Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Kekuatan Ajaib



Pekan pagi itu merupakan pekan yang sibuk untuk Aiden dan Sirene. Mereka merencanakan untuk melakukan kemping di sebuah pegunungan.


Waktu yang tersisa untuk Sirene pun semakin sedikit. Oleh karena itu, Aiden memutuskan untuk mengajak Sirene menghabiskan waktunya tidak hanya di air, melainkan di dataran tinggi.


"Apakah disana akan dingin sekali?" tanya Sirene.


Aiden menjawab, "Ya, karena itu aku sarankan untuk membawa baju hangat beberapa lembar serta jaket. Hmmm, kamu belum punya jaket, setelah ini selesai kita akan membeli jaket dan baju hangat untukmu,"


Sirene mengangguk senang. "Bolehkah aku mengajak Ratu Lea dan Nona Alesya?" tanya Sirene.


Tujuan Aiden mengajak Sirene untuk pergi berlibur adalah untuk mengembalikan mutiara Sirene yang ada padanya. Setelah mutiara itu ia kembalikan, ia akan menemui Hades dan meminta keabadian kepada Hades. Dengan begitu, ia bisa terus bersama-sama dengan Sirene.


Namun melihat wajah Sirene yang memohon untuk mengikutsertakan Lea dan Matt, Aiden hanya bisa mengangguk lemah. "Baiklah, nanti kita akan kesana dan menjemput mereka. Tapi, kalau mereka sedang tidak ada acara, yah? Yang aku tau, Lea dan Matt sedang program untuk memiliki seorang anak jadi setiap pekan pasti akan mereka gunakan untuk berdua," jawab Aiden.


"Oke. Terima kasih, Aiden," balas Sirene.


Saat ini, Aiden mulai mengakui perasaan cintanya kepada Sirene. Ia mulai mempersilahkan rasa berdebar itu untuk datang ke hatinya dan menetap disana. Aiden juga mulai menikmati kesan menggebu-gebu saat ia berdekatan dengan Sirene.


Tapi Aden masih ragu, apakah Sirene mencintainya atau tidak. Yang ia tau, tujuan Sirene turun ke bumi adalah untuk mencari cinta sejatinya bukan mencari dia.


Aneh sekali rasanya, saat awal ia melihat Sirene, ia ketakutan setengah mati. Namun sekarang, ia tidak bisa jauh semenit pun dari gadis duyung itu.


Setelah selesai mengemas barang ke dalam koper, mereka pun pergi menemui Lea dan Matt.


"Kalian ada di rumah, kan?" tanya Aiden sebelum mereka pergi ke tempat Lea.


("Hmmm, ada. Kenapa?") tanya Matt.


"Aku akan kesana dalam lima menit," jawab Aiden kemudian mengakhiri panggilannya.


Matt yang sedang berada di atas tubuh Lea saat itu, menatap pasrah pada telepon genggamnya. "Hon, Aiden mau kesini," kata Matt kepada Lea.


"Heh! Sekarang?" tanya Lea.


"Kan, sudah kukatakan jangan diangkat! Aahh, hilang sudah gairahku," ucap Lea, kemudian ia meminta Matt untuk mengangkat tubuhnya.


Matt berbaring di samping Lea. "Tapi tanggung. Mau diteruskan?" tanyanya lagi.


Lea menggelengkan kepalanya. "Mana bisa, kan! Ada tamu yang akan datang dalam lima menit, bagaimana kalau dia datang, kita masih dalam proses penyatuan? Tidak, ayo kita bersiap-siap," sahut Lea yang dalam sekejap tampak sudah rapi.


"Ya, baiklah," balas Matt, yang mengikuti cara istrinya untuk bersiap.


Lima menit kemudian, Sirene dan Aiden pun datang. Mereka memberitahukan kepada Lea dan Matt tentang rencana mereka.


"Kalau kalian sedang senggang, apakah kalian bersedia bergabung bersama kami?" tanya Aiden.


Kedua bola mata berwarna biru laut menatap Lea penuh harap. "Kami juga akan mengajak Tuan Anthem dan Nona Alesya. Besar harapan kami supaya kalian bisa ikut dengan kami," kata Sirene.


Lea mengangguk, wanita itu menangkap sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui. "Ayo, Matt kita segera bersiap-siap," katanya.


"Heh? Kita ikut? Yang tadi, batal?" tanya Matt. Saat Aiden menghubunginya tadi, ia dan Lea sedang asik bermain cinta-cintaan. Lea sudah memperingatkan untuk tidak mengangkat panggilan Aiden sampai mereka selesai. Namun sayangnya, Matt mengangkat panggilan Aiden dan berakhir dengan Lea marah kepadanya.


"Batal!" jawab Lea ketus.


Aiden dan Sirene saling berpandangan tak mengerti.


***


Setibanya mereka di tempat perkemahan, Aiden sudah menyewa tenda glamping untuk mereka. Anthem dan Alesya sudah sampai lebih dulu disana.


"Oh, kami hanya tidak memakai drama," sahut Anthem kalem yang disambut dengan senyum manis dari Alesya.


"Kupikir, kita akan menggunakan tenda seperti jamanku sekolah dulu," kata Matt kecewa.


"Tidak bisa seperti itu, kan kalau sekarang? Apalagi disini daerah wisata, wajar saja kalau para developer berlomba-lomba untuk membuat tempat penginapan. Lagipula, aku tidak nyaman dengan tenda kain jaman dulu itu," jawab Aiden bersemangat.


Wajah Sirene dan Aiden merona merah. Hal itu tidak terpikirkan oleh mereka. "Ka-, aku akan memesan satu kamar lagi. Tu-, tunggulah," ucap Aiden terbata-bata.


"Sudahlah, tidak perlu. Kalian toh tidak ada hubungan apa-apa, kan? Maksudku kalian kan teman, menurutku tidak masalah satu kapsul untuk berdua," sahut Alesya lagi.


Lea dan Matt pun mengangguk setuju. "Hmmm, benar itu. Aku rasa kita akan banyak kegiatan diluar," kata Lea.


Setelah semua setuju, Aiden pun membatalkan pesanan kapsul tambahan untuk Sirene.


Malam hari pun tiba. Mereka menyalakan api unggun dan membuat smores untuk camilan malam. Alesya sudah menyiapkan segala macam jenis makanan untuk mereka makan malam itu, ditambah lagi dengan buah, kopi, jus, dan aneka snack.


"Wah, Alesya, kau seperti penyihir. Jadilah abadi dan kita akan berteman selamanya," rayu Lea seraya memeluk wanita berambut ikal itu.


Alesya tersenyum. "Bertarunglah dengan prinsipku, Lea. Kalau kamu berhasil mengalahkannya, maka aku akan memikirkan untuk hidup abadi bersamamu," jawabnya.


"Apa rasanya menjadi abadi? Apakah sesudah abadi, kalian tidak memikirkan kematian lagi?" tanya Aiden.


Lea menatap Aiden dengan tajam. Sejak Aiden datang ke rumahnya, Lea sudah membaca pikiran Aiden. "Bisa kita bicara berdua saja, Aiden?" tanya Lea.


Dalam sekejap, keheningan menyelimuti mereka. Mereka saling memandang Lea dan Aiden bergantian dengan wajah cemas.


Aiden mengangguk. "Baiklah," jawab Aiden. Lea dan Aiden pun berjalan menjauhi api unggun.


"Ada apa?" tanya Aiden.


"Berhentilah berbuat bodoh! Aku tau apa rencanamu malam ini," sentak Lea.


Aiden mengalihkan pandangannya dari Lea. "Hanya ini satu-satunya cara supaya aku dan Sirene tetap hidup," jawab Aiden.


"Yakinkan Penguasa tentang keinginanmu. Kuatkan hatimu dan hadapilah dengan berani. Lalu, apa perjanjianmu?" desak Lea.


Aiden terdiam. Ia berusaha tidak memikirkan apa-apa. Namun gagal, karena sekali lagi Lea berhasil membaca pikirannya.


"Keabadian? Bodoh sekali! Kupikir, kau seorang manusia yang cerdas tapi ternyata, kau hanyalah seorang manusia yang rakus dan serakah!"cerca Lea tajam.


"Menurutmu, apa yang harus kulakukan? Kamu tidak merasakan ini, Lea! Kau abadi! Kamu tidak akan pernah kehilangan Matt, karena kalian berdua abadi! Kalian tidak seperti aku dan Sirene, yang sama-sama dihadapkan pada kematian!" jawab Aiden. Napasnya turun naik karena emosi.


Tangan Lea melayang di pipi Aiden dan menamparnya dengan keras. "Sadarlah, Aiden! Apakah perlu aku beritahukan kepadamu apa saja yang sudah kami lewati? Apa kamu tau bagaimana Anthem dan Alesya bisa bersama? Kenapa kau tidak berusaha untuk berjuang? Atau paling tidak, berkorban!"


"Aku berkorban, Lea!" sanggah Aiden.


Lea mengangguk cepat. "Oh yah? Apa yang kau korbankan? Bahkan kau lebih memilih nyawamu daripada Sirene! Kau takut akan kematian, Aiden! Kalau kamu mencintainya, relakan mutiara itu dan berdoalah supaya keajaiban terjadi karena Sang Penguasa tidak akan diam saja saat kau meminta!" tantang Lea.


Aiden menatap Lea dengan kesal. Amarahnya sudah berada di puncak kepalanya. Ia memincingkan matanya dan berharap ia bisa memukul Lea tanpa menggunakan tangannya.


Tiba-tiba saja harapannya terkabul. Sebuah cahaya jingga keperakan menghempaskan tubuh Lea.


"Aarrgghh!" Lea terlempar ke tempat api unggun. Sontak saja semua yang ada disana terkejut.


"Lea!"


"Yang Mulia Ratu!"


Mereka menoleh ke sumber dimana Lea terlempar. Dari balik semak-semak, muncullah Aiden dipenuhi dengan cahaya jingga, ia tampak seperti terbakar.


"A-, Aiden. Apa yang terjadi?" tanya Sirene tampak takut.


Lea bangkit berdiri sambil memegangi dadanya. "Ia membuat perjanjian mengerikan dengan Hades," jawab Lea.


"Apa!" seru Anthem dan Matt bersamaan.


...----------------...