Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Balas Dendam Hades



Cahaya biru menghantam dada Aiden, dan ia terpental jauh ke belakang. "Aarrgghhh!" seru Aiden.


Rue, pemilik cahaya biru datang di saat yang tepat. "Yang merasa manusia, tolong masuk ke dalam benda aneh itu! Lindungi diri kalian! Sirene, masuklah! Matt, Lea, bantu aku menghadang Hades!" perintah Rue.


Matt dan Lea berdiri dan menyiapkan tongkat mereka.


Tiba-tiba saja, Sirene berlari dan berdiri di depan mereja bertiga dengan tangan terentang. "Dia Aiden, bukan Hades! Jangan serang dia, Yang Mulia. Aku mohon kepada kalian, wahai Pemilik Kekuasaan dan Kerajaan Langit," ucap Sirene, kini ia bersimpuh di depan Rue, Matt, dan Lea.


Lea berlutut dan meminta Sirene untuk berdiri. "Kami tau, Sirene. Nanti akan kami ceritakan, untuk sementara ikutlah bersama Alesya. Kumohon," pinta Lea.


Sirene pun menuruti kemauan ratunya itu, dan ia masuk ke dalam kapsul glamping yang sudah dijaga oleh Anthem.


Sementara itu di luar kapsul,


"Banyak manusia, kita bawa dia ke atas," ucap Rue.


Lea dan Matt mengangguk setuju. Mereka pun bersiap, menunggu Aiden untuk kembali menyerang.


"Rue sialan!" suara Aiden kini terdengar dari balik semak-semak besar. Api di tubuh Aiden kian membesar, ia menghampiri Lea dan Matt yang sudah berdiri dihadapannya.


Hades tidak memerlukan tongkat untuk menyerang atau melawan, hanya dengan mata dan tangannya ia sudah bisa membalas lawannya.


"Keluarlah dari tubuh manusia itu, Hades! Dia hanya manusia!" perintah Matt.


"Cih! Perjanjian antara kami telah diingkari dan manusia ini telah memberikan jiwanya kepadaku! Aku tidak akan keluar dari sini, sebelum mutiara Sirene keluar dari tubuhnya!" jawab Hades yang berada di tubuh Aiden.


Hades menggerakan sudut matanya dan sebuah kursi kecil melayang ke arah Matt dan Lea. Beruntunglah saat itu, Rue berhasil mengikat tubuh Aiden dengan menggunakan kutukan ikat tubuh sangat sempurna sehingga Rue dapat membawa tubuh Aiden ke atas.


Lea dan Matt terbang menyusul mereka. Sayap besar Lea mengepak-kepak dengan angkuh, membawa tuannya melayang tinggi.


Rue membawa mereka terus terbang tinggi hingga sampai di Lembah Kematian, tempat kediaman Malaikat Kematian.


"Disini paling aman," kata Rue.


Rue tidak membuka kutukan yang ia berikan kepada Hades. Ia sengaja melakukan itu untuk mengeluarkan Hades dari dalam tubuh Aiden.


"Kita keluarkan bersama-sama," sahut Rue.


Matt dan Lea mengangguk. Mereka mengarahkan tongkat mereka ke arah Aiden.


"Hitungan ketiga, siap! Satu, ...."


"Dua ...."


"Tiga ...."


Kilatan cahaya putih, biru, dan hijau menghantam tubuh Aiden, dan dari atas kepalanya keluarlah sesosok bayang hitam besar. Wajahnya tampak kesal dan murka.


"Curang! Kalian curang! Kalian bertiga, aku hanya sendiri dan tanpa senjata! Cih!" teriak bayangan hitam itu.


"Sudah kukatakan kepadamu, jangan mengganggu manusia! Kenapa masih kamu lakukan itu, Hades?" tanya Rue. Suaranya tenang bagaikan lautan tak bergelombang.


Hades berjongkok memandang Aiden yang tak sadarkan diri. Ia menyolek-nyolek pria itu dan berdecak, "Ck! Dia terlalu lemah. Apa yang Sirene lihat dari manusia lemah seperti ini?" tanya Hades, ia tidak memperdulikan pertanyaan Rue.


"Kalian tau, pria ini takut mati dan ia ingin menjadi abadi! Sekarang aku akan keluarkan mutiara Sirene dari tubuhnya!" tukas Hades.


Lea mengarahkan tongkat bintangnya ke dada Hades. "Dia akan mati, kan Hades? Jangan membunuh manusia!" seru Lea.


Dengan kekuatannya, Hades melemparkan Lea ke dinding batu dan membekukannya. Tak mau repot, ia juga melakukan hal yang sama kepada Matt dan Rue.


Setelah membekukan Raja dan Ratu Kerajaan Awan itu, Hades menjalankan aksinya. Ia mengangkat tangannya dan berusaha mengeluarkan mutiara Sirene dari tubuh Aiden.


"Hades, jangan lakukan itu!" suara pikiran Lea bergaung di seluruh Lembah Kematian itu.


"Ah, berisik!" tukas Hades, ia menatap Lea dengan mata besarnya.


Aiden mengeluarkan suara seperti tercekik saat Hades mengangkat paksa tubuhnya.


"Hades! Lepaskan dia!" seru Lea lagi. Amarahnya kini memuncak, bola mata birunya berubah menjadi biru metalik. Ayshill, sayap Lea, terentang di belakang punggungnya dan itu membantu Lea melepaskan diri dari mantra Hades.


Begitu Lea bebas, ia mengangkat Hades dan melemparkannya ke bawah. Dengan cepat, Lea membebaskan Rue dan Matt. "Bawa dia ke tempat yang aman!" serunya sambil menunjuk tubuh Aiden.


Matt dan Rue mengangguk. Namun baru saja mereka hendak membawa Aiden, Hades datang dan menarik kembali Aiden bersamanya dan kemudian ia menghilang dari pandangan mereka.


"Bagaimana ini, Rue?" tanya Lea.


"Kemana lagi selain ke Alam Kegelapan, kan?" Rue balik bertanya.


Mereka pun memutuskan untuk pergi mencari Hades di Alam Kegelapan. Tapi, baik Hades maupun Aiden tidak ada disana.


"Kemana mereka?" tanya Matt.


Lea dan Rue mengangkat bahu mereka.


"Mutiara Sirene tidak dapat diambil karena Sirene sudah memantrainya. Bahkan, Sirene sudah memberikan mutiara miliknya itu dengan sukarela. Tidak ada yang bisa merebutnya kembali atau dikembalikan ke pemilik aslinya," tegas Rue.


Sementara itu di suatu tempat, Hades membaringkan Aiden dengan kasar. "Hei, bangunlah!"


Aiden mengerjapkan matanya, entah kenapa tubuhnya terasa sakit. Ia terduduk dan terkejut saat melihat Hades sudah ada di depannya.


"Ha-, Hades! Dimana Sirene? Apa yang terjadi?" tanya Aiden bingung.


Hades menerbangkan sebuah kursi makan dan duduk berhadapan dengan Aiden. "Kita akan berbicara sebagai laki-laki sejati. Berikan kepadaku mutiara Sirene!" titah Hades.


"Tidak! Aku yang akan mengembalikannya sendiri kepada Sirene!" tolak Aiden.


Suara tepukan tangan datang dari Hades. "Ohohoho, sudah berani menolak. Okelah kalau begitu, kita bertarung!" ajak Hades.


Aiden beranjak dari sofa dan menghadapi Hades. "Oke," jawab Aiden.


"Katakan kepadaku kenapa kamu takut mati, Aiden?" tanya Hades dingin.


"Karena aku mencintainya, Makhluk Hitam. Hanya aku yang sanggup membuat Sirene bahagia!" jawab Aiden puas. Sudah lama ia ingin berteriak lantang tentang hal itu.


"Tidak ada yang boleh memiliki Sirene, kalau aku tidak bisa memilikinya, Manusia!" balas Hades tegas.


"Apa yang bisa kau berikan kepadanya, Makhkuk Jelek?" tantang Aiden.


Hades berubah menjadi bayangan hitam dan ia terbang mengitari Aiden. "SEGALANYA!" seringai Hades, menunjukkan taringnya dan tiba-tiba saja wajah Hades berubah menjadi menyeramkan.


Makhluk hitam itu berusaha menembus tubuh Aiden, akan tetapi Aiden berhasil mengelak.


"Kau yang berjanji kepadaku, Hades untuk memberikanku keabadian," kata Aiden mengingatkan.


Bayangan hitam itu berubah kembali menjadi manusia. "Memang, tapi kamu licik. Kamu memanggilku untuk membantumu menghadapi Lea, tapi kau belum mengeluarkan mutiara itu dari tubuhmu. Sirene semakin melemah, Aiden!" tukas Hades.


"Aku tidak memanggilmu!" bantah Aiden.


Hades tersenyum lebar. "Ya, kamu memanggilku. Mulai detik ini, jiwa dan ragamu menjadi milikku! Hahahaha!"


Tawa melengking itu membuat Aiden bergidik ngeri. Hades kembali melayang-layang mengelilingi Aiden sambil terus tertawa.


Perlahan, Aiden melangkah mundur menghindari Hades. Namun, Aiden hanyalah manusia biasa tanpa kekuatan. Kemanapun ia menghindar, Hades tetap bisa menembusnya.


"Nah sekarang, kau resmi milikku. Hihihi!" seru Hades. Ia kemudian melangkah meninggalkan tempat kosong itu.


...----------------...