Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Pulih Kembali



Keputusan telah disetujui dan disepakati untuk sementara ini. Menurut Matt, tidak ada jalan lain yang lebih baik selain itu. Baik Lea maupun Rue setuju dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh Hades.


Hari ini adalah hari terakhir Sirene di bumi, kalau dia kuat maka, ia akan bertahan. Tapi, kalau ia tidak kuat maka, ia akan menghilang.


Tepat pukul 23.45, mereka semua berada di kapsul Aiden dan mengelilingi Sirene yang saat itu hanya bisa berbaring. Ia benar-benar sudah tidak kuat untuk berjalan ataupun melakukan aktifitas.


"Apa kau sudah siap, Sirene?" tanya Lea.


Sirene mengangguk. "Kalaupun aku menghilang, aku sudah bahagia karena kalian membuat sisa hidupku menjadi indah. Aku berterima kasih juga kepada Aiden, dia baik sekali kepadaku di saat-saat terakhir hidupku. Ia menunjukkan bagaimana cara menikmati hidup," kata Sirene, ia membelai wajah Aiden dengan lembut.


Setelah mengucapkan itu, Sirene memejamkan matanya. Matt menyenggol lengan Aiden. "Hei, Hades keluarlah! Biarkan Aiden menciumnya! Sesuai kesepakatan kita pagi tadi," sahut Lea.


Pagi tadi,


Hades membuat kesepakatan dengan Lea, Matt dan Rue. Saat itu, Aiden berusaha untuk melawan Hades dan akhirnya Hades keluar dari tubuh Aiden.


"Aarrgghhh! Manusia ini!" seru Hades.


Aiden berdiri dan menyerang Hades. "Kau! Kau masuk tanpa permisi dan kau menumpang di tubuhku! Sialan!" seru Aiden.


Hades menghindari pukulan Aiden. "Sudah kubilang, kau yang memanggilku dan kau terikat oleh perjanjian itu, Manusia Bodoh!" jawab Hades terkekeh.


Sebuah ledakan dahsyat memisahkan tanah yang mereka pijak. "Waktu kita tinggal 12 jam lagi dan kalian bisa meneruskan perdebatan kalian, setelah masalah ini selesai," ucap Lea. Dialah yang membuat ledakan dahsyat itu. Untungnya, Rue sudah membuat lingkaran perlindungan disekeliling mereka sehingga tidak ada manusia yang mendengar mereka.


"Baiklah! Aku akan membicarakan ini dengan makhluk jelek berwarna hitam itu dulu! Kemarilah kau, Makhluk Hitam" sahut Aiden.


Lea kembali menggabungkan tanah yang tadi ia pisahkan. "Bicaralah, aku akan menunggu kalian disini! Berikan kepadaku apa keputusan kalian sebelum matahari terbit!" perintah Lea.


Rue, Matt, Aiden serta Hades mendekat dan merapatkan diri mereka. "Seram sekali kalau Lea sedang marah," kata Hades. Ia memandang Matt dengan prihatin.


"Ini belum marah, Hades. Percayalah padaku, ini belum seberapa dan terima kasih untuk simpatimu," jawab Matt.


Membuat retakan tanah belum marah, bagaimana jika Lea benar-benar marah? Apa yang bisa ia lakukan? Pikiran Hades melayang, membayangkan apa yang akan terjadi jika ia dan Lea bergabung menjadi satu kekuatan. Bumi serta langit ada di bawah kendali mereka.


"Hades, hentikan pikiranmu!" tukas Rue.


Hades memberengutkan bibirnya ke arah Rue dan ia kembali fokus kepada apa yang ingin nereka bahas.


"Apa penawaranmu, Hades?" tanya Matt.


Hades tersenyum. "Manusia itu," jawab Hades sambil menunjuk Aiden.


"Kenapa aku?" tanya Aiden. Ia merasa ia tidak pernah membuat perjanjian apapun dengan Hades. Memang, ia sempat nenanggil Hades tadi untuk meminta kekuatan darinya.


"Aku sudah merelakan ciumanmu untuk Sirene, jadi aku akan menbawamu ke tempatku. Hahahaha," jawab Hades.


Aiden berpikir. "Setelah aku memastikan Sirene hidup dan kekuatannya pulih, aku akan ikut denganmu," kata Aiden.


"Lalu, bagaimana dengan mutiara Sirene? Kami tidak dapat berjauhan, kan?" tanya Aiden lagi.


Rue menggelengkan kepalanya. "Ketika Sirene pulih sepenuhnya, ia tidak akan bergantung pada mutiara-mutiara itu. Lagipula, Sirene telah memantrai mutiara itu sehingga mutiara-mutiara itu sekarang milikmu," jawab Rue.


"Jadi? Aku abadi? Aku tidak bisa mati, begitu?" tanya Aiden membulatkan kedua matanya.


Mereka semua mengangguk.


"Tergores pun tidak, Aiden," jawab Matt, menepuk-nepuk pundak Aiden.


"Bagaimana dengan Sirene?" tanya Aiden lagi. Jujur saja, ia masih tidak paham dengan cara kerja makhluk-makhluk gaib ini.


"Dia akan baik-baik saja setelah ia mendapatkan ciumanmu. Tapi kau harus benar-benar mencintainya, karena kalau tidak, Sirene akan tetap mati," jawab Rue.


Hades memandang tajam manusia yang dianggapnya lemah dan tidak pantas hidup itu. "Kalau Sirene sampai mati karena ulahmu, aku akan tetap bisa membuatmu mati walaupun kau abadi," ancam Hades.


Manik hitam legam dan manik putih saling memandang tajam. Jurang kebencian yang sudah mereka ciptakan tampak sangat jelas.


Tak lama, Lea pun datang. Aiden dan Hades segera memberikan senyuman terbaik mereka kepada peri cantik itu.


"Lea, kami sudah memutuskan," kata Hades riang.


Lea mengangguk. "Bagus. Aku tidak mau tau apa keputusan kalian. Aku hanya berharap kalian bersikap dewasa dan sanggup memegang komitmen diantara kalian. Yang terpenting adalah, tidak ada pertengkaran sampai kita memastikan kekuatan Sirene pulih kembali," tegas Lea.


Para pria yang berada di dalam lingkaran perlindungan segera berdiri dengan tegak. "Baik, kami tidak akan bertengkar, Yang Mulia Ratu," sahut mereka bersamaan.


***


Pukul 23.55


Napas Sirene semakin sesak dan tubuhnya mulai dipenuhi oleh sisik-sisik biru kehijauan. Satu kakinya sudah berubah menjadi ekor ikan.


"Sirene, bagaimana perasaanmu?" tanya Alesya, ia mengusap keringat dingin yang membasahi wajah cantik gadis duyung itu.


Sirene tersenyum lemah. "Aku bahagia, Nona Alesya. Kalian ada di sampingku di detik-detik terakhir hidupku," ucap Sirene.


Alesya memegang erat tangan Sirene.


"Aiden, bersiaplah!" bisik Lea kencang sehingga Hades yang bersembunyi di bawah kaki Aiden mendengarnya.


"Aku keluar saja," kata Hades, ia pun menghilang.


00.00


Mata Sirene pun terpejam, ia menghembuskan napasnya panjang. Kedua kakinya kini telah berubah menjadi ekor ikan, dan tubuhnya dipenuhi sisik yang gemerlapan.


Aiden mendekati Sirene, ia mencondongkan wajahnya dan berbisik lembut di telinga Sirene, "Aku mencintaimu, Sirene. Hidup dan berbahagialah," Setelah berbisik, Aiden mencium bibir Sirene.


Namun, tak ada perubahan dari Sirene. Ekornya perlahan menghilang dan berubah menjadi seperti kepulan debu yang berkilauan.


Kepulan debu itu semakin banyak, dan terus berlanjut sampai seluruh tubuh Sirene menghilang.


Semua terdiam menyaksikan Sirene menghilang. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk Sirene.


"Kenapa gagal? Aku mencintainya, aku sungguh-sungguh mencintainya," tanya Aiden memecahkan keheningan, ia mulai sadar dan terisak.


Matt memeluk Aiden. "Tidak ada yang salah, Aiden. Tidak ada yang salah denganmu," kata Matt berusaha menenangkan Aiden.


"Apa ini berarti cinta sejati Sirene bukan Aiden?" tanya Anthem.


Lea mengangkat kedua bahunya, begitu pula dengan Rue. "Yang diberitahukan oleh Meltem hanya mitos dan belum pernah ada yang membuktikan kebenarannya," jawab Rue.


"A-, apakah kisah ini tamat? Hanya 23 bab? Begini saja?" tanya Anthem.


Lea memukul pucuk kepala Anthem dengan kesal. "Tentu saja tidak! Penulis ini pasti punya sesuatu untuk kita. Singkat sekali kalau ini harus tamat sampai disini!" protes Lea.


Hades melayang-layang di atas mereka. "Sirene mati? Ia menghilang? AAARRGGGHH! AIDEN!" teriak Hades murka.


Baru saja ia hendak menyerang Aiden, suara ketukan pintu di kapsul Aiden terdengar.


"Siapa itu? Tidak tau kondisi sekali! Kita sedang berduka, loh!" tukas Matt kesal.


Ia berjalan ke depan dan membukakan pintu untuk tamu mereka. Betapa terkejutnya Matt saat ia melihat siapa yang berdiri di depannya itu.


"Si-, Sirene?" sahutnya tak percaya.


...----------------...