
Di hari yang sama, Sirene memberanikan diri untuk naik taksi ke tempat Lea. Ia selalu menggenggam erat ramuan ungu Meltem di tangannya. Ia juga menghindari air.
Setibanya di tempat Lea, ia mengetuk pintu rumah bergaya minimalis dan serba putih hitam itu.
"Sirene! Masuklah," seru Lea sambil menarik tangan Sirene, kemudian ia menengok ke kiri dan kanan, untuk melihat kalau-kalau ada yang mengikuti Sirene.
"Kamu sendirian? Astaga! Kamu bisa menghubungiku untuk pergi menemuimu, Sirene!" sambung Lea lagi. Ia mau marah tapi Sirene sudah terlanjur sampai.
Lea mempersilahkan Sirene untuk duduk, dan ia menghubungi Aiden dengan ponselnya.
"Aiden ini kemana, sih? Apa dia ada rapat?" tanya Lea bermonolog. Dahinya berkerut-kerut tanda ia sedang berpikir.
Tak lama, ia menghubungi suaminya. "Halo, Matt. Dimana Aiden? Sampaikan kepadanya kalau Sirene ada di rumah kita," ucap Lea cepat.
("Aiden, sedang di kedai kopi. Tadi bersamaku, tapi aku pergi lebih dulu. Heh! Bagaimana bisa dia kesana? Sendirian? Aku akan sampaikan kepada Aiden, pastikan tidak ada yang mengikuti Sirene! Love you, babe,") balas Matt dan ia pun segera kembali ke kedai kopi untuk menemui Aiden.
Sementara itu di kediaman Lea,
Lea masih menginterogasi Sirene tentang langkah gegabahnya yang nekat datang sendirian ke rumah Lea.
"Maafkan aku, Yang Mulia Ratu. Aku hanya ingin meminta bantuanmu," ucap Sirene berkilah.
Lea menatap wajah Sirene yang serius dan ia mengurungkan niatnya untuk terus mencecar Putri Duyung yang akhir-akhir banyak sekali drama di dalam hidupnya. "Baiklah, maafkan aku. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepadamu. Itu bisa dicatat di sejarah, Ratu yang melalaikan rakyatnya," sahut Lea setengah bercanda.
Setelah melihat Sirene tersenyum, Lea bertanya kembali. "Apa yang bisa aku bantu?" tanya Lea.
"Begini,"
Baru saja, Sirene hendak berbicara. Kaki Sirene kembali berubah menjadi ekor.
Lea menatapnya dengan tatapan lucu. "Silahkan berendam," kata Lea mempersilahkan Sirene untuk masuk ke dalam bak mandinya
Dengan bantuan Lea, akhirnya Sirene bisa berjalan ke kamar kecil Lea.
"Baiklah, kita cerita disini saja. Apa tidak apa-apa?" tanya Lea kepada Sirene.
Sirene terkejut dan merasa sungkan kepada Ratunya itu. "Seharusnya aku yang minta maaf, karena telah membuatmu duduk di lantai kamar mandi ini. Kalau kau tidak masalah dengan kondisi ini, aku akan bercerita sekarang, tapi tidak! Aku akan menunggu sampai mereka muncul lagi," ucap Sirene.
Lea mengangguk. "Baiklah, aku akan menunggumu di luar. Nikmati waktumu. Aku sudah menghubungi Matt dan minta ia mengabarkan kepada Aiden kalau kau ada disini," sahut Sirene.
Tak lama, Sirene pun keluar dari kamar kecil dengan kedua kakinya. "Maaf sudah menungguku, Yang Mulia Ratu," kata Sirene.
"Tidak masalah. Sekarang ceritakan kepadaku apa yang ingin kamu sampaikan," balas Lea.
Sirene mengeluarkan botol ungu pemberian Meltem yang isinya sudah kurang dari setengahnya. Lea mengambil botol itu dan memperhatikan isinya. "Ini sisanya?" tanya Lea.
Sirene mengangguk. "Maka dari itu, aku ingin Yang Mulia Ratu mengantarku untuk menemui Sang Penguasa. Aku ingin meminta waktu tambahan kepada Penguasa supaya aku bisa berbicara dengan Hades dan menghabiskan sisa hariku bersama Aiden," jawab Sirene.
Lea menimbang-nimbang permintaan Sirene itu. "Berapa lama lagi ramuan ini dapat membantumu?" tanya Lea.
"2 hari lagi," jawab Sirene suram.
Siulan panjang keluar dari bibir tipis Lea. "Apa yang terjadi kalau ini habis?" tanya wanita itu.
"Kondisiku akan terus menurun dan jika tidak ditangani aku akan menjadi buih dan menghilang," jawab Sirene. Ada ketakutan terpancar di wajah cantiknya.
Lea yang dapat membaca pikiran Sirene memahami ketakutan gadis duyung tersebut. "Apakah tidak mungkin meminta bantuan Meltem untuk membuatkan ramuan ini lagi?" tanya Lea.
"Perjalanan menuju tempat Sang Penguasa juga membutuhkan waktu dan energi, Sirene. Bisa saja aku dan Matt membantumu. Namun, yang jadi pertanyaan adalah, apakah kamu kuat dan sanggup?" Lea kembali bertanya.
Tanpa berpikir, Sirene mengangguk dengan mantap. "Aku sanggup jika bersamamu, Yang Mulia Ratu," jawab Sirene, suaranya terdengar yakin.
Masih teringat jelas dalam memori Lea, bagaimana Bratt dan Eleanor yang menjual jiwanya kepada Raja Alam Kegelapan itu.
Lea bergidik ngeri, ia tidak tega membayangkan andaikata Hades berhasil memikat Aiden dengan dalih untuk menyelamatkan Sirene.
"Aku tau, Yang Mulia Ratu. Aku pun mengkhawatirkan Aiden. Berdasarkan data yang sudah kupelajari, manusia sangat mudah terpikat apalagi kalau mereka diiming-imingi sesuatu yang memang sudah mereka dambakan," kata Sirene.
Lea mengangguk. "Kau benar, Sirene. Itulah yang kutakutkan. Hades tidak hanya mengincar dirimu, tapi mutiara yang ada pada Aiden," ucap Lea mengingatkan.
"Apakah Hades bisa mendeteksi keberadaan mutiara-mutiara itu?" tanya Sirene.
Lea mendengus. "Kau meremehkan Hades. Dia pemilik kekuatan tertinggi di seluruh jagat raya ini. Jangankan mutiara, dia bisa mengetahui rencana dan waktu Penguasa untuk manusia," jawab Lea.
"Padahal waktu Penguasa adalah sebuah misteri bagi manusia, dan Hades memanfaatkan titik celah itu dan mengabulkan apa yang diinginkan oleh manusia," sambung Lea lagi.
Sirene mengingat-ingat saat Hades menjadi kepiting hitam karena kutukan Lea. Dia mengaku kalau dia bertahan di lautan hanya karena ada sesuatu yang membuatnya bertahan disana.
"Ya, itu salah satu kehebatan Hades," kata Lea setelah membaca pikiran Sirene.
"Ups," Secara tidak sadar, Sirene menutupi kepalanya dengan bantal.
Lea tersenyum. "Kau selalu lupa aku memiliki kemampuan untuk membaca pikiran semua makhluk hidup,"
"Tapi, saat itu aku bertanya-tanya apa yang membuat Hades bertahan saat itu?" tanya Sirene.
"Kamu," jawab Lea singkat.
Sirene tertegun. "Aku?"
Lea mengangguk. "Dia mencintaimu, Sirene," jawab Lea.
Tak pernah terbayangkan oleh Sirene kalau Hades menyukai dirinya. Hades seseorang yang sangat ramah, walaupun saat itu dia hanya berwujud kepiting ataupun bayangan hitam yang senang terbang melayang di atas Sirene saat mereka berenang.
Sore itu, Matt kembali ke rumah tanpa Aiden. Hal ini tentu saja membuat Sirene dan Lea bingung.
"Kemana Aiden? Apa kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Lea.
Matt menggeleng lemah. "Aku tidak tau dimana dia. Aku menghubunginya tapi tidak ada jawaban dan aku sudah mengirimkan pesan kepadanya tapi sampai saat ini status pesan itu masih tunda. Aku juga sudah mencari ke kantor, ke seluruh isi kedai, ke toko-toko di dekat sana. Tapi aku tetap tidak menemukannya," jawab Matt.
"Jadi, bagaimana sekarang?" Matt bertanya kembali.
Lea menceritakan rencana Sirene kepada Matt dan Matt dengan segera menyetujuinya. "Baiklah, kukira kita harus berangkat sekarang. Lebih cepat lebih baik dan aku akan meminta tolong kepada Anthem untuk mengawasi Aiden, akan kuberikan tongkatku kepadanya," jawab Matt.
Kemudian ia menghilang dengan tongkatnya dan tak sampai lima belas menit, ia sudah kembali lagi.
"Bagaimana dengan Sirene?" tanya Lea.
Matt melihat Sirene dari sudut matanya. "Kita pinjamkan kekuatan kita kepadanya," jawab Matt.
Lea mengangguk dan dengan kekuatan yang diberikan oleh Matt dan Lea, Sirene pun tampak lebih cerah sekarang.
"Sudah siap?" tanya Lea.
Ayshill, sayap kebanggan Lea sudah mengepak-kepak dengan lembut di punggungnya.
Baik Matt maupun Sirene mengangguk. Mereka pun terbang ke atas langit menuju tempat Sang Penguasa.
...----------------...