Magical Love

Magical Love
BAB 13 Firasat (1)



Rico merasa pagi ini perasaanya ga enak, seperti akan terjadi sesuatu yang berbahaya mungkin, tapi apa. Apa mungkin manusia macam Jessica bakal ada yang dateng lagi, wah jangan sampe deh, bisa-bisa kehidupan SMA Rico yang tenang terusik, satu Jessica saja sudah membuat kepalanya pusing apalagi lebih. Rico berusaha untuk positif thingking , sampai akhirnya bel pulang sekolah berdering semuanya aman-aman saja bahkan  si Jessica malah ga dateng sama sekali ke kelasnya. Tetapi kenapa perasaannya masih tetep kerasa ga enak. Rico mengacak rambutnya frustasi dan memutuskan untuk pulang saja, istirahat di rumah untuk menenangkan pikirannya.


Arumi bener-bener shock waktu berjalan menuju parkiran untuk pulang tiba-tiba saja seherombolan cewe yang Arumi tidak kenal menarik tangannya atau lebih tepat menyeret tangannya dengan paksa, Arumi berusaha minta tolong tapi sayang sekolah sudah sepi karena Arumi memang terlambat pulang untuk mengerjakan tugas. Dan sekarang dia mendekam di ruangan yang Arumi ga tau ruangan apa. Kalo dari kotor dan berantakannya si kayanya gudang. Arumi memandang ke seluruh ruangan ngeri.


“Arumi selamat bersenang-senang di dalem sampe besok ya hahahaha.” ucap seseorang dari luar yang diyakini Arumi sebagai Jessica diikuti tawa mengerikannya. Arumi langsung panik begitu suara Jessica mulai menjauh.


“Ya keluarin gue dari sini” Teriak Arumi menendang-nendang pintu, mendobrak-dobrak juga tapi tetep tidak bisa dibuka, Arumi tambah panik. Arumi langsung merogoh sakunya mencari ponsenya tapi tidak ada, Arumi baru ingat ponselnya ada dalam tas sedangkan tasnya tadi gatau dilempar kemana sama cewe yang menariknya tadi, aishhh sial.


“Woy yang ada di luar, siapapun itu tolongin gue.” Teriak Arumi berkali-kali. Arumi menangis karena hari semakin gelap, dan suasananya menjadi tambah mengerikan, Arumi hanya bisa bersandar pada pintu dan memeluk lututnya memohon supaya ada yang cepat menolongnya.


___****___


Rico terus mondar mandir di kamarnya. Perasaanya tambah ga enak, "sial, gue kenapa sih" umpat Rico kesal.


Drtttt~


ponselnya bergetar. Alice?? Ngapain Alice nelfon gue, batin Rico.


“hallo.”


“haloo ric, Arumi lagi ngapain?” tanya Alice, Rico mengerutkan dahi bingung.


“ko tanya gue sih, ya tanya Arumi sendiri dong, mana gue tau.”


“masalahnya gue udah telfon Arumi dari tadi tapi ga diangkat-angkat. Gue pikir dia lagi sama lo.”


“engga ko, coba ntar gue liat deh di kamarnya.”


“iyaa ric, cepetan yaa. penting nih.”


“iyaa bawell.” Rico memasukan ponsel ke saku celananya.


Tok-tokk…tidak ada jawaban akhirnya Rico membuka pintu kamar Arumi perlahan.Gelap. Biasanya juga jam segini Arumi lagi di kamar. Seketika Rico ingat, dari pulang sekolah tadi dia ga liat Arumi sama sekali. Rico mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Arumi, ga diangkat. Rico turun ke bawah, mungkin saja Arumi di bawah.


“ehh mah liat Arumi ga?” tanya Rico langsung setelah turun dari tangga.


“engga, emang kenapa?” jawab mamahnya.


“engga ko mah, cuma mau tanya besok ada PR apa engga.” elak Rico, Rico semakin bingung, Arumi kemana sih masa jam segini belum pulang, Rico mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Alice.


“hallo lice.”


“gimana ric, Arumi lagi ngapain.”


“Arumi belom pulang.”


“apa!! Ko bisa sih. Kalo belom pulang terus kemana?”


“gue juga ga tau lice.”


“apa dia pulang ke rumahnya?”


“rumahnya? oh mungkin juga lic,  coba gue cek ke sana deh, ehh tapi gue ga tau rumahnya Arumi di mana.” 


“gue aja yang cek ke rumahnya, lo cari dia di tempat lain.”


“iya oke deh"


Rico memasukan ponselnya kembali ke saku dan mengambil kunci mobil. Rico celingak-celinguk di dalam mobilnya khawatir, Rico mengambil ponselnya di dasbor mencoba bertanya ke Kevin.


“Arumi? Gue ga tau lah emang gue emaknya. emang kenapa lo tanya gitu?”


“Arumi belom pulang sampe sekarang vin”


“apaa!! Yang bener lo, ini udah malem, jangan becanda.”


“gue ga mungkin becanda hal kaya beginian vin.” ucap Rico sambil terus menatap setiap sudut jalan. Hening sesaat.


“ehh ric, terakhir gue liat Arumi pas mau pulang abis ekskul tadi sore, gue liat Arumi kaya lagi ditarik-tarik sama segerombolan cewe.”


“hahh yang bener lo, kenapa ga lo  tolongin bego”


“yah gue kira lagi pada becanda makanya gue biarin”


"trus lo tau ga yang narik-narik siapa?"


"em gatau sih, tapi gue sering liat mereka bareng sama anak yang suka ngejar-ngejar lo"


"Jessica maksud lo" 


"iya"


“yaudah makasih vin.”


Rico melempar ponselnya ke dasbor mobil. Pasti Jessica nih biang keroknya. Rico mengepalkan tangannya menahan amrah dan terus melajukan mobilnya ke arah sekolah. Firasat Rico pasti di sekolah. Beberapa menit kemudian Rico sampai di sekolah. Rico turun dari mobil dan menatap ngeri sekolahnya, kemudian berjalan perlahan ke gerbang, tidak dikunci. Rico membuka gerbang perlahan dan masuk menyusuri koridor, dinyalakan ponselnya untuk menerangi setiap sudut kemudian mencoba  menghubungi nomor Arumi.


eolgoorul jjibbooriji marayo modooga himduljanayo~


Dering ponsel Arumi. Rico langsung mengikuti arah suara dering tersebut, tapi kok bunyinya dari arah gudang. Jangan-jangan Arumi di gudang, Rico terus berjalan ke arah gudang.  Deringnya semakin keras ngga salah lagi, itu pasti ponsel Arumi. Rico langsung berlari menuju gudang kemudian berdiri di depan gudang dan menemukan ponsel beserta tas Arumi. 


“mi arumi, lo di dalem kan.” Teriak Rico menggedor-gedor pintu gudang, tidak ada jawaban, "mi, jawab gue kalo lo di dalem mi, Arumi!" 


GEDUBRAKK~ Rico langsung merinding.


“Ricooo lo di luar.” Itu suara Arumi. Rico langsung mendesah lega.


“iyaa mi gue di luar. Lo ga papa kan di dalem.”


“ga papa kepala lo. Gue takut tau ga. Di sini gelap banget.”


“gue coba dobrak pintunya. Lo minggir dari pintu dulu.” Teriak Rico. Arumi menurutinya.


Brak, brak  "aduhh sakit juga dobrak pintu" batin Rico yang kemudian memilih menendang pintunya.


BRAKK~~


Akhirnya terbuka. Arumi langsung berlari keluar, memeluk Rico.


“gue takut banget di dalem, gue kebayang wajah Jessica terus di dalem. Gue janji deh ga bakal nyebut-nyebut dia tante menor lagi, kuntilanak lagi.” cerocos Arumi menahan tangis, Rico mengusap-usap punggng Arumi menenangkan.


“ya udah pulang yuk, ntar jelmaannya jessica beneran dateng lagi.” canda Rico, Arumi langsung merengut kesal. Rico memungut ponsel dan tas Arumi kemudian berjalan beriringan keluar sekolah.


“ko lo bisa di dalem gudang sih mi.” tanya Rico setalah setalah di dalam mobil.


“itu si kuntilanak ehh maksud gue jessica sama temen-temenya ngunci gue di dalem gudang, gatau salah apa gue sampe digituin, udah gue masih pilek lagi, tambah meler deh gue (srootttt)” jawab Arumi sambil mengelap ingus dan airmatanya. Rico menatap Arumi iba sambil menepuk-nepuk bahu Arumi pelan. Rico menjalankan mobilnya pulang dan menghubungi Alice Kevin kalau Arumi sudah ditemukan.