
Sudah 14 hari semenjak Aiden dan Sirene kembali tinggal bersama. Tidak ada reaksi apa pun dari mutiara Sirene yang ada pada tubuh Aiden.
Aiden pun mulai mampu mengontrol segala tindakannya. Lea dan Rue sudah menjelaskan tentang mutiara biru yang terhubung antara Aiden dan Sirene.
Hanya ada satu orang yang tidak senang dengan usul yang diberikan oleh Lea serta Rue itu, Emma.
Gadis itu terus menggerutu. Begitu mendengar Sirene dan Aiden kembali tinggal bersama, gadis itu pun segera pindah ke rumah Aiden. Tentu saja, hal ini membuat Aiden jengah.
Kegelisahan hatinya itu, dia bagikan kepada Matt.
"Bisakah aku tinggal bersamamu saja, Matt?" tanya Aiden di suatu siang.
Matt menyuap sepotong steak daging sapi ke dalam mulutnya. "Nyenyapa?"
"Emma dan Sirene, mereka membuat kepalaku terasa mau pecah, Matt. Sirene memang baik, dia banyak mengalah tapi aku tidak tega karena dengan Sirene seperti itu, dia membuat Emma bisa berbuat semena-mena terhadapnya," jawab Aiden.
Dengan susah payah, Matt menelan dengan cepat daging steiknya. "Kalau kamu tinggal bersamaku, bagaimana dengan Sirene? Kalau menurutku, ada baiknya kamu menentukan perasaanmu. Siapa yang akan kamu pilih. Emma atau Sirene,"
"Bisakah aku memilih orang lain selain Sirene?" tanya Aiden.
Matt terdiam, pipinya tampak bengkak karena dia menyelipkan daging makan siangnya di sana. "Hmm, aku juga kurang paham yang seperti itu. Kamu bisa bertanya kepada Lea atau Rue,"
Pria itu meneruskan aktifitas mengunyahnya sampai dia tiba-tiba tersadar. "Tunggu dulu! Maksudmu, kamu menyukai Emma?"
Aiden menertawakan Matt karena lambat sekali pemikirannya. "Hahaha, astaga Matt! Kamu lambat sekali! Aku hanya ingin melihat bagaimana responmu,"
"Aku tidak menyukai Emma. Dia mantan tunanganku dulu. Masih ada Sirene di hatiku. Apakah kalau aku bersamanya, mutiara ini akan baik-baik saja? Atau apakah Sirene akan menjadi manusia?" tanya Aiden.
Matt mengelap mulutnya dan menghembuskan napasnya. "Sudah kukatakan, aku baru masuk secara resmi ke dunia ini belum genap setahun, Aiden. Aku masih trainee dan masih banyak sekali yang belum aku ketahui," jawab Matt.
"Aku salah mengandalkanmu kalau begitu," tutur Aiden menggoda kawannya itu.
Aiden sudah mempersiapkan hatinya dari jauh-jauh hari. Dia akan mengungkapkan perasaannya kepada Sirene dengan cara yang manis. Dia hanya ingin mencari tau, apakah Sirene mempunyai perasaan yang sama dengannya?
Namun sayangnya, Hades membaca pikiran Aiden itu. Dia menemui Aiden di sore hari.
"Selamat sore, Manusia," sapa Hades. Dia menampakan dirinya di hadapan Aiden dalam wujud manusia. Pria itu memakai topi lebar berwarna hitam dengan jas hitam serta celana panjang serta sepatu berwarna senada.
"Hades, selamat sore," balas Aiden tenang. Sekarang dia sudah terbiasa dengan kemunculan Hades yang tiba-tiba itu.
Hades membuka topinya dan meletakkan topi lebar itu di dada. "Bisakah kita berbicara?" tanya Hades sopan.
Aiden mengangguk, dia mengikuti Hades untuk pergi ke suatu tempat.
"Aku membaca pikiranmu, Aiden. Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu, apakah kamu benar mencintai Sirene? Aku dapat membaca pikiran dan hati Sirene juga dan itu untukmu. Aku tidak melihat ada aku di hati gadis itu," ucap Hades.
Kemampuan membaca pikiran lawannya memang sudah menjadi keahlian Hades sejak bertahun-tahun lalu. Tak heran dia selalu bisa bertindak lebih dulu dari lawannya.
"Benarkah itu? Sirene juga mencintaiku," tanya Aiden. Laki-laki itu meyakinkan dirinya sendiri. Dia tidak mau terlalu berharap karena memang selama ini, Sirene belum pernah mengungkapkan perasaannya kepada Aiden.
Hades mengangguk dan tersenyum pahit. "Aku akan kembali ke tempat asalku, tapi kalau jamu membuatnya menangis, aku tidak akan sungkan untuk datang lagi dan mengibaskan pedang ini ke jantungmu,"
Hades mengeluarkan sebilah pedang bertatahkan batu rubi berwarna merah. "Kalau kamu menganggap ini ancaman, ya, anggap saja demikian. Aku menyayangi Sirene dan aku tidak ingin melihatnya menangis atau bersedih hati,"
"Bagus! Karena sekarang kita berteman baik, aku harap kita akan terus berteman baik sampai selamanya. Oh, air mata Sirene. Air matanya sudah bukan mutiara lagi, itu artinya sisi manusianya perlahan mulai muncul," sahut Hades.
Pria itu menunjuk dada Aiden dengan pedang rubi merah itu. "Mutiara biru itu seharusnya ada di dalam Sirene dan mutiara-mutiara itu yang akan membantu Sirene untuk menjadi manusia. Mungkin memang ini yang dikehendaki Penguasa. Kalian selalu terhubung sejak awal pertemuan kalian. Yah, semoga saja kisah cinta kalian berakhir bahagia," tutur Hades lagi.
Aiden merasakan ada yang berdenyut-denyut di dadanya dan dia dapat melihat cahaya biru dari pantulan pedang yang diacungkan oleh Hades.
"Mutiaranya indah sekali, yah," ucap Aiden.
Hades mencabut pedangnya kembali. "Ya, memang sangat indah,"
***
Pertemuannya dengan Hades membawa Aiden semakin yakin untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada Sirene. Namun, setelah sampai di rumah, dia melihat Emma dan Sirene.
Lagi-lagi Emma sedang berbuat seenaknya kepada Sirene. "Hei, kau Gadis Kampung! Kenapa kamu duduk saja? Buatkan aku makanan atau carikan aku makanan! Aku tidak mau perutku terkontaminasi dengan makanan kampung dari tempat asalmu!"
"Em! Apa yang kamu lakukan? Sirene, letakan itu! Biarkan dia memikirkan makanam untuknya sendiri." Aiden merangkul Sirene.
Pria itu mencengkeram tangan Emma. "Hentikan ini, Em! Sirene ada di sini karena kehendaku! Aku yang memintanya. Dan lagi, ada sesuatu yang tidak dapat aku jelaskan kepadamu!"
Kedua mata Emma membesar, gadis itu menatap Aiden dengan tatapan menantang. "Apa yang tidak dapat kamu jelaskan kepadaku? Ada apa di antara kalian berdua?"
"Aku mencintainya! Aku mencintai Sirene!" tegas Aiden.
Tak hanya Emma yang terkejut, Sirene pun terkejut mendengar pernyataan Aiden yang mengejutkan itu.
"Tidak mungkin! Bagaimana bisa kamu mencintai Gadis Kampung itu?" pekik Emma. Gadis itu terus menggelengkan kepalanya.
"Bisa saja. Karena dia baik, cantik dan tidak sombong sepertimu," jawab Aiden lagi.
Sirene tertunduk. Duyung itu tidak sanggup mengangkat wajahnya karena malu dan sedikit takut.
"Buktikan!" tantang Emma.
"Baik!" balas Aiden.
Laki-laki itu memutar tubuh Sirene sehingga berhadapan dengannya. Dengan perlahan, Aiden mendekatkan wajahnya ke arah Sirene.
"Sirene, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku?" bisik Aiden.
"Ini sungguhan?" tanya Sirene.
Aiden mengangguk dan dia mendaratkan bibirnya di bibir Sirene lalu pria itu mengecupnya perlahan. Mendapat respon yang baik dari Sirene, Aiden pum melanjutkan kecupanny menjadi sebuah pagutan yang lembut.
Dia mendekap pinggang ramping Sirene dan mendekatkannya ke tubuh kekarnya.
Wajah Emma memerah melihat adegan panas tersebut. "Hei! Kalian melupakan aku! Aiden! Hei!"
Dengan marah dan wajah tersipu, Emma keluar dari rumah besar itu dengan membanting pintu.
...----------------...