Magical Love

Magical Love
Perhatian



Dua minggu sudah berlalu, setiap hari Natasha berkerja dua kali lipat dari biasanya, bahkan menggunakan waktu luang di jam istirahatnya untuk tetap bekerja. Wajahnya terlihat sedikit pucat dengan kantung hitam dimatanya, hanya dua sampai tiga jam dalam sehari Natasha dapat beristirahat. Natasha termasuk orang yang tepat waktu, apabila permintaan atasan adalah dua minggu, maka dia akan membagi waktu agar pekerjaannya selesai sesuai dengan target tersebut.


Hari ini Natasha sukses menyelesaikan semua pekerjaannya dengan sangat baik. Ia masuk keruang kerja Jonathan membawa laptop dan berkas pekerjaan untuk di lakukan pengecekan ulang oleh Jonathan, dia dipersilahkan duduk di sebuah sofa panjang sebelah kiri ruangan, kemudian meletakan laptop di atas meja panjang di depan sofa. Jonathan menghampiri Natasha dan duduk bersebelahan dengannya.


“Jadi ini benar benar sudah selesai? Dalam waktu dua minggu?” Jonathan tersenyum, ia menyilangkan tangannya di dada melihat kearah laptop di depannya.


“Seperti yang kau lihat” Jawab Natasha singkat.


“Kerja bagus. Adakan meeting dengan seluruh Manager Team minggu depan. Aku akan memeriksa konsepnya dulu” Ucap Jonathan.


“Baik. Kalau begitu, saya permisi” Jawab Natasha kemudian ia berdiri hendak pergi meninggalkan ruangan. Namun, tiba tiba badannya terasa berat dan kepalanya berputar. Jonathan dengan cepat menangkap badan Natasha yang hampir saja terjatuh.


“Kau kenapa?” tanya Jonathan, Natasha melihat kearah Jonathan sekilas.


“Aku tidak apa apa” Ucap Natasha, ia menjauhkan badannya dari dekapan tangan Jonathan kemudian pergi meninggalkan ruangan.


“Apa aku terlalu keras padanya?” Ucap Jonathan dalam hati sambil melihat kearah Natasha yang baru saja keluar dari ruangan itu.


Jonathan pun mulai melanjutkan kembali aktifitasnya dan mengecek seluruh pekerjaan yang sudah di kerjakan Natasha, sampai sore hari menjelang malam. Saat itu seluruh karyawan sudah pulang kerumah mereka masing masing dan Jonathan sendiri sudah berniat pulang kerumahnya. Namun, saat keluar dari ruangannya, ia melihat Natasha tertidur diatas meja kerja dengan posisi kedua lengan yang di jadikan bantal tidurnya.


“Tasha?” panggil Jonathan, dia menyentuh bahu Natasha dan sedikit menggerakannya.


Hening, tidak ada jawaban sama sekali dari Natasha, Jonathan menyentuh wajah Natasha yang terlihat pucat dan kelelahan dengan telapak tangannya, rasa panas terasa di tangan Jonathan.


“Dia sakit” Jonathan kemudian mengangkat tubuh Natasha dan membawanya ke sofa panjang ruang kerjanya. Dengan hati hati Jonathan merebahkan tubuh Natasha diatas sofa itu. Kemudian ia mengambil remote dari dalam lacinya, membuka ruang istirahat yang biasa ia tempati jika tidak sempat pulang kerumah. Perlahan dinding itu terbuka, Jonathan mengangkat kembali tubuh kecil itu dan dibaringkann perlahan ke atas tempat tidur.


Dia menyingkirkan tiap helaian rambut yang menutupi wajah Natasha, membuatnya dengan jelas melihat wajah pucat gadis itu. Rasa sedih dan bersalah terlihat pada Jonathan saat melihat Natasha yang sedang terbaring sakit.


“Maaf, aku sudah terlalu keras padamu” Ucap Jonathan lirih sambil mengusap perlahan keringat yang menetes di dahi Natasha.


Jonathan mengambil air dari dalam kamar mandi menggunakan mangkuk sedang untuk wadahnya, kemudian mengambil handuk kecil di dalam lemarinya. Dia meletakannya di meja samping tempat tidur Natasha dan duduk di pinggir tempat tidur itu, merendam handuk dan mulai mengompres dahi Natasha dengan perlahan. Berulang kali Jonathan melakukan kegiatan yang sama sampai ia rasa suhu badan Natasha sudah lebih baik dari sebelumnya.


Jonathan keluar dari ruangan dan mengambil ponsel Natasha dari dalam tas kerjanya, terlihat 20 panggilan tidak terjawab dari ayah Natasha. Dia menekan tombol panggilan ke nomer tersebut.


"Tasha.. Kenapa kamu belum pulang nak, ini sudah jam berapa? Ayah berkali kali sudah menelfonmu kenapa tidak di angkat?” Suara Roy terdengar sangat khawatir dengan keadaan anaknya.


“Hallo paman, ini Jo”


"Jo? Kenapa ponsel Tasha ada padamu? Dimana dia, Jo?" Tanya Roy.


"Dia sedang tidur paman, tadi suhu badannya panas dan-"


"Apa? Panas? Tasha sakit? Lalu kenapa tidak pulang?" tanya Roy dengan suara lebih khawatir dari sebelumnya.


"Tasha tertidur di kantor, paman tidak usah khawatir, sekarang panasnya sudah menurun. Jo akan menjaga Natasha untuk sementara, karena kalau pulang pun akan sangat sulit membawanya dalam keadaan tertidur" jelas Jonathan.


"Baiklah, paman percayakan semua padamu, Jo. Terima kasih sudah mau menjaganya"


"Iya paman, ini semua sudah menjadi tanggung jawabku" Ucap Jonathan.


Jonathan mengakhiri panggilannya, kembali kedalam ruang istirahatnya dan menutup dinding ruangan itu. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa dan mulai tertidur.


***


Pagi itu Natasha terbangun dari tidurnya, ia merasakan sesuatu di dahinya, handuk. Ia mengerutkan dahinya heran.


"Kenapa aku bisa ada di sini?" Ucap Natasha lirih, kemudian ia duduk dan meletakan handuk itu diatas meja bersebelahan dengan wadah air. Melihat sekeliling, matanya tertuju pada sebuah sofa yang terlihat seseorang tidur diatasnya. Dia menghampiri sofa dan melihat Jonathan.


"Jadi, dia yang mengompresku semalaman?" Gumam Natasha, ia mengambil selimut dan mulai menutupi badan Jonathan.


Natasha berjalan mendekati dapur kecil yang di batasi sekat tembok dari ruang kamar. Ruangan ini sudah seperti rumah kedua Jonathan, semua fasilitas rumah yang ia butuhkan ada di sini. Natasha melihat isi dari kulkas dan mulai menyalakan kompor listrik untuk memasak. Tidak lama kemudian Jonathan terbangun karena suara berisik dari dapur mengganggu tidurnya, ia menghampiri Natasha yang sedang berdiri membelakanginya.


"Kau sedang apa disini?" Jonathan menepuk bahu menghentikan aktifitas tangan Natasha.


"Astagaa, kenapa mengagetkanku!"


"Kenapa memasak? Kau masih sakit!" Ucap Jonathan sambil memegang lengan dan menjauhkan tubuh Natasha dari kompor.


"Letakan ini semua dan kembali tidur! aku yang memasak"


"Memangnya bisa? sudah biarkan aku yang memasak, tidak akan lama"


"Kau ini keras kepala sekali! Sudah ku bilang kan, jangan membantahku di kantor"


"Apa kau pernah memasak?" Tanya Natasha, ia meletakan kedua tangannya di atas pinggul.


"Tidak!"


"Lalu bagaimana kau mau menggantikanku memasak! Ini tidak mudah, Jo"


"Yasudah, beritahu aku harus apa. Biar aku yang memasak, kau arahkan saja dari sini" jawab Jonathan. Natasha menahan tawa mendengar jawaban dari Jonathan.


"Jangan tertawa!"


"Iya maaf.. Baikalah kalau kau memaksa, aku akan mengajarimu" Ucap Natasha dan mereka berdua pun mulai melanjutkan aktifitas memasak mereka, dengan susah payah Jonathan mengerjakan arahan Natasha, dia pikir memasak akan sangat mudah, tapi ternyata pemikirannya sangatlah salah, dahinya mengalir peluh keringat.


"Sudah ku bilang ini tidak mudah, walaupun hanya bubur dan sup" Natasha melihat tiap gerak gerik Jonathan yang terlihat kaku.


"..."


"Hmm..Jo?"


"Iya, kenapa" ucap Jonathan yang masih fokus dengan masakannya.


"Kenapa tadi kau tidur di sofa dan menaruhku di kasur?" Tanya Natasha.


"Kalau aku tidur di sebelahmu pasti aku di dorong sampai jatuh seperti kemarin di Italia" Ucap Jonathan.


"Maaf, waktu itu aku tidak sengaja"


"..."


"Lalu kenapa tidak aku saja yang tidur di sofa dan kau di kasur?"


"Jangan banyak bertanya! Ini apalagi yang harus aku lakukan?" tanya Jonathan menunjuk kompor di depannya.


"Kau aduk saja sampai matang, memangnya bubur harus seperti apa lagi?"


"Kenapa lama sekali matangnya, tadi bilang tidak akan lama!"


"Karena yang mengerjakannya bukan aku jadi lama!" Balas Natasha.


"Memangnya itu berpengaruh?"


"Jelas berpengaruh, kompor itu takut denganmu" ucapan Natasha membuat Jonathan menatapnya tajam.


"Aku hanya bercanda" Natasha tertawa kecil melihat reaksi Jonathan. Hari ini pagi mereka di selingi perdebatan, candaan ringan dengan tawa kecil menghangatkan.


.


.


.


Mohon dukungannya dengan Like, Comment dan Votenya ya kak..


Terima Kasih 😍💕🤗


.


.


.