Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Bertemu Sirene



"Sirene! Sirene! Hehehe, kamu di mana? Oh, di mana aku sekarang?" Aiden masih meracau dengan tidak jelas. Dengan bantuan Lea, mereka berhasil sampai ke Kerajaan Awan tengah malam itu.


Pria itu tersandung troll yang menggulung seperti sebuah batu. "Aduh, hahahaha. Apa ini?" pria itu mengetuk troll itu.


Tak lama, troll itu berdiri dan tersenyum kepadanya sambil melambaikan tangan. "Hei,"


Aiden membalas lambaian tangan troll itu dan menyapanya, "Hei juga," tak lama, Aiden kembali tertawa, "Hahahaha! Aduh, kepalaku pusing,"


Lea membawa Aiden ke istana Rue. Pengawal segera membuka jalan untuk Lea dan Aiden.


"Rue! Rue!" Lea mengetuk pintu kamar Rue.


Pintu besar itu terbuka dan tampaklah Rue mengenakan piyama berwarna hitam dan penutup mata yang dipasang di sebelah matanya. "Lea? Kena-, Aiden? Apa aku bermimpi?"


"Tidak! Aku titip Aiden bersamamu. Dadah!" sahut Lea dan dia menyerahkan Aiden yang masih mabuk kepada Rue. Wanita itu pun segera menghilang dari hadapan Rue sebelum raja muda itu mengatakan 'Lea'.


"Kenapa aku, LEA!" seru Rue kesal.


Keesokan harinya, Aiden terbangun dengan kepala yang sangat berat dan berputar. "Ouch, di mana aku?" pria itu melihat ke sekelilingnya dan merasa asing dengan tempat itu.


Dia beranjak berdiri dari ranjang dan memberanikan diri untuk melihat ke luar jendela. Namun, betaoa terkejutnya dia ketika dia melihat sebuah taman yang besar dengan para peri sibuk yang beterbangan kesana kemari.


"Heh!" dia segera menutup kembali jendelanya dan mencubit pipinya sendiri untuk memastikan apakah dia bermimpi atau tidak.


Kemudian, ia membuka lagi jendela itu dan bertanya kepada salah satu peri di sana, "Pe-, permisi Makhluk Kecil, aku ingin bertanya di mana ini?"


Peri pembawa keranjang itu berhenti dan memperhatikan Aiden dengan seksama. Peri itu menjadi lebih tertarik kepada Aiden dibandingkan dengan nektar bunga. "Kamu itu apa?"


Aiden mengernyitkan keningnya. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu?"


Peri itu mendekati Aiden dan menempelkan jari anehnya di pipi Aiden. "Kamu manusia?"


Pria berkumis tipis itu mengangguk. Dia menirukan gerakan peri pembawa keranjang. Saat tangan Aiden menyentuh pipi mungil si peri, dia merasakan kasar dan ada sedikit sensasi aneh. "Kamu apa?"


"Tentu saja aku peri. Aku sibuk, sampai bertemu nanti," kata peri itu dan kemudian terbang dengan cepat menyusul temannya.


Tak lama, Rue masuk dengan memakai pakaian kerajaan dan membawa baki makanan, "Kamu sudah bangun?"


"Rue? Di mana Matt dan Anthem?" tanya Aiden.


"Di bumi," jawab Rue singkat. "Makanlah dulu, ini adalah sup untuk menghilangkan mabuk. Entah apa yang terjadi padamu sampai Lea membawamu ke sini subuh tadi,"


Kedua bola mata Aiden membulat. "Lea? Untuk apa Lea membawaku kesini?"


Rue mengangkat kedua bahunya. "Justru itu yang ingin aku tanyakan,"


Aiden mulai menghirup aroma sup pereda mabuk itu dan menyeruputnya sesendok. Tak lama, dia sudah menghabiskan satu mangkup sup serta roti yang telah dibuatkan oleh Rue.


"Aku tidak dapat mengantarmu kembali ke bumi. Nanti Lea yang akan menjemputmu," ucap Rue lagi.


Aiden terdiam, tangannya kembali memanjang untuk meraih roti bawang putih lagi. "Apakah mereka peri sungguhan?"


Aiden kembali terdiam, laki-laki itu terpana. Semua yang dia lihat pagi ini seharusnya berada di dalam buku dongeng anak-anak tetapi dia melihatnya secara nyata. Apakah dia masih mabuk atau bermimpi?


"Kalau begitu, di mana Sirene tinggal?" tanya Aiden. "Aku mau mengunjunginya,"


"Dia tidak mengingatmu. Kalau kamu ingin mengunjunginya, lakukan itu secara perlahan. Duyung mudah terkejut dan mudah trauma," ucap Rue lagi.


"Jauhkah dari sini?" tanya Aiden. Rasa rindunya yang tak tertahan sudah menggebu-gebu begitu dia mengetahui di mana wanita yang dia cintai itu tinggal.


"Ikuti saja aliran air dari air terjun kecil itu, kamu akan di arahkan ke Pantai Duyung," jawab Rue.


Sambil terus mengunyah, Aiden berpikir dan menimbang-nimbang apakah dia akan kesana sendiri atau bersama Rue? Satu hal lagi yang pria tampan itu pikirkan, kenapa roti ini tidak habis-habis? Aneh sekali. Segala keanehan terjadi di sini dan dia merasakannya.


Lucunya, kali ini dia tidak ingin terbangun cepat-cepat seperti biasanya. Apalagi saat dia bertemu Sirene nanti.


"Maukah kamu menemaniku, Rue?" tanya Aiden.


"Aku ingin tapi aku tidak dapat meninggalkan singgasanaku. Itulah peraturan di sini. Sama seperti Penguasa, dia tidak dapat meninggalkan singgasananya karena jika dia meninggalkan singgasana, maka akan terjadi pergolakan semesta. Semesta ini terus bergerak, kan dan harus di awasi dengan ketat," jawab Rue.


Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Aiden pun memutuskan untuk pergi menemui Sirene seorang diri.


Selesai dia makan, (Aiden berhenti makan saat dia merasa perutnya sudah penuh.) dia mengikuti instruksi Rue untuk berjalan mengikuti aliran air terjun.


Aiden pun berjalan menyusuri aliran air terjun itu, dia melihat banyak hal dalam perjalanannya yang luar biasa kali ini.


Para peri yang dia lewati saling berbisik-bisik dan saling mendekat. Kepala kecil mereka hampir menempel satu dengan yang lainnya. Aiden ingin tau apa yang mereka bicarakan, tapi pada akhirnya dia mengurungkan niat itu.


Aiden kembali berjalan melewati Lembah Pelangi. Awalnya, dia berpikir Lembah Pelangi hanyalah nama tempat biasa tapi ternyata, di lembah itu benar-benar ada pelangi super besar beserta lengkungan sempurnanya. Laki-laki itu memutari pelangi dan menghitung berapa banyak warna pada pelangi.


"Wah, kalau dilihat dari jarak sedekat ini, warna pelangi tidak hanya tujuh. Tapi memang, yang tertangkap mata hanya tujuh. Ckckck," Aiden mengangumi pelangi yang dia lihat itu. Lalu, tiba-tiba dia tersadar dan kembali melanjutkan perjalanannya.


"Oh, ada air terjun lagi di balik sini. Cantik sekali," pria itu melepas alas kakinya dan memasukan kakinya ke dalam air terjun itu. "Airnya dingin sekali tapi menyegarkan. Apakah ini Air Terjun Pelangi yang sering di ceritakan oleh Matt?"


Mata Aiden memandang sekitar air terjun itu. "Oh, itu juga tempat yang di ceritakan oleh Matt,"


Aiden menikmati waktunya disana. Tempat yang dia duduki sekarang adalah tempat favorit Lea. Dalam sekejap waktu, tempat itu menjadi tempat favorit Aiden juga. Entah kapan lagi dia bisa ke tempat itu?


"Kamu bisa kesini kapanpun kamu mau," seru seorang wanita di belakang Aiden.


Pria itu menoleh ke sumber suara. Hatinya melonjak senang, wanita yang dia rindukan selama ini ada di hadapannya sekarang. "Si-, Sirene,"


Seorang putri duyung cantik yang tadi menyapa Aiden kini menatapnya dengan bingung. "Oh, kamu manusia. Kenapa kamu mengenalku? Siapa kamu?"


Tanpa aba-aba, tanpa persiapan, Aiden mendekatkan wajahnya ke arah duyung cantik itu dan meletakkan bibirnya ke bibir Si Duyung.


"Aku merindukanmu, Sirene," bisiknya dan melanjutkan ciumannya dengan duyung berambut biru itu.


...----------------...