Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Antara Sirene, Lea dan Hades



"Lea, kau gila! Lepaskan Aiden! Kamu bisa mempercepat kematiannya!" tukas Matt. Ia mengibaskan tongkatnya dan dengan serta merta, Lea terlempar.


"Ouw! Setelah malam ini, kalian berdua menginaplah di rumahku!" seru Lea dengan tegas. Tangannya teracung ke arah Sirene dan Aiden.


Sirene berlari ke arah Aiden. "Kau baik-baik saja, Aiden?" tanya Sirene.


Aiden memegangi lehernya kemudian ia mengangguk. "Aku baik-baik saja,"


Matt menghadang Aiden, ia takut Aiden akan marah kepada Lea. Tetapi, Aiden menghampiri Lea dan bertanya, "Apa yang terjadi?"


"Aku tidak bisa mengatakannya disini. Maafkan aku karena aku telah merusak pestamu," kata Lea meminta maaf kepada Aiden.


"Tidak masalah. Kita memang sedang dalam status waspada, kan?" ucap Aiden.


Lea mengangguk singkat. "Ayo, kita lanjutkan," tukas Lea.


Berkat kekonyolan Anthem dan Matt, akhirnya pesta itu hidup kembali dan berakhir dengan memuaskan.


"Hei, aku memang tidak memiliki kekuatan lagi, tapi aku harap, kamu berhati-hati. Soal Hades, aku hanya memperingatkan kepadamu, jangan asal bicara kepadany karena bagi Hades, kesanggupan adalah janji. Aku kakak Hades jadi sedikit banyak aku tau karakter dia seperti apa," kata Anthem.


"Ya, aku paham. Sampai dengan saat ini, aku belum memberikan jawaban apapun untuknya," ucap Aiden.


Anthem merangkul Aiden. "Berjuanglah, ketika kamu sudah masuk ke dalam lingkaran kehidupan kami, maka kehidupanmu tidak akan sama lagi seperti dulu. Nikmati saja prosesnya," sambung Anthem.


"Aku tau tapi masih ada satu hal yang mengganjalku dan aku tidak tau apa itu," jawab Aiden.


"Kamu sudah tidak bisa mundur, Aiden. Kamu sudah terlibat jauh dengan kami. Apapun yang mengganjalmu saat ini, lupakanlah karena sudah terlambat. Kamu sudah bermain terlalu jauh," Anthem tersenyum saat mengatakan itu sehingga Aiden sedikit bernapas lega.


Setelah Anthem dan Alesya pergi, Lea mengajak Aiden serta Alesya ke rumahnya. Karena disana sudah terpasang mantra yang sanggup melawan apapun yang saat ini ada di diri Aiden.


Setibanya di tempat Lea, baik Aiden, Matt serta Sirene menatap Lea dengan bingung. Ia membuat lingkaran dengan tongkat berbintangnya dan membuat lingkaran di tengah-tengah ruang tamunya.


"Lea, kamu daritadi aneh, ada apa sih?" tanya Matt, ia menghampiri istrinya dan berusaha memeluk wanita yang kedua matanya kini sudah berubah warna menjadi biru metalik.


Namun pertanyaan Matt itu tidak digubris oleh Lea. Setelah selesai membuat lingkaran, Lea menunjuk Aiden. "Masuklah," perintahnya.


Sirene memandang Aiden dan Lea dengan cemas. "Yang Mulia Ratu, apa yang akan Anda lakukan?" tanya Sirene.


"Jangan memanggilku dengan sebutan Anda!" tukas Lea galak, ia menyeret Aiden untuk ke tengah.


Setelah Aiden berada tepat di tengah lingkaran, Lea memejamkan matanya mulutnya terus menggumamkan sesuatu tanpa henti. Tongkat berbintangnya, ia arahkan kepada Aiden.


Wuusshh!


Bayangan hitam keluar dari tubuh Aiden, terbang tinggi ke arah mereka kemudian menghilang dan Aiden pun jatuh tak sadarkan diri.


"Aiden!" seru Sirene.


Baru saja ia hendak menghampiri Aiden, tetapi Lea meminta Sirene untuk tetap pada tempatnya.


Hening,


Hanya itu yang mereka rasakan saat ini. Tak lama, terdengar suara tawa kering yang melengking dan memekakan telinga.


"Hahahaha! Lea lagi! Lea lagi! Lagi-lagi Lea," kata bayangan hitam itu bersuara.


"Ya, Hades. Aku lagi dan lagi-lagi aku. Aku juga heran, kenapa harus Hades lagi? Hades lagi! Lagi-lagi Hades! Tunjukan dirimu!" titah Lea. Ia mengayunkan tongkatnya dan bayangan hitam itu seakan terhempas.


"Aaarrgghh! Sial!" pekik bayangan hitam itu.


Dalam sepersekian detik, bayangan hitam itu berubah menjadi seorang pria tampan yang pucat dengan tatapan mata yang tajam.


"Puas?" tanya Hades.


"Tumben kamu tampak tampan, Hades," kata Matt, dia bergerak perlahan mendekati Lea dan Sirene.


"Matt si Tampan. Aku sudah tidak bisa memakai tubuhmu lagi, kan? Lagipula, ini di bumi. Aku tidak mau kalah tampan dengan manusia lemah itu, hahahah!" Hades tertawa dan mengejek Aiden yang masih belum sadarkan diri.


Sirene bangkit berdiri dan menampar pipi Hades. "Kau! Kupikir kamu temanku, Hades!" tukas Sirene.


"Aku selalu menganggapmu sebagai temanku, Hades! Aku pernah menceritakan kepadamu tentang mimpiku. Inilah mimpiku, Hades. Ini yang kuinginkan," ucap Sirene.


Sirene berharap Hades mengerti dan mau membiarkan ia menghabiskan sisa waktu hidupnya.


"Bagaimana kalau aku tidak mau kamu mati? Bagaimana kalau aku tidak mau kamu hilang? Bagaimana kalau aku mengambil paksa mutiara itu dari tubuh manusia sialan ini? Jawablah!" Hades menatap bola mata Sirene dengan tajam. Kemudian pandangannya berpaling ke Aiden. Ia mengibaskan tongkatnya dan memaksa mutiara-mutiara itu keluar dari tubuh Aiden.


Aiden yang masih belum sadar, terangkat dari lantai. Wajahnya semakin pucat begitu Hades menarik keluar mutiara itu.


Namun tiba-tiba saja, tubuh Hades terlempar ke dinding rumah Lea.


Wussh!


Brak!


"Hentikan! Kau bisa membunuhnya!" tukas Lea.


Hades menggeram kesal. "Kau lagi! Kenapa kamu selalu ikut campur, Lea? Kenapa?" pekik Hades.


"Dia manusia, Hades. Aku tidak akan membiarkan kamu mengusik lingkaran kehidupan mereka," balas Lea.


"Mereka yang selalu mengusikku, Lea!" ucap Hades berapi-api. Raut wajahnya tampak sangat murka.


Begitu tongkat Hades terarah kepada Lea, tongkat Matt terarah ke kepala Hades. Hades tersenyum dan dengan cepat ia mengibaskan tongkatnya ke arah Matt.


Segera saja, Matt terlempar ke belakang.


"Yang Mulia!"


"Matt!" Lea mengibaskan tongkatnya kepada Hades. Hades tidak hanya terlempar, tapi ia juga membeku di udara.


"Sialan!" suara Hades bergaung di seluruh ruangan rumah Lea.


"Aku akan membebaskanmu kalau kamu berjanji untuk tetap tenang," kata Lea, ia menolong Matt yang tersungkur ke balik kursi.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Lea.


Matt menggangguk. "Yup,"


Lea kini mendekati Sirene yang masih menopang kepala Aiden. Ia berbisik kepada Sirene. "Kamu bilang ingin berbicara dengan Hades? Sekaranglah saatnya,"


Sirene mengangguk mantap. Ia mengarahkan pandanganny ke atas. "Hades, kamu bisa mendengarku?" tanya Sirene.


Alih-alih menjawab, Hades membuang mukanya ke arah sebaliknya. "Huh!"


"Jangan ngambek, Hades!" Sirene terbang menghampiri Hades dan dengan lembut ia menggenggam tangan Penguasa Alam Kegelapan itu.


"Kembalilah, Hades. Aku akan baik-baik saja disini. Penguasa sudah mengetahui maksud dan tujuanku turun ke bumi," kata Sirine lembut.


"Cih! Kata siapa kamu akan baik-baik saja? Aku lebih percaya kamu mati daripada kamu baik-baik saja," balas Hades sambil berdecih.


Sirene tertawa terkikik geli. "Paling tidak, kita pernah berteman, Hades. Maka itu sebelum aku benar-benar pergi, izinkan aku untuk menghabiskan waktu bersama Aiden,"


"Aku akan izinkan, tapi dengan satu syarat!" tukas Hades.


"Apa itu?" tanya Sirene.


"Manusia itu tidak boleh jatuh cinta kepadamu!" jawab Hades.


Sirene tersenyum. "Tenang saja, dia hanya seorang manusia yang sangat baik dan dia tidak akan jatuh cinta kepadaku," jawab Sirene.


Hades memperhatikan manusia yang tergeletak di bawah sana itu. Ya, manusia itu belum mempunyai rasa cinta kepada Sirene.


"Pergilah, Hades," titah Lea.


Hades menjulurkan lidahnya kepada Lea. "Cih!" kemudian ia menghilang.


...----------------...