Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Tentang Hati



Berkat negosiasi antara Hades dan Sirene, akhirnya Hades pun kembali ke Kerajaan Awan.


"Aku yakin dia belum kembali," ucap Anthem pada suatu pagi.


Matt pun menyetujui ucapan sahabatnya itu. "Hmm, kita tidak bisa percaya begitu saja kepada Hades. Seperti kita tau, dia bisa bersembunyi dimana-mana," kata Matt yang segera saja melongokkan kepalanya ke kolong meja.


"Aku pun bingung kenapa dia menempel di belakangku?" tanya Aiden yang baru saja bergabung karena dia baru datang.


"Aku pernah ditempeli Hades, dan rasanya sangat menyenangkan. Seolah kita mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk melakukan apa saja yang kita mau," kata Matt lagi.


Anthem menyesap kopinya dan berusaha menelan roti gandum buatan Alesya. "Karena Hades adalah sisi gelap kita. Semua manusia punya sisi gelap dan kelam, kan? Nah, itulah yang dimanfaatkan oleh Hades," ucap Anthem.


Baik Matt dan Aiden mengangguk mengiyakan. "Kamu benar, Anthem,"


Sementara itu di tempat Aiden, Sirene masih ditemani oleh Lea.


"Bagaimana kondisimu?" tanya Lea.


"Kondisiku sangat baik, Yang Mulia Ratu," jawab Sirene dengan senyuman manisnya.


Lea bersikeras untuk menemani Sirene sampai Sirene benar-benar sembuh. Ia tidak mau mengatakan Sirene akan pergi, karena dia akan merasa gagal sebagai Ratu andaikan ia tidak dapat mencegah kematian itu dari Sirene.


Seperti yang sering ditanyakan oleh Matt. "Bagaimana kalau itu sudah jalan Sirene? Bagaimana kalau itu sudah menjadi kehendak Sang Penguasa? Apa kamu akan melawannya?"


Dan Lea akan selalu menjawab, "Ya, aku akan melawannya. Ingatkah kamu saat kita berjuang dulu? Siapapun yang memiliki keinginan kuat untuk satu tujuan yang baik, maka disanalah Penguasa akan membukakan jalan untuk kita. Lihat, apa yang terjadi kepada kita saat ini? Keajaiban itu terjadi, Matt!"


Begitulah, keyakinan Lea yang tinggi membuat Sirene optimis dan berusaha untuk bertahan.


"Bagaimana dengan Aiden? Apakah dia mencurigakan?" tanya Lea lagi penuh selidik.


Sirene tertawa. "Hahaha, maafkan aku Yang Mulia Ratu. Tapi kamu bertemu dengan Aiden hampir setiap hari, jadi kupikir kamu bisa lihat sendiri bagaimana Aiden," jawab Sirene.


Ia sangat senang Ratu dan Rajanya sangat memperhatikan dia.


"Maksudku, aku kan tidak bermalam bersamamu. Mungkin saja dia aneh di malam hari," kata Lea.


Sirene menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia tidak aneh. Justru aku yang aneh. Aku rasa aku semakin menyukai Aiden entah bagaimana," ucap Sirene.


"Tidak masalah, kan?" tanya Lea.


"Tentu saja itu masalah buatku. Aiden terlalu baik kepadaku. Ia selalu bertanya tentang kondisiku, apa yang aku mau, apa yang aku butuhkan. Dia tidak suka melihatku bersedih, dan terkadang dia mengusap rambutku saat kami sedang tertawa bersama," kata Sirene lagi.


"Aku ingin dia membalas perasaanku tapi itu mustahil. Aiden tidak pernah mengatakan itu dan lagipula, aku sudah berjanji kepada Hades untuk memastikan Aiden tidak jatuh cinta kepadaku," sambung Sirene lagi.


Lea menatap Sirene, sepertinya Sirene tidak tau bagaimana seseorang menunjukan perasaan cintanya kepada kita.


"Sampai sekarang aku juga tidak tau apakah Matt mencintaiku setiap hari atau tidak. Kadang dia mengatakannya dengan sangat manis dan membuat jantungku berdebar tapi kadang dia tidak mengatakannya, jadi aku tidak tau apakah dia cinta kepadaku atau tidak," ucap Lea.


"Sulit sekali yah mengerti para pria itu," kata Sirene sambil tersenyum.


Di lain tempat, Aiden sedang mencurahkan isi hatinya kepada Matt dan Anthem.


"Kalau kamu menyukai gadis itu, kenapa kamu tidak mengungkapkannya?" tanya Matt.


Aiden menggeleng singkat. "Haruskah? Aku pun belum yakin apakah ini cinta atau bukan?" jawab Aiden.


Akhir-akhir ini, Aiden merasakan ada yang aneh saat ia berdekatan dengan Sirene. Rasa aneh itu sempat ia buang dan ia lupakan, tapi kini datang kembali.


"Aku tidak bisa menyukai non human, kalian tau maksudku, kan?" tanya Aiden lagi. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya menikah dengan seorang Putri Duyung.


"Kau anggap kami apa, Aiden?" tanya Matt tersinggung.


"Sejujurnya, aku juga tidak menyangka bisa bertemu dengan kalian. Aku pikir, kalian adalah manusia normal pada umumnya. Siapa yang sangka kalau kamu tadinya Malaikat Kematian," ucap Aiden mengarah kepada Anthem.


"Tapi aku memutuskan untuk menjadi manusia karena aku ingin menemani Alesya dan anakku sampai tua nanti," kata Anthem.


Aiden mengacungkan ibu jarinya. "Aku salut dengan keputusanmu. Misalkan, aku nyatakan cintaku kepada Sirene lalu kami menikah, apa yang akan terjadi? Apakah aku akan menjadi penguasa lautan? Hahaha," tanya Aiden, setengah bercanda.


"Poseidonlah penguasa lautan. Dia dewa yang cukup sensitif, Poseidon itu. Aku tidak suka kepadanya," tukas Anthem.


"Kalau kamu menikah dengan gadis duyung itu, kamu terpaksa mengundang Poseidon itu," ucap Matt melengkapi.


Aiden menggeleng-gelengkan kepalanya. Nama-nama yang biasa ia dengar atau baca dalam dongeng, kini terasa snagat dekat dengannya.


Aiden pun bersiul kagum. "Fiuh, jangan katakan ada Hercules juga di kerajaan kalian," sahut Aiden sedikit menyangsikan.


"Hercules? Dia sudah tidak ada disana lagi. Terakhir kudengar, ia pensiun menjadi prajurit," kata Anthem.


Matt mengangguk. "Hmm, aku mendengar kabar itu dari Raja Wren, padahal baru saja aku ingin meminta tanda tangannya. Aku penggemar Hercules," ujar Matt menyayangkan.


Aiden menautkan kedua alisnya. "Luar biasa kalian ini. Pokoknya aku tidak mungkin menyukai Sirene!" tegas Aiden.


"Lalu bagaimana dengan penyakit jantungmu?" tanya Matt.


"Kurasa itu bukan penyakit jantung. Tapi kurasa memang aku berdebar-debar saat dekat dengan Sirene. Bodoh sekali aku," jawab Aiden.


Aiden terus menolak perasaan itu, karena Aiden merasa itu hal yang mustahil dam tidak mungkin terjadi. Dia belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi andai ia benar-benar menikah dengan Sirene.


Namun, ada satu ketakutan ketika nanti dia mengakui perasaannya. "Aku tidak mau patah hati. Seperti yang kalian tau, waktu Sirene tersisa sedikit sekali. Ia mengatakan kepadaku kalau waktunya mungkin tidak sampai seminggu,"


"Justru itu. Kalian harus memanfaatkan waktu sebanyak mungkin untuk berdua. Kalau perlu, hehehe," goda Anthem.


Wajah Aiden dipenuhi warna kemerahan, ia paham sekali kemna maksud ucapan Anthem itu. "Ah sudahlah! Sirene menungguku, aku harus pergi!" seru Aiden, kemudian ia berpamitan kepada Matt dan Anthem.


Setibanya di rumah, Aiden segera menemui Sirene. Ia juga mengusir Lea dari sana. "Kau sudah tidak dibutuhkan lagi!" kata Aiden bercanda.


"Manusia tidak tau berterima kasih! Cih!" Lea membalas candaan Aiden dengan cukup meyakinkan.


Sirene tertawa cekikikan melihat Ratunua serta Aiden saling bersenda gurau.


Malam itu, Aiden manis sekali dan ini membuat Sirene tak berani menatap mata Aiden.


"Jangan terlalu baik kepadaku, Aiden," pinta Sirene. Ia merasa tersiksa setiap kali, Aiden memperlakukannya dengan baik.


Aiden mengurai rambut Sirene yang panjang itu. "Aku tidak terlalu baik kepadamu," kata Aiden.


"Kamu terlalu baik kepadaku, Aiden," ucap Sirene.


Entah apa yang mendorong Aiden, ia mendekati Sirene dan hanya menyisakan sedikit jarak di antara mereka. "Apakah ada masalah kalau aku terlalu baik kepadamu?" tanya Aiden.


Sirene mengangguk. "Tentu saja, nanti aku jadi semakin menyukaimu," jawab Sirene lagi, wajahnya sudah semerah lobster yang direbus.


"Apa masalahnya kalau kamu semakin menyukaiku?" tanya Aiden, suaranya semakin berbisik. Begitu pula dengan seonggok daging yang berdenyut-denyut di dalam dadanya.


Suara dentuman jantung mereka saling bertalu-talu dan kedua bola mata mereka saling mengunci. Hampir saja bibir mereka bertemu kalau Sirene tidak memundurkan tubuhnya ke belakang.


Di lain sisi, hati Sirene berteriak keras, "Tidak! Aiden tidak boleh mencintaiku!"


...----------------...