Magical Love

Magical Love
Confession



Jonathan dan Natasha sudah menyelesaikan makan malam mereka tanpa berbicara, untuk beberapa saat keduanya hanya duduk terdiam.


Sebenarnya ada hal yang sangat ingin Jonathan sampaikan pada Natasha, itulah sebabnya ia memesan tempat yang jauh dari keramaian agar bisa fokus dengan apa yang akan ia sampaikan, tapi entah kenapa rasanya sangat berat memulai pembicaraan itu. Bahkan kata kata yang sudah ia susun sedemikian rupa seketika hilang dari otaknya.


“Aku mau ke toilet sebentar” Natasha beranjak dari duduknya dan meninggalkan Jonathan.


 


Jonathan melihat punggung Natasha yang sedang berjalan menjauhinya, menggaruk tengkuknya sambil menyesali kebodohannya selama ini, ia sangat tidak tau harus dari mana ia mulai berbicara. Bisa di bilang ini yang pertama kalinya ia berbicara serius dengan Natasha.


***


Setelah sampai di toilet, Natasha membuka tasnya dan mengambil ponsel yang ada didalamnya. Dia mencari satu nomer yang akan ia hubungi. Tidak lama kemudian sambungan telfon tersambung.


“Hallo, Tasha?” suara laki laki terdengar menjawab panggilan itu.


”Mike, ada yang mau aku bicarakan denganmu. Soal Nancy”


“Nancy? Ada apa? Jangan bilang kau bertemu dengannya?”


“Iya, aku bertemu dengannya”


"Benarkah? Dimana kau melihatnya? Dengan siapa dia sekarang?" Mike dengan penasaran memberikan banyak pertanyaan kepada Natasha.


"Biarkan aku menjawabnya satu satu Mike"


Natasha menyampaikan semua kejadian tadi sore dan juga memberitahu Mikael soal keberadaan Nancy. Harusnya sekarang ia merasa lega, tapi kenapa yang Natasha rasakan malah sebaliknya. Sekarang dia berusaha menepiskan segala prasangka buruk itu. Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Mikael, ia kembali ke meja makan untuk menemui Jonathan.


“Maaf kalau aku lama” Natasha kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan Jonathan.


“Tidak apa, aku sudah memesan ini. Kau mau minum?" Jonathan mengangkat sebotol minuman alkohol yang sudah tersisa setengah.


"Kau kan tahu kalau aku tidak bisa minum"


"Sedikit saja, ini tidak akan membuatmu mabuk" Jonathan memegang kepalanya yang sedikit pusing.


“Tidak membuat mabuk apanya, sekarang kau mabuk Jo!” Natasha mengernyitkan dahinya melihat wajah Jonathan yang sudah memerah.


“Tidak, aku baik baik saja” dengan senyum di paksakan Jonathan menatap Natasha.


Tidak biasanya laki laki ini mabuk. Terakhir ia mabuk itu saat acara perpisahan sekolah, itupun karena di paksa oleh teman temannya.


“Sudah Jo, jangan minum lagi! Kau ini sebenarnya kenapa” Natasha menjauhkan gelas itu dari tangan Jonathan.


“Aku harus minum agar mulutku ini bisa bicara. Biarkan aku minum satu gelas lagi”


“Tidak, aku tidak akan membiarkanmu minum lagi."


"Sedikit saja, tidak boleh?"


"Tidak! Bicaralah, aku akan mendengarmu”


Jonathan meliat kedua mata Natasha. Entah sejak kapan perasaan itu muncul, beberapa hari ini perasaan yang sangat mengganggu pikiran Jonathan. Setelah bertahun tahun lamaya kenapa dia baru menyadari kalau dia menyukai wanita di hadapannya. Mau bagaimanapun mulutnya terasa sangat berat untuk mengakui akan perasaannya.


Jonathan berdiri dari duduknya, berjalan kesamping bangku Natasha dan menggeser bangku itu agar berhadapan dengannya, sebenarnya ia masih merasa sangat sadar dengan apa yang ia lakukan sekarang. Tidak, ia tidak mabuk karena alkohol, tapi ia mabuk akan perasaannya kepada Natasha.


"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Natasha bingung.


"Aku tidak bisa" dengan suara pelan Jonathan berucap.


"Apanya yang tidak bisa?"


Jonathan mendekatkan badannya dengan tangan masih bertumpu di bangku Natasha, meneliti satu persatu. Mulai dari mata, hidung, kemudian berakhir di bibir itu. Dia tidak bisa menahannya lagi, jika kata kata tidak bisa keluar dari mulutnya, maka sikaplah yang akan ia tunjukan. Jonathan, mencium lembut bibir itu.


Natasha yang sangat terkejut dengan tindakan tiba tiba dari Jonathan membulatkan matanya dan memutuskan ciuman mereka. Tapi sedetik kemudian Jonathan menahan kepala Natasha dan kembali menciumnya lebih dalam dari sebelumnya, seakan menyampaikan semua yang ia rasakan saat ini.


"Jo-" dengan wajah memerah Natasha menundukan wajahnya saat ciuman itu berakhir.


"Aku tidak tau harus dari mana aku mulai bicara. Tapi ku harap, kau mengerti" Jonathan mengusap lembut rambut Natasha dengan kedua tangannya dan mengecup kening Natasha.


.


.


.


.


.