
"Aiden, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Sirene ketika ia melihat Aiden kembali ke tempat glamping malam itu.
Aiden memeluk Sirene tanpa sungkan. "Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" tanya Aiden.
Sirene mengangguk. Sirene sedikit curiga karena Aiden tidak pernah memeluknya seperti ini. Namun, ia masih mendengar mutiaranya berdetak di dada Aiden dan kecurigaannya pun memudar.
Sepanjang malam itu, Aiden menjadi manis sekali terhadap Sirene. Ia bahkan membacakan Sirene sebuah cerita dari tabletnya.
"Begitukah akhir cerita duyung di Bumi? Itu sama dengan mitos yang beredar di kalangan kami, para duyung," kata Sirene saat Aiden membacakan cerita tentang duyung.
"Kau tau, aku bisa membuat cerita kita berakhir bahagia?" tanya Aiden.
Kedua mata Sirene menatap Aiden. "Benarkah? Apakah kamu mau memulai cerita tentang kita? Kamu selalu mengandaikan kalau aku seorang manusia, kamu akan mencintaiku. Tapi pada kenyataannya, aku seorang duyung bukan manusia,"
Aiden menggelengkan kepalanya. "Aku tidak peduli tentang itu. Aku akan tetap mencintaimu baik itu kamu manusia atau duyung," kata Aiden.
Tangan Aiden mengangkat dagu Sirene dan menatap mata gadis duyung itu. Ia memperkecil jarak diantara mereka dan mendaratkan bibirnya di bibir Sirene yang tampak pucat.
Pagutan dari Aiden membuat hati Sirene berdesir seperti ombak yang menyapa pasir pantai. Sirene mengingat mitos Meltem lagi, ciuman sejati dari cinta sejatilah yang sanggup memulihkan Sirene. Apakah kekuatannya akan kembali? Apakah dengan begini, ia bisa menjadi manusia? Sirene memejamkan kedua matanya dan menikmati pagutan lembut dari pria yang dicintainya.
"Sirene, aku mencintaimu," bisik Aiden setelah ia melepaskan pagutannya.
Sirene tak mempercayai pendengarannya. "Apakah ini nyata, Aiden? Kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Sirene.
Aiden mengangguk dan tersenyum. Senyum yang ia tujukan hanya untuk Sirene. "Tentu saja," jawab Aiden, kemudian ia menarik tubuh Sirene ke dalam dekapannya.
Sementara itu, di Kerajaan Awan Lea dan kawan-kawannya sedang rapat. Meltem pun ikut bersama mereka.
"Heh! Bagaimana?" tanya mereka bertiga kaget saat Meltem memberitahu kalau Hades masuk ke dalam tubuh Aiden.
Meltem memukulkan tongkatnya ke lantai dan lantai itu beriak, mereka dapat melihat Sirene dan Aiden yang berada di bumi.
"Aku mengenal Aiden sejak lama dan dia tidak akan pernah berani memeluk apalagi mencium seorang wanita sedahsyat itu," kata Matt.
Rue memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri, dahinya berkerut-kerut. "Ciuman yang rumit," sahut Rue.
"Segeralah menikah supaya kamu bisa merasakan ciuman seperti itu," tukas Lea.
Meltem berdeham. "Ehem! Bisa kita kembali, Yang Mulia Raja dan Ratu?" tanya Meltem.
Lea, Matt dan Rue salah tingkah. "Baiklah, silahkan diteruskan, Meltem," ucap Rue dengan wajah memerah. Ini kedua kalinya ia bersikap tidak profesional dihadapan Meltem.
"Baik, akan aku teruskan. Yang Mulia bisa melihat apakah manusia itu sedang dikuasai atau tidak dari pancaran matanya. Ada beberapa saat, dimana pancaran mata manusia itu kosong," sahut Meltem menjelaskan.
"Oke, bagaimana mengeluarkan Hades dari sana? Yang terpenting saat ini adalah, bagaimana memberitahukan Sirene kalau itu bukan Aiden melainkan Hades?" tanya Lea.
"Sama seperti Yang Mulia Raja Matt saat Hades berada di dalam tubuhnya, Yang Mulia sendirilah yang harus punya keinginan kuat untuk mengeluarkan Hades dari tubuhnya," jawab Meltem.
Lea memandang Matt. "Matt, kamu bisa mendekati Aiden dan bersikap bodoh sajalah, anggap saja kamu tidak tau kalau ada Hades disana, pokoknya kamu yang paling tau bagaimana melawan Hades. Bisa, kan?" tanya Lea.
Matt berpikir, ia sedikit ragu kalau ia bisa melakukan tugasnya itu. Namun pada akhirnya, ia mengangguk. "Baiklah, aku akan mencobanya,"
"Satu hal yang harus kalian ingat, waktu. Waktu Sirene tersisa 2 hari lagi. Kita harus cepat. Kalau Aiden memang benar mencintainya, mintalah ia untuk memberikan ciuman kepada Sirene," kata Meltem menjelaskan kembali.
"Oh, inikah maksudmu dengan keajaiban?" tanya Rue.
Duyung merah itu mengangguk. "Ya, tapi aku juga melihat Penguasa mengizinkan Hades untuk memberikan warna pada kisah mereka," jawab Meltem sambul tersenyum.
***
Pagi hari itu, Matt bangun paling pagi diantara mereka. Ia bertekad, hari itu ia akan berbicara kepada Hades. Maka, ia menunggu Aiden keluar dari kapsul tendanya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Aiden keluar dari kapsul tendanya dan menyapa Matt, "Selamat pagi, Matt,"
"Selamat pagi, Aiden. Duduklah, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu," balas Matt.
Aiden mengambil kopi dari dalam kapsul tendanya dan merebus air untuk menyeduh kopi tersebut. Tidak akan ada yang menyangka kalau Penguasa Alam Kegelapanlah yang berada di dalam pria bertubuh atletis itu.
"Ini untukmu," Aiden memberikan segelas kopi untuk Matt dan ia pun membenturkan gelas kopinya ke gelas kopi Matt.
"Thanks, Hades," jawab Matt.
Aiden alias Hades berdecih dan tersenyum kagum. "Cih! Cepat juga kamu mengenaliku, Matt," kata Hades dalam bentuk Aiden.
"Pengalaman pribadi membantuku untuk mengenalimu lebih cepat dan lagi, Aiden bukan tipe pria yang mudah mencium seorang gadis. Katakan padaku, apa yang kau inginkan dari manusia ini?" tanya Matt sambil menyesap kopinya.
"Mutiara Sirene. Tapi manusia ini menolak memberikan mutiara-mutiara itu," jawab Hades tenang.
"Bukan Aiden yang menolaknya tapi mutiara-mutiara itu yang menolakmu, Hades," ucap Matt.
Kening Aiden berkerut. "Tidak mungkin mutiara-mutiara Sirene menolakku,"
"Sirene telah memberikan mutiara itu dengan ikhlas kepada Aiden dan Sirene secara sadar, memindahkan kepemilikan mutiara-mutiaranya. Siapapun tidak akan ada yang bisa mengambilnya termasuk Aiden sendiri," jawab Matt. Ia mengambil sekotak biskuit jahe dan an ia menawarkan biskuit itu kepada Aiden.
Aiden mengendus biskui itu dan menggigitnya. "Ini enak. Makanan bumi enak-enak," kata Aiden.
"Kenapa Sirene memberikan mutiara itu kepada manusia lemah ini? Apa kelebihan dia? Aku jauh lebih tampan, aku jauh lebih hebat, dan bahkan kalau Sirene meminta bumi dipindahkan ke Kerajaan Awan, aku akan mengabulkannya," tanya Aiden bingung.
"Karena kau terlalu tampan dan terlalu hebat, itu alasannya," jawab Matt, mengambil sekeping biskuit jahe lagi.
"Waktu Sirene tidak banyak, keluarlah dari tubuh manusia itu," pinta Matt.
"Jangan! Jangan sampai Sirene tau kalau Aiden adalah Hades!" tukas Lea, ia segera bergabung dengan Matt serta Hades.
"Yang harus kita lakukan adalah membuat Sirene bahagia, sisa waktunya tinggal satu hari. Aku tidak tau harus bagaimana lagi untuk mencegah supaya semua ini tidak terjadi," sambung Lea.
Hades memandang Lea, dia akan melakukan apa saja demi menyelamatkan wanita yang dicintainya itu. "Apa yang harus kulakukan?" tanya Hades.
"Besok, tepat pukul 00.00, keluarlah dari tubuh Aiden dan biarkan Aiden memberikan ciumannya untuk Sirene," jawab Lea.
Hades menggeleng cepat. "TIDAK! TIDAK!" raungnya. Ia tidak akan pernah rela membiarkan manusia brengsek itu menciumnya, tidak!
"Ya sudah kalau kau tidak mau, Sirene akan mati dan menghilang," kata Lea. Itu kalimat pancingan untuk Hades dan ia berharap Hades memakan umpannya.
Makhluk yang bersembunyi di dalam tubuh Aiden itu terdiam. Kilatan cahaya di matanya terkadang redup dan menyala lagi. Aiden berusaha melawan Hades dari dalam.
"Baiklah, dengan satu syarat!" Hades mencoba bernegosiasi.
"Apa syaratnya?" tanya Matt dan Lea bersamaan.
Hades menyeringai lebar dan berbisik kepada Raja dan Ratunya itu.
...----------------...