
Semenjak Sirene menyadari bahwa ia sudah tidak memiliki mutiara duyung di dalam tubuhnya, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda.
Tubuhnya terkadang panas dingin dan saat berubah pun sisiknya mengalami kerontokan begitu pula dengan rambutnya birunya.
Suatu hari, ia meminta Aiden untuk menghubungi Lea dan memintanya untuk ke tempat Aiden.
"Mengubah ekormu lagi? Ada pepatah manusia yang mengatakan, berpikirlah sebelum bertindak! Ah, aku lupa kau bukan manusia, mungkin otak kita juga berbeda!" ketus Aiden.
Tentu saja ia kesal. Aiden termasuk pria resik, ia tidak suka ada 1 mm debu menempel di rumahnya. Namun, semenjak Sirene sakit, sisik dan rambut berserakan dimana-mana. Hal ini membuat Aiden jadi mudah marah.
Mendengar jawaban Aiden yang ketus, membuat Sirene kembali menggulirkan air mata mutiaranya. "Maafkan aku, Aiden. Sebenarnya aku tidak mau merepotkan siapa pun tapi aku tidak tau kalau ternyata jadi seperti ini," isak Sirene.
Robot pembersih Aiden mendeteksi adanya sesuatu yang tidak dapat ia hisap, maka robot itu terus berbunyi.
"Jangan menangis! Mutiaramu ini tidak dapat dibersihkan!" titah Aiden, sambil mengambil segagang sapu untuk membersihkan mutiara yang bergulir di lantai rumahnya yang bersih.
Sirene segera menghentikan tangisnya. "Maafkan aku," ucap Sirene.
Aiden yang sudah lelah kepada Sirene, akhirnya menyerah dan memanggil Lea untuk datang.
"Aku titipkan dia kepadamu," pinta Aiden.
Lea mengangguk. Ia pun segera menghampiri Sirene yang berada di dalam kamar tamu Aiden.
Begitu Sirene melihat Lea, ia segera membungkukkan badannya. "Yang Mulia Ratu,"
"Apa yang terjadi kepadamu, Sirene? Kenapa bisa banyak sisik dan rambut?" tanya Lea memunguti rambut-rambut biru yang berserakan di lantai.
"Aku kehilangan dua mutiaraku," jawab Sirene.
Lea terkejut. "Heh! Kok bisa? Maksudku, bagaimana bisa seperti itu?" tanya Lea yang kini sudah duduk di samping Sirene.
"Setiap duyung memiliki dua mutiara untuk bertahan hidup dan menyimpan kekuatannya. Jika, salah satu mutiara itu hilang maka duyung itu masih dapat bertahan. Namun, ketika kedua mutiaranya hilang maka kami para Duyung akan menjadi buih dan menghilang. Aku tinggal menunggu waktuku saja untuk menjadi buih," jawab Sirene suram.
Manik biru laut Sirene memandang kejauhan keluar jendela kamar Aiden. "Kalau aku boleh tau, kemana mutiaramu?" tanya Lea.
Lea berusaha sebisa mungkin menutup pikirannya dari Lea. Dia tidak akan mengatakan kalau kedua mutiara miliknya berada di dalam tubuh Aiden. Ia tidak mau Aiden mati hanya karena kebodohannya, cukuplah dia saja yang mati.
"Aku masih bisa bertahan. Kemarin Meltem mengunjungiku dan memberikanku ini. Jika ini habis, maka waktuku juga akan habis," sahut Lea memberikan botol berwarna cairan ungu kepada Lea.
Lea mengambil botol itu dan melihat isinya yang gemerlapan seperti glitter. "Apa ini?" tanya Lea.
"Ramuan yang dibuatkan oleh Meltem untuk membantuku bertahan. Setetes setiap pagi dan itu akan membuatku bertahan sepanjang hari tapi ramuan itu cukup keras karena membuat rambut dan sisikku rontok," jawab Sirene tersenyum pahit.
Dari air mukanya, ia tampak sedih sekali. Ia mungkin tidak menyangka kalau rencananya akan berantakan di tengah jalan. Lea memeluk Sirene dengan lembut.
"Sekarang, apa rencanamu?" tanya Lea.
"Aku ingin tetap disini sampai ramuan ini habis, tapi bisakah ekorku ini tidak terus ploping seperti ini?" tanya Sirene.
Lea tersenyum. "Itu tidak mudah, tapi aku bisa mengusahakannya. Untuk sementara ini, beristirahatlah. Aku paham kalau Aiden selalu marah, kita adalah ketakutan terbesarnya yang tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupnya. Bersabarlah, Sirene sampai semuanya baik-baik saja," ucap Lea lembut.
Sirene mengangguk.
Tanpa sepengetahuan Sirene, Lea memberitahukan Matt kalau Sirene sedang sakit.
"Sakit? Sakit apa dia?" tanya Matt malam itu.
Matt memandang istrinya yang berbicara seakan tidak memiliki hati. "Lea! Bicaramu!"
"Memang begitu kenyataannya. Kita tidak dapat membantunya, Matt. Aku sedih juga kok. Kondisi Sirene sangat mengenaskan," ucap Lea.
Keesokan harinya, Matt memberitahukan hal ini kepada Aiden. Namun sayanganya, reaksi Aiden tidak menyenangkan.
"Aku tidak memintanya untuk mendatangiku. Maksudku, untuk apa dia datang kesini jika ia sudah tau akan bernasib seperti ini, iya kan?" cecar Aiden kesal.
Ia menutup laptopnya kasar. "Aku cuti hari ini, aku sedang tidak dapat fokus!" katanya.
"Hei, Aiden!" panggilan Matt, tidak dipedulikan oleh Aiden. Ia terus berjalan tanpa menoleh.
Setibanya Aiden di rumah, ia pergi ke kamar Sirene dan melihat Sirene sedang tertidur. Ia menjulurkan tangannya ke kening Sirene, tapi ia tarik kembali tangannya.
Aiden berjalan ke sisi ranjang dan ia melihat beberapa butir mutiara berada di atas ranjang Sirene. Ia mengambil mutiara-mutiara itu dan menyimpannya di nakas sebelah ranjang.
Ia melihat ke sekeliling ranjang itu, banyak sekali rambut biru serta sisik terlepas dari tubuh Sirene padahal Sirene sedang tidak berubah.
"Aiden?"
Tiba-tiba Sirene terbangun, matanya kini berwarna kemerahan seperti iritasi. Tubuhnya tampak berkeringat. Entah mengapa melihat kondisi Sirene yang seperti itu, kemarahan Aiden sampai pada puncaknya.
"Ikut aku!" kata Aiden.
"Kemana?" Sirene balik bertanya.
Dengan tak sabar, Aiden menarik tangan Sirene. "Ikut saja!"
Ia memasukan Sirene ke dalam mobilnya dan mengemudikan kendaraannya ke arah pantai.
"Aku akan mengembalikanmu! Aku sudah tidak sanggup bersamamu lagi! Mau apapun bentukmu, aku tidak peduli! Aku muak dengan segala mutiara-mutiaramu itu!" tukas Aiden.
Sirene terkejut mendengar ucapan Aiden. "Kenapa? Kamu bisa membawaku ke tempat Ratu Lea! Kenapa kamu mengembalikanku, Aiden? Apa yang membuatmu tidak menyukaiku?" tanya Sirene, suaranya mulai terdengar tercekat.
"Segalanya tentangmu! Aku tidak suka segala tentangmu!" jawab Aiden bersungguh-sungguh.
"Aku tidak peduli kamu sakit atau bahkan menghilang sekali pun! Aku hanya ingin kau pergi dari hidupku!" sambung Aiden lagi.
Sesuatu di tubuh Sirene berdenyut nyeri seperti ditusuk-tusuk. Sirene pun melemah karena sakit yang ia rasakan yang entah sakit apa namanya. Ia juga tidak tau kenapa hanya mendengar ucapan pria yang dicintainya itu menbuatnya sangat sakit?
Sepanjang sisa perjalanan itu, Sirene hanya terdiam. Ia tidak tau bagaimana lagi menghadapi Aiden.
Benar saja, Aiden membawa Sirene ke pantai tempat mereka bertemu. "Keluarlah!" usir Aiden.
Sirene memandang Aiden untuk terakhir kalinya. Sesuatu berwarna biru kehijauan bersinar terang di dada Aiden. Disanalah mutiara Sirene berada.
Sirene pun keluar dari mobil Aiden, dan berjalan sampai ke tepi pantai. Saat Sirene berjalan menjauh, tubuh Aiden tertarik, namun, Aiden menahannya sekuat tenaga. Ia mengikuti Sirene dengan mobilnya dari belakang.
Aiden melihat Sirene duduk di batu karang dan begitu kedua kakinya menyentuh air, muncullah ekor besar yang mengepak lemah.
Perlahan, Sirene masuk ke dalam air dan menenggelamkan dirinya disana.
...----------------...