
"Sirene! Kamu kembali! Sirene!"
Seorang Putri Duyung dengan rambut serta ekor keperakan berenang lincah ke arah duyung yang dipanggil Sirene itu.
"Sedna!" Sirene pun berenang dengan cepat dan segera merengkuh sahabatnya itu ke dalam pelukannya.
"Oh, Sedna. Aku merindukanmu." ujar Sirene sambil memeluk duyung keperakan itu.
"Kupikir, kamu melupakan kami dan asik dengan cintamu itu," cibir Sedna.
Sirene menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sengaja berenang. Aku pikir aku tidak akan bisa kesini lagi, tapi ternyata aku masih bisa mengunjungi kalian."
"Di pantai mana?" tanya Sedna sambil melongok ke bawah.
"Maladewa. Aku sedang bersama Raja dan Ratu serta Yang Mulia Raja Matt dan Raja Rue, tak ketinggalan Yang Mulia Ratu Lea." jawab Sirene.
Kedua mata Sedna membulat sempurna. "Wowh! Hebat sekali! Kamu dikelilingi oleh Raja dan Ratu! Aku iri,"
"Ada Hades dan manusia itu juga," ucap Sirene menambahkan.
"Astaga! Kau sekarang menjadi famous, yah? Ah, aku iri sekali padamu, Sirene." sahut Sedna lagi. Dia memandang iri kepada temannya yang berambut biru hijau itu.
"Aku sedang pusing dan bingung. Oh iya, dimana Meltem?" tanya Sirene lagi.
Sedna berenang mengitari sahabat duyungnya itu sambil sesekali mencipratkan air ke wajah Sirene. "Dia sedang sibuk menggantikan Yang Mulia Raja Rue. Raja Rue sibuk mengurusimu dan Hades, beliau turun terburu-buru saat itu dan segera menemuimu, kurasa begitu."
Sirene menggigit bibir bawahnya, kedua alisnya saling bertemu. "Malam ini aku akan menginap disini dan besok pagi-pagi sekali aku akan menemui Meltem, setelah itu aku akan kembali,"
"Ceritakan kepadaku tentang petualanganmu di bumi. Ceritakan kepadaku sepanjang malam," pinta Sedna merengek. Dia menggenggam kedua tangan Sirene dan menatapnya dengan tatapan memohon.
"Dia pasti kelelahan karena dia hanya setengah duyung sekarang. Lebih baik kamu beristirahat, Sirene. Temui aku besok pagi sebelum kamu kembali turun ke bumi,"
Seorang duyung berwarna merah dengan membawa tongkat besar dari kayu ek tiba-tiba datang dan bergabung bersama mereka.
"Meltem!" tukas Sirene. Dia berenang dengan cepat dan memeluk penguasa Pantai Duyung itu.
Mau tak mau, Meltem tersenyum saat Sirene memeluknya. "Bagaimana kabarmu, Gadis Nakal?"
"Aku baik, Meltem. Aku baik,"
Satu per satu butiran air mata bergulir berjatuhan di atas air tanpa bisa dicegah oleh Sirene.
Meltem membiarkan Sirene menangis di dalam pelukannya setelah apa yang terjadi dan yang sudah dia hadapi di bumi selama ini.
Setelah puas menangis, Meltem melepaskan pelukannya dan meminta Sirene untuk beristirahat. "Tidurlah, Sirene. Kamu lelah. Perjalanan dari bumi kesini membuang banyak energi dan tenagamu. Besok kamu harus bangun pagi-pagi sekali."
Sirene pun mengangguk dan memang dia merasa lelah juga sehingga duyung itu segera masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dia merebahkan tubuhnya disana dan seketika itu juga dia merasa dia berada di tempat yang tepat.
***
Sementara itu di Pantai Maladewa,
"Dimana Sirene?" tanya Hades kepada Lea.
"Dia kembali," jawab gadis itu singkat.
Baik Hades maupun Aiden terkejut dan membelakakan kedua mata mereka. "Heh? Kembali kemana?"
Lea mengacungkan jari telunjuknya ke atas.
"Ini pasti ulahmu, kan? Ayo, mengakulah!" raung Hades marah kepada Lea.
Kedua sayap Lea segera terentang dan mengepak dengan kuat, tanda siap bertarung. "Kau menuduhku, Makhluk Aneh?"
Hades pun kembali ke wujud aslinya. Malaikat hitam dengan sayap kecil dan gigi bertaring. "Tentu saja aku menuduhmu! Kau membenci dia dari pertama dia datang ke bumi!"
Aiden berusaha memisahkan mereka, tetapi apa daya baik Lea maupun Hades merupakan malaikat dan peri terkuat di seluruh penjuru langit. Jalan satu-satunya hanyalah mengadukan Hades dan Lea kepada Raja Wren dan Matt.
Tepat saat itu, Lea dan Hades sudah saling menyerang. Lautan yang tadinya tenang kini membentuk pusaran seperti badai.
Cahaya biru dan hitam saling bertabrakan di langit seperti bintang atau bintang berekor yang jatuh ke bumi.
"Kemana kekuatanmu, Hades? Sudah habiskah? Hahahaha! Menyerahlah, Malaikat Tua!" seru Lea sambil terus menyerang.
"Peri sialan! Kau pun juga sudah menua! Lihat saja keriput di wajah dan tanganmu itu! Cih! Pantas saja kamu tidak bisa memiliki anak! Dia tidak sudi berada di perutmu satu detik pun!" balas Hades.
Kemarahan Lea sudah sampai puncaknya. Dia mengacungkan tongkat bintangnya dan mengangkat setengah dari lautan. "Terima ini, Makhluk Jelek!"
Hades pun tak mau kalah, dia membuat benteng dari air yang dia ambil dari lautan dan sekarang lautan itu kosong karena berada di atas langit. "Bersiaplah, Peri Brengsek!"
Namun, peperangan mereka terpaksa dihentikan karena suara Raja Wren yang menggelegar terdengar sampai ke atas langit.
"LEA!" teriak Raja.
Lea yang mendengar seruan dahsyat dari ayahnya segera mengembalikan air laut ke tempatnya semula. Dia memandang sengit kepada Hades. "Cih! Kita lanjutkan lain waktu!"
Bayangan hitam itu tertawa mengejek. "Cih! Takut yah sama ayah?" ejeknya.
Peri cantik itu memincingkan kedua matanya dan menyerang Hades dengan kilatan petir yang telah ia mantrai. "Rasakan kau, Malaikat Sialan! Sudah hitam, tambah hitam. Hmmpphh, sudah tercium bau hangus dari tubuhmu!"
"LEA! SEGERA TURUN! APA YANG TELAH KAU LAKUKAN, HAH? MEMBAKAR LANGIT?" Seruan Raja Wren kembali terdengar kala dia melihat percikan api dari atas. Mantan raja itu sudah tau kalau percikan api berasal dari tongkat putrinya karena hanya Lea yang sanggup menciptakan kilat.
"Iya, Ayah!"
Lea pun segera turun dan menghadap ayahnya yang tampak gusar dan murka kepadanya.
"Hades?" Raja Wren kembali memanggil Hades, kali ini suaranya sedikit lebih tenang.
"Ya, Yang Mulia." malaikat hitam itu turun dengan anggun dan membungkuk rendah di hadapan Raja Wren.
Dengan satu sabetan tongkatnya, Lea dan Hades terikat di udara dengan posisi kepala terbalik. "Tidak ada makan malam dan renungkan perbuatan kalian!"
"Ayah! Ayah! Aku tidak salah, Ayah! Hades yang memulai-, hmmppphh!"
Raja Wren segera menutup mulut putrinya dengan penutup mulut tak terlihat.
Hari semakin larut, Matt menemani istrinya bergelantung di udara sambil sesekali menyuapi gadis itu makanan.
"Sudah, Matt." kata Lea dengan mulut penuh. Sulit sekali makan dengan posisi terbalik seperti itu.
"Kau sudah kenyang?" tanya Matt dan dengan lembut, dia mengusap mulut istrinya untuk membersihkan sisa makanan dari mulut Lea.
Lea menggelengkan kepalanya. "Aku mau muntah! Aku akan muntah di wajah, Malaikat Kegelapan Sialan itu!" seru Lea.
Hades berusaha melepaskan diri dari ikatan terbalik Raja Wren. Namun, Raja Wren mengutuk mereka dengan mantra yang cukup kuat.
"Kalau kamu berani memuntahi wajahku, aku tidak akan mau lagi berteman denganmu!" tukas Hades.
"Tidak masalah untukku!" sambut Lea.
Dari bawah terdengar suara seorang wanita berbisik-bisik. Matt meminta Lea dan Hades untuk menahan suara mereka. "Psst! Siapa itu?"
Mereka bertiga menengadahkan wajah mereka ke bawah untuk melihat lebih jelas, siapa gadis yang mendatangi tenda mereka.
"Aiden, apa kabar?" tanya wanita itu.
"E-, Emma?" sahut Aiden terkejut.
...----------------...