan wajahnya pada Natasha. Dirinya tersenyum dan merapihkan rambut Natasha yang berantakan ke belakang telinga.


Mikael, adalah orang yang mengikuti Natasha jauh sebelum dirinya masuk kedalam hutan.


"Aku hanya ingin bersamamu, apa itu salah?" Dia mengelus pipi Natasha dengan lembut. Merasa risih Natasha pun menjauhkan wajahnya.


"Lepaskan aku Mike" Natasha mencoba memberontak tapi ikatan di tangan dan kakinya terlalu kuat mengikat.


"Setelah ini aku akan melepaskanmu." Mikael mengeluarkan sebuah jarum suntik yang ia simpan di sebuah tas kecil miliknya. Jarum itu ia isikan sebuah cairan di dalam botol.


"Apa yang mau kau lakukan!" ucap Natasha saat melihat Mikael memegang lengan atasnya dan membukanya sedikit bajunya.


"Jauhkan itu dariku!" ucapnya sambil membulatkan matanya melihat sebuah jarum suntik di tangan Mikael.


"Ini tidak akan sakit" Mikael mengoleskan sebuah kapas yang sudah di basahi alkohol dan menyuntikan jarum itu pada Natasha. Bukan hanya satu kali, tapi obat itu di berikan sampai 3 kali melebihi dosis.


Hal itu membuat Natasha tidak bisa menggerakan seluruh tubuhnya walaupun ia dalam keadaan sadar. Bahkan mulutnya pun tidak dapat mengeluarkan suara. Mikael adalah seorang dokter syaraf, obat yang dia berikan berfungsi untuk melumpuhkan seluruh sistem syaraf tubuh Natasha.


Hanya satu hal yang dapat Natasha lakukan, ia hanya bisa mengeluarkan butiran bening dari sudut matanya. Berharap seseorang datang menyelamatkannya.


"Tenang sayang, setelah ini kau tidak akan merasakan apapun. Aku akan membawamu pergi jauh dari sini." Mikael mengusap pelan rambut Natasha.


BRRAAKK


Pintu yang terkunci itu seketika terbuka dengan satu dorongan yang sangat besar bersamaan dengan sekumpulan asap di sekelilingnya.


"Siapa itu!" Teriak Mike. Tidak ada jawaban dari balik pintu itu.


Seseorang memakai hoodie hitam yang menutupi wajahnya menghampiri Mikael dengan langkah yang pelan. Seringaian di bibirnya terlihat dari balik jubah yang ia kenakan.


"Jangan mendekat!" Mikael mulai mengeluarkan sebuah pistol dari tas miliknya.


"Lepaskan Natasha. Aku hanya akan memperingatkanmu satu kali" ucapnya.


"Tidak akan! Siapa kau!" balas Mikael.


Laki laki itu membuka hoodie hitamnya agar bisa terlihat Mikael.


"Jonathan?" Mikael tertawa sambil menodongkan pistol yang ia pegang. "Mundur! Atau kau akan kubunuh"


"Kau, tidak akan bisa membunuhku" ucapnya dengan begitu santai. Dirinya kembali melangkah hingga jarak mereka tersisa 5 meter.


Namun, suara derap kaki orang berlari terdengar dari arah luar semakin mendekat membuat pandangan semua orang tertuju ke sumber suara. Seorang laki laki dengan cepat memasuki rumah itu menggunakan sebuah senter di tangannya.


Mata Mikael semakin melebar saat melihat orang yang baru saja sampai.


"Jonathan?" Mikael mengusap sekilas matanya, ada dua Jonathan. "Sialan, apa apaan ini."


"Berehenti disana!"


DOORRR


Sebuah suara tembakan menyentak seluruh orang disana. Kaki Jonathan baru saja tertembak timah panas membuat dirinya terjatuh ke lantai.


Henry, dengan hoodie hitam menghembuskan nafasnya berat. Beberapa menit yang lalu dirinya sengaja merubah wajahnya menjadi Jonathan agar bisa menyelamatkan Natasha tanpa harus mengeluarkan mantra apapun. Namun kedatangan Jonathan membuat semua rencananya berantakan dan semakin sulit.


"Aku tidak perduli, yang mana dirimu yang asli, Jonathan." Mikael dengan cepat mengarahkan pistol itu kearah Henry. "Sekarang, giliranmu"


"Aku tidak punya pilihan lain" gumam Henry.


"Expelliarmus" Henry mengarahkan tongkat kearah pistol Mikael, membuat barang itu terlempar jauh kebelakang.


Melihat itu Mikael terperangah. "Siapa kau sebenarnya!"


"Petrificus Totalus" Kekakuan tubuh di rasakan Mikael hingga dirinya tidak dapat bergerak dari tempatnya, ia pun terjatuh kaku.


"Kau benar-benar menyusahkan saja, Jonathan. Kalau saja dirimu tidak datang, aku tidak harus mengeluarkan mantra itu" Ucap Henry sambil berjalan kearah Jonathan.


Dengan cepat dirinya merubah kembali wajahnya ke bentuk semula.


"Henry?" ucap Jonathan. Matanya membulat melihat semua yang baru saja terjadi.


"Maaf Jonathan, kau harus melupakan semua yang kau lihat"


"Obliviate"


***


Kassandra dan Rain yang baru saja sampai melihat sebuah rumah dengan pintu yang terbuka lebar, tanpa banyak bicara mereka pun langsung berlari masuk kedalam.


"Kakak?" Kassandra menghentikan langkahnya saat melihat Henry yang sedang berdiri di depan Jonathan. "Kenapa kakak bisa kesini?"


Kondisi di tempat itu benar benar kacau, Natasha yang terbujur lemas dengan wajah yang pucat di sebuah bangku, Mikael yang tergeletak di lantai. Jonathan dengan kaki berlumuran darah pun tidak sadarkan diri.


"Apa yang sudah kakak lakukan?" tanya Kassandra sekali lagi.


"Kau jangan banyak bicara dan cepat bantu aku. Hilangkan ingatan mereka berdua, dan buat mereka tertidur" Henry memerintahkan Kassandra dan juga Rain untuk memberikan mantra pada Mikael dan juga Natasha.


"Obliviate" ucap Rain dan Kassandra bersamaan.


Kassandra mengeluarkan sebuah botol berisikan air untuk diberikan kepada Natasha dan juga Jonathan, namun tangannya di tahan oleh Henry.


"Jangan sembuhkan dia"


"Kenapa? Mereka bisa saja mati" ucap Kassandra bingung.


"Kau boleh memberikannya pada Natasha, tapi tidak dengan Jonathan"


"Ada masalah apa kakak dengan Jonathan!"


"Sandra, luka Jonathan tidaklah parah. Kau hanya perlu menyelamatkan Natasha" Rain membenarkan perkataan Henry. "Kita harus mempunyai bukti kalau Mikael sudah berniat membunuh mereka"


"Tapi kita harus mengeluarkan pelurunya!"


"Baiklah keluarkan, tapi biarkan peluru itu tetap di lantai dan jangan tutup lukanya" Henry pun melepaskan tangan Kassandra.


"Baiklah"


Kassandra memberikan minuman itu pada Natasha dan juga mencabut peluru di kaki Jonathan.


"Coba cari kearah sana! Berpencar!" suara teriakan Stave terdengar dari luar rumah itu. Walaupun jauh namun mereka bertiga masih mampu mendengarnya.


"Kita harus segera pergi dari sini, semoga tidak terjadi apapun pada mereka" Henry menarik tangan Kassandra dan juga Rain kemudian menghilang dalam hitungan detik.


Jangan lupa like dan komennya ya kak ❤️