Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Mutiara Duyung



"Apakah Aiden sudah sampai? Kenapa perasaanku tidak enak yah?" tanya Lea.


Matt memeluknya dari belakang dan mencium ceruk leher Lea, karena saat itu Lea dikuncir kuda jadi Matt dengan mudah dapat menciumnya.


"Tenanglah, Lea. Mereka akan baik-baik saja," sahut Matt menenangkan.


"Aku tidak bisa tenang, Matt. Ada yang salah pasti! Ini sudah lebih dari satu jam dan Aiden belum menghubungimu! Ini salah!" tukas Lea.


Batas waktu yang diberikan Lea kepada Sirene hanya satu jam. Namun, sekarang sudah lewat dari satu jam tapi belum ada kabar dari Aiden.


"Apakah kalau aku menghubungi ponsel Aiden, tidak akan mengganggunya?" tanya Lea lagi.


Matt menggelengkan kepalanya. "Aku rasa tidak akan ada masalah. Hubungi saja," kata Matt. Ia mengambil ponselnya sendiri dan menghubungi Aiden.


Matt mengerutkan keningnya sambil terus menghubungi Aiden. "Dia tidak menjawab. Ada apa yah? Kita tidak tau dimana lokasi dia, kan?"


"Kita ke rumahnya saja. Kamu tau rumahnya, kan?" tanya Lea.


Matt mengangguk dan mengambil kunci mobilnya untuk segera menuju ke tempat Aiden. Sedangkan Lea masih berusaha menghubungi Aiden.


Ponsel Aiden terus berdering, akan tetapi Sirene tidak berani menjawab panggilan itu walaupun tertulis nama Matt di layar ponsel Aiden.


Sirene fokus kepada Aiden yang belum sadarkan diri. "Aiden bangunlah! Aku tidak tau bagaimana menjalankan benda ini," kata Sirene.


Ponsel Aiden kembali berdering, nama Matt muncul lagi dari layar ponsel. Sirene memberanikan diri untuk menjawab panggilan itu. Ia menggeser lingkaran berwarna hijau dan tiba-tiba saja suara Lea menggema ke seluruh penjuru mobil itu. "Aiden? Kau dimana? Apakah kalian sudah sampai rumah? Halo! Aiden! Hei! Jawablah!"


"Yang Mulia Ratu, Aiden pingsan dan aku tidak tau bagaimana menjalankan benda ini," jawab Sirene, suaranya tercekat.


"Dimana posisi kalian?" tanya Lea terdengar panik.


Sirene menengok ke kanan dan kiri, sejauh mata memandang ia hanya melihat banyak mobil dan pembatas jalan. "A-, aku tidak tau, Yang Mulia Ratu. Tapi benda seperti milik Aiden, banyak sekali disini," jawab Sirene.


"Jadi kalian belum sampai rumah?" tanya Lea lagi.


Sirene menggelengkan kepalanya. Dia tidak tau kalau Lea tidak akan bisa melihat gelengan kepalanya.


Sambungan telepon Sirene dan Lea tiba-tiba saja terputus. "Sepertinya mereka belum sampai rumah, Matt," ucap Lea.


"Kita tidak bisa mencari mereka dimana. Apakah aku harus memanggil sayapku?" tanya Lea. Ia sungguh khawatir dengan keadaan Sirene serta Aiden. Lea tau bagaimana rasanya trauma saat sesuatu yang kau takuti berada di dekatmu. Ia juga khawatir kepada Sirene yang belum paham bagaimana hidup di bumi.


"Dan berkeliling kota? Ini sedang banyak orang, Lea," jawab Matt.


"Lalu? Bagaimana kita bisa menolong Aiden?" tanya Lea putus asa.


"Hanya ada 1 orang yang bisa membantu kita dalam situasi seperti ini," ucap Matt dan memutarbalikkan kendaraan mewahnya menuju suatu tempat.


***


"Sirene? Si duyung centil itu? Yang disukai oleh Hades?" tanya seorang pria berdasi kupu-kupu hitam dan kacamata bundar sempurna.


"Sirene mana lagi, Anthem? Memangnya kamu mengenal berapa Sirene di semesta ini?" tanya Lea sedikit tak sabar.


Pria yang dipanggil Anthem itu tersenyum lebar. "Hehehe, l pergaulan kalian di dunia ini berkembang pesat, tapi ternyata disitu-situ saja, hahahaha!" ejek Anthem.


"Aku raja loh sekarang, aku bisa menghukum kesombonganmu!" tukas Matt menegapkan badannya.


Anthem segera saja berdiri dan membungkuk hormat. "Maafkan aku, Yang Mulia Raja," sahutnya setengah meledek.


"Ouch!" Anthem berteriak kesakita saat Alesya menyodok rusuknya sambil memberikan pandangan mematikan.


"Baiklah, maafkan aku. Aku akan serius," kata Anthem akhirnya.


Lea duduk kembali. "Bisakah kamu membantu kami, Anthem? Terima kasih sudah mau menanggapi masalah ini dengn serius," kata Lea.


"Aku tidak paham dunia perikanan dan-,"


"Kalian para pria selalu menyebut duyung itu ikan dan unicorn itu kuda! Astaga!" tukas Lea kesal, karena kesan indah pada kedua makhkuk gaib itu hilang kala mereka menyebutnya sebagai hewan biasa.


Matt dan Anthem saling mengerlingkan mata mereka. "Oke! Duyung! Sejujurnya aku tidak paham dengan duyung. Tapi yang aku tau dengan pasti, mereka memiliki sesuatu seperti rubah. Dan itu mengikat. Aku juga tidak paham bagaimana sejarah antara Aiden dengan Sirene, yang jelas mereka memiliki ikatan yang tidak dapat dipisahkan baik saat ini maupun selamanya," jawab Anthem.


"Tapi, kenapa sebelum Sirene muncul, Aiden baik-baik saja?" tanya Matt.


"Dunia mereka berbeda, Matt sayang," jawab Anthem singkat sembari mengusap dagu Matt dengan sayang dan dibalas dengan sentakan maut dari Matt.


"Saat ini mereka berada di dimensi yang sama. Bumi, wajar saja mereka saling tarik menarik," ucap Anthem menyambung penjelasannya.


Matt dan Lea mengangguk-anggukkan kepala mereka. "Tapi kita belum tau apa yang mengikat mereka," kata Matt.


"Kita juga tidak bisa mencari tau tentang itu, Matt," balas Anthem lagi.


"Saat ini dimana mereka?" tanya Lea.


Anthem tertawa. "Apakah kalian lupa, aku bukan makhluk luar biasa lagi seperti kalian. Sekarang aku hanyalah manusia biasa. Aku tidak mempunyai kemampuan seperti dulu," jawab Anthem tersenyum tulus dan ia tampak menikmati perubahannya itu.


Baik Matt maupun Lea terdiam. Sekarang mereka hanya dapat melakukan satu hal, yakni, berharap semoga Aiden dan Sirene baik-baik saja.


Pada kenyataannya, Aiden masih belum sadarkan diri. Sedangkan Sirene tak berdaya dengan ekor di kakinya yang tidak dapat ia gerakan kemana pun.


Selama menunggu Lea menghubunginya lagi, sebuah mobil polisi berhenti di belakang mobil Aiden. Dari dalam mobil polisi itu, keluarlah 2 orang pria berpakaian biru serta topi lebar berwarna hitam.


Sirene terlihat panik kala pria-pria itu berjalan mendekati mobil Aiden. Ia kembali mengguncangkan tubuh Aiden.


"Aiden, bangunlah! Kumohon! Aiden!" panggilnya. Namun, Aiden tak kunjung membuka matanya.


Sirene kemudian teringat sesuatu. Setiap duyung memiliki 2 mutiara berwarna hitam yang berfungsi sebagai sumber kekuatan para duyung.


Sirene masih memiliki 2 mutiara hitam di tubuhnya, dia berpikir 1 mutiara akan ia berikan kepada Aiden supaya Aiden sadar dan menyelamatkan mereka.


Maka, dengan pikiran seperti itu, Sirene mendekatkan wajahnya ke arah Aiden. Ia mendaratkan bibirnya di bibir pucat Aiden, perlahan ia keluarkan sebuah mutiara hitam berkilauan dari mulutnya dan ia pindahkan mutiara hitam itu ke dalam mulut Aiden yang terbuka.


Setelah memastikan mutiara itu masuk ke dalam tubuh Aiden, Sirene kembali ke tempatnya semula. Sepersekian detik kemudian, tubuh Aiden bersinar hijau kebiruan dan berpendar sangat terang.


Tak lama, Aiden membuka matanya. "Dimana kita?"


Tepat saat itu kedua pria berpakaian biru mengetuk kaca jendela mobil Aiden. Saat Aiden berbicara dengan kedua pria itu, Sirene kembali teringat ucapan Meltem.


Meltem pernah berkata kepada para duyung yang lain. "Jika seorang manusia memiliki mutiara duyung, maka manusia itu akan menjadi abadi,"


Perlahan Sirene menatap Aiden yang sedang diinterogasi terkait alasan kenapa ia memberhentikan kendaraan di bahu jalan dalam waktu lama. Apakah Aiden akan setengah abadi? Karena Sirene hanya memberikan 1 mutiaranya kepada Aiden. Sirene memegang dadanya dan meraba satu mutiara lagi yang ada di dalam sana sambil berharap semoga dirinya akan baik-baik saja dan bisa bertahan sampai ia mendapatkan ciuman dari cinta sejatinya.


...----------------...