
Setelah selesai makan atmosfer udara di antara mereka menjadi canggung, Rico yang tidak tahan akhirnya berdiri dan menatap kebun buah di belakang villa nya.
"kita ke kebun buah di belakang villa yuk, udaranya pasti lebih seger dari pada di sini" ajak Rico cangung.
"boleh, pasti seru" ucap Arumi tak kalah canggung.
Tiba di kebun buah, Arumi menganga takjub, dia tidak mengira bakal seluas ini, dan buah buahan di sini paket lengkap. ada strawberry, melon, jambu, jeruk, apel, anggur, durian dan lainnya.
"Wah ric luas banget kayanya sampai besok juga selesai deh buat keliling nih kebon." ucap Arumi takjub. Rico juga tidak menyangka karena dia memang jarang main ke kebon ini. "kita kemana dulu nih?" tanya Arumi antusias.
"ke situ aja" jawab Rico dan menarik tangan Arumi ke bagian buah strawberry, "kayanya lagi berbuah deh" ucap Rico di sela berjalannya.
"bener loh ric, strawberry nya lagi berbuah, gede gede lagi, aduh gue jadi ngiler nih" ucap Arumi sambil mengelap mulutnya,"dipetik boleh kan ric?" tanya Arumi menatap Rico memohon.
"hahaha, ya boleh dong, alo ga boleh ngapain gue ngajak lo ke sini. Lagian ini juga kebon milik keluarga gue" ucap Rico bangga, Arumi menatap Rico ga percaya.
"gue ga tau lo niat pamer atau apa, tapi lo beruntung banget deh ric, mau buah apa aja tinggal petik" ucap Arumi takjub, Rico tertawa dengan ucapan Arumi, dia senang kalo Arumi juga senang.
"udah petik strawberry nya yang banyak ayo, sekalian buat oleh-oleh mama" ajak Rico kemudian pergi mengambil keranjang.
"okee bosss" ucap Arumi memberi hormat.
"ehhm seger banget strawberry nya" puji Arumi setelah memakan strawberry yang baru dipetiknya, dia memetik satu lagi dan menyodorkannya ke Rico.
"Ricc aaaahhh" perintah Arumi menyodorkan tangannya ke mulut Rico, Rico menatap Arumi bingung, "makan aahhh" Rico membuka mulutnya, "enak kan?" tanya Arumi.
"enak, seger juga" jawab Rico kemudian memetik strawberry dan menyodorkan juga ke Arumi, "lo jugaa ahhh.." perintah Rico, Arumi tersenyum dan membuka mulutnya lebar-lebar.
Mereka asik memetik dari ujung sampai ujung, saling bercanda, bahkan saling mengejek, "mi liat nih bunder kaya lo" ejek Rico menunjukan strawberry yang di petiknya, sampai tanpa mereka sadar keranjangnya sudah penuh dengan strawberry, kemudian Rico mengajak Arumi ke bagian pohon jambu biji.
"wah gila jambunya juga gede gede banget, eh tuh liat yang di atas kayanya mateng deh, gue ambil yaa" ucap Arumi langsung naik ke pohon untuk mengambilnya.
"ehh mi jangan naik, ntar lo jatuh, pake galah aja" cegah Rico panik tapi telat, Arumi udah naik duluan, cewe ko bisa naik pohon pikir Rico.
"mmm enak banget jambunyaa" puji Arumi sambil memakan jambunya di atas pohon.
"eh mi cepetan turun ntar lo jatuh. Lo jadi kaya monyet tau ga kalo kaya gitu" bujuk Rico
"ga mau, enak tau makan di pohon lebih seger" ucap Arumi ngeyel.
"gue bilang turun cepet." perintah Rico menarik narik kaki Arumi yang menjuntai.
"ehhh ehh ricc jangan ditarik tarik kaki gue, bisa jatuh beneran" teriak Arumi panik.
"cepet turun makanya" ucap Rico menengadah memperhatikan Arumi.
"lo ga papa? Lompat kaya tadi." tanya Rico sambil mengecek ke seluruh tubuh Arumi.
"yaelah lompat segini mah kecil, di rumah gue ada pohon jambu yang lebih tinggi lagi juga ga masalah." sombong Arumi.
"beneran mi, kapan kapan ajak gue ke rumah lo dong."
"mau ngapain? Maling" ucap Arumi asal, Rico langsung menjitak kepala Arumi.
"aduh sakit tau" Arumi mengelus elus kepalanya.
"udah ayo jalan lagi, liat yang lain" ajak Rico berjalan meninggalkan Arumi. Arumi mengikutinya, memetik jeruk, melon, dan anggur. Rico mengajak Arumi beristirahat di gazebo deket kebon.
"aduhh capenyaa" keluh Arumi dilanjutkan tiduran di gazebo tersebut. Rico duduk di sebelahnya dan ikut tiduran juga di sebelah Arumi.
"mi, gue mau ngomong sesuatu" ucap Rico tiba-tiba, tangannya dilipat ke atas untuk mengganjal kepalanya. Arumi menatap Rico di sebelahnya bingung.
"ngomong apa? Kalo lo mau ngomong minta gendong sampe villa, gue si ogah" tebak Arumi, Rico langsung menjitak kepala Arumi lagi.
"aduh sakit tau, lo suka banget sih jitakin gue, tadi udah baik ehh ini sifat setannya muncul lagi" cerocos Arumi tidak terima sambil mengusap-usap bekas jitakan Riko.
"dengerin dulu, gue belom ngomong juga."
"lah itu ngomong." jawab Arumi asal, Rico mengepalkan tangannya kesal. Sabarr Rico sabar, batin Rico.
"mi gue" jeda sejenak, "aku sayang kamu" ucap Rico menatap Arumi yang juga sedang menatapnya.
"uhuk uhuk lo ngomong apa barusan" ucap Arumi tersedak dan mengalihkan pandangannya dari Rico.
"aku sayang sama kamu mi, apa kurang jelas"
"hahaha"
"kenapa lo ketawa" tanya Rico bingung ko malah ketawa, ga ada yang lucu juga.
"abis lo lucu sih pake becanda begitu, pake aku kamu segala" jawab Arumi kemudian berusaha bangkit untuk duduk, tapi tangan Rico menariknya, Arumi yang kaget terjatuh setengah tidur di samping Rico.
"aduh, sakit tau ric, jangan narik begini dong" ujar Arumi, dia mengangkat wajahnya menatap Rico dan kaget begitu tau Rico sedang menatapnya dengan pandangan yang tidak dia mengerti, "mm ehem" Arumi meneguk lidahnya malu. Rico bangkit untuk duduk, didudukannya Arumi dan ditatapnya Arumi, "kenapa liatinnya gitu sih? gue tau gue jelek tapi jangan liatin segitunya dong" ucap Arumi gugup, lalu tanpa aba-aba Rico memeluknya, Arumi sampai menahan nafas.
"lo cantik kok, udah yuk pulang" ucap Rico setelah melepas pelukannya kemudian berdiri dan berjalan kembali ke villa. Arumi mengatur nafasnya kembali dan menatap Rico yang sudah berjalan menjauh, dia bingung harus gimana dengan sikap Rico yang tiba-tiba itu.
"Rico" panggil Arumi, "tungguin dong" Arumi mengejar Rico, Arumi menarik tangan Rico supaya berhenti. Rico berhenti dan berbalik ditatapnya Arumi yang masih menggenggam tangannya
"maksud lo apa sih ric kaya tadi, lo cuma bercanda doang kan?" tanya Arumi langsung, Rico melepas genggaman Arumi, kedua tangannya meremas bahu Arumi lembut kemudian menundukan kepalanya menatap tepat di depan wajah Arumi.
"gue beneran sayang sama lo, gue ga bakal becanda buat masalah kaya gini, dan kalo lo belum siap jawab sekarang lo bisa jawab kapanpun lo siap. Sekarang udah sore mending kita pulang takut sampe bandung kemaleman" ucap Rico tanpa melepas cengkeraman dibahu Arumi. Muka Arumi langsung memerah, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Arumi memilih menunduk menghindari tatapan lembut Rico. Rico melepas cengkeramannya dan beralih mengangkat dagu Arumi kemudian meletakan kedua tangannya di kepala Arumi dan mengecup keningnya dengan lembut, Arumi menahan nafas. "ayo pulang" ucap Rico menarik tangan Arumi. Arumi hanya membiarkan tangannya ditarik Rico.
Sepanjang perjalanan pulang tidak ada yang berbicara sama sekali, mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Arumi memilih menatap keluar jendela dan memikirkan kejadian Rico menciumnya, dia masih ragu, dia tidak pernah merasakan hal seperti ini selama 16 tahun. Rico tetap fokus menyetir tapi tidak bisa dipungkiri hatinya masih merasa berdebar-debar setelah kejadian tadi siang, dia melirik Arumi sekilas dan kembali fokus menyetir, dia berusaha menghilangkan pikiran tadi dengan jadwal besok di sekolah, pertandingan futsal.