Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Bertemu Sang Penguasa



"Sirene, bangunlah!" Lea menepuk-nepuk pipi gadis cantik yang berwajah pucat itu.


"Pelurunya sudah dikeluarkan, tapi kenapa dia belum sadar juga?" tanya Lea dengan panik.


"Tidak mungkin kita bawa ke rumah sakit dengan kondisi seperti ini, kan?" Rue memandang tubuh Sirene yang sudah kembali menjadi duyung tapi kali ini dengan tambahan tanduk lebar di belakang telinga gadis itu.


Entah apa yang terjadi sehingga Sirene dapat berubah menjadi monster mengerikan seperti tadi. Tidak ada yang tau, termasuk Alesya.


"Aku sudah tidak mengawasi dia lagi saat menjamu tamu karena memang Sirene sudah sanggup mandiri. Jadi tadi kupikir, semua baik-baik saja. Maafkan aku, Lea," isak Alesya.


Lea mengembuskan napasnya. "Semua sudah terjadi, tidak ada lagi yang perlu kamu tangisi, Alesya. Aku mungkin akan membawa Sirene kembali dan akan aku rawat disana sampai dia pulih,"


"Tapi, apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Alesya lagi.


"Aku harap begitu. Aku mempertaruhkan jabatanku sebagai ratu jika aku kehilangan Sirene. Kalau perlu, aku akan kembali mengarungi Lembah Kematian," jawab Lea bersungguh-sungguh.


Tak lama, Aiden dan Anthem tiba di lokasi kejadian. Sontak saja, Aiden memeluk kekasihnya yang berlumuran darah. "Sirene! Sirene, Sayang! Bangunlah, aku sudah datang! Bangunlah, Sayang. Buka matamu!" seru Aiden. Pria itu menepuk pipi Sirene. Air mata pria itu mengalir dan membasahi kedua pipinya.


"Aiden, aku akan membawa Sirene kembali," ucap Lea.


Aiden mengusap air matanya asal-asalan. "Kembali? Apa maksudmu kembali? Kembali kemana? Rumahnya adalah rumahku juga!"


Lea dan Matt paham sekali bagaimana perasaan Aiden saat ini.


"Semua untuk kebaikan Sirene. Aku tidak bisa membiarkan dia mati. Apa pun akan kulakukan," ucap Lea lagi.


"Aku ikut!" sahut Aiden serta merta.


Semua yang ada di sana memandang Aiden. Mereka ingin memastikan apakah Aiden serius dengan keputusannya mengingat dirinya takut dengan hal-hal yang berbau gaib.


"Kamu yakin?" tanya Matt memastikan kembali.


Aiden mengangguk dengan mantap. Kedua netranya memandang Matt penuh keyakinan.


"Kita sudah kehabisan waktu. Anthem, aku akan minta Castiel melindungimu sementara-,"


"Aku sudah meminta Angelo menemaniku saat aku menjadi manusia, apa kalian tidak melihatnya?" tanya Anthem heran.


Baik Matt, Lea maupun Rue menggelengkan kepala mereka serentak.


Pria yang baru setahun menjadi manusia itu pun berdeham. "Angelo!" panggilnya.


Sesosok malaikat besar tiba-tiba saja masuk ke dalam restoran itu dengan sepasang sayap putih yang tak kalah besar. Rambut malaikat itu keriting seperti mie instant, wajahnya bak pahatan tanpa air muka.


"Anthem," sahutnya dengan suara besar yang dalam.


Lea menatap malaikat putih tulang itu sejenak. "Oke, tolong jaga manusia ini karena kami akan kembali ke langit untuk menemui Penguasa. Awasi mereka dan berikan laporan kepada kami secara berkala."


"Baik," jawab Angelo singkat.


Anthem menyeringai. "Dia memang sedikit kaku, sulit sekali diajak bercanda. Berbeda sekali dengan Castiel, kan?"


Lea dan Matt mengangguk. "Kau benar. Mengerikan, tapi yang kutau, dia tidak akan turun kalau bukan Penguasa yang memerintahkannya,"


"Memang Penguasa yang memerintahkannya untuk menjagaku," jawab Anthem berbisik takut-takut suaranya terdengar oleh Sang Malaikat Pelindung itu.


Tanpa menunggu lama, mereka pun terbang ke atas untuk menemui Penguasa. Dengan membawa Sirene yang terluka di atas punggung Rue. Alasannya karena Matt belum bisa terbang dengan sempurna, dia masih canggung menggunakan sayapnya.


***


"Yang Mulia,"


"Hades. Kejutan apa ini sampai kamu mau menemuiKu dan berlutut di hadapanKu?" tanya Penguasa.


Hades semakin membungkuk. "Yang Mulia, saya mohon kepada Yang Mulia untuk menghidupkan Sirene. Mereka akan kesini untuk meminta kesembuhan Sirene. Terimalah mereka dan penuhi permintaan mereka,"


Penguasa membelai-belai janggut putih panjangnya. "Benarkah? Apakah Raja dan Ratu tidak dapat menyembuhkannya?"


Hades menggeleng. "Mereka tidak paham tentang duyung, Yang Mulia. Begitu pula denganku,"


Pria raksasa itu mengangguk-angguk sambil terus memainkan janggutnya. "Kau mencintainya?"


Hades mengangguk.


"Bahkan dengan sepenuh jiwa ragaku," jawab Hades.


Penguasa membuka sebuah buku super besar yang secara ajaib ada di hadapannya. Dia membuka lembaran buku itu dan menggumamkan nama Hades dalam sebuah nada.


"A, B, C, D, E, F, G, H, Hades, Hades, Hades," senandung Penguasa dengan ceria.


"Ah, ini dia!" Penguasa berhenti di lembaran halaman nama Hades.


Dia membacanya dengan cepat dan bersiul. "Fiuh, perbuatan jahatmu lebih banyak daripada perbuatan baikmu. Sekarang kamu memohon kepadaku, apa yang harus aku lakukan terhadap permohonanmu itu?"


Hades semakin membungkukan tubuhnya. "Yang Mulia, apa pun akan kulakukan supaya Engkau mengabulkan permohonanku ini,"


Penguasa menutup buku besarnya. "Datanglah lagi, karena aku harus berpikir keras untuk mengabulkan permohonanmu ini,"


"Baiklah. Aku akan datang kembali kepadaMu besok, besok, dan besoknya lagi sampai Engkau mengabulkan permohonanku," ucap Hades dan dalam sekejab mata, dia sudah menghilang dari hadapan Penguasa Alam Semesta itu.


***


Setibanya di Kerajaan Awan, Lea dan kawan-kawannya segera membaringkan Sirene di kamar. Meltem menyambut mereka dengan membawa tongkat kebesarannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Meltem.


Lea menceritakan apa yang terjadi. "Dia marah kepada para tamu yang menggodanya dan wujudnya berubah menjadi seekor naga dengan bentuk yang aneh sekali. Manusia-manusia itu ketakutan dan menyerang Sirene. Empat peluru yang bersarang di tubuhnya sudah kami keluarkan tapi dia masih belum sadarkan diri,"


"Mutiara itu tidak ada padanya jelas saja dia tidak dapat bertahan," ucap Meltem.


Duyung merah itu baru menyadari kehadiran Aiden di sana. Gadis itu segera melihat sinar biru berkilauan dari dada si manusia.


"Di sanakah mutiara Sirene berada?" tanya Meltam menunjuk dada Aiden dengan tongkatnya.


Aiden terhenyak melihat seekor duyung besar dari jarak begitu dekat. Jantungnya berdegup dengan kencang dan butiran-butiran kecil keringat mulai memenuhi keningnya.


"I-, iya," jawab Aiden dengan suara tercekat.


Meltem menegakkan tubuhnya dan merubah ekornya menjadi sepasang kaki. Tongkat besarnya tak dia lepaskan dari dada Aiden. "Keluarkan sekarang juga! Sirene membutuhkannya!"


Laki-laki yang ketakutan itu, menelan salivanya dengan kasar. "Ba-, bagaimana caranya?"


"Hanya ada satu cara, kurobek dadamu dan aku keluarkan mutiara-mutiara itu dari dadamu," jawab Meltem sambil memiringkan lehernya dan memutar-mutarkan ujung tongkatnya di dada manusia itu.


Aiden menguatkan hati dan menegarkan suaranya. "Silahkan, kalau itu dapat membuat Sirene hidup kembali. Lebih baik aku yang mati,"


Meltem kembali memiringkan kepalanya. "Benarkah demikian? Ikuti aku, Manusia!"


Aiden melihat ke arah Lea dan Matt meminta pertolongan, akan tetapi mereka meminta Aiden untuk mengikuti Meltem.


"Pegang tanganku!" seru Meltem.


Dengan takut-takut, Aiden meraih tangan merah Meltem. Setelah itu, gadis duyung berambut merah dengan gaya seperti seorang gadis Indian itu membawa Aiden ke suatu tempat yang besar sekali dengan kedua pilar raksasa berwarna keemasan tinggi menjulang.


"Tempat apa ini?" tanya Aiden takjub. Dia memperhatikan semua detail dalam tempat itu dan tak henti-hentinya dia mengagumi tempat itu.


"Aku akan mengingat bangunan ini dan jika suatu saat aku membuat rumah, aku akan memakai design bangunan ini. Luar biasa sekali," katanya.


Meltem mengajak Aiden untuk masuk lebih ke dalam. Lagi-lagi Aiden dibuat terkejut karena dia melihat begitu banyak malaikat yang beterbangan bahkan berjalan kesana kemari dengan sibuk.


Bahkan dia melihat sebuah ruangan dengan dua pintu besar dan timbangan besar di depan pintu itu. Di belakang timbangan itu, banyak sekali manusia seperti dia seakan mengantri sesuatu.


"Emmm, maaf. Kalau boleh aku tau tempat apa ini?" tanya Aiden lagi. Hatinya mulai ciut dan rasa takut mulai menjalar dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.


Namun Meltem tidak menjawab pertanyaan Aiden itu, sebagai gantinya, seorang pria dengan suara besar dan menenangkan menyapa mereka.


"Halo, Meltem dan manusia .... Hmmm, Aiden Sebastian. Ada keperluan apa kalian ke tempatKu? Karena belum waktunya kamu berada disini," kata pria besar itu.


"Yang Mulia," sapa Meltem membungkukkan badannya.


Aiden masih belum teralihkam dari pria tinggi dan besar itu. Dia tidak bisa bergerak dan bahkan tidak dapat berbicara. Dia ingin lari dan berteriak, akan tetapi untuk bernapas pun saat ini dia tidak bisa.


...----------------...