
"Aarrggh! Hades, lepaskan aku!" Aiden meronta-ronta saat Hades menariknya menjauh dari Sirene dan teman-temannya.
"Tepati janjimu, Manusia!" balas Hades.
Bak di telan kegelapan, Aiden pun menghilang bersama bayangan gelap Hades.
Tak lama, sampailah mereka di sebuah gua besar yang sangat dingin dan di penuhi oleh stalaktit serta stalagmit. Di dalam gua itu terdapat sebuah singgasana berwarna perak yang dihiasi dengan ornamen hati yang tertusuk panah berwarna merah menyala.
Hades melepaskan Aiden dan mendudukannya di singgasana itu. "Hmmm, apa yang harus kita lakukan disini? Disini membosankan dan karena kau abadi, aku berpikir mungkin akan menjadikanmu sebagai temanku."
Aiden melihat sekelilingnya. Rasa dingin dan suram memenuhi tempat itu. "Dimana tempat Sirene?"
"Tuh, dibawah sana." jawab Hades sambil menunjuk tiang keemasan yang tertutup awan-awan hitam.
"Disini seperti mimpi buruk. Apa ini rumahmu?" Aiden bertanya lagi.
Penguasa Alam Kegelapan itu pun mengangguk. Ia menjulurkan kepalanya ke bawah. "Di bawah sana ada tempat yang bernama-,"
"Pantai Duyung. Sirene pernah bercerita kepadaku tapi saat itu aku memotong ceritanya. Kupikir aku tidak bisa jatuh cinta kepadanya. Tapi ternyata, sekarang aku tidak dapat hidup tanpanya." ucap Aiden.
Dia termenung, matanya menerawang jauh entah kemana. Hades ikut duduk di samping Aiden, mereka berdua terdiam dan saling termenung.
"Hei, aku sudah menepati janjiku tapi apakah menurutmu disini tidak membosankan? Turun sajalah, kita saingan secara sehat." usul Aiden.
Hades menatap pria berkumis itu dengan tatapan tak percaya. "Belum sepuluh menit kamu disini, wahai Manusia Pemurung! Dan kamu sudah bosan? Bagaimana denganku?"
Di luar dugaan, Aiden menertawai manusia pucat yang menyerupai bayangan hitam itu. "Hahahaha, itu deritamu, Hades!"
"Cih! Sialan!" caci Hades kesal.
"Aku bersungguh-sungguh, Hades! Maksudku, ayo kita kembali kesana. Kita bersaing memperebutkan cinta Sirene." ajak Aiden, setengah memaksa.
Bayangan hitam itu meraung. "Groaaarrr! Kau adalah tawananku, Manusia! Kau sudah membuat kesepakatan denganku artinya kamu dan aku tidak dapat pergi dari sini. Kecuali, ada yang berbaik hati untuk menyelamatkanmu." sahutnya.
Hades memantulkan dirinya ke dinding dan kembali lagi. Dia melayang sesuka hati, ke atas, ke bawah, ke kanan dan ke kiri bahkan dia sengaja menabrakkan dirinya ke Aiden.
"Kau belum mengerti cara kerjaku! Aku akan menjelaskannya dengan cepat!" seru Hades.
Hades memincingkan matanya ke arah dinding gua dan dari dinding itu keluar sebuah potongan-potongan film yang menampilkan korban-korban Hades yang telah memberikan jiwanya kepada Penguasa Alam Kegelapan itu.
Tawa Hades melengking dan memekakkan telinga Aiden. Pria tampan itu berusaha menutupi telinga dengan kedua tangannya. "Hentikan, Hades Bodoh!"
Seiring dengan teriakan Aiden, stalaktit pun berjatuhan. Mereka berdua terlonjak kaget.
"Hohoho. Aku tidak hanya abadi, Hades. Tapi juga memiliki kekuatan." seru Aiden.
Hades menirukan ucapan Aiden. "Hohoho, jadilah manusia pemberani, Aiden. Jika kamu ingin mendapatkan Sirene, maka kau harus melawanku bukan malah mengajakku untuk bersaing! Hanya pengecut yang melakukan itu!"
"Apa kau tau berapa kali Matt melawanku? Dan bagaimana mereka bisa bersatu?" tantang Hades lagi.
Aiden mendengus. "Huh! Aku manusia, Hades. Bagaiaman aku melawanmu jika kita tidak bersaing?" tanya Aiden lagi. Kepercayaan dirinya kini meningkat berlipat ganda begitu mengetahui dia memiliki kekuatan.
"Apa kau lupa, Matt dulu hanyalah seorang manusia dan siapa lawannya? Kakakku, seorang Malaikat Kematian! Kuakui dia pemberani, aku suka padanya," sambung Hades lagi.
"Sementara kamu? Di mana letak kelaki-lakianmu, Manusia? Sudah kukatakan jika kamu membuat perjanjian denganku, itu akan berlaku selamanya." Hades kembali berucap.
"Baiklah kalau begitu! Aku akan membayar dan menepati janjiku! Berapa lama?" tanya Aiden.
Senyum terkembang di wajah Hades. "Selama-lamanya," bisik Hades.
"Aaarrgghhh!" sosok Aiden perlahan menghilang digantikan dengan Hades yang menyeringai seram.
Sementara itu, di Bumi.
"Bagaimana kamu bisa kembali?" tanya Lea. Dia takjub melihat Sirene berdiri dengan kokoh dan wajahnya tampak cerah ceria.
"Dimana Aiden? Dia yang melakukan ini kepadaku, kan? Dia membalas perasaanku, Yang Mulia Ratu." jawab Sirene bersemangat.
Semua yang berada di dalam kapsul itu terdiam dan slaing memandang. Mereka tau, secara tidak langsung mereka telah menipu Sirene.
Namun, inilah yang diinginkan oleh Aiden. Dia mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menyelamatkan Sirene seorang.
Matt menceritakan tentang Aiden yang membuat perjanjian dengan Hades demi sebuah keabadian. Pria yang kini abadi itu juga bercerita bahwa Hades terus menagih janji Aiden dan menempel di tubuh Aiden.
"Dan saat terakhirmu, mereka berdua kembali membuat kesepakatan. Aiden yang memberikan ciuman kepadamu dan sebagai gantinya, Hades membawa Aiden untuk menggenapi janji yang telah diucapkan oleh Aiden." ucap Matt menutup ceritanya.
Sirine menatap manik hijau lumut Matt. "Jadi saat ini Aiden bersama Hades?"
Mereka semua mengangguk dengan bersamaan.
"Aku akan menyusulnya kesana!" seru Sirene.
Namun sebelum dia melangkah, tiga pasang tangan mencegahnya. "Dengan apa kamu kesana? Apa yang akan kau lakukan jika sudah bertemu dengan Aiden? Membawanya kembali ke bumi, gitu? Kau kuat melawan Hades?" tanya Rue bertubi-tubi.
Gadis duyung itu terdiam. Saat ini, dia memang cukup kuat untuk tinggal dan menetap di bumi akan tetapi untuk kembali ke atas, apakah dia sanggup? Pertanyaan itu terngiang-ngiang di benak Sirene.
"Kita tidak akan tau kalau kita tidak mencobanya, bukan?" jawab Sirene.
Lea yakin kalau Putri Duyung itu akan sanggup melewati semua pencobaan yang akan diberikan kepada Penguasa.
"Aku akan membantumu, Sirene. Tapi kita tidak bisa sembarangan bergerak. Untuk hal ini, aku tau orang yang tepat untuk dimintai nasihat." kata Lea tersenyum lebar.
"Siapa?" Anthem dan Matt bertanya bersamaan.
"Ayahku." jawab Lea yakin.
Ayah Lea adalah bekas pensiunan Raja di Kerajaan Awan. Begitu mendengar Lea mendapatkan pasangan hidupnya dan akan segera menikah, maka Raja Wren menyerahkan tahta kerajaan kepada suami Lea, yaitu Matt.
Karena Matt sibuk di bumi, Raja Wren memutuskan untuk mengangkat pengawal pribadi Lea untuk menjadi Raja Pengganti untuk Matt yang dapat standby di Kerajaan Awan.
Kembali kepada Lea dan kawan-kawannya,
"Memangnya ayahmu sedang berada di mana? Kabar terakhir kudengar, Raja dan Ratu sedang berada di Rangoli Island." tanya Rue.
"Kalau begitu, kita akan menyusulnya kesana." sahut Lea antusias.
Anthem menggelengkan kepalanya. "Aku absen, tidak ikut. Pergi kesana harus mengeluarkan banyak uang dan aku sedang melakukan penghematan demi masa depan anakku nanti. Aku, no!" tolak mantan Malaikat Kematian itu dengan tegas.
Alesya menatap Anthem dengan kecewa. "Kita bisa membuat anak disana. Siapa tau beruntung. Ayolah, Honey." rengeknya.
"Tunggu! Tujuan utama kita, Aiden kan? Karena yang kutangkap adalah kita akan pergi berlibur," tanya Sirene dengan nada bingung.
"Kau tau, di dunia manusia ada yang namanya pepatah. Dan saat ini, kita sedang melakukan salah satu dari pepatah itu. Sambil berenang meminum susu." tukas Lea semangat.
Alesya mengkoreksi pepatah yang diucapkan Lea. "Sambil menyelam meminum air, Lea,"
"Itulah! Hahahaha!"
Setelah semua sepakat, akhirnya hari itu juga mereka membeli tiket pesawat untuk mencari Raja Wren serta Ratu Edwina di Pulau Rangoli, Maladewa.
Di Alam Kegelapan,
Hades dan Aiden menjadi satu tubuh. Aiden berusaha melepas tubuhnya dari Aiden. Namun, percuma saja karena Hades telah merekat dengan kuat di tubuh pria itu.
"Aku mau ikut mereka! Lepaskan aku, Hades!" seru Aiden saat mendengar rombongan Sirene akan pergi ke Maladewa.
"Tidak bisa! Kita tetap disini. Itulah hukuman untukmu!" tegas Raja Kegelapan itu.
Aiden berpikir, bagaimana cara menghasut Hades supaya mengizinkannya untuk menemui Sirene.
"Kita bisa bermain di pantai bersama Sirene, apa kau tidak tertarik?" tanya Aiden mulai melancarkan serangan bujuk rayunya.
Hades menarik tubuhnya keluar dan memisahkan diri dari Aiden.
"Kau menghasutku? Seorang manusia mengahasut Penguasa Kegelapan? Luar biasa! Tapi, idemu cukup bagus. Ayo kita susul mereka kesana! Ayo, Aiden!" Penguasa Kegelapan itu pun termakan bujuk rayu Aiden dengan sangat mudah.
Aiden tersenyum puas. "Let's go, Hades."
...----------------...