
Di sebuah kerajaan yang gelap dan suram, tampaklah bayangan hitam yang melayang dan menabrak-nabrakan dirinya ke stalaktit yang bergelantungan di atap kerajaan itu.
Bayangan hitam itu segera saja menjelma menjadi seorang pria berjubah hitam yang sekarang berjalan mondar-mandir sambil mengetuk-ketukan tongkatnya ke lantai yang dipenuhi stalagmit.
"Aarrgghh! Manusia sialan itu mengingkari janjinya! Tidak ada manusia yang dapat kupercaya!" geram pria itu.
Pria itu tampak resah sekali begitu mengetahui ada seorang manusia yang mengingkari janjinya. Sesaat, ia tertegun dan duduk di singgasananya.
Pria itu segera saja berubah kembali menjadi bayangan hitam dan terbang menuju sebuah bangunan berpilar besar dan berwarna keemasan, Kerajaan Awan.
Bayangan hitam itu menembus pertahanan depan, seperti biasa dan menerobos masuk ke dalam istana raja.
Plak!
Bayangan hitam itu terhadang cahaya hijau dan menempel di dinding seperti slime hitam yang sangat lengket.
"Brengesek! Rue, lepaskan aku!" perintah bayangan hitam itu.
"Mau kemana, Hades? Pernahkah kau tau tentang 3 kata ajaib?" tanya Rue dengan tenang. Pemimpin Kerajaan Awan itu menghampiri bayangan hitam yang dipanggil Hades.
"Aku tidak peduli tentang keajaiban! Hanya pendukung Penguasa yang percaya keajaiban-keajaiban macam itu!" tukas Hades.
Rue tersenyum. "Ini bukan keajaiban Penguasa. Katakanlah ini sebuah keajaiban yang memang sudah harus ditaati," jawab Rue kalem.
"Ah! Cepatlah katakan, tentang apa itu!" titah Hades tak sabar. Ia masih meronta-ronta di bawah mantra Rue.
"Pertama, permisi. Kedua, tolong dan yang ketiga adalah terima kasih. Sedangkan kamu, masuk dengan sembarangan tanpa mengucapkan permisi. Tidak ada kata tolong dari mulutmu! Bahkan kalimat sapaan sederhana pun tidak ada. Maka dari itu aku bertanya kepadamu, kenapa kamu tampak terburu-buru, Hades?" tanya Rue.
Hades memalingkan wajahnya. Ia tidak menyangka kemampuan Rue dan Lea sangat meningkat dengan pesat. "Cih! Itu urusanku!" ketus Hades.
"Begitukah? Kalau begitu, akan kutangguhkan semua urusanmu dan mulai saat ini, kamu dilarang melewati perbatasan Kerajaan Awan dan Lembah Kegelapan, apalagi turun ke bumi, sangat dilarang," kata Rue dengan santai.
Tiba-tiba saja, slime hitam itu terbakar dan dengan gagah Hades muncul dari balik slime itu. "Tidak ada yang dapat melarangku, Yang Mulia," bisik Hades.
Kemudian, ia kembali melayang melewati Lembah Pelangi dan Pantai Duyung untuk turun ke bumi.
"Meltem!" teriak Rue.
Meltem dan Sedna segera datang dengan kereta yang ditarik oleh sekawanan kuda laut. "Ya, Yang Mulia Raja," sapa Meltem dan Sedna dengan hormat.
"Pimpin Kerajaan ini sementara aku mengejar Hades ke bumi!" titah Rue.
Baik Meltem dan Sedna membelalakan mata mereka. "Lagi?" ucap mereka tak percaya.
"Aku tidak tau apa yang terjadi tapi Hades tampak sangat murka," jawab Rue.
Meltem mengibaskan tongkatnya dan memperlihatkan penglihatan nan ajaib yang ia miliki. "Keajaiban akan terjadi, Yang Mulia Raja. Kedua insan itu sudah saling jatuh cinta, akan tetapi Penguasa mengizinkan Hades untuk mencobai mereka berdua," kata Meltem tanpa diminta.
"Keajaiban?" tanya Rue kepada duyung peramal itu.
Meltem mengangguk. "Benar sekali, Yang Mulia Raja," jawab Meltem.
Kedua alis Rue bertaut. "Baiklah, aku tetap akan turun ke bumi," ucap Rue.
"Yang Mulia Raja, awasi manusia itu!" kata Meltem memperingatkan.
Rue mengacungkan ibu jarinya dan kemudian ia menghilang.
Di tempat yang jauh dari Kerajaan Awan,
Tampak 2 orang manusia sedang asik bercanda sambil memasak di sebuah dapur.
"Aiden, hahahaha,"
Gadis cantik itu tertawa saat sang pria mengoleskan adonan tepung ke hidung gadis itu dan gadis itu membalasnya.
"Kita tidak akan makan kalau terus bermain seperti ini, Aiden," sahut si gadis.
"Baiklah, kamu potong tomat dan aku bagian goreng menggoreng," kata si pria yang dipanggil Aiden itu.
Si Gadis mengangguk. Tak pernah ia bayangkan kalau di sisa hidupnya akan menjadi sangat indah seperti ini. Ya, gadis cantik itu sedang sekarat.
Hidupnya hanya tersisa 5 hari lagi, setelah itu ia akan menghilang. Namun, ia akan menghilang dengan bahagia karena segala impiannya sudah tercapai.
Sirene mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau tapi semisal Yang Mulia memiliki urusan lain, aku sendirian sebentar juga tidak masalah," jawab Sirine.
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu, sampai nanti malam," pamit Aiden.
Pria itu pun bergegas meninggalkan tempat kediamannya. Namun baru saja ia hendak masuk ke dalam mobilnya, Hades datang dan menahan kepergian pria itu.
"Halo, Pria Tampan," sapa Hades.
"Hades!" seru Aiden terkejut.
Hades tertawa dan dengan sihirnya, ia sudah duduk manis di kursi penumpang. "Kamu tunggu apa? Naiklah, cepat!" titah Hades.
Tak ada pilihan lain, Aiden pun segera memasuki mobilnya dan duduk di kursi supir di samping Hades.
"Apakah kamu tau, berapa lama lagi sisa hidup Sirene?" tanya Hades.
Aiden mengangguk lemah. "5 hari lagi," jawab Aiden. .
"Apa kamu tidak khawatir? No! No! No! Apa harapanmu untuk membuat Sirene tetap hidup," tanya Hades lagi.
"Aku akan tetap berada di sisinya dan membuat Sirene selalu tertawa," jawab Aiden sambil terus mengemudikan roda besi miliknya itu.
"Ohohoho, manis sekali. Aiden kita ini belniat membelikan waktu telbaiknya untuk seolang putli duyung," ucap Hades mengejek.
Rahang Aiden mengerat, ia kesal mendengar cemoohan dari Hades. Ingin rasanya Aiden meninju wajah Hades saat ini juga.
"Kenapa kamu tidak mengembalikan mutiara-mutiara itu kepadanya, wahai Manusia Menyeballll-, kan?" tanya Hades lagi. Ia menjulurkan lidah abu-abunya ke wajah Aiden.
Aiden memejamkan matanya, menahan kesabarannya supaya ia tidak emosi. "Kau membohongiku, Hades. Jika mutiara itu keluar dari tubuhku, maka aku akan mati, kan?"
"Hohoho, kau takut mati rupanya. Bagaimana dengan Sirene? Dia rela turun ke bumi, kekuatannya hilang dan sebentar lagi akan berhadapan dengan kematian, demi siapa? Demi Anda, manusia yang sebenarnya tidak terlalu tampan, hahahaha! Dan, apa balasanmu?" tanya Hades.
"Aku bisa mati, kan? Cih!" ujarnya lagi menirukan suara Aiden dengan gayanya yang membuat tangan Aiden gatal, tak tahan untuk meninjunya.
Aiden merasa kenarahannya memuncak dan ia menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Jadi, apa tujuanmu datang kesini? Hanya untuk mengejekku? Begitu?" tanya Aiden kesal.
Hades terdiam, senyum lebarnya kini digantikan oleh tatapan tajam nan mengerikan. "Tentu saja, aku mempunyai tujuan lain. Walaupun sebenarnya aku sudah bersumpah akan mengejekmu seumur hidupmu jika Sirene mati," ancam Hades.
"Apa tujuanmu?" tanya Aiden tak sabar.
"Aku ingin menawarkan kehidupan abadi kepadamu, Aiden Sebastian. Jadi, kamu tidak akan mati," bisik Hades di belakang telinga Aiden.
Aiden terpikat. "Hidup abadi?" tanyanya.
Hades mengangguk perlahan sambil menyeringai lebar. "Kamu sudah sampai tahap mencintai Sirene, kan?" tanya Hades lagi.
Aiden mengangguk dan wajahnya merona merah.
"Oke! Berarti kau masih ingin melihat Sirene hidup, kan?" Hades terus bertanya.
Aiden pun memberikan anggukan yang sama. "Tentu saja!" tukas Aiden.
"Oke! Caranya mudah saja. Kembalikan mutiara itu kepada Sirene dan aku, Penguasa Alam Kegelapan yang tampan dan manis ini, akan memberikan kehidupan abadi kepadamu, Aiden Sebastian," kata Hades dengan caranya yang selalu berhasil memikat manusia.
"Bagaimana kalau aku mati?" tanya Aiden cemas.
"Kau tidak akan mati. Berikan jiwamu kepadaku, maka, begitu mutiara-mutiara itu kamu kembalikan kepada Sirene, kehidupan abadi segera menantimu. Kau tidak mati, Sirene juga tidak mati. Menarik bukan? Pasti, dong!" seru Hades. Ia bolak-balik ke kanan dan ke kiri sambil menunggu jawaban Aiden.
"Bagaimana caraku mengembalikan mutiara-mutiara ini kepada Sirene?" Tanya Aiden.
Hades semakin mendekati telinga Aiden dan berbisik kecil. "Sebuah ciuman. Bagaimana, Aiden? Kamu setuju?" jawab Hades.
Aiden berpikir sesaat. "Baiklah, aku akan mengembalikan mutiara-mutiara itu kepada Sirene. Kamu tidak boleh bohong kepadaku," tukas Aiden.
Senyum tiga jari terlukiskan di wajah pucat Hades. "Oke, deal!" bisik Hades puas.
...----------------...