Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Pertemuan Mendadak



"Cepat atau lambat, Aiden akan segera menyadari kalau mutiaranya membutuhkan sesuatu dan dia akan mencarinya sendiri. Sama seperti makhluk lainnya, mereka akan mengikuti insting mereka untuk tetap bisa bertahan," ucap Anthem.


Sirene tidak pernah membayangkan kalau mutiara yang dia berikan akan berubah dan memiliki efek mengerikan.


"Apa yang bisa aku lakukan kalau begitu?" tanya Sirene bertanya sekali lagi.


"Musnahkan mantranya," jawab Hades.


Jawaban Hades membuat Putri Duyung itu bingung. "Bagaimana cara memusnahkan mantranya?" tanya Sirene.


Anthem menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri. Dia mengambil ponsel dan menghubungi Matt.


"Hai, Matt. Apakah Rue bersamamu?" tanya Anthem dalam panggilan ponselnya.


("Apakah kamu sedang bersama Sirene? Aiden mencarinya,") Matt balik bertanya.


"Sirene ada disini bersama kami. Dia tidak ingin mengganggu Aiden dengan Emma. Hei, bisakah kalian bertiga ke rumahku?" tanya Anthem lagi.


("Sekarang? Oke, mungkin akan sedikit terlambat karena jalanan agak macet hari ini,") jawab Matt.


Anthem menepuk keningnya. "Kamu kan bukan manusia lagi, Matt! Pergunakan sayapmu sebelum mereka kembali ke langit!" tukas Anthem.


("Dingin sekali diluar, Anthem. Aku tidak tahan. Pokoknya, tunggu sajalah. Kami akan datang!") ucap Matt terkekeh-kekeh.


"Raja yang payah!" sahut Anthem mengakhiri panggilannya.


Tak lama setelah ia menutup dawainya, sesuatu mengetuk jendela atas rumah Anthem. Dengan wajah lelah, Anthem menggelengkan kepalanya. "Ini pasti Rue. Kenapa dia tidak pernah mau lewat bawah, sih?"


Benar saja, suara Rue terdengar di ruangan atas rumah Anthem dan Alesya yang di dominasi warna kayu itu.


"Yang Mulia Raja Rue," Sirene segera saja membungkuk hormat kepada Rue yang baru saja datang.


Tangan Rue meminta Sirene untuk duduk. "Ya, ya, ya. Sampai saat ini aku belum terbiasa dengan panggilan itu. Panggil saja Rue, kumohon,"


"Sudahlah, duduk saja!" Hades menarik tangan Rue serta Sirene untuk segera duduk.


Alesya datang dengan membawa berbagai macam camilan serta minuman untuk para tamunya. Setelah dia menghidangkan makanan itu, gadis berambut ikal itu duduk di sebelah Sirene dan menemaninya disana.


"Aku sudah mengetahui letak masalah yang kalian hadapai, ah maksudku, yang Sirene hadapi. Dan, a-, sudahlah Hades! Tidak perlu kau membelalakan matamu ke arahku! Ya ini masalah bersama, bukan masalah Sirene!" sahut Rue. Penjelasan terakhir dia koreksi karena Hades memberikan tatapan maut kepadanya.


Sirene memandang Rue dengan pandangan memohon. "Jadi bagaimana, Yang Mulia Raja?"


"Untuk memusnahkan mantra itu tidak sama dengan saat kita merapalnya. Karena bisa saja, mantra itu berbalik menyerang kita, kan? Saranku adalah, untuk saat ini dekatkan dirimu dengan Aiden. Dengan begitu, mutiara-mutiaramu bisa tenang. Setauku, kita punya mantra untuk mengembalikannya, tapi tentu saja ini beresiko tinggi," kata Rue menjelaskan. Beberapa pasang mata menatapnya dengan serius. Suasana di kediaman Anthem menjadi sangat tenang.


Suara gaduh tiba-tiba saja memecah keheningan di antara mereka.


"Apa itu, Sayang?" tanya Alesya.


"Matt dan Lea. Mereka pasangan yang tidak akan pernah tenang. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana jika mereka memiliki anak nanti," ucap Anthem dengan wajah pasrah.


Benar saja, Lea dan Matt saling berebutan untuk segera masuk ke tempat hangat itu.


"Dia belum mahir terbang, Rue. Payah sekali!" ejek Lea.


Alesya membantu Lea mengambilkan handuk dan mengeringkan rambut serta badannya. Wanita hitam manis itu juga dengan cekatan menyiapkan pakaian ganti untuk Matt dan Lea serta membuatkan mereka masing-masing segelas cokelat panas.


Tak lama, pasangan suami istri yang baru menikah itu sudah merasa hangat dan nyaman dalam balutan sweater rajutan.


"Sampai mana tadi? Dan kalian, silahkan panjat paragraf ini jika ingin mengetahui apa yang telah kalian lewatkan," tegas Rue.


Baik Lea maupun Matt menggeleng. "Silahkan lanjutkan saja,"


"Oke. Jadi sampai mana? Mantra, baiklah. Soal mantra itu-,"


Lea memotong ucapan Rue. "Ayah pernah berkata kepadaku, mantra yang sudah dirapalkan tidak dapat dimusnahkan atau dikembalikan. Kecuali, kalau kamu membuat ramuan, pasti ada ramuan penawarnya. Tapi untuk mantra, itu sulit sekali,"


"Apa yang akan terjadi jika, katakanlah Aiden memakan jiwa Emma?" tanya Sirene. Inilah pertanyaan yang ditakutinya sedari tadi.


"Tidak ada, hanya mungkin, baru kemungkinan, Aiden dan Emma akan berubah menjadi agresif. Mereka akan memunculkan sifat yang telah mereka pendam. Hmmm, bagaimana menjelaskannya, yah?" Rue mengusap-usap dagunya tanda bahwa Raja Muda itu sedang berpikir keras.


Alesya menyambut ucapan Rue, "Mungkin seperti ini, setiap manusia memiliki sisi yang dianggapnya baik dan sisi yang dianggapnya jahat. Biasanya, manusia akan mengendapkan si jahat ini untuk tidak di tampilkan di depan umum, begitulah kira-kira,"


Sirene mengangguk, mencoba memahami maksud ucapan Alesya.


"Makhluk gaib seperti kita biasanya tidak memiliki keinginan karena apa yang kita mau, kita bisa mendapatkannya dengan mudah. Berbeda dengan manusia, hidup mereka sangat kompels dengan berbagai macam konflik yang mereka hadapi. Dan itu semua demi satu tujuan, yaitu untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Rumit, bukan?" lanjut Lea, mencoba menjelaskan dari sisi dirinya sendiri.


Sirene mulai memahami apa yang dimaksud oleh teman-temannya itu. "Jadi, karena mutiaraku ada pada Aiden, maka mutiara itu akan merubah kepribadian Aiden, begitukah?"


Semua yang ada disana sontak saja bertepuk tangan dengan meriah. "Hebat sekali! Kau mulai mengerti pokok masalahnya, Sirene. Kalau begitu, kembalilah kepada Aiden sekarang!"


Mereka semua kembali dibuat bingung dengan gelengan kepala Sirene.


"Heh? Kenapa? Kamu rela jika misalkan Emma dan pujaan hatimu melakukan adegan 21 plus yang akan disensor jika dituliskan disini dengan detail?" tanya Lea.


Hanya Hades yang tersenyum senang. Pria pucat yang kini berkacamata demi meningkatkan nilai ketampanannya itu merangkul Sirene. "Biarkan saja manusia itu berakhir bersama sesamanya. Kita terlalu tinggi untuk mereka,"


"Bukan begitu. Aku hanya tidak berani menemui mereka. Bayanganku sudah melayang terlalu jauh dan sekarang aku berdebar-debar hanya karena memikirkan hal itu," jawab Sirene sambil menyingkirkan lengan Hades dari pundaknya.


***


"Kita berhadapan dengan duyung. Kalian tau bagaimana sifat duyung, kan? Mereka sangat sensitif seperti selembar kapas tipis. Sudah ada contohnya juga, kan? Ariel," tukas Rue setelah mereka membubarkan pertemuan mendadak itu.


Lea mengangguk setuju. "Benar sekali. Hanya ayahlah yang sanggup memahami mereka sampai terkadang aku iri melihat kedekatan ayah dengan Sirene atau Meltem atau bahkan duyung yang berada disana,"


"Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan duyung kita yang satu ini?" tanya Matt lelah.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan. Kita lihat saja sampai sejauh mana Sirene bertahan. Aiden sudah membuktikan cintanya kepada Sirene, dia rela menyerahkan nyawanya kepada Hades supaya Sirene tetap hidup. Dan sekarang, mungkin saja Penguasa ingin melihat sampai sejauh mana cinta Sirene untuk Aiden. Selain itu, masing-masing mereka dihadapkan pada dua pilihan. Yakni, hadirnya Emma dan Hades," jawab Anthem.


Rue menyesap cokelat yang sudah berubah menjadi hangat itu. "Tapi, ini jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan apa yang kalian hadapi dulu,"


Matt dan Lea saling berpandangan dan tersenyum saat mengingat masa-masa itu sampai akhirnya mereka bersatu seperti sekarang.


"Semoga Sirene kuat dan tidak memilih untuk menjadi buih seperti Ariel," ucap Lea, gadis itu mengecup lembut bibir suaminya.


...----------------...