
Di siang hari yang terik di tepi pantai, dua orang laki-laki tampan berjalan hanya dengan menggunakan bokser dan bertelanjang dada.
Pemandangan itu tentu saja membuat kaum hawa meleleh melihat sinar berkilauan yang terpancar dari dua lelaki tersebut.
"Bagaimana perasaanmu, Hades?" tanya pria berperut kotak-kotak serta berkaca mata hitam.
Pria yang berada di sebelahnya pun tersenyum bangga. "Aku merasa keren. Aku tidak pernah menyangka menjadi manusia itu keren." jawan pria itu.
Pria satu lagi melepaskan kacamata hitamnya dan menantang matahari yang sama sombongnya dengan mereka. "Hanya berlaku bagi kalian yang tampan,"
Mereka berdua mengambil sebuah kursi santai pantai dan berbaring disana.
"Aiden, lalu kapan kita menemui Sirene?" tanya Hades.
"Kita perlu menyusun strategi, Hades. Tidak mungkin, kan kita datang begitu saja? Bisa-bisa dia shock nanti," jawab pria yang bernama Aiden itu.
Pria yang bernama Hades itu mengangguk-angguk. "Lalu, apa yang kita lakukan sekarang?" tanyanya bingung.
"Mengajarimu bagaimana bersikap sebagai manusia. Langkah pertama adalah berjemur. Kau terlalu pucat untuk seorang manusia. Aku akan membakarmu di terik matahari, supaya wajahmu menjadi kemerahan, setelah itu kita berolahraga. Kalau kamu sudah layak menemui Sirene, saat itulah kita akan mulai bersaing. Untuk saat ini, kita boy's time," jawab Aiden panjang lebar.
Hades menirukan gaya Aiden dan memejamkan matanya. Sinar matahari tidak cocok untuknya.
Waktu yang damai itu tak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja sebuah bola pantai melayang ke arah mereka.
"Weitz! Weitz!" pekik Aiden dan Hades bersamaan.
Beberapa orang wanita datang mendekati mereka takut-takut dan tersipu malu. "Ma-, maafkan kami," ucap salah satu gadis itu.
"Ini bolamu?" tanya Hades, dia membuka kacamatanya dan di sematkan kacamata hitam itu di rambutnya.
"I-, iya, Tuan." jawab gadis berkepang dua.
Hades mengembalikan bola pantai milik gadis-gadis itu. "Ambillah!"
Gadis berkepang dua mengambilnya dengan malu-malu. "Terima kasih. Boleh aku tau siapa namamu?"
Aiden segera berbisik di telinga Hades. "Hei, jangan sebutkan nama aslimu! Pikirkan nama yang lain." tukasnya.
Pria pucat itu mengangguk. "Boleh saja, namaku Ha-,"
Aiden menyikut pinggang Hades cukup keras sampai Hades mengutuk Aiden.
"Ha-, namaku Hans," jawab Hades dengan penuh gaya.
Gadis berkepang dua itu mengulurkan tangannya. "Hai, Hans. Salam kenal, namaku Anna." ucap gadis itu.
"Hai, Anna," sahut Hades lagi. Dia bingung apa lagi yang harus dia katakan kepada gadis itu.
Gadis itu tertawa cekikikan dan bergabung bersama teman-teman yang setia menunggunya.
"Aneh sekali," ucap Hades saat gadis itu menjauh pergi.
"Apanya yang aneh?" tanya Aiden.
Hades menunjuk para gadis yang berjalan dengan menempelkan kepala mereka sambil tertawa cekikikan. "Mereka,"
"Itu tandanya kamu tampan, Hades. Nikmatilah." goda Aiden.
Wajah pria pucat itu memerah dan tampak jelas dia tersipu saat Aiden mengatakan hal itu kepadanya.
Hades mengikuti perintah pria tampan itu dan entah sejak kapan, kiblat Hades kini berubah. Dia sangat senang kepada pria yang sedang menyandarkan punggungnya di kursi santai itu.
Tapi kemudian, ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan menolak rasa itu. Dia, Hades, tidak boleh lemah saat bertemu manusia!
"Hei, jangan anggap aku sudah berteman denganmu, yah! Aku bisa tetap marah kepadamu kalau kau menghianatiku!" sahut Hades memperingatkan.
Pria atletis di sebelahnya mengancungkan ibu jari dan kembali memejamkan matanya.
Sayangnya, sekali lagi kedamaian mereka harus terganggu. Kali ini bukan bola pantai, melainkan sandal jepit berpasir yang melayang dan mendarat di kepala Hades.
"Hei kalian, Makhluk Malas! Kupikir kamu sedang menderita di tempat makhluk hitam ini, ternyata kalian berjemur dan bersenang-senang disini! Sejak kapan kalian tau kami berada disini?" tanya Matt.
Aiden mengambil sandal yang dilemparkan oleh Matt tadi. "Tapi bukan berarti kalian bisa melempar apa pun kepada kami, kan?" ucap Aiden kesal.
"Apa kau tau, Sirene menangis memikirkanmu? Tapi kamu justru bersantai-santai disini! Pria kurang ajar! Mutiara Sirene tidak pantas untukmu!" tukas Matt berapi-api.
"Dia masih menawanku dan aku tidak bisa pergi jauh-jauh darinya. Hades juga telah mengambil keputusan jika pada akhirnya, kami akan bersaing untuk mendapatkan cinta Sirene," jawab Aiden santai.
Kedua alis mata Matt bertautan. "Bersaing cinta? Sudah jelas, kan siapa yang dicintai oleh Sirene? Kenapa harus bersaing lagi?"
"Dia belum sepenuhnya menjadi manusia, tandanya aku masih memiliki kesempatan untuk mengajaknya kembali ke Pantai Duyung dan menjadikannya sebagai pendamping hidupku." jawab Hades.
Matt dan Rue saling berpandangan. Mereka tidak dapat membayangkan bagaimana Sirene menjadi seorang Putri Duyung di Alam Kegelapan?
"Apa rencana kalian kalau begitu? Kapan kalian akan menemui Sirene? Kasihan dia, menangis bermalam-malam. Untunglah ada ayah Lea yang mampu mendengarkan cerita Sirene setiap malam. Harusnya aku yang mengambil tugas itu, tapi sungkan rasanya," ucap Rue tertunduk.
Hades mengejeknya, "Raja macam apa kamu kalau seperti itu, Rue? Huh!"
Matt memukul kencang pucuk kepala Hades. "Itu rajamu, hormatilah!" seru Matt.
"Cih! Bukan! Yang kuhormati hanyalah aku sendiri, aku kan juga Raja!" tukas Hades.
"Kalau seperti ini, kau mirip sekali dengan Anthem!" ucap Rue lagi memandang kesal pria pucat itu.
"Tujuan kami menemui Raja adalah untuk meminta bantuan bagaimana cara membujukmu untuk melepaskan Aiden. Aku mengingat bagaimana Brad dan Eleanor berakhir tragis karena ulahmu," kata Matt.
Pria itu memandang manik putih pucat milik Hades. "Aku tidak mau sahabatku menjadi seperti mereka, Hades." sambung Matt lagi.
Hades melirik Aiden dari sudut matanya. "Aku rasa saat ini aku sudah berubah. Tak kusangka, manusia itu berbeda. Dia tidak minta apa pun selain kehidupan Sirene. Seperti yang kalian tau, aku pun mencintai Sirene sama seperti dia," ujar Hades.
"Ya sudah, ayo kita menemui Raja dan yang lainnya," ajak Rue.
Tak lama, empat pria itu berjalan menyusuri pantai untuk menemui Sirene dan yang lainnya.
Lagi-lagi, para wanita yang sedang asik bermain atau bahkan hanya sekedar berjemur di pinggir pantai terpesona oleh ketampanan keempat pria itu. Terlebih lagi kepada Rue, yang memiliki tubuh sangat tinggi.
"Hei, apa kalian tidak malu dilihat oleh para gadis itu?" tanya Hades. Sepanjang perjalanan, wajahnya terus memerah karena mendapat perhatian banyak sekali.
Hades nyaris tidak pernah mendapatkan perhatian dari siapa pun, karena orang-orang bahkan para peri menganggap dia menyeramkan.
Tapi kini, ia merasa malu sekaligus hebat karena mendapat perhatian dari para gadis. Gadis-gadis manusia itu tidak menganggapnya seram. Ini semua berkat, manusia yang berjalan dengan penuh percaya diri di sampingnya.
Apakah nanti Sirene akan mengangumi dirinya dalam wujud manusia?
Kemudian Hades tersenyum kembali. Itu urusan nanti, saat ini dia sedang asik menikmati perhatian dari para gadis karena dia termasuk dalam kategori pria tampan. Hehehehe.
...----------------...