
Setibanya mereka di tempat Penguasa, Sirene sudah sangat kelelahan. Ia merasa energinya sangat terkuras. Wajar saja, ia tidak memiliki sayap atau kekuatan sihir lainnya untuk naik ke tempat tertinggi di semesta ini.
"Castiel, tolong kami!" pinta Matt.
Castiel, seorang malaikat penjaga Matt segera datang dan membantu Sirene untuk berbaring di sofa panjang Penguasa.
(Sejak Matt menjadi abadi, Castiel menjadi malaikat tanpa pekerjaan untuk itu Sang Penguasa kembali menarik Castiel untuk bekerja saja di tempatNya bersama malaikat lain yang bertugas di tempat Penguasa)
"Apa yang terjadi?" tanya Castiel.
"Kami tidak punya banyak waktu. Dimana Penguasa?" tanya Lea.
Baru saja Castiel hendak menjawab, seorang pria berperawakan tinggi dan besar dengan suara yang berat, berwibawa serta menenangkan pun datang. Hampir serupa dengan Raja Wren, ayah Lea.
"Lea, Matt. Aku sudah tau, tapi aku ingin mendengarnya langsung dari duyung itu," kata Penguasa.
Penguasa menghampiri Sirene yang sudah berubah kembali duyung. Secara ajaib, Ia membawa rombongan itu ke Taman Eden.
Di taman itu, ada sebuah kolam yang cukup dalam dan luas. Sirene pun segera turun dari kursi panjangnya dan menceburkan diri ke dalam kolam tersebut.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Penguasa ramah kepada Sirene yang asik berenang-renang di dalamnya.
"Oh, Yang Mulia. Terima kasih sudah menerima dan menolongku," ucap Sirene, ia berenang menghampiri Penguasa.
"Habiskan waktumu disini, jika kau sudah merasa kuat, segera temui aku. Ratumu berkata waktu kalian tidak banyak," balas Penguasa tegas.
Sirene membungkuk hormat. "Baik, Yang Mulia,"
Sirene pun kembali berenang dan menghabiskan waktu disana selama lima belas menit sebelum ia naik ke atas.
"Nah, ini dia duyung fenomenal kita," kata Matt tersenyum. Ia membantu Sirene untuk berjalan karena kaki Sirene belum sepenuhnya berubah.
Sirene berlutut di hadapan Penguasa. "Maafkan kelancanganku, Yang Mulia. Tujuanku kesini adalah untuk meminjam kekuatanmu supaya di waktu terakhirku, aku bisa berbicara dengan Hades dan menghabiskan waktuku bersama manusia yang bernama Aiden," ucap Sirene. Ia tidak berani mengangkat wajahnya karena ia tau permintaannya cukup banyak.
"Berapa waktu yang tersisa untukmu?" tanya Penguasa.
Sirene memberikan botol ungu kecil pemberian Meltem kepada Penguasa. "Dua hari lagi, Yang Mulia," jawab Sirene.
"Aku bisa saja memberikanmu kekuatan dengan mudah. Namun, apakah waktu dua hari akan cukup untukmu?" tanya Penguasa.
Sirene pun ragu, karena awalnya dia berpikir waktu 2 hari sudah cukup untuknya. Tapi sekarang dia menyangsikan waktu 2 hari tersebut.
"Sirene?" tanya Penguasa lagi.
Lea membaca keraguan di pikiran Sirene. "Dia ragu, Yang Mulia. Apakah waktu 2 hari itu cukup untuknya?" kata Lea.
Sirene semakin menundukkan wajahnya. Ia merasa ia sudah meminta terlalu banyak.
"Baiklah, akan kuberikan kepadamu tambahan waktu. Tapi, dengan syarat," ucap Penguasa.
Dahi Sirene berkerut, ia memiringkan kepalanya berpikir apakah syarat yang akan diajukan oleh Penguasa?
"Syarat apakah itu, Yang Mulia?" tanya Sirene.
"Katakan kebenarannya kepada manusia yang bernama Aiden itu. Hades sudah bergerak lebih cepat maka dari itu, katakanlah kepada Aiden kebenaran yang sedang terjadi saat ini," titah Sang Penguasa.
Sirene menatap mata Lea dan Matt bergantian. Jika ia memberitahukan kebenaran kepada Aiden, maka Aiden akan marah dan membencinya.
"Bagaimana, Sirene?" tanya Penguasa.
"Bisakah aku memikirkan ini dahulu, Yang Mulia. Karena aku pun punya pertimbangan mengapa aku menyembunyikan ini dari Aiden," jawab Sirene.
"Kau takut ia menbencimu? Kenapa kamu takut ia menbencimu?" tanya Penguasa lagi.
Sirene terdiam sesaat. Ia memilih kata yang tepat untuk menjelaskan kepada pemilik alam semesta itu kalau ia tidak mau Aiden membencinya.
Penguasa meminta Sirene untuk berdiri dan duduk di sebuah kursi berdampingan dengan Matt dan Lea.
"Justru itu, kita akan mencobai Aiden. Katakanlah apa yang terjadi jika seorang Putri Duyung kehilangan mutiaranya dan katakan juga apa dampak bagi manusia yang memiliki mutiara duyung? Kurasa kau akan segera melihat, apakah Aiden mencintaimu atau tidak atau bahkan dia hanya menginginkan keabadian?" ucap Penguasa.
Sesuatu yang lembut berdenyut di dalam dada Sirene. Entah apa itu, Sirene juga tidak tau secara pasti. Yang jelas saat ini ia merasa takut.
Penguasa dapat membaca ketakutan di wajah Sirene yang cantik. "Anakku, tidak perlu takut. Aku akan selalu besertamu dan membantumu. Kalau memang Aiden yang terbaik untukmu Aku akan memberikan sinyal kepadamu, tapi kalau sebaliknya, aku akan segera menjauhkan dia darimu,"
"Apa kau tetap memerlukan waktu untuk kembali berpikir?" Sang Penguasa kembali bertanya.
Sirene mengangguk perlahan.
***
Waktu yang dimiliki Sirene sudah semakin sedikit. Saat ini, ia dihadapkan pada pemilihan yang cukup sulit.
Kalau Aiden mengetahui mutiara hitam milik Sirene ada padanya, apakah Aiden akan mengembalikannya atau ia akan tetap membiarkan Sirene mati?
Di lain sisi, Sirene juga tidak mau Aiden mati.
"Aarrgghh! Sulit sekali! Kalau aku tau, Bumi itu rumit, aku tidak akan turun kesana tapi aku mau," kata Sirene bermonolog.
Seorang Putra Duyung berenang ke tepian dan mendekati Sirene.
Swwoosshh!
Ekor besar berwarna peraknya berkecipak-cipak di dalam kolam besar menyerupai pantai itu. "Bumi tidak pernah rumit. Yang rumit itu, kamu," kata Putra Duyung itu.
"Halo, namaku Sandiego," sambung Putra Duyung itu memperkenalkan dirinya kepada Sirene.
Sirene menatapnya. "Waaahh, baru kali ini aku bertemu dengan Putra Duyung. Namaku Sirene," jawab Sirene. Ia cukup terkejut karena ini pertama kalinya ia melihat seorang Putra Duyung.
Mengapa di Kerajaan Awan tidak memiliki Putra Duyung? Karena, Raja Wren tidak ingin menyatukan para putra dan putri duyung pada satu tempat. Menurut Raja Wren, para duyung itu cepat sekali bereproduksi dan berkembang biak dan Raja Wren tidak ingin pantainya berbau amis karena banyaknya ikan disana.
Wajar saja, jika Sirene sangat terkejut dan antusias berkenalan dengan Sandiego. Dia sosok pria yang tampan, gagah, dan ia berkulit sedikit terbakar matahari sehingga menimbulkan kesan seksi pada Sandiego.
Duyung memiliki banyak keistimewaan, tidak hanya dari mutiaranya saja, tapi mereka memiliki daya tarik bak Dewa Dewi Yunani. Satu helai rambut duyung dapat membeli satu buah pulau kecil di bumi. Hebat, bukan?
"Aku tidak pernah rumit. Tapi kurasa, cintaku yang rumit," kata Sirene berkilah.
Jari telunjuk Sandiego bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. "Sekarang kau menyalahkan cinta? Yang rumit itu tetap kamu, Sirene. Kau ambil saja tawaran dari Penguasa dan berharaplah yang terbaik dalam sisa waktumu,"
Sirene kembali tertegun. Benar sekali apa yang dikatakan duyung yang tampak keperakan itu karena bermandikan cahaya bulan. Ambil saja tawaran itu, dan nikmatilah waktu yang ia miliki bersama Aiden.
"Wah, kamu pintar, Sandiego. Aku akan segera menjawab Sang Penguasa. Terima kasih ya," jawab Sirene, wajahnya sudah tidak tampak galau lagi dam ia segera menemui Penguasa.
"Yang Mulia, aku sudah memikirkannya," kata Sirene tampak sumringah.
Penguasa tersenyum lebar. "Apa keputusanmu?"
"Aku akan mengambil tawaranmu, dan aku akan mengatakan kepada Aiden tentang segalanya. Fokusku saat ini adalah kebahagiaanku bukan kesedihanku dan akan kugunakan waktu serta kekuatan yang Kau pinjami kepadaku dengan sangat baik," janji Sirene.
Penguasa kembali tersenyum. "Ahoy! Baiklah, buka botol ramuanmu! Aku akan menggabungkan kekuatan duyung itu denganku," ucapNya.
Tak lama, botol ungu itu kosong dan digantikan oleh sinar kecil pada tongkat Penguasa berwarna ungu kebiruan yang sangat indah.
"Kau siap, Sirene? Setelah ini, kau harus tepati janjimu," titah Penguasa.
Sirene mengangguk. "Ya, aku siap!" katanya mantap.
...----------------...