Magical Love

Magical Love
BAB 7 Papandayan 3



Ketika malam datang para pendaki yang ada di pondok salada berkumpul dan membuat api unggun dan nyanyi-nyanyi sambil main gitar kalo yang bawa. Tapi Arumi lebih melilih memandang langit dari sebelah tendanya berharap ada bintang muncul, pasti bagus liat bintang dari atas sini, pikir Arumi.


     “hehh lo ga ikutan main api unggun” teriak Rico dari depan tendanya. Tenda Arumi dan Rico bersebelahan.


     “bukan urusan lo” balas Arumi jutek karena masih kesel dengan kejadian sore tadi. Rico cuma geleng-geleng dan masuk ke tendanya berniat tidur, mengumpulkan energinya untuk besok.


 


___****___


 


Pukul 04.30


Jimmy membangunkan semua anggotanya. Arumi yang lagi asik mimpi tidak menghiraukan perintah Jimmy dan kembali untuk tidur ketika tiba-tiba ada seseorang yang menjerit. Kaya suara cowo. Suaranya kaya dari tenda sebelah. Seketika kantuk Arumi hilang dan langsung keluar tenda untuk memeriksa siapa yang teriak tadi. Arumi menghampiri tenda Rico yang terbuka sedikit.


     “ric lo di dalem ga? Ric ? Ricoo?” teriak Arumi sambil terus mendekati tenda dan berniat melihat ke dalam tenda. Arumi masuk ke tenda perlahan dan melihat Rico masih tertidur, tapi tiba tiba saja Rico mengigau.


     “Ric lo ga papa, Rico..?” Tanya Arumi penasaran dan lebih mendekati Rico lagi. Rico mengeluarkan banyak keringat Arumi berniat mengelapnya dengan kain yang di bawanya. Arumi terkejut bukan main ketika tiba-tiba saja Rico bangun dan langsung memeluknya erat dan…gemetar. Rico gemetaran.


     “ehh Ric lo apa-apaan. lepasin gue.” Arumi berusaha melepaskan pelukan Rico tapi percuma Rico semakin mempererat pelukannya.


     “sebentar aja kaya gini,plisss..” pinta Rico. Arumi hanya bisa terdiam kemudian menepuk-nepuk punggung Rico supaya tenang. Setelah tenang Rico melepas pelukannya.


     “ehmm keluar yuk ric, mungkin lo butuh udara seger.” Tawar Arumi kikuk. Rico mengangguk dan mengikuti Arumi dari belakang.


     “Eh mi… liat deh bintangnya banyak banget.” Teriak Kevin pada Arumi ketika melihat Arumi keluar dari tenda. Arumi langsung melihat ke atas dan terkesima dengan pemandangan langit pagi ini. Bintang bertaburan lebih banyak  ga seperti yang Arumi liat sebelum-sebelumnya. Dan juga tampak lebih dekat jika dipandang dari atas gunung. Arumi bener-bener bersyukur kepada Tuhan karena dapat menyaksikan ciptaan Tuhan yang sangat menakjubkan ini.


     “eh ric, liat deh ke langit bintangnya bagus banget.” Kata Arumi kepada Rico yang terlihat pucat. Rico menengadahkan kepalanya menatap ke langit tersenyum. Arumi yang melihatnya terkesima dengan senyum Rico yang sangat tulus tersebut.


DEGG~DEGG..


Arumi meraba dadanya.


     “mi, makasih ya tadi.” Ucap Rico tiba-tiba sambil menatap ke mata Arumi.


     “eehh iyaa ga papa ko.” Ucap Arumi gelagapan.


     “gabung sama yang lain yuk” ajak Rico menarik tangan Arumi. Arumi hanya bisa pasrah ditarik Rico. Arumi berusaha menenangkan jantungnya.


Jam 5 kurang. Kevin tiba-tiba berteriak.


 “sunrise..!sunrise..!” mendengar kata sunrise Arumi dan Rico langsung berlari ke Kevin dan saat itu juga Arumi, Rico dan pendaki lainnya menganga terkesima dengan karya Tuhan yang sangat indah di depan mata mereka.



Garis cakrawala kuning tua muncul dari arah timur disertai pancaran sinar kekuningan dari bawah sana. Perlahan-lahan matahari muncul secara perlahan-lahan. Arumi langsung mengabadikan moment tersebut dengan kameranya.


 


___****___


 


Sebelum melanjutkan perjalanan menjelajahi gunung papandayan Jimmy menyuruh anggotanya untuk membersihkan tempat mereka beristirahat tadi. Arumi mendekati Rico yang sedang melipat tenda-tenda bekas tadi malam.


     “Ric lo udah ga papa?” Tanya Arumi tepat di samping Rico. Rico berdiri dan menatap Arumi.


     “ga papa ko mi. liat kan “ ucap Rico tersenyum. Manis banget. Arumi terpana beberapa detik sampai akhirnya dia sadar dan salting sendiri.


     “eehh syukur deh kalo gitu hehe, emang tadi pagi lo kenapa sih ko ketakutan gitu kaya abis liat hantu.” Kata Arumi penasaran dan berusaha menetralisirkan gugupnya.


     “gue cuma mimpi buruk aja kok, udah biasa gue.” jawab Rico sambil melanjutkan melipat tenda.


     “ooh gitu, gue bantuin lipet yaa.” Tawar Arumi. Rico menganggukan kepalanya tanda setuju.


Pukul 7 pagi perjalanan dilanjutkan ke puncak. Dalam perjalanan tersebut  harus menyusuri jalur berbatu yang cukup curam. Arumi beberapa kali hampir terjatuh dan terpeleset, untung Rico berjalan di belakangnya jadi Arumi terhindar dari yang namanya jatuh beneran. Ketua barisan si Jimmy tiba tiba berteriak.


     “wahh indah banget, cepetan ke sini.” Teriak Jimmy. Arumi, Rico dan yang lainnnya lagi-lagi terkesima menyaksikan padang bunga edelweiss yang indah pokoknya indah banget. Padang edelweiss di gunung panpadayan ini biasa disebut Tegal Alun.Di tengah padang edelweiss terdapat danau kecil yang airnya jernih banget menambah pokoknya indah dan manakjubkan banget.


     “woyy…cepetan berdiri di situ semua. Kita foto” teriak Arumi menunjuk pada tengah padang edelweiss,Arumi langsung berlari ambil posisi setelah mengatur kameranya. satu..dua..tiga..,,CISSS~~~..



Setelah berfoto perjalanan ke puncak dilanjutkan. Jalan menuju puncak menyusuri jalan kecil, yang hanya bisa dilalui cukup satu orang saja, di kanan kiri jalan dinaungi pohon-pohon rambat yang menghambat perjalanan ke pucak sana. Semakin ke atas jalan semakin sempit dan harus extra hati-hati untuk melaluinya.


Tiba-tiba saja cuaca berubah mendung dan kabut juga mulai turun, untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan akhirnya jimmy memutuskan untuk turun. Keselamatan lebih penting kata Jimmy. Akhirnya semua anggota berbalik arah melewati jalan yang berbeda sampai ke pondok salada. Dalam perjalanan turun melewati hutan mati.



___****___


 


Arumi terus merengek ke Mikel supaya kakinya dipijitin lagi. Tapi yang diminta tolong malah hanya mendengus. Gara-gara hicking kemaren sekarang kaki Arumi menerima efeknya. Pegel-pegel ga karuan. Udah gitu si  Mikel malah terus-terusan ngomong


  “tuh kan, gue bilang apa naik gunung tuh ga segampang yang lo kira, baru pegel kaya gitu aja udah ngrengek-ngrengek kaya anak 5 tahun.” Arumi bener-bener kesel sama si Mikel. Mikel ga tau kalo kemaren Arumi emang bener-bener naik gunung walau gunungnya masih kategori untuk pemula tapi tetep aja CAPE. saking keselnya Arumi ngambek di kamar sambil terus mijit-mijit kakinya yang pegelnya ga ketulungan.


TOKK…TOKK..


     “mi, buka pintunya, kaki lo mau sembuh ga.” Bujuk Mikel sambil membawa ember berisi air garam.


     “ga mau. Biar aja kaki gue sampe besok ga sembuh-sembuh.” Teriak Arumi kesel dari dalam kamar.


     “beneran nih. Yaudah. Gue juga mau tidur udah malam auuuuuhhh.” balas Mikel pura-pura menguap.


KREKKK~


pintu terbuka.


     “masuk.” Suruh Arumi galak ke Mikel. Mikel cuma bisa cekikikan.


     “lo duduk gih, trus rendam kaki lo di ember ini.” Suruh Mikel sambil meletakan ember di depan Arumi. Arumi memasukan kakinya ke rendaman air garam tersebut.


     “tunggu sampe kaki lo mendingen, gue tungguin di sini.” Kata Mikel dan beranjak untuk tiduran di ranjang Arumi. Setelah beberapa menit kemudian Arumi merasa kakinya sudah mendingan. Arumi beranjak untuk tidur, ketika melongok ke ranjangnya ternyata Mikel tertidur. Arumi pun menyelimuti Mikel dengan selimutnya dan Arumi merebahkan tubuh di sebelah Mikel sambil menatap langit-langit kamar yang dipenuhi berbagai gambar benda luar angkasa seperti bintang, bulan dan planet-planet yang dilukis menggunakan cat glow in dark. Arumi merenung mengenai moment naik gunung kemaren. Arumi inget banget kemaren waktu ngliat bintang-bintang yang dua kali lebih banyak menurut Arumi dan terasa lebih deket ngliatnya. Arumi juga inget waktu Rico tiba-tiba meluk dia. Cowok belagu kaya dia bisa mimpi buruk juga sampe ketakutan kaya gitu yaa, gemeteran juga lagi. Arumi juga ga pernah nyangka juga gara-gara naik gunung kemaren Arumi jadi lebih akrab sama Rico. Semakin lama merenung Arumi jadi inget kedua orangtuanya yang sekarang lagi di…Jepang. Lama-lama kantuk menyerang Arumi dan tertidur.


 


___****___


 


SENIN. Iya hari ini hari senin, kalo hari ini ga ulangan kimia mendingan Arumi ga berangkat deh. Masih kerasa cape setelah naik gunung kemaren. Tapi daripada ulangan kimia sendiri mending berangkat aja deh, ga bisa dibayangin bu Rima yang melototi terus ketika ngerjaiin, hiiiiii. Arumi merinding sendiri.


     “lo bisa ga tadi kimianya.” Tanya Alice. Arumi menelungkupkan wajahnya di meja setelah berjuang mengerjakan ulangan kimia tadi.


     “tau dah, gue jawab sebisa gue aja.” Jawab Arumi asal. Alice cuma ngangguk-ngangguk.


   “eh gimana hicking-nya kemaren?” Tanya Alice penasaran.


     “naik gunung kemaren seruuuuuu banget….” Jawab Arumi memanjangkan huruf U sampe bibirnya manyun.


     “crita dong ke gue.” Pinta Alice memohon.


     “besok aja ya lice, gue masih pusing gara-gara kimia juga cape gara-gara kemaren. ” Jawab Arumi semakin menelungkupkan wajahnya di meja. Alice manyun.


     “ehh denger-denger si Jaemin KW ikutan juga ya mi?" tanya Alice setelah manyunnya ilang.


     “Jaemin KW?” Arumi menghadapkan kepalanya ke Alice bingung, siapa jaemin kw.


     “si anak baru itu.” Jawab Alice sambil menunjuk Rico di belakang Alice.


     “ohh dia, iya ikut. Kenapa emang?" Jawab Arumi asal.


     “cerita dong.” Pinta Alice. Seketika Arumi langsung menegakan tubuhnya lagi.


     “gue bilang besok aja lice, gue tuh cape banget tau ga" rengek Arumi kesel dengan sifat Alice yang sukanya tanya-tanya mulu. Rico yang sedari tadi duduk diam menoleh ke Arumi yang merengek ke Alice.


     “ehh lo kenapa mi? cape gara-gara kemaren?” tanya Rico langsung . Arumi menatap Rico dengan muka ditekuk sebal.


     “aish huhu lo juga kenapa ikut-ikutan nanya-nanya sih. Gue cape, gue pengen tidur di sini bentarrr aja emang ga boleh apa” jerit Arumi kesal dan pindah ke bangku pojok sendiri menelungkupkan wajahnya menghadap tembok. Alice dan Rico cuma bengong dengan tingkah Arumi.


     “temen lo kenapa sih?” Rico menatap Alice.


     “biasa, kalo lagi kumat ya kaya gitu.” Alice menggedikan bahunya. Rico cuma manggut-manggut. Perasaan Rico juga ngrasa masih cape gara-gara kemaren tapi ga segitunya juga.


Jam sekolah selesai Arumi langsung menuju parkiran mengambil motornya. Rico yang juga mau ke parkiran kaget bukan main begitu Arumi melintas di depannya cepet banget. Arumi langsung tancap gas pulang trus tidur sepuasnya di rumah.