
"Wah jatuh imej gue nangis di depan lo gini, apa sih judul filmnya? kampret nih film" Rico mengelap air matanya setelah film selesai.
"ahaha ini yang gue tunggu-tunggu sebenernya, liat lo nangis, ini judulnya Miracle In Cell No 7, bagus kan filmnya" ucap Arumi yang juga mengelap air matanya. Udah beberapa kali nonton tetep kebawa suasana buat nangis. Hening sesaat, mereka berdua sibuk mengelap air mata.
"eh mi btw bokap lo bener yang punya Ravent House?" tanya Rico hati-hati.
"ahh lo udah tau ya, iya itu bokap gue, makanya nama gue Raveno, Arumi Helga Raveno ya sebenernya itu milik keluarga besar sih cuma yang ngurusin bokap gue, nyokap gue juga ikut nemenin. Sebenernya gue ga terlalu suka mereka sibuk banget gitu, padahal seinget gue dulu pas masih kecil bokap nyokap masih sering pulang ke rumah, ya kaya keluarga kebanyakan gitu, tapi semenjak gue kelas 2 atau 3 SD mereka jadi super sibuk kalo gue tanya jawabannya pasti selalu gue ini masih kecil gitu. Apalagi akhir-akhir ini mereka sering keluar negeri ya tambah jarang deh pulang ke rumah, paling setahun sekali itu pun bentar doang" jelas Arumi sambil memainkan bantal di pangkuannya, "kalo lo gimana ric?" tanyanya.
"kalo gue biasa aja sih, cuma gue diceritain nyokap kalo dulu bokap sempet mimpin perusahaan kakek gue, tapi semenjak kejadian yang gue diculik, pasti lo udah denger dari nyokap gue tentang ini kan?" tanyanya memandang Arumi, Arumi menganggukan kepalanya," dia mundur dan lebih fokus ke TNI, katanya sih dia rada khawatir kalo tetep di sana gue bisa aja ngalamin yang kaya gitu lagi, soalnya pas banget waktu gue diculik itu beberapa bulan setelah bokap gue masuk ke perusahaan kakek"
"masa kecil lo tragis ya, tapi lo beruntung loh ric, bokap lo rela mundur demi lo loh, gue juga kadang iri kalo liat lo sama keluarga lo lagi pada kumpul, gue juga pengen kapan bisa kaya gitu lagi"
"tapi gue tetep aja sebel, mereka tuh terlalu over protektif, kemana-mana harus bilang, sama siapalah ini lah itu lah ribet lah, kaya gue anak kecil aja" ucap Rico sebal sambil meregangkan tubuhnya yang kaku karena kelamaan duduk dan pandangannya tepat mengarah ke jendela, "wah udah gelap aja, eh mi ayo liat kamar lo" ujarnya begitu ingat tentang lukisan luar angkasa di kamar Arumi.
"ngapain liat kamar gue" tanyanya bingung.
"katanya lo mau nunjukin yang kaya luar angkasa gitu, kalo bagus gue mau bikin juga, gini-gini gue suka astronomi loh"
"ohh ya lupa, yuk" Arumi berdiri langsung naik ke lantai atas ke kamarnya. Begitu membuka pintu kamar.
"wih gila bagus juga loh" puji Rico menatap ke langit-langit kamar takjub. Arumi duduk di ranjangnya.
"Dulu nyokap pernah cerita katanya pas gue lahir bertepatan dengan munculnya komet biru, semenjak itu gue jadi suka yang berbau-bau astronomi" jelas Arumi memandang langit kamarnya.
"jangan-jangan kita jodoh lagi, sama-sama suka astronomi" goda Rico ikut duduk di samping Arumi.
"idih ogah kalo sama lo" balas Arumi. Hening sesaat. "oh ya beberapa hari lagi kak Mikel balik, akhirnya gue bisa tidur di kamar kesayangan gue lagi," ucapnya sambil berguling-guling di ranjang.
"beneran? syukur deh, jadi rumah gue kembali aman, nyaman dan tentram kalo lo pergi" ujar Rico bercanda padahal hatinya gundah gulana.
"sialan lo ya, lo kira gue biang kerusuhan" maki Arumi sambil melempar bantal ke tubuh Rico.
___****___
Tanpa terasa 2 bulan sudah berlalu. Magang Mikel dan Cakka di kota Surabaya telah selesai. Itu artinya Arumi harus kembali ke rumahnya, pergi meninggalkan rumah Rico yang sejujurnya sudah membuatnya cukup nyaman. Mikel langsung menjemputnya begitu sampai di Bandung.
"kak, Arumi kangen banget" ucap Arumi manja sambil memeluk erat Mikel. Mikel sampai mundur ke belakang kemudian mengusap-usap rambut Arumi sayang. Cakka yang melihatnya hanya tersenyum.
"lo betah kan tinggal di sini, Rico ga aneh-aneh ke lo kan?" tanya Cakka memastikan.
"betah kok kak, gue seneng bisa tinggal di sini" ucap Arumi setelah melepas pelukannya.
"loh Cakka udah nyampe aja, tau gitu tante jemput tadi" ucap tante Ana dari arah dapur.
"tadi langsung dapet taksi tan, jadi ya langsung pulang aja" ucap Cakka.
"lah terus Arumi langsung ikut Mikel pulang?" tanya tante Ana.
"iya tante"
"yah padahal tante seneng loh kamu nginep di sini, Mikel ikut nginep sini aja gapapa" tawar tante Ana.
"Arumi ambil barang-barang dulu di atas ya" ucap Arumi dan lansung naik ke kamarnya. Rico yang dari tadi hanya berdiri di pintu kamarnya otomatis langsung sembunyi masuk ke kamarnya. Arumi langsung masuk kamar dan memandang ke seluruh kamar yang sudah 2 bulan ditempatinya untuk terakhir kali, kemudian mengambil barang-barangnya lalu keluar menutup pintunya perlahan, ketika berbalik pandangannya tertuju ke pintu kamar Rico.
Tok..tokk.. "Rico. ." Arumi mengetuk pintu kamar Rico untuk berpamitan. Hening. Di dalam Rico kaget dia tidak menyangka Arumi akan menemuinya. Arumi membuka pintunya perlahan, Rico yang panik langsung berlari ke ranjang dan pura-pura tidur.
“ehhmm Ric lo tidur? mungkin lo ga denger gue ngomong ini tapi gue harus tetep ngomong sama lo, gue mau pamit, gue mau balik ke rumah gue.” Dalam hati Rico menjawab iya gue tau, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk sekedar membuka matanya, “makasih yaa selama gue tinggal di sini lo udah baik sama gue, yahh walau awalnya lo kaya setan si bagi gue hehehe, malah gue sempet namain rumah lo itu kaya neraka.” Rico hanya mendengus di dalam hati, ganteng kaya gini dibilang setan, “dan waktu pertanyaan lo di villa itu...” Rico degdegan mendengar apa selanjutnya yang akan diucapkan Arumi, “ehh ga jadi deh hehe.” Rico mendengus, kenapa pake ga jadi sih. Arumi duduk di samping Rico yang tertidur alias pura-pura tidur kemudian mengelus pipi Rico pelan. Rico pengen banget bales pegang tangan Arumi di pipinya, tapi dia terlalu pengecut jadinya dia tetap pura-pura tidur. Begitu Arumi keluar dari kamar Rico langsung meloncat dari ranjangnya. Kenapa gue jadi pengecut gini sihh ah payah, kesal Rico.
Di teras tante Ana dan Cakka melepas kepergian Arumi.
“Tante makasih ya udah menjaga dan merawat Arumi ketika di sini, Arumi minta maaf kalo banyak salah, banyak ngerepotin, banyak nyusahin” ucap Arumi menahan air mata, tante Ana langsung memeluknya.
"shuutt ga boleh ngomong gitu, kamu ga pernah ngerepotin maupun nyusahin tante" ucapnya sambil mengelus-elus punggung Arumi, “kamu sering-sering main ke sini ya, tante udah anggep kamu kaya anak tante sendiri" ucapnya setelah melepas pelukannya.
“iya tante siapp.”
“oh ya kamu ga mau pamitan sama Rico?”
“ga usah tante, Rico juga lagi tidur. Lagian juga besok ketemu di sekolah.” Ucap Arumi kemudian memandang ke arah jendela kamar Rico. Rico yang juga sedang mengintip dari jendela langsung menyembunyikan diri, ngapain pake sembunyi sih bego bego, pengecut lo ric, batinnya.
Tante Ana melepas kepergian Arumi sedih.
“udah tante masuk yuk, ga enak juga sama Rico, masa ibu sendiri lebih sayang ke anak orang lain, untung Rico lagi tidur.” Cakka menggandeng tantenya masuk ke rumah. Rico turun ke bawah dengan muka kusut.
“udah bangun lo ric?” tanya Cakka setelah mengantar tante Ana ke kamarnya.
“iyaaa” Jawab Rico pura pura masih mengantuk. Pandangannya menyapu ke sekeliling rumah. Ga ada Arumi rumah jadi keliatan sepi.
“nyariin Arumi?” goda Cakka.
“engga ko, sotau lo kak.” elak Rico, tapi yang namanya Cakka ga mempan diboongin Rico.
“alahh ga usah boong sama gue deh lo, dari mata lo keliatan banget lo boong.” Cakka memojokannya.
“tau lah, ngomong sama lo ga ada gunanya.” Rico pergi ke dapur.
“hahaha udah jatuh cinta nih ceritanya” Cakka merangkul Rico dari belakang, Rico menepisnya kasar, Cakka tertawa puas.
___****___
Sesampainya di rumah Mikel dan Arumi duduk di ruang tengah sambil merapikan barang-barang yang masih berserakan.
“kak oleh olehnya mana?” pinta Arumi.
“lo bukannya nanya kabar gue atau apa kek, malah minta oleh oleh.” Mikel merebahkan tubuhnya di sofa melepas penat.
“yaah kak emang ga boleh, mana cepet oleh olehnya.” rengek Arumi.
“astaga, tuh di kantong warna merah kalo ga salah, ambil sendiri.” Arumi bergegas mencari kantong warna merah, setelah ketemu langsung dibukanya dengan tidak sabar.
“wahhh…indah banget.” Arumi mengeluarkan dream cather biru yang dihiasi aksesoris bulu-bulu sehalus kapas, “makasih yaa kak.” Arumi mencium pipi Mikel sekilas kemudian bergegas ke kamarnya dan memasangkannya di pintu menuju balkon kamarnya.