
Menjelang pagi, Aiden pergi ke taman belakang yang sudah ia ubah menjadi kolam renang besar untuk Sirene. Ia duduk disana dan termenung.
Ia dihadapkan pada sebuah pilihan yang tidak menguntungkan. Keduanya menyangkut tentang kehidupan yang mungkin sebentar lagi akan direngut dari salah satu diantara mereka.
Tangan Aiden melempar sebuah batu kecil ke dalam kolam renang dan segera saja kolam itu menimbulkan gelombang longitudinal.
"Sirene, aku harus apa? Aku mau kita sama-sama hidup," ucap Aiden bermonolog.
Lama ia terdiam lagi, hanya memandangi riak air kolam yang disebabkan oleh tetesan embun pagi. Kemudian, ia mengambil keputusan cepat.
Aiden segera beranjak dari kursi taman dan berjalan menuju kamar Sirene. Diketuknya pintu kamar itu. "Sirene, boleh aku masuk?" kata Aiden.
Tak ada jawaban. Aiden pun perlahan membuka pintu kamar Sirene dan melihat gadis itu masih tertidur lelap, bergelung di dalam selimut.
Aiden tersenyum simpul. Ia mendekati Sirene dan mengusap bahu gadis duyung itu lembut. "Sirene, apakah kamu bisa bangun sekarang?" tanya Aiden.
Sirene mengerjapkan matanya. "Aiden!" seru Sirene. Sontak saja, ia beranjak dari ranjangnya dan duduk menghadap pria berpiyama biru itu.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Sirene bertanya dengan raut wajah khawatir dan cemas.
Aiden menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa. Maaf karena aku membangunkanmu. Aku sudah mengambil keputusan," jawab Aiden.
Denyutan di dalam dada Sirene mulai terasa nyeri lagi. "Keputusan tentang tadi malam?" tanya Sirene. Ia memandang Aiden dengan tajam.
"Iya, keputusan tentang tadi malam," sahut Aiden.
Sirene tak habis pikir, mengapa wajah Aiden tampak senang sekali. Keputusan apa yang akan ia ambil?
"Apa yang sudah kamu putuskan?" Sirene bertanya penasaran.
Senyum terukir di wajah tampan pria itu. "Aku akan mengajakmu menikmati bumi. Kita akan bepergian, berjalan-jalan, mengunjungi tempat yang ingin kau kunjungi, dan kamu boleh meminta apa saja kepadaku. Aku juga berencana mengajukan cuti untuk menemanimu," jawab Aiden.
"Berapa lama sisa waktumu?" tanya Aiden.
Sirene mengangkat kedua bahunya. "Kalau berdasarkan ramuan Meltem, sisa 1 hari lagi. Tapi kemarin, Penguasa memberikanku waktu tambahan serta kekuatan untuk menemui Hades," jawab Sirene.
Mata Aiden membulat sempurna. "Kamu ingin menemui Hades? Untuk apa? Kamu bilang Hades pandai memanipulasi,"
"Ya, memanipulasi manusia. Tapi tidak dengan kaum kami, Aiden. Dia tidak akan bisa. Aku hanya ingin mengobrol dengannya," jawab Sirene. Ia berusaha meyakinkan Aiden supaya Aiden mengizinkannya untuk bertemu dengan Hades.
Dahi Aiden berkerut tanda ia sedang berpikir, tak lama setelah itu, ia mengangguk. "Baiklah, setelah kita jalan-jalan," sahut Aiden.
Sirene setuju dengan itu. Mereka pun bersiap-siap untuk berpelesir seharian ini.
"Kita mau kemana, Aiden?" tanya Sirene antusias.
"Aku akan mengadakan barbeque lanjutan, jadi kita berbelanja hari ini. Tapi, aku tidak berbelanja di daerah sini. Kita akan pergi sedikit lebih jauh. Bagaimana?" tanya Aiden tersenyum.
Senyum terukir di wajah Sirene yang hari itu tampak cantik dengan memakai dress kuning bertali spaghetti pada pundaknya. "Aku oke," jawab Sirene.
"Oke. Ngomong-ngomong darimana kamu mendapatkan baju-baju itu? Seingatku aku belum pernah membelikanmu baju santai," tanya Aiden lagi.
Sirene memandang dress kuningnya. "Oh, ini dari Yang Mulia Ratu serta Nona Alesya. Yang kupakai sekarang adalah gaun dari Nona Alesya," jawab Sirene senang.
Sirene tidak memiliki baju-baju manusia. Berbeda dengan Lea. Lea seorang manusia jadi pasti ia memiliki banyak pakaian, begitu pula dengan Alesya.
Sedangkan Sirene, hanya memiliki penutup tubuh seperti bikini. Saat Sirene turun ke bumi, kondisinya lemah dan ia tidak terima oleh Aiden maka dari itu, ia belum memiliki banyak pakaian pantas selayaknya manusia.
"Tapi itu cantik untukmu," ucap Aiden, menatap Sirene dari sudut matanya.
"Benarkah? Kamu menyukainya? Terima kasih," sahut Sirene.
Akhir-akhir ini, gadis duyung itu merasa sangat bahagia karena perlakuan Aiden yang begitu baik dan lembut kepadanya.
Akan tetapi ada satu masalah, jika Aiden terus bersikap baik kepadanya maka perasaan Sirene kepada Aiden akan tumbuh semakin besar dan Sirine merasa akan semakin sulit berpisah dari Aiden sedangkan waktu yang tersisa hanya tinggal beberapa hari lagi.
Itulah yang membuat Sirene bingung belakangan ini. Selain karena ia memikirkan Hades, ia juga memikirkan waktu gang tersisa untuknya dan yang paling berat adalah ia memikirkan rasa cintanya untuk Aiden.
Setelah siang akhirnya, mereka sampai ke pusat perbelanjaan yang agak sedikit jauh dari kota tempat mereka tinggal.
Mereka memasukkan sosis, beacon, paprika merah, paprika kuning dan paprika hijau. Tak lupa mereka mencari berbagai macam jenis dan ukuran daging serta daun selada.
Mereka berdua sangat menikmati acara berbelanja siang itu. Banyak yang menyangka kalau mereka adalah sepasang suami istri yang baru saja menikah.
"Wah, kalian manis sekali," kata salah seorang pengunjung saat melihat kebersamaan Aiden dan Sirene.
Baik Aiden ataupun Sirene tidak menyangkal pernyataan orang-orang. Mereka hanya mengganggu dan tersenyum sembari mengucapkan terima kasih.
"Seperti apa nantinya kalau kita benar-benar menjadi suami istri, ya?" tanya Aiden tiba-tiba.
Rona merah dengan cepat menjalar di kedua pipi Sirene. "Memangnya kamu mau menikah denganku? Maksudku kalau aku manusia," tanya Sirene.
"Tentu saja aku mau. Siapa yang tidak mau dengan wanita cantik sepertimu?" jawab Aiden, mengalihkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa malunya.
Sirene tertunduk. Sayangnya, Sirene bukan manusia. Andaikan saja ia manusia, ia pasti akan sangat senang sekali saat mendengar jawaban dari Aiden tersebut.
"Kenapa kamu terdiam?" tanya Aiden.
Sirene menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ah, aku tidak apa-apa,"
"Kamu lelah? Mau istirahat dulu?" tanya Aiden. Tangannya yang panjang menjangkau sebotol air minum dingin, kemudian ia membukanya dan memberikannya kepada Sirene.
Shireen kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Aiden. Sebaiknya kita selesaikan ini kemudian kita cari makan siang setelah itu kita kembali untuk menyiapkan pesta nanti malam," usul Sirene yang segera saja disambut dengan anggukan setuju dari Aiden.
Setelah mereka berbelanja, Aiden membelikan beberapa helai gaun untuk Sirene. Sirene senang sekali karena pada akhirnya ia akan memakai bajunya sendiri.
"Seandainya waktuku masih banyak, Aku akan mencoba bekerja seperti Yang Mulia Ratu supaya aku bisa membeli bajuku sendiri," ucap Sirene.
Aiden tersenyum. "Tenang saja, waktumu masih banyak dan aku tidak keberatan untuk membelikanmu pakaian," jawab Aiden.
Mereka pun segera kembali ke rumah mereka. Setibanya, siren membantu Aiden untuk menyiapkan keperluan pesta barbeque malam nanti.
Aiden mengirimkan pesan kepada Anthem dan Matt supaya malam ini ke tempatnya.
Malam hari pun tiba. Sirene tampak memukau dengan memakai pakaian yang baru saja dibelikan oleh Aiden.
"Wah, kamu cantik sekali, Sirene," kata Aiden terpana melihat betapa cantiknya gadis duyung itu.
Sirene melompat kecil kegirangan. "Benarkah? Terima kasih untuk gaun yang manis ini, Aiden," balas Sirene.
Setelah segala persiapan untuk memasak selesai, tak lama kemudian, Anthem dan Alesya datang sambil membawa jagung bakar.
20 menit kemudian, Matt dan Lea datang dengan membawa minuman bersoda serta beberapa bir kaleng. Pesta malam itu berlangsung dengan sangat meriah walau pun hanya dihadiri oleh 6 orang.
Lea yang sedari tadi tampak risau memerhatikan Aiden dengan seksama. Seperti ada yang aneh pada diri Aiden.
"Ada apa sih? Daritadi kamu melihat Aiden dengan tatapan yang aneh," ucap Matt.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang mencurigai sesuatu tapi semoga firasatku ini salah," jawab Lea.
Matt mengikuti pandangan Lea tetapi ia tidak dapat menemukan apa yang salah dengan Aiden. Berbeda dengan Lea, hanya dalam satu kali lihat, ia dapat menangkap sesuatu yang seharusnya tidak ada disana.
Dengan cepat, Lea mencengkeram leher Aiden. "Keluarlah dari sana!"
"Errgghh! Ke-, ke-, kenapa?" tanya Aiden dengan suara tercekat.
Semua orang yang ada di ruangan itu memekik ketakutan.
"Yang Mulia, ...." sahut Sirene terkejut.
Akan tetapi Lea tidak mempedulikan ketakutan dari Sirene ataupun Alesya.
"Aku tau kau ada di dalam sini, keluarlah!" tukas Lea.
Aiden memukul tangan Lea, tapi sayangnya kekuatan Lea saat ia sedang marah, tidak dapat dikendalikan.
...----------------...