
Hari sudah berganti menjadi gelap, angin malam diatas pegunungan terus berhembus, membuat pohon di sekitar menari karenanya, cahaya bintang dan bulan sudah mulai terlihat pada tempatnya untuk menerangi. Untuk sebagian dari mereka ada yang berbincang di depan api unggun sambil memainkan musik, ada yang berpesta barbeque dan ada juga yang sudah terlelap akan tidurnya di dalam tenda.
Janne dan juga Natasha berbagi satu tenda untuk berdua, dinginnya malam membuat mereka tidak betah untuk terus berada di luar. Mereka masih asyik berbincang dan bercanda di dalam tenda sampai akhirnya sebuah suara mengehentikan percakapan mereka.
"Ada apa?" ucap Janne saat membuka resleting tenda mereka. Terlihat Jonathan yang sedang berdiri di depannya.
"Aku ingin bicara dengan Natasha, bisa tinggalkan kami berdua sebentar?"
"Tidak bisa" canda Janne sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayolah, hanya sebentar" ucap Jonathan. Janne pun tertawa, ia hanya menggoda Jonathan, ia tidak benar-benar menolak permintaan lelaki itu, untuk apa juga dia menahan mereka untuk bertemu.
"Baiklah, tapi ingat, kau harus membayar setiap detiknya" Janne mengalihkan pandangannya pada Natasha. "Aku akan ke tenda Lily ya" Natasha pun mengiyakannya. Kemudian Janne keluar untuk meninggalkan mereka berdua.
"Temanmu menyebalkan" ucap Jonathan diiringi langkahnya masuk kedalam tenda dan menutup resletingnya kembali.
"Apa dirimu tidak berkaca? Kau lebih menyebalkan daripada Janne" Natasha menyilangkan kedua tangannya.
"Apa yang mau kau bicarakan?"
"Tidak ada" Jonathan merebahkan tubuhnya dan memposisikan kepalanya tepat di pangkuan Natasha yang sedang duduk. Natasha mengerutkan dahinya melihat kelakuan Jonathan.
"Kau mengusir temanku hanya untuk tidur disini?" Natasha menyentuh dahi Jonathan dengan jari telunjuknya.
"Apa boleh aku tidur disini? Aku akan membayar berapapun yang temanmu itu minta sebagai gantinya"
"Kau pikir aku ini apa? Perempuan bayaran? enak saja!" Natasha memegang kepala Jonathan berniat memindahkannya, namun dengan cepat Jonathan memeluk Natasha dan membenamkan wajahnya di perut Natasha.
"Aku hanya bercanda" Jonathan menggerakan kepalanya membuat tubuh Natasha merasakan geli di perutnya.
"J-jo, jangan seperti ini"
"Sebentar saja, aku merindukanmu"
Natasha terdiam melihat Jonathan yang sedang memeluknya. Dia tersenyum dan mengusap lembut rambut Jonathan. Cukup lama dengan posisi seperti itu, posisi yang membuat nyaman seorang Jonathan.
"Kenapa telingamu menjadi merah seperti ini Jo" Natasha mengarahkan jarinya disana memainkan telinga Jonathan.
"Jangan menyentuh bagian itu" Seketika Jonathan melepas pelukannya dan menghadapkan wajahnya keatas melihat Natasha. Jonathan menatap dalam Natasha penuh arti.
"Sampai kapan?" tanya Jonathan.
"Apanya yang sampai kapan?"
"Kau, belum menjawab pernyataan ku waktu itu" matanya menusuk mencari jawaban dari kedua bola mata Natasha.
"Ah, aku lupa." Natasha menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya Natasha tidak lupa, hanya saja ia tidak yakin untuk menjalin hubungan dengan Jonathan, mengingat sikap laki-laki itu dulu padanya.
"Bagaimana kau bisa lupa" Jonathan dengan kesal langsung mendudukan badannya menghadap Natasha dengan wajah serius. Natasha hanya tertawa kecil melihat itu.
"Bagaimana kalau aku menolak? Apa yang mau kau lakukan?" Jonathan terdiam mendengar kalimat itu.
"Aku, akan membuatmu menyukaiku." balas Jonathan, wajahnya terlihat sedikit kecewa dengan ucapan Natasha. "Kau, benar benar menolakku?"
Natasha menggelengkan kepalanya, hal itu membuat Jonathan heran. "Kalau kau tidak menolakku. Jadi, apa aku di terima?" Natasha menggelengkan kepalanya sekali lagi.
"Natasha, aku tidak sedang bercanda"
"Aku butuh waktu, Jo" Iya, yang Natasha perlukan hanya sedikit waktu sampai ia yakin akan perasaannya pada Jonathan.
"Sampai kapan?" Jonathan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Sampai aku yakin padamu" jawab Natasha.
"Baiklah, kalau itu mau mu. Aku akan membuatmu percaya padaku."
Jonathan mengambil sebuah kotak di sakunya, dia mengeluarkan isinya dan memakaikannya di pergelangan tangan Natasha.
"Apa ini?"
"Ini gelang keberuntungan." Ucap Jonathan tersenyum saat berhasil memasangkan gelang itu di tangan Natasha.
"Dan, jangan sekali kali kau berani melepaskan barang pemberianku"
Jonathan pun kembali merebahkan dirinya di pangkuan Natasha.
"Kenapa kau malah tidur lagi. Aku ingin ke toilet. Minggir sebentar." Jonathan bangun dan menahan tangan Natasha yang akan pergi meninggalkan tenda.
"Tidak mau. Aku akan minta Janne mengantarku."
"Baiklah" Jonathan pun dengan berat melepaskan tangan Natasha.
***
Satu jam sudah berlalu, Jonathan menghabiskan waktunya bersama dengan Kevin di depan api unggun untuk berbincang.
"Jo, kau tau orang yang bernama Mikael?" tanya Kevin.
"Si kutu buku? Bukankah kau juga mengenalnya?"
"Jadi dia si kutu buku? Kenapa sangat berbeda sekali wajahnya?" Kevin membulatkan matanya.
"Yang berubah hanya badan dan kacamata yang sudah ia buang. Kau tidak usah berlebihan" Jonathan meneguk kembali kaleng coca cola di tangannya.
"Lagipula untuk apa kau menanyakannya?" ucap Jonathan, ia sangat malas untuk membahas Mikael.
"Dia memukulku satu kali saat adiknya aku kencani di bar" ucap Kevin. "Tapi, aku sudah membalasnya saat bertemu lagi di bandara kemarin" Kevin tersenyum puas mengingat itu. Bahkan dirinya senang sudah membuat keributan disana dan membuat Mikael malu.
"Lalu dia tidak membalasmu?" Tanya Jonathan.
"Tentu saja tidak. Dia beruntung karena satpam muncul saat itu. Kalau tidak, sudah aku hajar habis." Kevin tertawa akan ucapannya sendiri.
Tidak lama kemudian terdengar suara derap kaki yang sangat cepat. Janne berlari menghampiri Jonathan dan juga Kevin dengan nafas yang terengah-engah.
"J-jo.. N-Nat, asha.." ucap Janne masih dengan suara yang tidak beraturan.
"Ada apa dengan Natasha?" Tanya Jonathan. Namun Janne masih mencoba mengontrol udara yang masuk kedalam tubuhnya, wanita itu terlihat sangat lelah setelah berlari. "Cepatlah katakan!"
"A-apa kau melihatnya? Dia menghilang" ucap Janne.
"Apa? Bukankah tadi dia bersamamu? Tadi dia bilang kalau mau ke toilet di temani dirimu!" ucap Jonathan dengan nada tinggi, ia berdiri menghadap kearah Janne untuk mendapat penjelasan.
"Jo, tenanglah. Lihat Janne, dia juga sedang panik" Kevin berdiri dan juga menepuk bahu Jonathan.
"Diamlah!" Jonathan menyingkirkan tangan Kevin dari bahunya. Tersirat rasa kesal dan kepanikan di wajah Jonathan.
"Tadi aku tertidur di tenda Lily, Tasha tidak membangunkan ku saat sampai dan melihatku tertidur. Aku mengetahui Tasha mau pergi ke toilet dari Stave, karena Natasha meminjam senter dengannya untuk pergi kedalam hutan." Janne menjeda kalimatnya untuk sedikit bernafas.
"Aku juga sudah menyusulnya kedalam hutan, tapi.. aku hanya menemukan senternya yang sudah terjatuh." Janne mengangkat senter besar stave yang berada di tangan kanannya.
Jonathan langsung merebut senter besar itu dari tangan Janne dan berlari dengan cepat memasuki hutan.
***
Seorang laki laki memakai sebuah hoodie hitam berdiri di depan sebuah mangkuk besar, ia melihat pantulan bayangan yang terpancar di dalamnya. Dengan cepat laki laki itu mengambil tongkat sihirnya.
"Apparate" ucapnya dengan suara pelan sambil menjentikan jarinya. Laki laki itu pun seketika menghilang dari tempatnya dan muncul di dalam hutan yang sangat gelap.
"Lumos" Sebuah cahaya muncul dari ujung tongkatnya saat itu juga.
Dari balik sebuah pohon ia bersembunyi agar tidak terlihat. Dia melihat seorang wanita sedang berjalan keluar dari bilik toilet yang sengaja di buat di hutan itu.
Laki laki itu adalah Henry. Dan wanita yang ia perhatikan dari kejauhan itu adalah Natasha. Henry pun mengikuti Natasha dari jarak yang cukup aman agar tidak terlihat olehnya.
***
Di waktu yang bersamaan, di pinggir sebuah air terjun muncul dua orang dengan sekelebat cahaya menerangi mereka. Salah satu dari mereka mengecek keberadaan sekeliling dan mengerutkan dahinya.
"Kenapa kita harus muncul disini! Bukankah perjalanan ke atas itu cukup jauh dari sini, Rain!" Kassandra memarahi Rain karena sepertinya laki laki itu salah menyebutkan tempat tujuan mereka.
"Setidaknya kita hanya butuh beberapa jam untuk sampai ke sana." ucap Rain. "Ini bukan salahku, karena terakhir aku mengecek keberadaan mereka, tempat ini yang muncul"
"Kita akan ke sana dengan apa! Berjalan kaki?" Kassandra menggaruk kepalanya frustasi. Tidak bisa menggunakan mantra adalah hal yang menyiksa bagi seorang penyihir.
"Arghhh.. Kau sungguh membuang tenaga dan waktuku." Kassandra berjalan cepat dan meninggalkan Rain yang berjalan di belakangnya.
***
Jangan Lupa Like, Komen dan Votenya ya kaka kaka...
❤️❤️❤️