
Beberapa hari kemudian,
"Sirene, apa yang kamu pikirkan?" tanya Sedna di suatu petang.
Sirene tak menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Dia hanya terdiam, menatap matahari yang tenggelam seakan di telan oleh segara tanpa dasar.
Sedna tau apa yang menimpa gadis duyung itu. Dia pun ikut terdiam tanpa bicara dan mengalihkan perhatiannya pada senja yang cantik yang terbentang di depan mereka.
Cahaya malam pun mulai menerangi Pantai Duyung itu dan dalam diam, Sirene berenang menjauhi batas pemisah langit dengan bumi dan kembali ke tempatnya.
Duyung itu tidak menyapa Meltem yang berpapasan dengannya. "Sedna, dia masih belum mau bicara?"
Sedna menggelengkan kepalanya. "Belum. Aku makin khawatir dengan kondisinya yang sekarang. Apakah mungkin dia merasa ada yang hilang seperti ada sesuatu yang kosong?"
"Pasti, Sedna. Itu pasti dan dia tidak membiarkanku untuk mendekat. Aku penasaran bagaimana dengan manusia yang bernama Aiden itu? Dia yang mengambil keputusan ini demi menyelamatkan hidup Sirene," tanya Meltem dan gadis kemerahan itu berenang dengan cepat untuk menyusul Sirene.
Keesokan harinya, Meltem bangun pagi sekali untuk menemui Rue di singgasananya.
Kala itu Rue sedang asik bermain bola kincir bersama dengan para peri penghibur. Dia menanggalkan pakaian kerajaannya dan hanya mengenakan kaus santai serta celana pendek juga sepatu bola.
"Hei, Lace! Seharusnya kau tangkap bola itu! Astor, bersiaplah! Terimalah tendanganku! Hiyaaaat!" Rue menendang bola kecil yang memiliki sayap di pinggir-pinggirnya itu.
"Gooolll! Yeyeyey!" soraknya merayakan kemenangannya melawan peri-peri kecil itu.
Tanpa dia sadari, Meltem sudah memperhatikannya tanpa berniat mengganggu permainan Rue dan para peri.
Rue menyadari kedatangan Meltem saat dia berjoget sambil memutar-mutar pinggulnya. "Ahoi! Ahoi! Ahoi!" seru Rue, dan kemudian, "Ahoi, Meltem,"
Meltem tersenyum berusaha memaklumi raja muda itu. "Ahoi, Yang Mulia Raja Rue," jawabnya.
Salah satu peri rumah yang bernama Astor tadi, mengayunkan tongkatnya ke tubuh Rue dan dalam sekejab, Rue sudah memakai pakaian kerajaan.
"Silahkan masuk, Meltem. Ada apa gerangan? Ah, maafkan aku, kau selalu datang di waktu yang kurang tepat," ucap Rue salah tingkah.
Duyung Merah itu tersenyum simpul. "Saya paham jika Anda seperti itu, Yang Mulia Raja. Anda seorang Raja muda dan Anda terbiasa hidup di bumi jadi saya berusaha mengerti perilaku Anda, Yang Mulia Raja,"
Rue duduk di singgasananya dan bersikap layaknya seorang raja. "Baiklah, ehem! Katakan, apa kepentinganmu ke sini, Meltem?"
"Ini mengenai Sirene. Apa yang harus kita lakukan terhadap gadis itu? Pasti ada yang hilang dan dia juga merasakan kehampaan yang mungkin cukup besar melihat perubahan sikapnya," tanya Meltem.
Hati Rue mencelos. Di saat seperti ini, seharusnya Lea yang berada di kursi panas ini karena Lea seorang perempuan, paling tidak dia tau bagaimana perasaan seorang wanita.
"Aku kurang memahami perasaan wanita, Meltem. Sepertinya aku tidak dapat menjawab pertanyaanmu. Ah, aku akan menghubungi Lea terlebih dahulu. Dia pasti sangat paham masalah wanita seperti ini," jawab Rue, dia menyeringai aneh.
Namun sedetik kemudian, dia ingin di pandang berwibawa oleh Meltem. "Ehem! Begini, Sirene pasti merasa ada sesuatu yang hilang. Anggap saja seperti patah hati tapi dia tidak tau siapa yang telah mematahkannya,"
"Saya mengerti. Bagaimana menurut Anda, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana cara menghiburnya?" tanya Meltem.
"Mmmm, ...." Rue tidak tau harus menjawab apa dan saat itu juga dia sadar bahwa dia sangat belum berpengalaman untuk menjadi seorang raja.
Sementara itu di bumi,
Seorang laki-laki tampan dengan tatapan kosong duduk di sebuah kedai kopi. Pria itu terus menambahkan cukup banyak balok gula kecil ke dalam kopinya.
Pria itu tersentak. "Ah, eh, oh, berapa banyak aku memasukannya? Seingatku aku hanya memasukan 1 balok gula," jawabnya.
Matt menyingkirkan tempat gula dari hadapan Aiden. "Aku tau kamu kehilangan tapi tolonglah jangan berlarut-larut,"
"Penguasa memisahkan kami di saat aku sedang sayang-sayangnya dengan Sirene. Kenapa, Matt?" tanya Aiden.
"Begitu kan cara kerja Dia. Jangan kaget," ucap Anthem.
Aiden menyembunyikan wajah di kedua tangannya yang terlipat. "Kalian tau, rasanya kosong dan sakit sekali. Kenapa Penguasa tidak sekalian saja melumpuhkan ingatanku akan Sirene. Kenapa Dia membiarkanku tersiksa seperti ini? Aku tidak bisa melupakan dia, aku harus apa?"
Matt dan Anthem menepuk pundak sahabat mereka itu. "Itu tandanya, Dia ingin melihat seberapa besar kesungguhan cinta kalian. Taklukanlah segala rintangannya," kata Anthem lagi.
"Bagaimana? Aku tidak seperti kalian yang memiliki kekuatan apalah itu. Saat aku terbentur saja aku bisa benjol, bagaimana mau memiliki kekuatan. Tidak bisa, kan?" protes Aiden.
"Jadi, kamu berharap untuk hidup abadi?" tanya Anthem.
Pertanyaan Anthem membuat Aiden tercengang. "Bisakah seperti itu?" tanya pria itu. "Maksudku, aku hanya ingin bersama Sirene entah itu abadi atau tidak tapi aku ingin tetap berada di samping Sireneku,"
"Mintalah. Lea dan Matt saat itu melewati Lembah Kematian, berhadapan denganku yang saat itu menjabat sebagai malaikat kematian. Mereka berdua menantangku sampai akhirnya kami berteman akrab sampai sekarang. Ya kan, bestie?" sahut Anthem lagi dengan nada centil.
Aiden memandang mereka dengan tatapan aneh yang sulit untuk di jelaskan. "Tapi kali ini aku berhadapan dengan pemilikku bahkan pemilik alam semesta dan pemilik kehidupan. Masalah kedua adalah, Sirene lupa kepadaku! Bagaimana cara memulihkan ingatannya?"
Mereka bertiga terdiam.
"Culik dia dan gunakan mutiara-mutiara itu. Mutiara duyung dan manik rubah mempunyai pengingat, mereka akan tau kalau mantan pemilik mereka ada di dekatnya!" sahut Lea yang tiba-tiba saja datang dan menyeruak di antara mereka bertiga.
"Dia berekor, Lea! Menculik seorang peri masih bisa dilakukan, tapi menculik ikan? Dia ikan, Lea! Di mana-mana ikan itu hidupnya di air dan dia tidak punya kaki untuk berjalan seperti kita," tukas Anthem.
Dua pukulan maut melayang ke arah Anthem. "Bicaramu sembarangan sekali! Sirene itu duyung bukan ikan!" sanggaj Lea.
"Ya, duyung yang cantik!" seru Aiden menambahkan.
Anthem bersungut-sungut. "Baiklah, .aafkan aku. Aku hanya tidak dapat membedakan mana ikan mana duyung,"
Lea dan Aiden memincingkan kedua mata mereka dengan kompak. "Cih! Bodoh sekali!" omel Lea.
Tak hanya Aiden dan Sirene yang menderita. Hades kini dipekerjakan oleh Sang Penguasa untuk menggantikan tugas kakaknya sebagai malaikat kematian.
Lowongan sebagai malaikat kematian masih kosong karena belum ada yang dapat melampaui kehebatan Anthem saat menjabat posisi tersebut.
"Kenapa kau menempatkanku di sini wahai Penguasa? Apakah kau tidak tahu kalau di sini panas dan dingin secara bersamaan? Kau seharusnya mengenalku dengan baik karena aku tidak suka dengan panas!" protes Hades.
Saat ini dia memiliki sayap hitam yang besar dan dia bisa terbang. Itu adalah hal yang selalu dia impikan yakni memiliki sayap yang besar dan bisa terbang dengan sayapnya sendiri bukan memantul-mantul seperti yang selama ini ia lakukan.
"Tapi, demi Sirene aku akan melakukan ini dengan suka cita. Apa kau mendengarku, Penguasa? HEI! DENGARKAN AKU!" seru Hades.
Pria itu berdecih saat mendengar suara tawa yang dalam dan besar dari Penguasa. Hades berpikir selama Sirene hidup apapun akan ia lakukan untuk dapat mengembalikan keceriaan gadis duyung yang dicintainya itu.
...----------------...