
Aiden Sebastian, pria tampan berumur 25 tahun. Pekerjaan sebagai CEO di sebuah perusahaan trading ternama di kota itu. Rumah dan kendaraan sudah tersedia. Status saat ini, single.
Entah kenapa beberapa hari ini, dia merasa dia sangat keren. Apalagi jika memikirkan tentang kehidupan percintaannya. Ada seorang Putri Duyung yang menanti hatinya serta mantan tunangannya yang menginginkan dia kembali.
Seperti pagi itu, dengan mulus dia memarkirkan mobil mewahnya di pelataran kantor. Pria tampan itu mematut wajahnya di depan kaca mobil, setelah merasa oke dia melangkah penuh percaya diri.
"Pagi, Tuan Sebastian," sapa salah satu karyawan wanitanya.
"Morning, Suzy," jawab Aiden dengan suara berat yang dibuat-buat.
"Selamat pagi, Tuan Sebastian. Hari ini mau kopi apa?" tanya asisten Aiden di kantor.
Pria seksi itu pura-pura berpikir. "Hmmm, yang manis saja seperti kamu," jawabnya sambil tersenyum menggoda dan si Asisten pun tersipu malu.
Begitu dia memasuki ruangan kerjanya, Matt dan Rue memperhatikan pria yang wajahnya seperti sinar matahari itu.
"Pagi, kawan-kawanku. Bagaimana kabar kalian hari ini?" tanya Aiden, menggerak-gerakkan kedua alis matanya.
Rue menyenggol Matt saat dia melihat sinar biru yang berkilauan di dada Aiden.
"Itunya sudah mulai bekerja?" tanya Matt.
Rue mengangguk. "Lihat saja perubahannya hari ini,"
Aiden memegang kedua pipi teman-temannya itu. "Ada apa dengan Matt dan Rue kita ini? Jangan cemberut, nanti ketampanan kalian tidak akan terlihat,"
Matt dan Rue saling berpandangan dan saling mengangguk. Mereka mengerti apa yang terjadi dengan kawan mereka itu.
"Kamu tidak menanyakan kabar Sirene?" tanya Matt.
Aiden yang baru saja duduk, segera bangkit lagi dari kursinya. "Ah, Sirene. Aku merindukan dia. Bagaimana kabarnya?"
"Apa kamu tidak mau mengunjunginya? Dia merindukanmu juga, Aiden. Dia ingin pulang, tapi ada Emma, kan?" tanya Matt lagi.
"Emma? Oh, iya Emma. Mau bagaimana lagi, dia tidak mau berpisah denganku," jawab Aiden santai.
Matt dan Rue kembali berpandangan.
"Maksud kami adalah, kamu masih mencintai Sirene, kan?" tanya Rue.
Aiden tersenyum memandang mereka berdua dengan wajah tak berdosa. "Ya, aku mencintainya. Tapi untuk saat ini, entahlah,"
Dua buah mutiara itu terus berkedip-kedip di dada Aiden, tanpa dia sadari.
"Aiden, lihatlah dadamu," pinta Rue.
Aiden segera menundukkan kepalanya dan melihat sesuatu yang berpendar-pendar di dadanya. "A-, apakah ini mutiara Sirene?"
Matt dan Rue mengangguk. "Sejak kapan kamu merasakan perubahan pada dirimu?"
Pria itu memutar kedua bola matanya ke atas dan mengusap dagunya. "Akhir-akhir ini aku merasa seperti kepercayaan diriku meningkat dan aku merasa bisa melakukan apa pun yang aku mau. Ini perasaan yang hebat sekali,"
"Itu perasaan manusiawi yang seharusnya dirasakan oleh Sirene," ucap Rue.
"Lalu, aku harus bagaimana? Apakah aku harus mengembalikannya? Bukankah ini sudah dimantrai menjadi milikku?" tanya Aiden, pria itu mengusap-usap dadanya dengan sayang seolah memeluk sesuatu yang berharga.
"Untuk sementara ini, nikmati sajalah. Hanya saja mutiara itu akan tersambung dengan perasaan Sirene. Jika duyung itu sakit, maka kamu akan merasakan sakitnya juga. Begitu juga sebaliknya, kalian akan saling terhubung satu dengan yang lain," jelas Rue.
Aiden pun mengangguk setuju. "Baiklah, akan kujaga mutiara ini dengan sangat baik,"
Begitulah akhirnya, Aiden benar-benar menikmati efek yang diberikan oleh mutiara-mutiara biru di dalam dirinya. Dia tidak pernah merasa hebat sebelumnya, apalagi saat semua orang melabelnya dengan sebutan Pengecut.
Namun sekarang, tidak ada lagi yang dia takuti. Dia merasa hebat dan dia merasa mampu menaklukan dunia saat ini dia merasa sangat keren.
***
Emma, yang sudah menunggunya daritadi, menyambut pria itu dan segera mengalungkan kedua lengannya ke leher Aiden.
"Welcome home, Baby," sapa wanita itu.
Aiden tidak mengelak atau menyingkirkan lengan itu. Tentu saja hal ini semakin memberikan celah untuk Emma. Dia semakin berani mendekati Aiden.
"Bisakah kamu melepaskanku sebentar? Karena aku membawa laptop dan tubuhku rasanya kotor sekali. Aku takut membuatmu kotor juga," ucap Aiden dengan senyum lebar nan menggoda.
Emma melonjak kegirangan. "Begitukah? Baiklah, Sayang. Aku akan membantu membawakan barang-barangmu ini,"
Aiden tersenyum senang dan memberikan tas laptopnya kepada Emma. "Trims, Cantik,"
Selagi pria bertubuh atletis itu membuka kemeja kantornya, Emma memeluknya dari belakang. Sungguh, ini membuat naoas Aiden menggebu. Ada perasaan ingin sekali melakukannya bersama wanita bertubuh molek itu.
"Jangan seperti ini, Sayang. Bagaimana kalau aku tidak dapat menahannya?" tanya Aiden sambil menikmati setiap pergerakan tubuh yang dilakukan oleh Emma dengan sangat mahir.
"Rasakan dan nikmati saja, Sayang. Seperti dulu," goda Emma. Jari-jari lentiknya berlarian dengan bebas di tubuh Aiden yang tak terlindungi seutas benang pun.
Aiden tak dapat menahan godaan dari wanita yang berada di belakangnya itu. Ditambah lagi, mutiara biru seakan memintanya untuk segera menerkam Emma.
Akhirnya, Aiden mengikuti dorongan dari mutiara-mutiara biru yang semakin berpendar di dadanya itu.
Pria itu memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Emma yang seakan siap melahapnya. Mata Aiden tertuju pada dua bongkahan yang seakan berteriak, 'Sentuhlah, Aku!'
"Ingat, kamu yang memulai ini, Em," sahut Aiden dalam bisikan dan tanpa menunggu lama, pria itu memagut bibir tebal Emma.
Emma segera membalas pagutan Aiden yang sudah lama dia rindukan. Mereka saling memagut dan mencecap. Tangan kedua insan itu sudah berlarian dan asik masing-masing dengan apa yang telah ditemukannya.
Permainan itu terus berlanjut sepanjang malam.
Di tempat lain,
Sirene merasakan dadanya sangat sakit sekali. "Ha-, Hades. Tolong aku! Apa yang terjadi denganku? Ini sakit sekali, aku seperti mau mati rasanya!"
Hades dengan sigap memeluk Sirene. "Apa yang terjadi kepadamu, Sirene? Apa yang kamu rasakan?"
Gadis duyung itu menitikkan air matanya. Hades terkejut karena air mata itu tidak berubah menjadi mutiara. "Sirene! Air matamu! Apa yang terjadi?"
Hades segera berteriak memanggil kakaknya, "Anthem! Anthem!"
Dengan tergopoh-gopoh, Anthem dan Lea memasuki kamar mereka dan betapa herannya mereka karena Sirene menangis di pelukan Hades dan membasahi pakaian pria itu.
Tidak ada mutiara yang berjatuhan, hanya air mata yang terus mengalir dan membasahi pipi Sirene.
Anthem memegang dada Sirene dan memeriksanya. "Mutiara itu! Aiden melakukan sesuatu yang membuat mutiara itu kesakitan. Mereka terhubung, Hades!"
Hades berubah wujud menjadi bayangan hitam dam siap menyerang. Namun, Sirene terus memeganginya. Dalam kesakitannya, dia menggeleng perlahan. "Hades, tetaplah di sisiku karena aku akan membutuhkanmu,"
***
Di Kediaman Aiden,
"A-, Aiden, kamu menangis?" Emma membuka matanya sesaat Aiden menghentikan gerakannya.
Aiden menghentikan aktifitasnya dan dia memegangi dadanya. "Em! Tolong panggilkan ambulance! Dadaku ... Dadaku sakit sekali!"
Pria itu terus merintih kesakitan dan terus memegangi dadanya. Dia meringkuk dan menahan rasa sakitnya dengan merremas bantal yang tadi mereka pakai untuk penyatuan.
"Bertahanlah, Sayang! Bertahanlah! Aku akan segera memanggil ambulans!" Emma mencari ponselnya dan sambil menangis dia meminta tim medis untuk segera datang dan memeriksakan kondisi Aiden.
"Kumohon, cepatlah datang!" pinta Emma.
...----------------...