
"Heh? Kamu tidak mau tinggal bersamaku? Tapi kenapa? Kenapa?" tanya Aiden kecewa.
Pria itu sudah bahagia saat Sirene sudah mau keluar dari kolam atau kamar mandi, hanya saja itu dia lakukan saat ada Alesya.
"Ya, karena kamu menyeramkan! Kamu mesum, Manusia!" tukas Sirene.
Aiden merasa terpukul. "Tapi, kamu menikmati ciumanku juga. Artinya, kamu juga mesum."
"Aku tidak tau kenapa tubuhku merespon seperti itu," jawab Sirene, wajahnya memerah karena malu.
Anthem menengahi mereka. "Baiklah, kalau memang begitu, Sirene akan tinggal bersama kami untuk sementara waktu. Dan aku akan tinggal bersamamu,"
Aiden tak menjawab pertanyaan Anthem, dia sedang berpikir. Untuk berapa lama Sirene akan seperti ini? Dia mengacak-acak rambutnya kasar. "Okelah,"
Tepat ketika mereka hendak pergi, Lea datang dan menyatakan keberatannya. "Tidak bisa! Sirene tidak bisa pergi dari sisi Aiden sedetik pun. Mutiara itu yang membuat Sirene tetap hidup,"
"Tidak ada cara lain selain mengajak Alesya untuk tinggal bersama Aiden juga kalau begitu," sahut Anthem.
Sirene menatap Aiden melalui sudut matanya yang tajam. Sebenarnya Sirene cukup nyaman tinggal bersama Aiden hanya saja Ia tidak mampu untuk menahan debaran hatinya yang kian hari semakin kencang.
"Tapi, aku ingin tinggal bersama Alesya," pinta gadis duyung itu.
Lea mengibaskan tangannya tak sabar. "Tidak masalah selama kamu berdekatan dengan manusia ini,"
Berbanding terbalik dengan Lea, Alesya menggandeng tangan Sirene dan tersenyum. "Aku akan menemanimu, kamu tidak perlu khawatir lagi, yah,"
Sirene pun mengajak Alesya untuk pergi ke kamarnya. Sedangkan Lea dan yang lainnya berusaha menenangkan Aiden.
"Dia hanya sedang dalam masa peralihan dan memang begitulah duyung," ucap Lea. "Hanya Ayah yang sanggup mengerti mereka kalau aku tentu saja aku tak sabar dengan mereka,"
"Sampai kapan aku harus menunggu ingatannya kembali?" tanya Aiden. "Begitu ingatannya kembali, aku akan mengajaknya menikah dan tinggal di manapun yang dia mau,"
"Kita hanya bisa berharap pada Alesya karena saat ini hanya dialah yang dipercaya oleh Sirene. Kita tidak bisa bergerak tergesa-gesa, itu akan merusak kepercayaan yang telah dibangun oleh Alesya kepada Sirene," kata Lea menenangkan.
Sulit memang berhadapan dengan seseorang yang melupakan kita sepenuhnya. Dia paham perasaan Aiden karena saat itu juga dia pernah mengalaminya. Apalagi saat itu, dia melihat Matt melakukan hubungan dengan Eleanor.
"Bersabarlah sedikit lagi," hibur Lea.
Setelah diputuskan keputusan seperti itu, maka Alesya serta Anthem pun tinggal bersama Aiden.
"Bagaimana peraturan di rumahmu?" tanya Anthem.
"Lakukanlah sesukamu selama itu tidak merugikan ku, aku tidak begitu peduli," jawab Aiden santai.
"Oke. Tidak ada larangan jika aku dan Alesya melakukan, kamu tau, kan?" goda Anthem. Pria itu menyunggingkan senyumnya.
Aiden menggelengkan kepalanya. "Silahkan, hasilkan seorang anak di sini,"
Anthem tertawa melihat reaksi Aiden yang tampak sekali tidak peduli dengan apa pun dan siapa pun yang akan tinggal di rumahnya.
***
Seiring berjalannya waktu, Alesya dan Sirene semakin dekat. Istri Anthem itu berhasil membangun kepercayaan untuk Sirene dan dalam waktu singkat, Sirene mulai terbuka tentang perasaannya terhadap Aiden.
"Jadi, sebenarnya kamu menyukai dia?" tanya Alesya.
Sirene mengangguk tersipu. "Ya, hanya saja aku masih takut mengakui hatiku. Aku ragu karena aku tidak mengenalnya tapi aku sudah merasa dekat sekali dengannya seolah-olah kami pernah menjalin hubungan,"
Alesya merasa inilah saat yang tepat untuk memasang kepingan puzzle yang telah hilang dari ingatan gadis duyung itu.
"Bolehkah aku bicara jujur kepadamu?" tanya Alesya.
Alesya pun menceritakan tentang hubungan antara Aiden dengan Sirene. Mulai dari pertemuan pertama mereka, bagaimana Sirene menghilangkan ketakutan dan trauma Aiden, sampai mereka berkomitmen untuk bersama.
"Benarkah seperti itu?" tanya Sirene.
Alesya mengangguk. "Ingatlah kenangan itu, Sirene,"
Gadis duyung yang senang bersenandung itu terdiam. Dia mencoba menggali ingatan tentang Aiden. Lalu, kenapa Penguasa membuatnya melupakan Aiden? Apakah Penguasa tidak menghendaki hubungan mereka?
Seharian itu, Sirene terdiam. Manik biru lautnya tampak tenang seperti lautan tanpa ombak. Aiden menghampiri Sirene yang sedang bernyanyi di kolam renang.
"Hai," sapa pria itu yang memakai kaus berwarna hitam dan bertuliskan I Love Fish itu.
"Halo, Manusia," balas Sirene. "Apakah aku membangunkanmu?"
Aiden menggeleng. "Tidak, aku tidak bisa tidur," jawab Aiden. "Bagaimana denganmu? Alesya sudah terlelap di kamarmu,"
"Manusia, mengapa kamu mencintaiku?" tanya Sirene.
"Apakah perlu alasan untuk mencintaimu?" Aiden balik bertanya.
Semburat merah mewarnai wajah putih mulus duyung tersebut. "Tidak. Tapi karena aku tidak dapat mengingatmu aku bertanya bagaimana awalnya kita bisa saling mencintai?"
"Kamu ingat anak laki-laki yang kamu tolong sepuluh tahun lalu? Laki-laki bodoh itu berteriak ketakutan saat melihat kakimu berubah dan ternyata semakin aku mengenalmu rasa takutku berubah menjadi rasa cinta. Bagaimana ini, Sirene? Semakin lama aku semakin mencintaimu, ini gawat!" ucap Aiden. Ingin sekali pria itu segera memiliki gadis yang saat ini sedang mengepakan ekor besarnya.
"Tapi kenapa kita dipisahkan? Kenapa Penguasa melupakan ingatanku?" tanya Sirene. Jantungnya semakin berdebar karena mata Aiden menatapnya tajam dan bahkan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun darinya.
Aiden merapikan rambut Sirene yang sudah setengah kering dan menyelipkan rambutnya di belakang telinga. "Karena ada suatu kejadian yang hampir saja merengut nyawamu. Aku melakukan penawaran kepada Penguasa, aku memintaNya untuk membuatmu tetap hidup walaupun harus melupakanku,"
Duyung berambut biru itu mendengar suara getir dari Aiden. "Begitukah? Jadi kamu benar-benar kekasihku?"
Aiden mengangguk. "Apa kamu melihat kebohongan di mataku?"
Sirene menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku mempercayaimu,"
Sejurus kemudian, Sirene memberanikan diri untuk menarik Aiden masuk ke dalam air dan menciumnya dengan lembut.
"Si-, Sirene, ...."
"Ajari aku untuk selalu mengingatmu, Manusia," Sirene kembali memejamkan matanya dan menyapukan bibirnya ke benda kenyal milik Aiden yang tampak menggiurkan malam itu.
Suara cecapan dan tarikan napas memenuhi ruangan itu. "Kita harus segera menyelesaikan ini," kata Aiden. Pria itu menggotong tubuh Sirene yang begitu terangkat dari air, ekornya segera berubah menjadi sepasang kaki jenjang yang membuat Aiden semakin ingin menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.
Aiden merebahkan tubuh Sirene di atas ranjang dan mulai memagutnya kembali. Permainan mereka berubah menjadi permainan dewasa yang panas dan tidak pantas dituliskan di sini.
Di tengah kesibukan Aiden dan Sirene yang sedang berperang di ranjang malam itu, Anthem dan Alesya menghubungi Lea.
"Kurasa mereka baik-baik saja, Lea. Perkembangan hubungan mereka sudah jauh lebih baik dan saat ini mereka sedang bergelut di ranjang Aiden," bisik Anthem terkikik.
("Ranjang Aiden berderit malam ini, hahahaha,") goda Lea. ("Aku bersyukur sekali kalau hubungan mereka lancar dan membaik,")
"Datanglah besok pagi ke sini, aku akan ceritakan detail kisah tentang ranjang Aiden yang berderit," kikik Anthem lagi.
("Oke! Selamat malam, Anthem. Sampaikan salamku untuk Alesya,") ucap Lea.
Malam itu malam yang indah untuk semua pasangan tak hanya bagi Aiden dan Sirene. Tetapi juga untuk Anthem dan Alesya juga Matt dan Lea.
...----------------...