Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Adaptasi



Matahari pagi telah menyombongkan sinar kemerahannya di ufuk timur. Aiden terbangun dari tidurnya yang kurang lelap. Ia menunggu Sirene di tepi pantai semalaman.


Aiden sendiri bingung mengapa ia semarah itu kemarin? Dan sekarang, ia bingung kemana harus mencari Sirene. Perlahan, ia membukan pintu mobilnya dan bergegas keluar menuju ke tepi pantai, tepatnya batu karang tempat Sirene kemarin menenggelamkan diri.


Aiden duduk disana dan tanpa berpikir ia pun berteriak, "Sirene! Kau dimana? Kembalilah!"


Lautan itu tetap tenang, tidak ada ombak bahkan angin semilir pun tidak ada. Aiden menjulurkan kepalanya ke bawah batu karang.


Ia memasukan kakinya ke dalam air, dan mengepak-kepakkan kakinya disana cukup kencang hingga terdengar suara berkecipak.


Aiden tertunduk melihat buih air yang ia ciptakan. "Sirene, kalau kamu bisa mendengarku tolong dengarkan ucapanku sampai selesai. Karena aku tidak tau bagaimana mencarimu di tengah lautan luas seperti ini,"


"Maafkan aku kalau aku selalu kasar dan marah-marah kepadamu. Kamu adalah ketakutan terbesarku, kamu penyebab aku takut kepada hal-hal yang tidak tampak, atau yang gaib. Maka itu, marah-marahku terjadi karena aku takut," ucap Aiden bermonolog.


Ia sadar ia seperti orang yang kehilangan akan sehatnya karena berbicara dengan batu karang. Namun, ini ia lakukan karena ia merasa bersalah kepada duyung yang sedang sakit itu.


Sebagai seorang laki-laki, seharusnya ia bisa menjaga Sirene, bukan mengusirnya.


"Aaarrgghhh! Sirene, kembalilah!" Aiden menangkupkan kedua tangannya membentuk corong dan berteriak lagi.


"Aku tau kamu sedang sakit, Matt yang memberitahuku. Aku memang jahat, maka dari itu, maafkan aku, Sirene. Pulanglah bersamaku," pinta Aiden.


Lautan itu tetap tenang, tak ada tanda-tanda kemunculan Sirene atau makhkuk apa pun dari lautan.


"Kamu belum mati, kan? Tidak mungkin buih-buih itu kamu, kan? Ayo, muncullah Sirene! Ayo, kita pulang bersama," Aiden terus memohon.


Lama Aiden menunggu disana, tapi Sirene tetap tidak muncul. Akhirnya ia beranjak berdiri dan bergegas kembali menuju kendaraannya.


Tiba-tiba saja bunyi gelembung air menyita perhatiannya. Gelembung itu semakin lama semakin terdengar dengan jelas.


"Aiden!" seru seseorang dengan suaranya yang merdu dari tepi batu karang.


Aiden segera saja membalikkan badannya dan betapa bahagianya ia melihat Sirene muncul dari lautan dan tersenyum kepadanya.


Tak pernah ia sebahagia itu dalam hidupnya. Ia segera berlari dan menghampiri duyung cantik dengan buliran air membasahi wajahnya. Senyum cantiknya seakan memikat Aiden untuk mendekat.


"Sirene! Kamu mendengarku? Kamu mendengar ucapanku?" tanya Aiden bertubi-tubi.


Sirene mengangguk. "Aku tidak segera menghampirimu karena aku terlilit rumput laut. Mereka tidak melepaskanku semudah itu. Kau tau, rumput laut senang bermain. Aku juga memeriksa apakah ada manusia di sekitarmu atau tidak. Kami tidak boleh tertangkap manusia," ucap Sirene. Suaranya seperti seorang penyanyi profesional, merdu dan indah sekali.


"Maafkan aku, Sirene. Apakah kamu kembali ke tempat asalmu?" tanya Aiden.


Namun, Sirene menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa kembali kesana karena kekuatanku sudah hilang. Untuk kembali kesana diperlukan tenaga serta energi yang cukup banyak. Aku kehilangan semua itu,"


Mata Aiden membulat. "Jadi, semalaman kamu di dalam lautan? Apa kamu tidak kedinginan? Kamu, kan sedang sakit! Naiklah, Sirene. Ayo, kita kembali. Aku akan membuatkanmu sesuatu yang hangat," ucap Aiden dan ia membantu Sirene untuk keluar dari air.


Aiden berlari ke mobilnya untuk mengambil sandal. Benar saja, sandal itu berguna sekali karena begitu Sirene menapakkan ekornya ke daratan, seketika itu juga ekor besar itu berubah menjadi sepasang kaki yang mulus dan cantik.


Sesuai janji Aiden, ia akan membuat Sirene nyaman tinggal bersamanya dan mengajak Sirene untuk bersenang-senang selama ada di bumi.


Hanya satu hal yang menjadi masalah terbesar saat ini, yaitu, ekor.


"Bisakah kamu berbuat sesuatu untuk ekornya?" tanya Aiden kepada Lea suatu hari.


Lea memegang ekor Sirene yang mengepak-kepak gembira. "Ada, tapi tetap saja akan berubah. Hanya bertahan selama 20 jam. Bagaimana? Memangnya kalian mau kemana, sih?" tanya Lea penasaran.


Wajah Sirene tampak merona. "Aiden akan mengajakku berkencan malam ini, tapi setiap beberapa jam sekali kakiku selalu berubah menjadi ekor. Aku tidak mau menakuti orang-orang jika tiba-tiba kami sedang makan dan kakiku berubah menjadi seperti ini," jawab Sirene tampak malu-malu.


"Masih seperti kemarin dan ramuan Meltem juga tersisa setengah botol. Tapi aku sudah bahagia, Yang Mulia Ratu," jawab Sirene.


Akhir-akhir ini memang Sirene tampak bahagia, dan Aiden pun jauh lebih ramah daripada saat awal mereka bertemu. Aiden sering bercerita kepada Matt kalau ia mengajarkan Human Things kepada Siren.


Mulai dari berbelanja, mengerjakan pekerjaan rumah, sampai bersosialisasi dan yang terakhir sedang diajarkan oleh Aiden adalah, internet.


Dan malam ini, Aiden mengajak Sirene berkencan. Aiden sudah mengirimkan gaun malam untuk Sirene berwarna biru metalik, senada dengan warna rambutnya.


"Pergilah ke dekat laut, itu saranku. Jika terjadi apa-apa, Sirene bisa segera melompat ke dalam laut sampai kondisi dia aman untuk keluar dan kembali," usul Lea kepada Sirene dan Aiden.


"Nah, sudah. Ingat, 20 jam. Sebisa mungkin jangan memakai ramuan Meltem hanya untuk mengubah ekormu. Paham, Sirene?" tanya Lea.


Sirene berdiri dan membungkuk dengan gaya yang cantik kepada Lea. "Baik, Yang Mulia Ratu. Terima kasih bantuannya. Bolehkah aku memelukmu?" tanya Sirene.


Lea membuka lengannya dan memasukan Sirene ke dalam dekapannya. "Bersenang-senanglah dan isilah waktumu dengan kegembiraan," bisik Lea menyampaikan pesan.


Sirene mengangguk. Bantuan Lea berarti sekali baginya. Dia akan mengingat masa-masa ini sebelum ia menghilang nanti.


***


"Sudah siap?" tanya Aide mengetuk pintu kamar Sirene.


"Sebentar lagi," jawab Sirene dari dalam.


Sirene memakai gaun malam yang diberikan Aiden kepadanya. Dengan bantuan tongkat sihir Lea, ia mengepang rambutnya dengan cantik dan menghias kepangannya dengan ornamen bintang laut kecil berwarna hijau dan biru.


Setelah selesai, ia pun segera keluar untuk menemui Aiden. "Bagaimana menurutmu?"


Aiden tercengang saat Sirene berputar di hadapannya. Malam itu, Sirene tampak cantik sekali dengan gaun biru tanpa lengan selutut yang sederhana. Warna rambutnya membuat Sirene tampak berkilauan. Ia seperti seorang dewi malam itu.


"Ca-, cantik sekali," jawab Aiden, semburat merah memenuhi wajah Aiden saat menatap gadis di hadapannya itu.


Sirene pun tertunduk malu. "Ayo, aku sudah siap," kata Sirene manis.


Aiden menawarkan lengannya kepada Sirene dan mereka pun berjalan dengan saling bergandengan tangan.


Sesuai anjuran Lea, mereka mencari restoran di tepi laut. Setelah makan, Aiden mengajak Sirene berjalan di tepi pantai.


"Dulu aku menganggapmu monster, ternyata kamu cantik sekali, Sirene," ucap Aiden.


Sirene pun tersenyum mendengar ucapan Aiden. Ia menghentikan langkahnya dan mengajak Aiden untuk duduk di tepi pantai. "Terima kasih, Aiden. Kamu telah membuatku bahagia. Aku akan selalu mengingat kebaikanmu," sahut Sirene.


Tiba-tiba saja Aiden menggenggam tangan Sirene. Ada sesuatu yang berdenyut dengan lembut di dalam tubuh Sirene yang tidak dapat ia jelaskan saat tangan Aiden menggenggamnya.


"Jangan menghilang, Sirene. Aku akan melakukan apapun asalkan kamu tetap ada disisiku," kata Aiden. Manik cokelat Aiden mengunci manik biru Sirene.


Mata mereka saling bertemu. Dengan perlahan, Aiden memperkecil jarak di antara mereka dan dengan lembut ia mengecup kening Sirene.


"Tetaplah di sampingku, Sirene. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi buih atau apapun itu," bisik Aiden tanpa melepaskan genggaman tangannya.


Malam itu, laut mengirimkan ombak yang cukup tenang. Namun, ada yang bergemuruh di dalam dua makhluk yang berada di tepi pantai saat itu.


...----------------...