Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Kabar Bahagia



Sejak malam itu, Sirene perlahan membuka hatinya untuk Aiden. Duyung itu mulai menerima kehadiran Aiden di hidupnya walaupun mereka belum berkomitmen kembali.


"Aku sudah tidak dibutuhkan lagi olehmu kalau begitu," ucap Alesya sambil tersenyum menggoda Sirene yang sudah di anggapnya sebagai adik sendiri itu.


Sirene memeluk Alesya dengan sayang. "Sampai kapan pun aku akan selalu membutuhkanmu. Kamu manusia terbaik yang pernah aku temui. Aku sayang sekali padamhy, Alesya,"


"Apa itu? Rasa sayangmu hanya boleh untukku dan tidak diperkenankan kamu bagi-bagi untuk orang lain," ucap Aiden cemburu.


Anthem menarik tangan Aiden dan membawanya menjauh dari kedua wanita itu.


"Hei, apakah ingatan Sirene sudah kembali sepenuhnya?" tanya Lea.


Aiden mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau. Dia masih memanggilku dengan 'Manusia', entah kenapa dia belum bisa memanggil namaku,"


"Jadi, kalau kalian sedang-,"


"Baru satu kali! Belum kucoba lagi! Cih!" tukas Aiden berdecih.


Matt tertawa mendengar keluhan Aiden. "Ajari dia dengan perlahan. Seperti yang selalu Lea katakan kepadaku, kita berhadapan dengan duyung yang sensitif dan sangat peka jadi harus extra super sabar,"


"Lalu, mutiara yang ada di tubuhku ini. Apakah Sirene tidak memiliki kekuatan jika berjauhan dengan mutiara ini?" tanya Aiden lagi sambil mengusap-usap dadanya yang bidang.


Lea mengangguk. "Ya, dia akan kembali seperti awal datang ke bumi,"


"Kita harus bagaimana?" tanya Aiden. Pria itu ingin Sirene menjadi seorang manusia dan mendampinginya. Mereka akan menikah, memiliki satu atau dua orang anak, lalu mereka akan berjuang bersama untuk membesarkan anak-anak mereka, dan mengantarkan anak-anak itu sampai jenjang pernikahan. Itulah mimpi Aiden.


Namun, dia juga berpikir. Apakah bisa Sirene seperti itu? Apakah bisa mereka menikah?


"Hapus saja pikiranmu itu, Aiden! Kamu sudah abadi, tidak adil sekali kalau kamu ingin Sirene berubah menjadi manusia. Kamulah yang harus merubah Sirene menjadi abadi. Begitu hukumnya!" tukas Lea.


Alis Aiden kembali bertaut. "Apakah aku harus menjadi duyung juga? Maksudku-,"


"Kamu tidak harus menjadi duyung! Tapi ketika kekuatan Sirene kembali, dia akan mudah mengontrol ekornya! Seperti itu, paham?" tegas Lea tak sabar.


Apa pun yang dikatakan Lea kepada Aiden, membuat pria itu masih belum paham bagaimana cara kerja makhluk bukan manusia ini.


"Kepalaku berdentang. Aku seperti mengikuti mata kuliah yang berat yang dari judulnya saja aku sudah tidak paham. Seperti itulah, Lea." sahut Aiden memegangi kepalanya seakan benar-benar berdentang dan berputar.


"Tidak ada cara lain, kita harus meminta izin kepada Penguasa untuk mengembalikan kekuatan Sirene," tutur Matt yang segera saja disetujui oleh istrinya.


Namun sayangnya, usul Matt ditolak mentah-mentah oleh Aiden. "Aku tidak mau. Penguasa itu membuatku takut. Dia selalu memintaku untuk memilih dan pilihannya berat,"


"Ya sudah. Kami akan kembalikan Sirene ke Kerajaan Awan, toh dia juga belum mengingatmu sepenuhnya, 'kan?" sahut Lea.


Saat wanita itu bersiap memanggil Sirene, Aiden mencegahnya. "Baiklah, aku ikut dengan kalian untuk meminta kepada Penguasa untuk mengembalikan kekuatan Sirene,"


"Oke, pakailah sayapmu sekarang!" tukas Lea.


Aiden memiringkan kepalanya. "Sayap? Aku tidak punya sayap,"


"Ada! Apa yang kamu pakai saat menculik Sirene? Kamu tidak memakai baling-baling bambu, 'kan?" sinis Lea. Entah kenapa pagi ini, Lea tampak begitu sensitif. Matt pun berpikir demikian.


"Babe, santailah sedikit. Kamu daritadi emosi terus. Ada apa denganmu?" tanya Matt disela-sela Aiden sedang mencari sayapnya.


Lea menghempaskan tubuhnya di bean bag milik Aiden. Wanita itu memijat-mijat pelipisnya. "Entahlah,"


Sebersit pikiran tentang kehamilan Lea melintas di benak Matt. "Ayo ikut aku! Aiden, teruslah berpikir karena ada sesuatu yang harus kami urus!"


Seperti tersihir, Aiden mengangguk.


Ketika siang hari tiba, Rue datang dan menjemput Aiden serta Sirene.


"Ke mana Matt?" tanya Aiden bingung. "Tadi dia berkata kepadaku ingin mengurus sesuatu. Apa yang diurusnya?"


Rue mengedikkan kedua bahunya. "Matt belum memberitahukanku tentang itu, dia hanya memintaku untuk menjemputmu dan Sirene,"


"Kamu harus memberi nama sayapmu, jadi jika kamu memerlukannya kamu bisa memanggil sayapmu tanpa harus mencarinya apalagi sayapmu tak kasat mata, 'kan?" usul Rue.


"Itu sayap Castiel, bukan sayapku." jawab Aiden.


Rue tersenyum kepada pria yang sedang dimabuk cinta itu. "Panggil saja untuk memastikan apakah dia milikmu atau bukan. Jika sayap itu memilihmu maka dia akan datang saat kau panggil. Sayap memiliki ingatan daging, jadi jika dia berkesan kepadamu, dia tidak akan pergi ke manapun,"


Jantung Aiden berdebar kencang. "Aku belum tau siapa nama sayapku,"


"Pejamkan matamu dan fokuslah. Dalam beberapa detik, nama itu akan meluncur otomatis dari mulutmu," kata Rue menjelaskan.


Aiden memejamkan matanya dan berusaha fokus pada bentuk sayap yang bahkan dia sendiri tidak tau bentuknya seperti apa.


Tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi, dia dapat melihat sepasang sayap kuning yang perkasa. "Omnimus!" Aiden membuka matanya dan terkejut saat dia memanggil sebuah nama.


"Panggil sekali lagi dengan tegas!" perintah Rue.


"Omnimus!" panggil Aiden.


Aiden merasakan sesuatu menabrak punggungnya dan seperti ada sesuatu yang mengepak di belakangnya. "A-, apakah ini Omnimus? Dia sayapku?"


Rue mengangguk. "Di mana Sirene?"


Mendengar namanya dipanggil, Sirene muncul dari kamarnya. "Ya, Yang Mulia Raja Rue. Aku sudah siap,"


"Naiklah ke atas punggung Aiden, dia akan membawamu kembali!" titah Rue.


Sirene pun naik ke atas punggung lebar Aiden dan memeluk pria itu dengan erat. Tak lama, mereka berdua sudah melayang di udara, dan terus naik menembus lapisan awan.


Setibanya di tempat Penguasa, mereka disambut meriah oleh para malaikat yang berjaga di sana, tak terkecuali Hades yang sedang asik mengemil biskuit sambil ongkang-ongkang kaki di singgasana milik Penguasa.


"Hahahaha, biarlah dia seperti itu. Aku senang dengan kehadirannya yang terkadang jauh dari kata sopan," tutur Penguasa dengan ramah. "Oh, tak perlu kau ucapkan, Rue. Aku sudah tau maksud kedatangan kalian dan aku juga sudah melihat kesungguhan Manusia ini dan Sirene. Tapi, aku tidak dapat memberikan penilaianku secara pribadi maka dari itu aku akan panggilkan sahabatku, Wren."


Penguasa bertepuk tangan dengan heboh saat Raja Wren muncul di hadapan mereka.


"Oh, Gadisku!" seru Raja Wren, dia mempercepat langkahnya dan memeluk Sirene.


Setelah perbincangan ringan antara Raja Wren dan Sirene, Penguasa bertanya kepada sahabatnya itu mengenai alasan Aiden dan Sirene menemuiNya.


"Bagaimana menurutmu, Wren? Apakah manusia ini bisa dipercaya untuk menjaga duyungmu?" tanya Penguasa.


Raja Wren memutari Aiden dan begitu dia melihat kepakan lemah dari Omnimus, Raja Wren seolah berbicara kepada sayap itu kemudian ayah Lea itu mengangguk-anggukan kepalanya.


"Hmmm, agak sulit. Tapi aku lihat, dia pria yang setia dan bertanggung jawab. Dia tidak memiliki keberanian seperti Matt, hanya saja dia memiliki tekad yang kuat untuk mendapatkan apa yang dia mau. Aku ragu, apakah ini hanya sekedar egonya saja," kata pria besar itu.


Penguasa memperhatikan Aiden. "Menarik, lalu bagaimana dengan Sirene?"


"Gadisku mencintai manusia itu. Itu sudah pasti," jawab Raja Wren.


Penguasa kini menganggukan kepalanya dan berbisik kepada Raja Wren. Hal ini membuat Aiden sedikit tegang, kondisi ini seperti sedang audisi dan jika juri tidak terkesan, maka bersiaplah, kamu akan kalah!


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Penguasa memberikan keputusan. "Baiklah. Aku sudah memutuskan. Aku akan mengembalikan kekuatan Sirene dan karena kalian berdua sudah abadi, maka segerakan saja pernikahan kalian secepatnya!"


Wajah Aiden seketika menjadi cerah seolah saklar lampu telah dinyalakan. "Benarkah?"


Penguasa mengangguk. Kabar bahagia tak hanya berkisar pada Aiden dan Sirene saja, karena setelah Penguasa memberikan izinnya, Raja Wren kembali berteriak dengan heboh.


"Leaku! Leaku akan memiliki seorang anak! Aku akan segera menjadi kakek! Oh, bahagianya hatiku! Peluk aku, peluk aku!" ucap Raja Wren sambil menarik semua orang yang ada di dekatnya.


Hades yang sedari tadi memperhatikan drama membahagiakan ini mendengus. "Huh! Tambah ramai saja kerajaan ini!"


...----------------...