Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Emma Cloud



Di suatu pagi di Kerajaan Awan yang damai, tampaklah dua ekor duyung sedang berbicara dengan serius di atas batu karang yang besar.


"Jadi saat ini, kau ragu?" tanya Si Duyung Merah.


Duyung Biru mengangguk cepat. "Ya, sangat. Aku harus apa?"


Duyung Merah itu pun tersenyum. "Jalani saja mana yang membuatmu nyaman. Aku sudah mendapatkan penglihatan sejak pelantikan Raja dan Ratu, tapi penglihatanku bisa berubah, kan?"


"Meltem, boleh aku bertanya kepadamu? Apakah Penguasa masih mencobaiku dengan keraguan?" tanya Si Duyung Biru.


"Ketika kau meminta sesuatu, maka Penguasa tak lantas memberikanmu begitu saja. Dia akan memberikan sedikit pelajaran kepadamu supaya kau tau apakah itu baik untukmu atau tidak. Ikuti saja prosesnya, Sirene," jawab Meltem sambil mengepak-kepakkan ekornya ke air.


Sirene terdiam, manik biru lautnya memandang ke lautan tanpa ujung. "Doakan aku, Meltem dan sepertinya aku harus kembali,"


"Kali ini, kamu yang akan di uji, Sirene. Bertahanlah kalau kamu memang mencintai Aiden," sahut Meltem. Dia memeluk Sirene dan melepas kepergiannya.


Sirene pun kembali ke bumi dan berjalan menemui rombongan Maladewanya.


"Sirene!"


Lea memanggil-manggil namanya dan melambai-lambaikan tangan kepadanya.


"Ini rumah keduaku," ucap Sirene bermonolog. Dia senang sekali karena Raja dan Ratunya baik sekali kepadanya. Belum lagi, Raja Wren dan Ratu Edwina


Lea memeluk Sirene dengan erat, setelah itu melepaskan pelukannya dan memarahi duyung yang sedang dilanda kegalauan itu.


"Kalau mau kemana-mana tolong kabari kami, paling tidak kamu bisa mengabariku!" tukas Sirene memasang wajah kesal.


"Ma-, maafkan aku, Yang Mulia Ratu," sahut Sirene tertunduk.


"Sirene, kau kembali!" Hades berlari menyambut gadis duyung itu.


Pria pucat itu memegang kedua tangan Sirene dan menggandengnya erat. "Kenapa kamu tidak mengabariku, Sirene? Pasti melelahkan sekali bolak balik menyebrangi dunia yang berbeda-beda dalam semalaman, kan?"


Sirene mengulum senyumnya. "Tidak, Meltem membantuku,"


Ketika mereka sampai di tenda, Sirene melihat Aiden sedang asik berbincang dengan seorang wanita cantik berambut pirang.


"A-, Aiden," sapa Sirene.


Pria itu segera merespon suara halus yang menyapa indera pendengarannya dengan lembut. "Sirene, kamu sudah kembali!" kata pria itu dan memeluk Sirene.


Hades melepaskan pelukan Aiden. "Tidak enak dilihat wanita itu!"


Bibir pria itu mencibir kepada Hades dan dengan riang, ia menggandeng tangan Sirene untuk ia kenalkan kepada wanita berambut piran itu.


"Sirene, kenalkan. Ini Emma Cloud, dia adalah-,"


"Aku mantan tunangan Aiden," jawab wanita pirang itu.


Kedua alis mata Sirene saling bertautan dan dahinya mengkerut-kerut. "Apa itu mantan tunangan?"


Hades dan Aiden tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan dari Sirene. "Hahahaha! Itu lucu sekali!"


"Sirene, mantan tunangan itu artinya ada-," ucapan Emma terpaksa terpotong karena Aiden sudah menjawab pertanyaan gadis duyung polos itu.


"Maksud Emma, dia adalah temanku," jawab Aiden sambil mengacak-acak rambut panjang Sirene.


Tak lama, mereka sudah tampak akrab seperti teman yang lama yang dipertemukan kembali.


Aiden memandang mereka berdua dengan senang dan menghampiri mereka.


"Kapan kau akan kembali ke kota, Emma? Kembalilah bersama kami," sahut Aiden mengajak gadis cantik itu.


Emma mengangguk dan tersenyum. "Boleh, itu ide bagus," jawabnya.


Sirene melihat Aiden dan Emma bergantian dan dia bertekad untuk mencari tau, apa arti mantan tunangan? Dia harus segera mencari tau tentang kata itu.


Setelah berpamitan kepada Raja Wren dan Ratu Edwina, mereka pun kembali ke kota mereka.


"Berhati-hatilah selalu, Sirene," pesan Raja Wren kepada Sirene.


***


Sesampainya mereka di kota, entah kenapa Emma selalu berada di sisi Aiden.


"Apakah kau akan pulang ke rumah Aiden? Aku akan menginap di rumah kakakku saja," tanya Hades.


Sirene mengangguk. "Aku bisa tinggal di mana lagi memangnya?" tanya Sirene.


Jantungnya berdetak dengan cepat, apakah Emma akan pulang bersama Aiden ataukah, ...? Pertanyaan demi pertanyaan menyusup ke dalam benak Sirene.


"Sirene, masuklah. Kenapa kau diam saja di depan situ?" Aiden menarik tangan Sirene dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya.


Emma menatap gadis duyung itu dengan tatapan tidak suka. "Kalian tinggal berdua?" tanya Emma, jelas terdengar sekali kalau dia tidak suka dengan kedekatan Aiden dan Sirene.


"Tentu saja Sirene tinggal bersamaku. Dia sudah kuanggap seperti adikku, Em," jawab Aiden tersenyum.


Gadis pirang itu mengangguk-angguk paham. "Ooh, begitu. Memang Sirene ini berasal dari mana?"


"A-, aku, ...."


"Dia dari desa dan saat tiba di kota ini, dia tersesat. Namun, karena aku pria tampan dan baik hati maka aku membantunya sampai dia terbiasa di kota ini," jawab Aiden.


Sesuatu di dalam tubuh Sirene terasa sesak dan berdenyut nyeri. Dia memegangi dadanya untuk menahan rasa pedih yang saat ini dia rasakan.


Tak beberapa lama, Aiden keluar karena Matt memanggilnya untuk menyelesaikan sesuatu. Dia meninggalkan Sirene bersama dengan Emma di rumah itu.


Sirene masuk ke dalam kamarnya, tetapi dia bingung, apakah sopan jika dia menutup pintu kamar dan meninggalkan Emma seorang diri di ruang tamu?


Akhirnya, gadis berambut biru itu memutuskan untuk menutup pintu kamar dan menemani Emma di ruang tamu.


"Hai, Emma," sapa gadis duyung itu salah tingkah. Dia berusaha untuk dekat dengan mantan tunangan Aiden itu.


"Hai, Gadis Desa," balas Emma tajam.


Untunglah Sirene tidak paham apa itu desa, apa itu kota. Mungkin jika Sirene seorang manusia, dia akan sakit hati di ejek seperti itu oleh Emma.


"Apa tujuanmu?" tanya Emma lagi.


Sirene tidak paham maksud dari pertanyaan Emma itu. "Tujuanku?"


"Ya, tujuanmu. Tidak mungkin, kan, kamu datang ke kota tanpa tujuan," ucap Emma lagi.


Ada rasa takut yang merayap di dalam hati Sirene. Dia menganggap, Emma menyeramkan dan membahayakan. Sayang sekali, semenjak dia kehilangan kekuatannya, insting akan bahaya pun menguap dan hilang.


"Aku tidak memiliki tujuan. Aku datang memang untuk menemui Aiden," jawab Sirene polos.


Kedua bola mata Emma membesar dan kedua alisnya terangkat ke atas. "Oh yah? Wow, darimana kamu mengenal Aiden? Apa yang akan kamu lakukan bersamanya?"


"Aku pernah menyelamatkan nyawa Aiden 10 tahun yang lalu da-,"


"Oh, i see. Kau menginginkan Aiden untuk membayar jasa penyelamatanmu, begitu?" sinis Emma tajam.


Sirene menggelengkan kepalanya. Ingin sekali dia menangis, tapi jika dia menangis maka Emma akan mengetahui jati diri Sirene.


"Bukan begitu! Kamu salah paham, Em," balas Sirene berusaha menguatkan hati dan suaranya.


"Em? Tidak usah sok akrab! Dengarkan aku, aku berniat mengajak Aiden untuk kembali dan aku harap kamu mengerti maksudku. Jika kamu mengerti, segera tinggalkan tempat ini dan biarkan aku tinggal disini bersama Aiden!" perintah Emma.


Sirene hanya bisa terdiam, kemana dia akan pergi? Hanya ini tempat satu-satunya yang membuatnya nyaman.


"Apalagi yang kamu tunggu? Cepat, pergilah!" titah Emma lagi.


Sirene menggelengkan kepalanya. Segala keraguannya kini sirna. "Aku mencintai Aiden! Kau tidak bisa mengusirku dari sini!"


"Gadis Sialan ini! Kamu tidak mengerti bahasa manusia yah? Pergilah, cepat!" tukas Emma.


Sirene bersikeras akan tetap tinggal. "Aku mencintai Aiden, begitu pula dengan Aiden! Kamu tidak bisa memisahkan kami!" seru Sirene tegas.


"Kata siapa Aiden mencintaimu?" tanya Emma.


Deg!


Bagaimana caranya membuktikan kepada Emma kalau Aiden mencintainya? Dia tidak pernah mendengar secara langsung kalau Aiden mencintainya.


Sirene pun terdiam dan tak bisa membalas pertanyaan Emma.


...----------------...