
Arumi naik ke ranjang dan duduk di samping Rico, “tenang ric, tenang, tidur lagi yaa, aduh gimana nih” ucapnya bingung kemudian menepuk-nepuk bahu Rico pelan seperti pada bayi, mengelus-elus pelan dahi Rico, mengelap keringat dengan handuk, dan semua cara dilakukan tapi Rico tetep gelisah dan keringatnya malah bertambah banyak, igauan nya juga bertambah keras.
"aahh, tolongg.. jangan.. jangan..tolong" igau Rico, tangannya seperti ingin menggapai sesuatu, Arumi langsung menggenggam tangan Rico, mendekap ke dadanya dan dia keluarkan semua kata-kata penenang.
“please ric tenang ya.”
“ada gue di sini, lo ga sendirian”
“tidur lagi ya”
“lo hebat, lo pasti bisa laluin ini”
Perlahan Rico mulai tenang, dimiringkan tubuhnya dan mendekap satu tangan Arumi ke dadanya , Arumi yang kaget tangannya tertarik ikut terjatuh di samping Rico, dia berusaha melepas tangannya dari genggaman Rico, tapi Rico terlalu kuat. Akhirnya Arumi hanya bisa pasrah, ditepuk tepuk bahu Rico dengan sebelah tangannya agar lebih tenang, lama kelamaan matanya terasa berat dan akhirnya tertidur berhadapan dengan Rico.
Paginya~
Rico terbangun dan mengerjapkan matanya pelan dan betapa kagetnya begitu melihat sesosok manusia ada di hadapannya dan yang membuat lebih terkejut adalah tangannya menggengam erat tangan sesosok manusia di depannya, tanpa pikir panjang langsung dilepaskan nya dengan kasar. Si empu punya tangan sontak kaget dan langsung membuka mata dan mengerjapkan mata silau terkena sinar matahari.
"udah pagi ya" ucap Arumi dan langsung menatap Rico yang menatapnya curiga, "Ric? lo udah bangun? lo udah gapapa? lo ga kerasa sakit kan?" ucapnya langsung mengecek dahi Rico. sudah normal.
"ko lo bisa tidur di sini, lo mau ngapa-ngapain gue ya" ucap Rico menunjuk ranjangnya.
“idih najis, tadi malem lo kayanya mimpi buruk soalnya lo kaya ga tenang gitu sampe ngigo ngigo segala, gue bingung dong udah mama lo lagi ga di rumah, tapi untungnya setelah tangan lo gue pegang gini" jelas Arumi sambil memegang tangan Rico, "lo mulai tenang trus tidur lagi deh” jelasnya kemudian turun dari ranjang, "gue balik kamar ya, sumpah gue masih ngantuk banget" ucapnya lagi dan berlari keluar kamar tapi karena masih setengah sadar "aduhhh" teriaknya begitu menabrak tembok di sebelah pintu.
"ati-ati lo kalo jalan, melek makanya" ucap Rico tertawa, Arumi yang mendengarnya mendengus dan langsung keluar kamar. Begitu Arumi keluar Rico memikirkan ucapan Arumi tadi. Semalem gue mimpi buruk, terus trauma gue kambuh dan dengan tangan gue digenggam Arumi gue bisa tidur lagi, batin Rico sambil menatap tangannya yang tadi digenggam Arumi. Masa iya bisa, setau Rico selain ibunya ga ada yang bisa, dulu pernah dicoba beberapa kali untuk menemani tidurnya supaya tidak mengalami mimpi buruk yang berarti mencegah terjadinya trauma lagi seperti papahnya, tantenya, om, nenek, kakek pokoknya semua anggota keluarga sudah mencoba tetapi tetap tidak ada yang bisa selain ibunya. Kemaren pas manjat gunung juga Arumi yang ada di sampingnya saat traumanya kambuh, Rico baru menyadarinya, berarti ini sudah kedua kalinya Arumi dapat menenangkan nya begitu traumanya kambuh.
___****___
Malamnya ~~
Rico membuka pintu kamar Arumi perlahan. Gelap. Berarti Arumi udah tidur. Rico berjalan ke arah ranjang dan perlahan naik ke ranjang kemudian merebahkan tubuhnya tepat di samping Arumi dengan sangat pelan. Rico menghadapkan tubuhnya ke Arumi, tangannya menyentuh tangan Arumi dan menggenggamnya.
Esoknya~ Rico terbangun dari tidurnya, mengucek matanya perlahan dan langsung sadar dimana dirinya berada. Wah bener-bener ngga bisa dipercaya, cuma dengan genggam tangannya gue bisa tidur nyenyak tanpa gangguan mimpi buruk, batin Rico. Rico buru-buru bangun sebelum Arumi sadar. Tapi sial. Arumi terbangun. Melihat ada Rico di hadapannya Arumi sontak berteriak tapi keduluan dibekap Rico.
“ssuuttt… jangan teriak.” ucap Rico panik kemudian melepaskan bekapannya.
“lo kenapa bisa di sini hah?” Todong Arumi sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
“gue tidur di sini.” Ucap Rico tanpa rasa bersalah.
“APA!!! lo gila ya, lo mau ngapa-ngapain gue ya, setan lo ya” teriak Arumi murka.
“ehh lo jangan salah paham dulu, suer deh sumpah gue cuma numpang tidur aja, ga ngapa ngapain, beneran suerrr deh” bela Rico menunjukan tanda piss ke Arumi.
“lo kan punya kamar sendiri, awas lo ya. Keluar lo cepet, keluar…keluar!!!!!!” teriak Arumi memukul mukul Rico dengan gulingnya. Rico langsung kabur.
"sumpah mi gue cuma numpang tidur doang"
"KELUAR. . .!!" ancam Arumi, Rico langsung keluar dan menutup pintunya cepat. Arumi masih menahan amarah dan menatap ranjangnya bekas Rico tidur, seketika pipinya memerah, berarti semaleman gue tidur bareng dong, duh gue ileran ngga ya, batin Arumi mengecek sekitar bibirnya.
Di luar Rico masih menyandarkan tubuhnya pada pintu sambil memnyentuh dadanya takut. Padahal niatnya sebelum Arumi bangun dia harus cepet kabur balik ke kamarnya tapi malah rencananya kacau, tapi setidaknya dia bisa membuktikan Arumi memang bisa membantunya mencegah terjadinya mimpi buruk. Sebenernya lo itu siapa sih mi, batin Rico.