Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Di Antara Dua Hati



"Ha-, Hades?"


Sirene memandang pria pucat itu dengan terkejut. Dia tidak pernah melihat Hades dalam bentuk dan rupa seperti itu. Yang sering gadis duyung itu lihat adalah Hades berbentuk kepiting hitam atau bayangan hitam yang besar dengan suara yang menggelegar.


Pria pucat itu tersipu malu saat Sirene mengenalinya dengan cepat. Namun tidak begitu dengan Lea serta ayah dan ibunya.


"Hades? Kenapa kamu seperti itu? Tidak cocok untukmu, hahahaha!" sahut Lea sambil tertawa mengejek.


"Ada apa memangnya denganku? Kalau kau tidak suka, jangan dilihat!" ujar Hades kesal.


Raja Wren dan Ratu Edwina juga melakukan hal yang sama dengan Lea. "Apakah kau ingin jadi manusia juga? Hahahaha. Kau terlalu pucat untuk seorang manusia!"


Begitulah akhir kisah runtuhnya kepercayaan diri Hades. Akan tetapi, Hades tidak menyerah begitu saja. Tekadnya yang kuat untuk menjadi saingan cinta Aiden terus membara di dalam hatinya.


Penguasa Alam Kegelapan itu selalu berada di sisi Sirene dan selalu siap menolongnya.


"Hei, sini aku bantu," sahut Hades saat melihat Sirene membawa sebaskom kerang permintaan Ratu Edwina.


"Oh, terima kasih, Hades. Tapi aku bisa membawanya sendiri," jawab Sirene.


Namun, Hades merebut paksa kerang-kerang itu dari tangan Sirene dan memberikannya kepada Ratu Edwina.


Makan siang kali itu berlangsung sangat meriah. Dengan adanya Aiden dan Hades. Raja Wren pun berkenalan dengan Aiden dan dia mengakui kalau Aiden memang tampan.


"Aku ingin berbicara serius denganmu. Sama seperti Matt, ketika dia sudah masuk ke dunia kami maka akan ada konsekuensi dan jangan harap kalian bisa keluar dari sini tanpa membawa ingatan apa pun tentang kami." kata Raja Wren memperingatkan.


Mungkin jika Raja Wren membicarakan tentang hal ini sebulan yang lalu, Aiden akan memilih untuk mundur dan melupakan segalanya tentang duyung, peri, malaikat dan makhluk lainnya.


Namun kali ini, pria itu sudah yakin akan keputusannya dan dia mengangguk dengan mantap. "Aku tau konsekuensi yang harus aku terima. Toh aku juga tidak bisa mundur lagi, bukan?"


Raja Wren tertawa keras, tubuhnya berguncang-guncang hebat karena tawanya. "Hahaha, kamu mengingatkanku pada Matt. Tapi saat itu, Lealah yang mundur. Dia menolak untuk jatuh cinta."


"Dengarkan aku, Manusia. Apa kamu benar-benar mencintai duyungku? Duyung-duyung yang ada di kerajaanku sudah aku anggap sebagai putriku sendiri. Mereka aku jaga dengan baik, mengingat habitat mereka yang semakin sedikit. Kalau kamu ingin menikahi Sirene, pastikan dia tidak lupa dengan habitatnya karena disanalah dia lahir dan tumbuh," sambung Raja Wren.


Raja yang telah melengserkan dirinya sendiri itu pun tidak dapat membayangkan jika suatu hari Sirene akan menjadi manusia. Dia pasti akan merasa kehilangan, sama seperti Penguasa kehilangan Anthem.


"Bagaimana caraku untuk mengubahnya menjadi manusia?" tanya Aiden.


Raja Wren tersenyum. "Dengan izin Penguasa, dia akan menjadi manusia tepat pada waktuNya. Bukan kita yang menentukan tapi Penguasalah yang menentukan."


Sudah beberapa kali Aiden mendengar nama Penguasa disebut oleh Matt, Lea ataupun yang lainnya. Hanya saja, dia tidak tau siapa Penguasa itu. Dalam bayangan pria berbokser hitam itu, Penguasa sosok yang hebat dan memiliki kuasa untuk menentukan takdir penghuni langit.


"Kalau aku boleh tau, siapa itu Penguasa?" tanya Aiden pada akhirnya mengalahkan rasa penasarannya.


"Dia yang menciptakanmu dan seluruh alam semesta ini." jawab Raja Wren.


Aiden menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ada sedikit perasaan menyesal saat dia mengetahui jawaban Raja. "Tidak mungkin,"


"Apa yang membuatmu mengatakan itu tidak mungkin? Apa kamu mau bertemu denganNya?" tantang Raja Wren.


Setelah percakapan dengan Raja Wren, Aiden tidak berani lagi mengungkit nama Penguasa di antara mereka. Dia memutuskan untuk fokus kepada Sirene.


Sayangnya, Hades sudah selangkah lebih maju daripada Aiden.


"Hahaha, aku tidak menyangka kalau kamu menyenangkan Hades. Saat kamu menjadi kepiting hitam, kamu sangat manis," ucap Sirene suatu hari.


Bagi gadis duyung itu, Hades tidak hanya tampan tapi juga menyenangkan. Penilaiannya terhadap Hades kini berubah. Entah sejak kapan, Hades berubah menjadi menyenangkan dan terkadang sedikit romantis.


Tiba-tiba saja, dia bisa memberikan Sirene cermin dengan hiasan kerang serta pasir pantai dan beberapa terumbu karang berwarna-warni ceria.


"Wah ini indah sekali, Hades. Ini untukku?" tanya Sirene. Dia memandangi cermin pemberian Hades dengan mata berbinar-binar.


Penguasa Kegelapan itu mengangguk dan tersipu. "Tentu saja. Simpanlah."


Melihat Hades sudah mencuri garis start, Aiden pun tak tinggal diam. Dia juga mulai bergerak dengan lihai mendekati Sirene.


Aiden mulai dengan hal yang sederhana, seperti mengambilkan Sirene makanan, membantu Sirene menyematkan rambut panjangnya ke belakang telinga saat tertiup angin, dan terkadang pria itu membantu Si Gadis Duyung untuk memegangi rambut biru panjang duyung itu saat dia ingin mengepang rambut panjangnya.


Sampai pada suatu malam, Sirene mengajak Lea untuk berjalan-jalan di pinggir pantai.


"Kamu mau berenang?" tanya Lea cuek.


Sirene menggeleng. "Ada satu hal yang ingin aku diskusikan dengan Yang Mulia Ratu."


Bukan tidak mau, tapi terkadang Lea sedikit kurang nyaman saat Sirene atau siapa pun mengajaknya berdiskusi kecuali Matt dan Alesya atau Rue, mereka pengecualian.


"Apa yang ingin kamu diskusikan bersamaku?" tanya gadis yang kini menjabat sebagai Ratu Kerajaan Awan itu.


"Sepertinya, hatiku terbagi," jawab Sirene.


"Heh? Terbagi? Maksudmu? Terbelah dua, begitu?" tanya Lea, meminta penjelasan lebih detai kepada gadis duyung yang malam itu tampak cantik dengan gaun putih yang sedikit menerawang.


Sirene menggelengkan kepalanya. "Saat awal kupikir aku hanya mencintai Aiden, tapi Hades sangat baik kepadaku akhir-akhir ini dan itu merubah keyakinanku walaupun baru sedikit."


"Hades? Kamu akan mempertimbangkan Hades untuk menjadi kekasih hatimu? Lalu, kenapa harus repot-repot turun ke bumi, Sirene?" tanya Lea. Ia tak habis pikir, bagaimana duyung itu mudah sekali terbawa perasaan. Harusnya, Sirene bisa lebih tegas untuk menentukan tujuan hidupnya.


Sirene tersentak. "Kau benar, Yang Mulia Ratu. Tujuanku datang kesini adalah untuk mencari cinta pertamaku dan menjadikannya sebagai cinta terakhirku. Tapi, mengapa aku ragu?"


"Mungkin karena kamu memiliki pembanding. Yakinkan kembali hatimu, Sirene. Maksudku, kamu sudah melibatkan Aiden terlalu jauh. Kalau kamu memang menyukai Hades, untuk apa kesini? Kamu dan Aiden sudah melewati banyak hal dalam satu bulan ini. Pikirkanlah kembali dan jangan mengambil keputusan sampai kamu benar-benar yakin," jawab Lea kemudian dia pergi meninggalkan Sirene yang termangu seorang diri.


Sirene terdiam dan menatap lautan yang tenang malam itu. Perlahan, dia berjalan ke tepi pantai dan membiarkan kedua kakinya disapa oleh ombak kecil yang berebutan hendak menyapanya.


"Aku payah, yah? Bisa-bisanya aku bimbang seperti ini. Sedna, aku merindukanmu." bisik Sirene. Malam itu, dia merasa bersalah kepada Hades dan Aiden. Tanpa terasa, mutiaranya jatuh bergulir dan terbawa ombak laut di tepi pantai.


...----------------...