Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Rahasia Yang Terkuak



Semenjak kedatangan Rue, Lea meminta Aiden supaya memperketat penjagaannya kepada Sirene. Dan ia juga meminta Aiden untuk waspada. Karena baik Lea ataupun Matt belum tau wujud Hades sebagai manusia.


"Apakah dia pria yang seperti kutemui di toko roti?" tanya Sirene tiba-tiba.


Lea dan Matt saling berpandangan. "Apa maksudmu?" tanya mereka.


"Sewaktu Aiden ke kamar kecil, ia memintaku untuk memilih roti. Dan ada seorang pria pucat mendekat dan menyapaku," cerita Sirene.


"Seperti apa wajahnya? Apa kamu mengingat wajahnya?" tanya Lea.


Namun kali ini, Aidenlah yang menjawabnya, "Dari belakang, pria itu berbadan kecil tapi cukup tinggi. Dia memakai tudung berwarna hitam. Kulitnya pucat, seperti tidak ada warnanya,"


"Kedua matanya runcing. Aku tidak merasakan kalau dia Hades. Kupikir saat itu, dia manusia biasa. Aku sudah sempat senang saat ada manusia menyapaku," ucap Sirene dengan polos.


"Lain kali berhati-hatilah. Kita tidak tau Hades menjelma sebagai manusia pria atau wanita? Kemampuan sihirnya ada di atas kami. Hanya Anthemlah yang sanggup mengalahkan dia atau Lea dalam wujud pixie," kata Matt.


*Pixie adalah makhkuk sihir berwarna biru dan bisa terbang, bentuknya menyerupai kelelawar tapi ukuran tubuhnya kecil.


Aiden menghela napas putus asa. Dia sudah mengetahui segala resiko saat ia menerima Sirene di rumahnya. Pasti akan membawa lebih banyak hal gaib serta makhluk gaib ke dalam tubuhnya. "Pixie? Astaga. Jangan katakan kepadaku setelah ini akan ada kappa, atau bahkan hantu rumah,"


"Kami memiliki kappa di kerajaan kami tapi kami tidak memiliki hantu rumah," jawab Lea menanggapi.


Saat itu mereka masih berada di tempat Anthem dan Alesya. Karena memang acara mereka akan dilanjutkan sampai tengah malam, hanya saja karena Rue memberikan kabar mengejutkan, mereka mengubah acara bersenang-senang mereka.


"Begini saja, untuk sementara kalau Aiden harus bekerja maka aku yang akan menemani Sirene, ...."


Ucapan Alesya terputus karena Anthem menutup mulutnya. "Mana bisa seperti itu, kan? Hades itu Raja di Alam Kegelapan. Dengan apa kamu bisa melawannya kalau dia mendatangi kalian? Jangan sembarangan berucap!"


"Maksudku aku bisa menemaninya, Honey," sambung Alesya membela diri sambil merangkul pundak Sirene.


"Aku saja. Anthem, kamu sudah tidak memiliki kekuatan sihir sama sekali, kan? Jadi kuanggap kamu juga salah satu yang harus dilindungi, Anthem," usul Lea.


Lea memiliki asumsi saat ini yang dapat melindungi Sirene adalah dirinya dan Matt. Matt memiliki kemampuan menembak dan bermain pedang yang luar biasa, jadi hanya Matt lah harapan dia satu-satunya.


"Paling tidak Hades mendengarkanku sebagai kakaknya," sahut Anthem.


Lea melihat tangannya, siap mendebat Anthem. "Pernahkah?"


Dengan tatapan sedih, Anthem menggeleng pelan. Hades tidak pernah mendengarkan ucapannya sedikit pun. Rasanya, dia gagal menjadi seorang kakak untuk Hades.


"Baiklah, apa yang bisa aku lakukan untuk membantu?" tanya Anthem akhirnya.


Mereka saling terdiam dan tidak tau apa yang harus mereka katakan. Untuk saat ini semua orang berfokus kepada Sirene dan Aiden. Karena mereka berdualah yang akan menjadi incaran Hades.


"Kurasa sementara ini tidak ada. Bukannya aku meremehkanmu, tapi kami takut terjadi apa-apa kepadamu," kata Matt.


Semua kembali terdiam dan larut dalam pemikirannya masing-masing.


***


Siang hari itu, Aiden sedang beristirahat di sebuah kedai kopi bersama Matt. Matt selalu menempel kemana pun Aiden pergi seperti seekor kutu.


Mereka membahas sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan mereka. Kedua pria itu sesekali mengecek telepon genggamnya.


"Apakah Sirene kamu berikan telepon genggam?" tanya Matt.


Aiden menggeleng. "Dia tidak mau. Katanya dia tidak tau cara mengoperasikannya," jawab Aiden.


"Belikan dia ponsel dan ajari cara pakainya sehingga kalau terjadi sesuatu dia akan mudah menghubungi seseorang," usul Matt.


Aiden menganggukkan kepalanya. "Baiklah, sore ini aku akan membelikan dia sebuah ponsel,"


Aiden pun bergegas berjalan ke tempat dimana mobilnya di parkir.


Tiba-tiba ada seorang pria mendatanginya. "Halo," sapa pria itu. Suaranya terdengar dingin dan dalam.


"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Aiden kepada pria itu. Tiba-tiba saja ia lupa pesan Matt dan Rue untuk berhati-hati kepada orang asing, baik itu pria ataupun wanita.


Pria itu tersenyum. "Ikuti saya,"


Seperti ada sihir yang bekerja pada Aiden, ia dengan patuh berjalan mengikuti pria itu.


Mereka berjalan dan duduk di kedai yang baru saja ditinggalkan oleh Matt dan Aiden.


"Namaku Hades. Aku yakin kamu adalah Aiden Sebastian. Benar, kan?" tanya pria yang mengaku Hades itu.


Aiden mengangguk tanpa ekspresi. "Apa yang kamu inginkan dariku, Hades?" tanya Aiden.


Hades menautkan jari-jarinya dan menatap mata Aiden lekat-lekat. "Kamu memiliki seluruh mutiara Sirene," kata Hades.


"Tidak. Aku tidak memilikinya," sanggah Aiden sambil meraba-raba saku kemeja serta celana panjang suteranya.


"Ya, kamu memilikinya, Aiden. Sirene menyelamatkanmu 2 kali dan 2 kali pula dia memberikan mutiaranya kepadamu. Yang perlu kau ketahui, setiap duyung memiliki 2, hanya 2 mutiara hitam. Dan jika mutiara itu hilang dari tubuhnya atau berpindah tangan, maka duyung itu akan mati," kata Hades dalam bisikan.


Suaranya yang sudah dalam sekarang terdengar seperti sayup-sayup.


"Jadi menurutmu aku memiliki kedua mutiara hitam Sirene? Bisakah kau memperlihatkannya kepadaku?" tanya Aiden. Ia masih belum mempercayai ucapan Hades begitu saja. Karena Sirene tidak pernah memberikan mutiara itu kepadanya kecuali mutiara dari air matanya. Itu banyak sekali disimpan oleh Aiden.


Hades meminta Aiden untuk berdiri. Dengan tangannya ia menscan tubuh Aiden dan tiba-tiba saja ada sesuatu yang bersinar di dada Aiden. Sinar cemerlang itu berwarna biru kehijauan. Sinar itu sangat terang.


Aiden terkejut. "A-, apakah itu mutiaranya?" tanya Aiden.


"Ya, dua mutiara hitam milik Sirene. Tentu saja ini membawa keuntungan untukmu," ucap Hades.


Kedua alis mata Aiden saling bertautan. "Keuntungan?"


"Kau akan hidup abadi, Aiden. Satu butir saja sudah membuatmu setengah abadi, apalagi 2 mutiara? Pernahkah kau sakit akhir-akhir ini?" tanya Hades.


Dahi Aiden berkerut. Ia mengingat-ingat masa lalunya. Memang dari pertemuan pertamanya dengan Sirene, ia tidak pernah sakit atau pun sekedar pusing.


"Hahahaha. Tapi ini menjadi sesuatu yang tragis untuk si duyung," kata Hades lagi.


Aiden kembali menatap pria pucat bertudung itu. "Apa yang akan terjadi kepada Sirene?"


"Ia menjadi buih dan menghilang. Apa kau tidak melihat perubahan pada dirinya?" Hades bertanya lagi.


Ya, sisik dan rambutnya yang terus rontok dan berjatuhan. Matanya yang memerah bahkan terkadang Sirene jatuh lemas. Selama ini ia bertahan karena ramuan dari teman sesama duyungnya.


Hades segera saja membaca pikiran Aiden. "Kau baru sadar? Ditambah lagi habitat duyung itu di air bukan di darat,"


"Apa yang bisa kulakukan?" tanya Aiden cepat.


"Kembalikan mutiara itu, aku akan membantumu untuk mengeluarkannya. Katakan padaku kalau kau siap. Aku tidak akan memaksamu, tapi aku tau,"


Hades kini beranjak dari kursinya dan berjalan ke belakang Aiden kemudian berbisik kepadanya. "Kamu mencintai Sirene dan ingin melihat dia tetap hidup, kan?"


Aiden menoleh ke arah Hades, namun Penguasa Kegelapan itu sudah menghilang tanpa bekas.


...----------------...