Magical Love

Magical Love
Pasir Pantai



"Namaku Kassandra, Tuan" ucap Kassanda sambil menerima uluran tangan Roy. Roy tersenyum kemudian melepaskan jabatan tangan mereka berdua.


"Oh ya Henry, apa kau melihat Natasha?" tanya Roy.


"Tadi dia pergi bersama Tuan Jonathan sebelum acara ini selesai"


"Ah, jadi dia pergi bersama Jo, pantas saja tadi Key yang menutup acara ini. Baiklah, terima kasih Henry." ucap Roy hendak meninggalkan Henry dan juga Kassandra.


"Tunggu Tuan Roy” panggil Henry, Roy mengurungkan niatnya dan berbalik melihat kearah Henry.


”Maaf jika pertanyaan saya lancang. Apa Natasha dan Jonathan memang sedekat itu? Saya kira mereka hanya sebatas atasan dan sekretaris," pertanyaan Henry membuat Roy tersenyum.


"Mereka teman dari kecil, karena aku dan Key bersahabat. Jadi mereka juga selalu bertemu,”


"Apakah mereka memiliki hubungan khusus?" mata Henry terlihat penasaran akan jawaban dari Roy. Sedangkan Kassandra menatap kakaknya dengan penuh selidik.


"Aku harap begitu, tapi sepertinya. Belum," jawab Roy, Henry terlihat lega akan jawaban dari Roy.


“Memangnya ada apa Henry?” tanya Roy.


“Tidak ada apa apa Tuan,” balas Henry sambil tersenyum.


"Kalau begitu, aku pamit. Henry, Kassandra" Roy pun meninggalkan mereka berdua. Setelah di rasa Roy sudah jauh, Kassandra melirik kearah kakaknya.


"Kenapa kakak bertanya seperti itu? Kakak tidak berniat menjalin hubungan dengan seorang Muggles kan?" tanya Kassandra ketus.


"Bukankah pernikahan dengan Muggles sudah legal sekarang?" Henry tersenyum miring.


"Jangan bercanda kak. Tadi kakak yang memberitahuku soal mantra tidak boleh di gunakan untuk Muggles, tapi kenapa sekarang kakak mau melanggarnya" ucap Kassandra.


"Apa wajahku terlihat bercanda? Dan juga, aku tidak bilang akan menggunakan mantra padanya. Aku hanya bilang kalau pernikahan dengan Muggles sudah legal sekarang" jawab Henry.


"Apa kakak tau. Kakak akan merubah takdir kalau kakak menikah dengan Muggles! Kita tidak di takdirkan untuk bersama dengan mereka!"


"Ya, aku tau! Takdir memang bisa berubah. Bahkan mantra yang selama ini kau berikan pada Muggles, tanpa di sadari bisa merubah takdir mereka! Apa kau juga tau itu?" Henry menatap wajah adiknya tajam.


"A-aku tau." jawab Kassandra lirih. Di wajahnya terpancar aura ketakutan. Henry dapat melihat ekspresi kebohongan di wajah adiknya. 100% Kassandra sudah melanggar peraturan dunia sihir.


“Jadi siapa dia?” tanya Henry. Kassandra hanya menunduk dan diam tidak menjawabnya.


“Kau kira bisa membodohiku? Sandra, aku lebih mengenalmu di banding siapapun!" tegas Henry.


"Ceritakan semuanya setelah kita pulang ke Italia! Dan jangan membohongiku lagi, kalau kau tidak mau ku laporkan pada grandpa” sambung Henry.


"I-iya kak. Maafkan aku" Kassandra menunduk sambil menggigit bibirnya. Terlihat keringat membasahi dahi itu. Dan sekarang, ia merasa sangat menyesali keputusannya untuk ikut ke Kanada.


 


***


 


Langit yang berwarna kemerahan menerangi pantai itu, tanda matahari sudah hampir terbenam. Hembusan angin laut menerpa wajah Natasha, membuat rambut panjangnya tertiup dengan indah. Natasha melihat kearah tangan kanannya yang masih di genggam erat oleh Jonathan, mereka berdua menghentikan langkahnya saat melihat sebuah meja dan dua kursi dengan nuansa putih. Tiga buah lilin sudah menyala diatasnya, yang juga dihiasi beberapa tangkai bunga mawar putih. Jonathan melepaskan tangan Natasha dan menarik salah satu kursi itu.


"Kenapa membawaku kesini?" tanya Natasha yang heran dengan sikap Jonathan.


"Duduklah" Jonathan mengarahkan matanya ke bangku yang sedang ia pegang. Natasha mendekati Jonathan untuk duduk di kursi tersebut.


"Bukankah kita akan makan malam di Signatures bersama ayah dan orangtuamu?" tanya Natasha.


"Makan malam itu tidak jadi, kita akan makan malam disini" jawab Jonathan, dia berjalan dan duduk di kursi yang berada di depan Natasha.


"Kenapa?" Natasha mengernyit heran.


"Karena aku hanya mengarangnya agar kau mau ikut bersamaku"


"Mengarangnya? Apa maksudmu?” tanya Natasha. Jonathan mengambil ponsel dari sakunya memencet nomer dan mengarahkan ponsel itu di telinganya.


“Aku sedang berbicara padamu, Jo!” Natasha mulai kesal karena merasa diabaikan. 


“Sebentar” ucap Jonathan singkat.


“Tolong antarkan makanannya, saya sudah sampai disini” Jonathan berbicara dengan seseorang di sambungan telfonnya, kemudian mematikannya dan menaruhnya diatas meja. Dia melihat kearah Natasha yang masih menunggu jawaban darinya.


“Aku hanya ingin dinner di dekat pantai denganmu” jawab Jonathan. Natasha menyipitkan matanya seakan tidak puas dengan jawaban Jonathan.


“Dan melihat sunset. Bukankah kau menyukai sunset?” Jonathan tersenyum lembut menatap Natasha.


“Kau.. tidak sedang sakit kan?” Natasha mengulurkan tangannya menyentuh dahi Jonathan. 


“Sakit? Tidak! Aku baik baik saja” Jonathan melepaskan telapak tangan Natasha dari dahinya.


“Apa kepalamu terbentur sesuatu?” tanya Natasha.


“Tidak!”


“Kau, tidak seperti Jonathan yang aku kenal. Apa ada arwah sedang merasukimu?” 


“Yang benar saja!” Jonathan mulai meninggikan suaranya karena kesal akan pertanyaan Natasha.


 


“Nah! Harusnya seperti itu, kau sangat tidak cocok berbicara lembut. Membuatku merinding” ucap Natasha.


“Permisi Tuan, ini makanannya” Seorang pelayan membawa beberapa makanan dengan kedua tangannya. Tidak lama dari itu seorang pelayan membawakan sebotol anggur dan menuangkannya di gelas Jonathan dan Natasha.


“Terima Kasih” ucap Natasha tersenyum kearah pelayan itu. Pelayan itupun mengangguk dan pergi.


“Kenapa kau bisa bicara lembut padanya tapi tidak denganku!” protes Jonathan.


“Karena bicaramu selalu kasar padaku!” jawab Natasha.


“Tadi aku bicara lembut malah kau bilang ada arwah merasukiku!” geram Jonathan tidak terima akan jawaban Natasha.


“Aku.. hanya bercanda” Natasha menahan tawa melihat ekspresi Jonathan yang kesal.


“Jangan tertawa!” seru Jonathan, Natasha pun menghentikan tawanya.


“Maaf, Jo” ucap Natasha sambil tersenyum. Jonathan menghembuskan nafasnya dan malah mengalihkan pandangan kearah laut melihat matahari yang sedang tenggelam bersama cahayanya.


“Aku juga minta maaf, karena selalu kasar padamu.” suara Jonathan terdengar tulus di telinga Natasha. Dia memperhatikan Jonathan yang masih memandangi laut.


“Dari samping dia terlihat sangat tampan” gumam Natasha dalam hati sambil tersenyum.


“Aku tau aku tampan, jangan memandangiku seperti itu”


“Aku tidak memandangimu!” Natasha membuang wajahnya, melihat kearah laut dengan wajah bersemu merah.


“Jadi kau memaafkanku atau tidak?” Jonathan melirik kearah Natasha. Gadis itu menghirup dalam aroma angin laut dan diam sesaat.


“Aku selalu memaafkanmu. Bahkan, sebelum kau memintanya” Natasha tersenyum.


“Kalau melihat ini, aku selalu teringat ibu” tatapan wajah itu menjadi sendu. Natasha menutup matanya, merasakan setiap hembusan angin yang menyentuh wajah cantiknya, suara deburan ombak terdengar jelas di telinganya, memori kebersamaannya dengan seorang yang amat berarti terputar kembali. Bulir air mata itu tiba tiba menggenangi sudut mata Natasha.


“Kau menangis?” tanya Jonathan panik saat melihat kesedihan di wajah Natasha.


“T-tidak. Ada pasir masuk kedalam mataku” dengan cepat Natasha menghapus air mata itu.


Jonathan berdiri dan berjalan kesamping Natasha, ia mengarahkan wajah Natasha agar menghadap kearahnya. Jonathan mendekatkan wajahnya dengan perlahan. Melihat itu spontan Natasha menutup matanya rapat.


“Kenapa kau malah menutup mata. Cepat buka” ucap Jonathan, Natasha pun membuka matanya.


“K-kau mau apa?” tanya Natasha gugup. 


“Tentu saja meniup pasirnya” Jonathan menahan kedua mata Natasha dengan jarinya dan meniupnya perlahan secara bergantian, rasa bergejolak kembali dirasakan Natasha saat hembusan nafas itu menyentuh wajahnya.


“Apa masih ada pasir yang mengganjal?” Jonathan menatap mata Natasha dengan wajah yang sangat dekat, Natasha perlahan mendorong tubuh Jonathan agar segera menjauh darinya.


“S-sudah tidak ada” Jonathan pun kembali duduk di kursinya.


“Ya tuhan, sepertinya ada masalah dengan jantungku” gumam Natasha.


“Kenapa tadi menutup mata? Kau pikir aku mau melakukan apa?” pertanyaan Jonathan membuat wajah Natasha semakin merona.


“Jangan bilang kau berpikiran aku akan menciummu tadi” Natasha membulatkan matanya.


“Tidak! Aku tidak berpikir seperti itu!” Jonathan tertawa akan reaksi lucu Natasha.


“Sudahlah, tidak usah berbohong padaku” Jonathan tersenyum miring.


“Siapa yang berbohong. Kalau aku bilang tidak ya tidak!” Natasha meminum anggur dihadapannya dengan sekali teguk karena merasa tenggorokannya kering seketika.


"Sepertinya kau sangat haus ya" Jonathan melihat gelas Natasha yang tidak menyisakan sedikitpun sisa. Natasha menatapnya tajam.


“Aku hanya bercanda. Kenapa menanggapinya begitu serius. Kau itu lucu sekali” Jonathan tertawa kecil lalu kembali menuangkan minuman di gelas kosong Natasha.


"Makanlah, steak itu tidak akan enak kalau sudah dingin"


Natasha pun meraih pisau dan garpunya dan mengarahkan ke daging yang ada di hadapannya. Dengan perasaan kesal ia memotong steak itu kasar seakan akan itu adalah Jonathan.


"Ingin sekali dagingnya ku jadikan steak untuk makan malam" umpat Natasha sambil menusuk daging itu menggunakan garpu.


"Apa katamu?"


"Tidak! Aku tidak bicara apa apa"


"Jelas jelas kau berbicara. Kau pikir aku tuli"


"Makan saja makananmu. Jangan banyak bicara!" Natasha meniru gaya bicara Jonathan yang suka sekali menyuruhnya diam.


.


.


.


.


.


Haiii Kaka kaka..Maaf banget baru sempet up. Aku sempet kehilangan semangat nulis kemarin wkwk


Bolehkah aku tau ada berapa ya orang peminat cerita ini? komen di bawah ya..


Makasih buat Like dan dukungannya.. 💕