
Dengan meminjam kekuatan dari Sang Penguasa serta layanan sayap gratis dari Castiel, maka Sirene turun ke Bumi tanpa harus dibantu oleh Lea maupun Matt.
"Tumben sekali kamu memberikan layanan gratis, Castiel?" tanya Matt kepada malaikat bersayap putih berkilauan.
Castiel yang saat itu sedang sibuk mencatat, mengangkat wajahnya. "Aku sedang mengadakan promo. Baik sekali, bukan aku?" sahut Castiel, seketika menyibukkan dirinya kembali.
"Benarkah? Aku tidak perlu membayarnya?" tanya Matt tak percaya.
Castiel mengangguk. "Hmmm, pergilah. Aku sedang sibuk. Lagipula, duyung itu tidak memiliki banyak waktu," kata Castiel lagi.
"Thanks, Castiel," ucap Matt.
Setelah itu mereka meninggalkan kediaman Sang Penguasa. Oh, tentu saja begitu mereka mendarat di Bumi, Castiel segera memanggil sayapnya untuk kembali.
Matt dan Lea mengantar Sirene kembali ke tempat Aiden. Namun sesampainya disana, Aiden belum juga kembali. Sedangkan hari sudah mulai malam.
"Bagaimana ini, Matt?" tanya Lea.
Matt mengambil ponselnya dan menghubungi Aiden. Akan tetapi, ponsel Aiden dalam status tidak aktif.
"Ck! Kemana Aiden itu? Tidak biasanya ia menghilang seperti ini!" tukas Matt sedikit kesal.
Wajah Sirene tampak khawatir, ia takut Hades sudah menemukan Aiden lebih dulu dan menghasutnya.
"Aku akan mencarinya!" seru Sirene.
"Jangan bodoh! Penguasa memberimu kekuatan bukan untuk menjadi mencari Aiden! Gunakanlah waktu dan kekuatanmu dengan bijak! Kita tidak bisa sembarangan bergerak di saat seperti ini," ucap Lea. Tangannya terentang, siap menghadang langkah Sirene.
Sirene terhenyak. Ia menempelkan kembali tulang ekornya ke kursi empuk milik Aiden. "Aku tidak bisa diam saja, Yang Mulia. Aku harus mulai bergerak. Paling tidak, aku mencari Hades atau Aiden dan memastikan dia baik-baik saja," ucap Sirene putus asa.
Lea menurunkan lengannya dan duduk di samping Sirene. "Hei, percayalah kepadaku. Aiden pasti akan baik-baik saja. Mungkin saat ini ia hanya lupa jalan pulang," jawab Lea berusaha menenangkan Sirene.
Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk menunggu Aiden disana sambil menemani Sirene.
Sekitar 25 menit kemudian, Aiden kembali dengan wajah lesu dan tampak lelah sekali. Namun begitu ia melihat Sirene, ia segera menghampiri gadis itu dan memeluknya.
"Sirene! Kamu baik-baik saja? Apa kamu masih sakit? Kamu masih lemas?"
Pertanyaan demi pertanyaan Aiden lontarkan kepada Sirene yang dengan cepat membalas pelukan pria yang menjadi cinta pertamanya itu.
"Kamu jangan pedulikan aku. Apakah kamu bertemu orang asing? Darimana saja kamu? Apakah kamu juga baik-baik saja? " balas Sirene dengan pertanyaan yang hampir serupa.
"Aku baik-baik saja, Sirene," jawab Aiden.
Ia kemudian memeluk Matt dan Lea bergantian. "Kepalaku rasanya berdentang-dentang," ucap Aiden sambil terus memegangi kepalanya.
Sirene yang melihat kejanggalan dari Aiden mendekatinya. "Kamu tidak mungkin sakit, Aiden!" seru Sirene. Ia kelepasan berbicara tanpa ia sadari.
Sontak saja, Aiden menatap Sirene dan memincingkan kedua matanya. "Apa maksudmu aku tidak mungkin sakit? Aku hanya seorang manusia biasa yang bisa sakit kapan pun, Sirene," jawab Aiden.
Baik Matt maupun Lea tau apa maksud Sirene, tapi mereka tidak pernah menyangka kalau Aiden sedang melemparkan umpan kepada Sirene.
"I-, itu karena, ...."
"Dia terlalu banyak bergaul bersama kami. Menurutku, wajar saja jika Sirene menyamaratakan semua manusia yang ia temui di Bumi," jawab Matt, membantu Sirene.
"I-, iya begitu maksudku," ucap Sirene berkilah.
Malam itu, Aiden meminta Lea dan Matt untuk pulang karena ada sesuatu yang penting yang akan ia bahas bersama Sirene.
Lea yang memiliki kemampuan membaca pikiran dengan cepat mendeteksi apa yang sedang dipikirkan oleh Aiden
***
Setelah kepergian Matt dan Lea, Aiden mengajak Sirene untuk berbicara.
"Aku juga ingin berbicara denganmu, Aiden," ucap Sirene. Ia pun teringat janji yang telah ia buat dengan Sang Penguasa.
"Baiklah, silahkan berbicara lebih dahulu," kata Aiden mempersilahkan.
"Aku adalah seorang duyung yang dalam setiap siklus hidupnya memilili 2 buah mutiara. Punyaku berwarna hitam. Namun misalnya, mutiara-mutiaraku berpindah tangan maka orang itu akan menjadi abadi," jawab Sirene.
Sirene membuka mulutnya untuk melanjutkan ceritanya. Akan tetapi, Aiden sudah menempelkan kedua jarinya tepat di bibir Sirene.
"Aku sudah tau," kata Aiden.
"Hades?" tanya Lea.
Anggukan perlahan datang dari Aiden. "Ya, dia mendatangiku dan-,"
"Jangan pernah mempercayai setiap kata yang keluar dari mulut Hades, bahkan satu helai napas pun, jangan! Kau tau, dia Raja Alam Kegelapan. Wajar saja jika dia pandai memanipulasi pikiranmu, Aiden," seru Sirene.
"Lalu, kenapa kamu belum memberitahuku tentang mutiaramu yang ada padaku, Sirene? Kamu melemah setiap harinya karena kekuatanmu ada di padaku! Parahnya lagi, saat itu aku marah dan ..." Aiden menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Dan aku mengusirmu malam itu ke pantai! Aku bersalah sekali kepadamu, Sirene! Maafkan aku," isak Aiden.
Perasaan bersalah terus menderunya dan kini Aiden menangis terisak-isak. Ia tak mampu membendung air matanya.
Sirene memeluknya. "Maafkan aku, Aiden. Ini salahku karena aku turun ke bumi hanya untuk mencarimu,"
"Kamu mencariku dan terus mengingatku selama itu karena 1 mutiaramu ada padaku dan kamu kembali menyelamatkanku dengan memberikan mutiaramu lagi padaku. Kamu akan mati, Sirene! Pantas saja kamu terus menerus sakit, rambut dan sisikmu rontok, matamu memerah, bahkan ekormu, ...." ucap Aiden.
Ada secercah rasa takut yang menyelinap masuk ke relung hati Aiden saat ia tau tentang kebenaran ini dari Hades.
Sirene memegang kedua pipi Aiden. "Lihatlah aku, Aiden. Aku baik-baik saja. Memang waktu yang ada padaku hanya tersisa sedikit tapi aku tidak mau kamu menemani sisa hariku dengan bersedih atau menangis atau bahkan menyesal. Ayo, kita bersenang-senang!" sahut Sirene. Senyum manisnya terkembang untuk Aiden.
Aiden mengambil tangan gadis duyung itu dan menggenggamnya erat. "Aku ingin kamu tetap hidup, Sirene. Aku tidak mau kamu menghilang dari hidupku," timpal Aiden.
Sirene menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan menghilang, Aiden. Aku tetap akan disisimu sampai Penguasa menjemputku nanti,"
"Aku akan melarang Penguasa untuk menjemputmu! Tidak boleh! Kamu harus tetap berada disampingku!" tukas Aiden.
Satu butir mutiara bergulir turun dari pipi Sirene. "Aiden, memang sudah seperti itu seharusnya. Maka itu ayo, kita bersenang-senang!" pinta Sirene.
"Katakan kepadaku, bagaimana cara mengembalikan mutiaramu? Bagaimana mengeluarkannya dari tubuhku? Aku tidak mau kamu mati! Itu yang Hades katakan kepadaku. Setiap duyung yang kehilangan mutiaranya akan mati," tanya Aiden lagi.
Ia teringat ucapan Hades, andaikan ia ingin Sirene tetap hidup, Hades menyarankan Aiden untuk mengembalikan mutiara itu kepada Sirene.
Namun, betapa herannya Aiden saat Sirene menggelengkan kepalanya. "Simpan mutiaramu dan jagalah mereka, Aiden. Kamu tidak bisa mengembalikannya kepadaku," jawab Sirene.
Semakin banyak mutiara berjatuhan dari mata Sirene. Aiden tidak mempedulikan mutiara-mutiara yang berharga itu. Ia hanya fokus menatap mata biru laut gadis yang ada di hadapannya, yang menolah untuk hidup.
"Kenapa kamu tidak mau hidup?" tanya Aiden lagi sedikit kesal.
"Ketika kamu mengeluarkan mutiara-mutiara itu dari tubuhmu, kamu akan mati, Aiden," jawab Sirene getir.
Dahi Aiden berkerut. "Apa?"
...****************...